
Kejadian semalam seolah tak pernah terjadi. Alya juga enggan membahasnya lagi karena Dimas terlihat memasang benteng saat Alya mencoba bicara soal itu.
Hari ini, Alya berangkat ke sekolah berbarengan dengan Indah yang diantar oleh Mira. Lumayan untuk hemat, pikir Alya.
"Duh..., mau telat, nih. Karena aku harus ngalah, Indah dan aku sekolahnya berlawanan arahnya. Jadi, abis banget waktunya buat anter aku. Untung masih ada waktu untuk Tante Mira nggak terlambat sampai kantornya. Ya ampun..., aku ngerepotin banget, ya?" gumam Alya satu menit sebelum pelajaran dimulai, sedangkan dia masih berjalan menuju kelasnya.
Sampai di kelas, semuanya santai, tak ada sama sekali yang menyiapkan buku di atas meja sebelum guru menyuruhnya. Wajar jika itu terjadi di kelas "gagal" ini. Kalau harus ada PR yang harus dikumpul hari ini, teman sekelas Alya pasti sudah mengomel dengan keterlambatan Alya.
"Tumben kamu terlambat, Alya," ucap teman semeja Alya—Dena.
"Hehe. Udah takdir mungkin. Aku harus sekali-kali terlambat kayak kalian."
"Iya, sih, itu memang normalnya. Mana ada di kelas kita yang nggak pernah telat datang ke sekolahnya. Untung kamu juga udah telat juga hari ini."
"Berarti kalau aku nggak pernah telat, bukan anak IPA 12, nih?"
"Iya, hihihihi," jawab Dena cikikikan. Sementara guru sudah menjelaskan, jadi Alya ikut terkikik dengan pelan.
...----------------...
Duha telah ia laksanakan, hari ini pun ia bisa bertemu Dimas di mushalla, lebih tepatnya menemukan. Bertemu itu harusnya dua orang yang saling tahu sedang dilihat, kan? Ini Dimas tak ada menoleh sedikitpun ke arah Alya.
"Hay Alya," sapa Septi. Ia benar-benar berlaku seperti seorang teman lama, padahal mereka bertemu dengan cara yang tak biasa, dan baru semalam. Dia terlihat datang melewati mushalla bersama beberapa gerombolan geng itu, termasuk Edo, pacarnya Septi dan orang yang semalam saling berbagi bogem dengan Dimas.
__ADS_1
Terlihat bekas bogeman Edo di sana, Alya jadi khawatir Dimas juga memilikinya, tapi ia tak menyadari itu. Alya merasa harus memastikannya langsung dan meminta maaf pada Dimas. Bertekad untuk meluruskan tentang kejadian semalam, membicarakannya sampai tuntas meskipun Dimas memasang benteng yang sangat kokoh.
"Oh..., hay kalian. Mau ke kantin, ya?" sapa Alya balik.
"Iya, nih. Kamu ikut, yuk. Kita makan bareng di kantin," ajak Septi.
"Sayang..., nggak usah ngajakin dia. Lihat tuh pacarnya di seberang sana lihatin kita. Udah, ah, ayo," ucap Edo seraya menatap sinis arah ke belakang Alya, arah yang sama dengan berdirinya Dimas di sana. Mereka pun segera pergi tanpa Alya menjelaskan sedikitpun.
"Ya ampun, Dimas tadi lihat juga ternyata dari sana? Kok aku malah seneng, sih? Aduh Alya..., kamu tuh malah memperkeruh suasana. Mereka sekarang bener-bener mengganggap aku pacaran sama Dimas. Gimana kalau Dimas tahu dan nggak nyaman?" batin Alya dengan swing mood, di awal senang, di akhir merasa sedih dan khawatir.
"Ini gara-gara Dimas, sih. Kenapa coba dia mau meneruskan sandiwara itu?" gumam Alya. Ia kemudian menatap ke arah Dimas berdiri. Sungguh kebetulan, Dimas sedang posisi menatap Alya, tapi setelah kepergok, ia cepat-cepat membalikkan badannya. Kemudian meninggalkan mushola, dan menyisakan tanda tanya untuk Alya.
"Apa Dimas tadi sempat mandang aku? Apa itu cuma sisa dari memandang sinis Edo dan gerombolannya?" batin Alya bingung. Ia tak ingin salah paham dan kepedean.
...----------------...
"Hei Alya, katanya kamu pacaran sama Dimas, ya? Sejak kapan?" seseorang yang Alya tebak ia anak 12 IPA 3 tiba-tiba melabrak Alya saat Alya sedang duduk di dekat gerbang untuk memesan ojol. Parahnya lagi, mereka membawa rombongan. Alya dalam posisi duduk sendirian dikelilingi oleh lima orang teman si pelabrak. Ini termasuk pembulian.
Karena mereka memesan ojol lebih penting, Alya tak menghiraukan mereka.
Mereka naik pitan. "Heh! Jawab! Punya mulut, kan?" ucapnya lantang.
"Kalau memang iya, kenapa?" Alya menjawab. Ia bukan tipe yang dapat dibuli. Lingkungan kelasnya yang sering membuli orang lain, secara alami memberikan efek tahan buli untuk Alya. Bulian seperti ini belum ada apa-apanya di bandingkan dengan yang teman-teman sekelasnya lakukan.
__ADS_1
"Wah..., nyolot ngomongnya. Bisa nggak biasa aja jawabnya?"
"Kalian sendiri juga bisa nggak nanyanya baik-baik? Giliran dibalas sama volume suara yang sama, aku malah dibilangin nyolot. Nih, kaca. Berkaca dulu baru ngomong! Katanya anak IPA 3 itu saingan IPA 1 sama IPA 2, kelas yang katanya berisi orang-orang pintar, kelas yang dijuluki kelas unggulan. Tapi ini apa? Bahkan nggak mendekati label pintar sedikitpun." Ica berdiri dan meninggalkan mereka. Tak jadi memesan ojol, ia ingin makan dulu untuk meredam emosi. Di jam pulang sekolah ini, banyak anak yang memesan ojol, jadi drivernya tak kunjung ketemu. Di labrak oleh orang-orang ini jadi membuatnya makin kesal.
"Heh! Mau kemana? Kita belum selesai ngomong. Kamu yang ngatain kelas unggulan, harusnya ngaca karena kelas kamu itu kelas siswa gagal!" Mereka masih kukuh menahan Alya. Tapi, Alya merasa tak perlu ada tanggapan lagi.
"Itu Dimas, aku mau pulang bareng Dimas. Kalau kalian ragu, bisa langsung tanya ke Dimas." Alya pun memanggil Dimas yang sudah selesai dari parkiran dengan motor gedenya. Dimas malah menuruti dan ke sana.
"Dimas, kamu beneran pacaran sama Alya?" tanya salah seorang di antara mereka.
"Siapa yang bilang?" tanya Dimas sinis.
"Anak IPS waktu di kantin ngobrol soal itu. Jadi, itu bohong, kan, Dimas?"
"Shhhh. Jangan bilang siapa-siapa lagi, ya. Hubungan aku dan Alya harus kalian simpan rapat-rapat." Sejurus Dimas membuat semuanya melongo. Karena rumor pacaran itu secara tersirat dibenarkan oleh Dimas dan karena sikap Dimas yang diluar prediksi. Tiba-tiba ia terlihat seperti cowok penggoda.
"Ayo naik Alya. Kamu nunggu lama, ya?" ajak Dimas. Alya linglung jadinya.
"Ee..., nggak nunggu lama, kok." Alya naik tanpa ragu agar tak menimbulkan kecurigaan mereka.
"Kita duluan, ya. Jangan lupa disimpan rahasianya, oke?"
Mereka seperti tersihir menganggukkan kepala secara serentak. Seketika Alya juga ikut tersihir. Dimas yang dingin itu bisa berucap selembut itu dan terlihat ramah. Dimas juga membantu Alya lagi kali ini dengan sandiwara yang sama. Masalah yang kemarin belum dibicarakan, kali ini Alya harus membuat masalah ini juga untuk dibicarakan baik-baik dengan Dimas. Ia segan, apalagi posisinya sekarang yang diberi tumpangan tempat tinggal oleh keluarga Dimas.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Dimas mengatakan kepada Alya agar tidak meminta diturunkan ditengah jalan, karena tujuan mereka sama. Meskipun terdengar dingin lagi, Alya senang Dimas mau menolong dan mengajukan secara sukarela.
...----------------...