Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Di Mushalla


__ADS_3

Di sini Alya berada. Di luar, tepat di depan kelasnya, diusir dengan tak hormat oleh sang guru dikarenakan Alya membuat suara yang bising saat sang guru menerangkan.


Guru itu sampai membawa-bawa perubahan baik Alya yang cuma sementaranya dan telah salah menilai jika Alya akan seterusnya berusaha menjadi murid yang kondusif, pasangan yang cocok yang diharapkan jika berdampingan dengan Dimas. Ya, sang guru membawa-bawa Dimas dengan kelakuan Alya di kelas. Padahal, Alya sama sekali tak bermaksud untuk itu, saat itu ia hanya ingin masalahnya dengan Dena dapat terselesaikan. Dam tak sengaja ia lepas kendali membesarkan suaranya, lalu guru menangkap kejadian itu dan berakhir mengusir Alya dari kelas.


"Harusnya bukan aku aja yang disuruh keluar kalau bikin keributan di kelas. Harusnya Dena juga, kan? Huh..., padahal kalau Dena ikut dikeluarkan dari kelas juga, kita bisa ngomong baik-baik ngelanjutin yang tadi dibahas. Kalau gini, masalah malah nambah, masalah sama Dena nggak selesai-selesai. Padahal, Dena cuma salah paham aja," keluh Alya. Ia memang tak dendam dan menginginkan Dena juga dikeluarkan agar sama-sama dipandang berulah. Ia murni ingin Dena ikut dikeluarkan dari kelas karena ingin menyelesaikan masalah mereka.


Saat ini sudah tak terpikirkan lagi Alya harus kemana. Jam pelajaran guru yang mengusirnya tadi adalah sampai istirahat kedua nanti. Menunggu di depan kelasnya tak ada guna. Sang guru tadi sudah tampak marah besar saat mengusir Alya. Tak mungkin dengan hanya menunggu di depan kelas Alya tiba-tiba akan dipanggil dan disuruh masuk kembali. Alya juga sudah lelah berdebat agar tak dikeluarkan dari kelas. Karena nada paling tinggi si guru sudah terlontarkan, Alya tak mau melanjutkan debatnya lagi dan lebih baik mengalah. Meskipun otaknya suka tak sampai dan berakhir di kelas siswa gagal ini, Alya diajarkan oleh sang Ayah untuk selalu menghormati guru. Langkah awal agar pelajaran masuk ke otak adalah mendengarkan semua ucapan guru dan jangan pernah melawannya. Jika si guru berbuat salah, Alya diajarkan bahwa guru juga seorang manusia yang biasa berbuat salah. Anggap saja guru yang salah itu sedang khilaf. Alya juga agak tidak sabar dan malah berdebat tadi, karena menurutnya si guru agak kelewatan telah membawa-bawa Dimas. Tapi ia tahu batas wajar dan lebih memilih mengalah. Seorang guru harusnya menunjukkan sifat yang baik, sosok yang digugu dan ditiru. Jika Alya tak melihat sosok itu di dalam pribadi sang guru, ia diajarkan untuk mendoakan agar guru itu sadar daripada menyimpan dendam dengan mengumpat dalam hati. "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar," ingat Alya saat diusir dengan tak hormat.


Alya berjalan menyusuri koridor. Ia ingat, dirinya belum sempat melaksanakan shalat duha, karena saat jam istirahat pertama tadi ia hanya pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. Tidak untuk sekalian melaksanakan shalat dhuha karena terlanjur badmood dengan kelakuan EdoEdo dan menetap di kelas jadinya. Jadilah tujuan Alya selanjutnya adalah Mushalla.


Saat berjalan menuju mushalla, Alya melihat sekilas ke arah lapangan sekolah. Terlihat di sana sekumpulan siswa yang sedang melakukan pembelajaran olahraga di lapangan sekolah. Ada tiga kelas yang berbaur. Mulai dari yang kelas sepuluh hingga kelas dua belas. Ketiganya melaksanakan olahraga di area lapangan yang berbeda-beda.


Alya terhenti langkahnya saat sudah separuh jalan. Ia seperti teringat sesuatu saat menoleh ke lapangan. Matanya menyipit untuk memastikannya sesuatu di sana.


"Astaga! Itu bukannya anak kelas 12 IPA 1? Berarti, kelas Dimas yang ada mapel penjas hari ini? Ada Dimas juga, dong, harusnya. Lumayanlah bisa lihat Dimas pas lagi keringatan. Olahraga basket pas panas-panas gini, mana ada yang nggak keringatan," ucap Alya senang dalam hati. Terlintas pula sedikit niat buruk di benaknya.


"Astaghfirullah, Alya...., inget, niat awal kamu tadi gimana? Bukannya mau ke mushalla dulu buat shalat dhuha? Mending shalat dulu, nah, kalau udah rezeki, pasti bisa lihat Dimas, kok. Lagian nih setan hebat amat. Padahal tiap hari udah lihat Dimas, walaupun di rumah. Sekali malah mau belokin niat awal yang tadinya mau shalat dhuha jadi melenceng buat liat Dimas yang pasti keren pas lagi olahraga. Astaghfirullahalazim...., maafkan hamba ya Allah. Duh Alya, kamu berdosa banget," ucap Alya cepat membantahkan ucapan liciknya sebelumnya. Ia menepuk-nepuk pipinya beberapa kali agar sadar dan sedikit mengusir setan jahat dalam dirinya. Kemungkinan dengan cepat melanjutkan langkahnya menuju ke mushalla dan berusaha tak menoleh sedikitpun ke lapangan sekolah.

__ADS_1


"Audzubillahiminasyaitonirojim Bismillahirohmanirohim," langkah Alya saat memasuki mushalla. Kemudian tak lupa juga doa masuk masjid ia haturkan dalam hati. Berkat memantapkan hati dan doa tersebut, Alya melaksanakan shalat dhuhanya dengan khusyuk.


...----------------...


Alya yang tak tahu lagi harus menghabiskan waktunya ke mana hingga selesai jam pelajaran guru yang mengusirnya itu, kini masih menetap di mushalla. Terlihat ada begitu banyak Mushaf yang menganggur di sana, di ambillah dan mulai ia bertadarus di pojok belakang sana.


Alya tak yakin apa yang ia lakukan ini benar atau salah. Karena bisa saja kegiatannya ini dianggap bolos oleh guru lain yang melihat, atau anak rohis sebagai pengurus mushalla. Jika dilihat menjadikan mushalla sebagai destinasi bolos dengan dalih ingin beribadah, Alya bisa saja dianggap memanfaatkan agama untuk menutupi tindakan tak baiknya. Maka dari itu, Alya berusaha mengambil tempat dipojokan dan mengecilkan suaranya saat melantunkan ayatullah itu, meski tak dapat dipastikan anggapan itu akan hilang setelahnya.


"Maa syaa Allah...," decak kagum terdengar di telinga Alya. Dan suara itu berasal dari balik hijab mushalla, bagian shalat ikhwan di depan. Suara itu juga mengingatkan Alya bahwa sekarang sudah mendekati waktu Dzuhur sebelum bel istirahat kedua berbunyi.


"Sadaqallahul'adzim...," Alya pun mengakhiri tadarusnya. Mengapa? Pertama, ia tahu sudah waktunya mushalla akan ramai, ia tak ingin anggapan buruk tadi kejadian dan lebih memilih melarikan diri ke toilet untuk menunggu waktu Dzuhur. Kedua, ia tak suka saat pujian itu dilayangkan langsung dari balik hijab yang membatasi antara tempat ikhwan dan akhwat, sebab niat awalnya hanya menghabiskan waktu dengan mencari pahala, bukan untuk dipuji oleh lawan jenis. Ketiga, ia tak munafik bahwa ada bagian di hatinya yang merasa senang menerima pujian yang suaranya ia pikir mirip Dimas itu, daripada berkhayal yang tidak-tidak, lebih baik mengakhiri tadarusnya.


"Udah nih. Kalian mau adzan sekarang?"


"Iya, dong. Tugas adzan udah di susun, dan maklum, anak rohis memang berkewajiban mengurus mushalla, kan? Terutama adzan. Sayang banget kamu nggak mau ikut rohis, Dim. Padahal kamu sering banget ke mushalla."


"Haha, belum nyerah juga untuk ngajak aku gabung? Udah kelas 12, mana ada perekrutan lagi. Dan udah berkali-kali juga aku bilang, kan? Aku takut nggak bisa komitmen menjaga mushalla, karena sering keluar kelas dan dipanggil guru buat diskusi lomba-lomba setingkat olimpade."

__ADS_1


"Ya udah, Bro. Santai. Kita juga bercanda, kok tadi. Lagian mana bisa kita nuntut banyak ke kamu. Kamu udah banyak berkontribusi sebagai donatur kalau rohis bikin acara."


"Alhamdulillah masih bisa dikasih kesempatan dan rejeki buat bantu. Tapi jangan diumbar-umbar lagi, deh. Takutnya riya."


"Hah? Itu Dimas? Maa syaa Allah calon imam," kagum Alya dalam hati yang ternyata setelah tadarus tadi ia menguping pembicaraan dari balik hijab. Bukan menguping, sih, sebenarnya. Obrolan mereka saja yang terdengar dengan bebas, apalagi tak ada suara siapapun selain mereka. Soal tadarus tadi, Alya sudah menyelesaikannya lima menit yang lalu.


"Ummm, anak rohis yang cewek biasanya ikut ke musholla waktu jam segini, ya?" tanya Dimas balik ke dua orang anak rohis yang berteman dekat dengan Dimas itu.


"Iya, sih. Sesuai piket juga. Soalnya, biar shalat berjamaah pertama ada yang datang bagian akhwatnya meskipun masih jam pelajaran. Emang kenapa, Dim?"


"Umm, nggak. Aku kagum aja sama kalian anak-anak rohis. Yang akhwat tadi pun, suaranya indah banget. Tajwidnya nggak ngasal dan pakai irama yang pendengarnya nggak bisa kalau nggak kagum dengar lantunan quran nya. Maa syaa Allah."


"Lho, emangnya ada yang lagi ngaji tadi? Emang sih anak rohis yang cewek juga ikut ke mushalla, tapi pas adzan mereka baru nyampek. Karena susah juga kalau izin dari kelas lama-lama, apalagi bawa-bawa agama, di samping menuntut ilmu yang juga sama wajibnya. Jadi, kalaupun ada, itu nanti, Dim, pas adzan. Nggak pernah satupun mereka datang pas sebelum adzan. Beda kalau kayak kita yang cowok, yang piketnya sebagai muadzin dan imam," respons sang teman.


"Iya, Dim. Mungkin bukan anak rohis itu yang kamu dengar suaranya Walaupun semua anak rohis itu kebanyakan yang kayak kamu bilang gitu kalau lagi ngaji, sih. Tapi nggak enak aja kalau dipuji, tapi nggak tepat sasaran," imbuh teman yang lain.


GLEK

__ADS_1


Alya menelan salivanya. "Apa mereka ngomongin aku?" batin Alya dengan berbagai macam perasaan dan debaran di dada yang mendominasi.


__ADS_2