Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Si Penyayang Adik


__ADS_3

Dimas mengenalkan Alya kepada sang adik, seperti yang Bundanya amanahkan. Ia menjelaskan juga detil tentang Alya yang berakhir harus tinggal di rumah mereka.


Indah..., sepertinya ia ramah seperti Bundanya. Perlakuannya terhadap Alya yang orang asing ini juga sopan. Alya punya teman baru di rumah ini. Beberapa menit berkenalan, Alya langsung akrab dengan Indah. Apalagi, Indah memang menginginkan seorang kakak perempuan untuk menemaninya main dan mengobrolkan banyak hal. Sudahlah, mereka memang pantas akrab.


"Kamu mainnya sama Alya terus. Padahal, yang saudara kandung kamu itu, kan, Abang, Ndah," protes Dimas. Ia melihat sang adik terus lengket dengan Alya sejak pulang sekolah tadi sampai setelah isya ini. Tentu itu membuat Dimas kesal jadinya.


"Kak Alya juga saudara, tahu. Sekarang, Kak Alya udah jadi Kakaknya Indah. Lagian, Alya udah gede, nggak mau main sama Abang. Anak cewek juga ada sesuatu yang pengen dilakuin sama temen ceweknya aja, tahu," balas Indah yang kemudian memeletkan lidahnya untuk mengejek Dimas.


"Di mata Abang, kamu masih kecil tahu, Dek. Lihatlah, kamu udah umur sepuluh tahun, kelas empat SD, tapi masih aja main boneka Barbie. Terus, masih aja lidahnya dimeletin gitu kalau mau ngejek Abang."


"Biarin lah! Nggak mungkin Indah main mobil-mobilan, kan? Terus, emangnya salah kalo punya cara mengejek tersendiri?" Digalakin seperti itu oleh Indah malah membuat Dimas gemas ingin mengacak-acak rambut adiknya.


"Ii..., Abang! Hobi banget ngacakin rambut Indah. Indah nggak suka tahu!" Dikatain seperti itu pun Dimas merasa senang. Terbukti dengan Dimas yang saat ini tertawa bahagia memamerkan taring gigi gingsulnya yang manis.


"Wah..., ini kelewat sayangnya Dimas ke Indah. Ada banyak versi Dimas ternyata. Aku suka Dimas yang sekarang, kehangatannya saat menyalurkan kasih sayang untuk Indah, mirip dengan kehangatan yang waktu itu Dimas tunjukkan untuk menolong orang saat aku pertama kali lihat Dimas," batin Alya mengagumi versi baru Dimas.

__ADS_1


"Dimas..., kamu siscon, ya?" Alya yang terbawa suasana malah seenaknya mengucapkan hal yang tak sopan begitu.


"Ha? Siscon?" Abang beradik ini merespons bersamaan. Karena terlihat lucu, Alya malah menertawai mereka.


Terlanjur tak sopan, ya sudah sekalian saja ungkapkan. "Siscon itu sister complex. Soalnya kamu kayak sayang banget sama adik sendiri. Overprotektif juga, tuh, kelihatannya," ucapnya.


"Enak aja! Udah, ah, aku mau belajar. Olimpiadenya udah mau dekat." Kembali lagi Dimas versi dingin. Ia sepertinya malas berbicara dengan Alya. Ia mengakhiri menjahili Alya karena ada Alya yang ikut campur. Masuk ke kamarnya untuk belajar karena olimpiade semakin dekat waktunya. Ia tak ingin mengecewakan semua orang.


Alya menganggap wajar sifat yang baru Dimas tunjukkan. Yang tak wajar itu, sikap Dimas tadi yang menjemputnya dengan tiba-tiba ke tongkrongan itu. Sampai sekarang pun, Alya masih bertanya-tanya soal itu. Ia masih belum mengerti. Saat ingin dijelaskan, Indah muncul dah Dimas langsung menjadi orang yang berbeda.


Saat akan melanjutkan bermain lagi dengan Indah, Alya memikirkan sesuatu yang ganjal. Rumah ini terlihat sepi sekali, padahal penghuninya terbilang banyak, setidaknya lebih dari dua.


"Nggak, kok, Kak. Karena hari ini hari Senin aja, makanya Ayah sama Bunda harus lakuin kerjaan tambahan. Itu kata Bunda waktu itu. Terus, cuma hari Senin aja, kok," jawab Indah.


"Ooh, gitu, ya."

__ADS_1


"Alhamdulillah..., kalau tiap hari udah berasa kayak keluarga, nih, kita bertiga. Aku sama Dimas orangtuanya, dan Indah anaknya. Lagian, bahaya banget kalau cuma berdua doang di sini sama Dimas." Seketika pikirannya traveling setelah merindukan ayahnya.


Tak lama setelah itu, ayah dan bunda sementara Alya akhirnya pulang. Indah terlihat menyambut bahagia dua orangtuanya itu, tak lupa untuk memeluk dan menciumnya. Sedangkan Alya, ia hanya bisa menyambut dengan berdiri saja, lalu menundukkan kepalanya untuk menyapa, tak lupa untuk tersenyum juga. Ingin ia melakukan hal yang sama seperti yang Indah lakukan, tapi itu sih mustahil. Selain ia hanya menumpang di sini, mereka akan merasa jijik ke Alya karena sok akrab yang berlebihan.


Dika dan Mira juga membalas menyapa Alya dengan senyuman. Kemudian, Mira datang ke arah Alya untuk mengusap lembut kepala Alya. "Kamu boleh, kok, salim tante kayak yang Indah lakuin tadi," ucap Mira tulus. Alya seketika langsung berbinar matanya. Ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Indah, meskipun hanya salim saja. Tapi, hanya dengan seperti itu, ia telah merasakan kembali sosok sang bunda yang hilang. Rindu pada sang ibunda yang telah tiada langsung terobati hanya dengan melakukan hal kecil seperti ini. Tinggal di sini tidak buruk juga, pikir Alya.


"Ayo ke meja makan. Kita makan malam bersama," ajak Mira. Alya pun mengangguk menanggapinya.


Makanan hari ini sengaja dibeli dari luar. Mira juga mengatakan, hanya setiap hari Senin saja seperti ini. Mulai besok, Mira akan memasak dan menyajikan makanan rumah. Alya langsung mengajukan diri untuk membantu memasak karena itu termasuk keahlian Alya. Tak lupa pula untuk Alya mengajukan diri sebagai rasa terimakasihnya karena telah diterima di rumah ini dengan membersihkan rumah sebisa Alya. Rumah mereka terbilang besar, tapi tidak ada asisten rumah tangga untuk mengurusnya. Alya tahu pasti berat melakukan pekerjaan yang sebenarnya dan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dalam waktu yang bersamaan, makanya Alya mengajukan diri. Tentu saja niat baik itu diterima dengan senang hati oleh Mira.


Indah ditugaskan untuk memanggil Dimas yang sedang fokus belajar di kamarnya. Dimas sempat tidak mau ikut makan bersama karena sedang fokus-fokusnya. Namun, karena sang adik menunjukkan keimutan saat membujuk, akhirnya Dimas luluh juga. Padahal, ia biasanya selalu telat makan malam dan ia baru makan saat Mira mengantarkan langsung ke kamarnya. Kali ini, Indah tampak bersikeras dari biasanya untuk membujuk Dimas makan malam bersama. Mungkin, ini ia lakukan untuk mencapai keinginannya, makan malam bersama seperti keluarga lengkap, sekaligus menyambut Alya sebagai anggota baru keluarga.


"Lho, kamu ikut makan juga, Dim? Kirain mau Bunda antar kayak biasanya," ucap Mira pada Dimas.


"Indah yang maksa, Bun. Padahal, olimpiade udah dekat banget waktunya. Udah berkali-kali Dimas tolak, tapi tetep aja maksa," ujar Dimas.

__ADS_1


Alya menyembunyikan senyumnya karena kehadiran Dimas. Sebenarnya Alya tahu kalau Dimas tidak bisa mengabaikan keimutan Indah saat membujuk untuk makan malam bersama. Dan juga, si penyayang adik ini pasti akan menuruti permintaan adiknya jika didesak seperti itu.


...----------------...


__ADS_2