Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Jemputan Datang


__ADS_3

Saat Alya ingin beranjak, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari arah tongkrongan anak laki-laki. Septi dan Alya segera menuju ke tempat kejadian. Alangkah terkejutnya Alya melihat Dimas di sana sedang beradu pukulan dengan Edo.


"Dimas, apa yang mau dilakukannya di sini?" batin Alya bingung dan khawatir. Ia cepat-cepat ke tempat Dimas untuk menghentikannya.


Septi langsung menenangkan Edo untuk tidak memukul Dimas lagi. Alya yang bingung ikut menghentikan Dimas, sama seperti yang Septi lakukan kepada Edo, mendorong Dimas ke belakang dengan posisi sedikit memeluk. Ia risih melakukan ini meskipun pada orang yang ia sukai, tapi ini ia lakukan untuk menghentikan Dimas. Anak laki-laki yang lain tidak ada yang ingin menghentikan mereka. Menonton perkelahian antar Dimas dan Edo layaknya sebuah pertunjukan.


"Dim, udah! Kamu ngapain ke sini?" ucap Alya setelah Dimas berontak ingin lepas dari Alya yang mencegatnya.


"Aku ngapain? Aku mau jemput kamu lah, Alya! Tapi, laki-laki ini malah ngehalangin aku untuk jemput pacar aku. Ya udah, cara selesainnya ya gini," ucap Dimas emosi.


Alya bingung dengan yang ia dengar."Hah? Pacar? Bukannya sandiwara itu udah selesai?" batinnya.


"Edo, kamu yang mulai duluan, ya?" tanya Septi.


"Iyalah. Orang kayak dia tiba-tiba aja main masuk ke tongkrongan kita. Pakai ngaku pacarnya Alya segala lagi. Padahal, tadi dia sama sekali nggak ada nolongin Alya waktu minta tolong tadi." Edo terlihat panas membara, ucapannya nyolot.


"Kamu tahu apa, sih? Siapa yang ngaku-ngaku? Asal kamu tahu, ya, aku sama Alya bahkan udah tinggal satu atap." Dimas juga tak mau kalah nyolotnya. Bicaranya melantur, Alya yang mendengarnya jadi dag-dig-dug ser.


"Wah..., ini sih bisa salah paham mereka," batin Alya.


Apa sebenarnya tujuan Dimas melanjutkan sandiwara itu lagi? Alya tidak mengenal Dimas, yang Dimas pikirkan juga tidak tahu. Kali ini ia melihat sosok Dimas yang baru, yang ternyata sangat jago berantem dan pandai nyolot tak mau kalah. Apa Dimas tipe yang ingin menjadi pemenang dalam segala hal?


"Wih..., ngeri ya, mainnya," respons Edo seraya senyum menyeringai.


"Dimas, mereka nggak ada apa-apain aku, kok. Aku juga gabungnya sama anak cewek tadi. Cuma, mereka kasar aja di awal yang narik aku paksa ke tongkrongannya. Tapi, kalau kamu sampai kayak gini udah kelewatan banget, Dim. Kamu cuma salah paham sama mereka," jelas Alya untuk menenangkan emosi Dimas. Namun, penjelasan Alya tampaknya malah membuat Dimas makin gusar. Terlihat tatapan sinis dari Dimas untuk Alya. Alya yang ditatap seperti itu hanya bisa tertunduk. Sebenarnya, ia takut melihat sosok Dimas yang seperti ini. Ini jauh dari Dimas yang ia tahu hangat dan ramah. Jauh sekali, seperti orang yang berbeda.


Tatapan sinis itu kini Dimas alihkan ke Edo. Ia tak mau lama-lama di tongkrongan anak berandalan ini. Ia tarik tangan Alya untuk keluar dari tempat buruk itu.

__ADS_1


"Ayo sayang, kita pulang. Nggak baik main sama mereka lama-lama." Apalagi ini, sekarang Dimas sangat berani mengucapkan kata yang memalukan, meskipun mereka bersandiwara.


"Septi, aku harus pulang. Besok aku bakal ngomong ke kamu soal ini. Aku juga bakal jelasin ke Dimas soal kalian yang nggak seburuk orang-orang bilang. Maaf ya udah bikin keributan." Alya agak berteriak kepada Septi karena dirinya telah di bawa dengan ditarik oleh Dimas. Septi yang melihatnya mengangguk dan melambaikan tangan ke Alya. Mereka sudah seperti teman yang akrab sekarang.


Sampai di tempat Dimas meletakan motornya, tidak jauh dari tongkrongan mereka, akhirnya Dimas melepaskan tangan Alya. Agak sakit saat di tarik paksa begitu oleh Dimas, tapi Alya tak terlalu mempermasalahkannya karena itu bagian dari sandiwara agar terlihat lebih natural.


"Naik!" ucap Dimas lugas.


"Tapi, Dim," tolak Alya.


"Tinggal naik aja apa susahnya, sih?" Dimas gusar, ia terlihat benar-benar dingin sekarang. Setelah sebelumnya ia sangat panas saat berhadapan dengan Edo.


"Aku bisa pesen ojol, kok," Alya menolak lagi dengan lebih halus. Mana mungkin Alya memanfaatkan kebaikan Dimas lagi meskipun tujuan mereka sama. Apalagi, sandiwara tadi benar-benar berlebihan, Alya merasa telah merepotkan Dimas, tidak ingin merepotkan lagi dengan ikut menebeng Dimas. Pasti akan canggung saat di motor berdua.


"Aku bilang naik ya, naik. Ribet banget jadi cewek!" Dimas malah membawa-bawa kaum hawa. Tampak raut wajah kesal dari Dimas. Sepertinya, pilihan terbaik adalah mengikuti kata Dimas. Akhirnya, Alya naik ke motor itu untuk yang kedua kalinya. Kali ini Dimas tidak terlihat tulus menolong Alya seperti waktu itu, tapi kali ini Dimas tetap saja menolong Alya meski berantakan jadinya.


Karena Dimas yang mengebut, mereka sampai di rumah dengan cepat. Akhirnya, Alya sudah tidak perlu menjaga jantungnya lagi. Karena kecepatan tinggi motor Dimas, dan karena Dimasnya sendiri.


"Dim, kamu kenapa, sih?" tanya Alya saat mereka telah sampai di depan rumah.


"Kamu yang kenapa!" jawab Dimas malas, hanya membalikkan ucapan Alya.


"Lho, aku nggak ngerti, deh, sama kamu. Aku nggak kenapa-napa, kok. Di sana juga aku nggak di apa-apain sama mereka."


"Terus, kenapa kamu minta tolong ke aku waktu salah satu dari mereka narik tangan kamu?"


"Tapi, kamunya nggak jadi nolongin aku, kan? Kamu ke depan gerbang sekolah cuma untuk ambil makanan dari abang ojol. Kamu mengabaikan aku, kayak orang asing. Dan kamu pura-pura nggak ngelihat kejadian itu."

__ADS_1


"Jadi karena itu kamu dengan senang hati masuk ke tongkrongan mereka? Jangan buat murah harga diri kamu." Dimas makin kesal. Ia merasa telah kehilangan kendali dirinya. Setelah memarkir motornya di tempatnya, ia membuat pintu rumah dengan gusar, berniat meninggalkan Alya.


"Dim, tunggu. Kamu bisa jelasin kenapa tiba-tiba jemput aku di tongkrongan mereka dan masih bersandiwara sebagai pacar aku? Kenapa kamu balik lagi setelah mengabaikan aku dan pura-pura nggak lihat?" cegat Alya berhasil membuat Dimas mengurungkan niatnya untuk melangkah masuk ke rumah.


"Kamu perempuan, Alya. Aku juga punya adik perempuan. Bundaku juga perempuan. Aku di suruh sama guru untuk ambil pesanan makanannya dulu. Baru aku bisa masuk ke tongkrongan mereka untuk menjemput kamu setelah urusanku selesai di sekolah."


Dua orang ini tampaknya tak dapat mengontrol volume suaranya. Akhirnya, orang yang di dalam rumah terganggu. Ia penasaran dengan apa yang terjadi di luar.


"Abang..., udah pulang?"


"Iya, Indah. Assalamu'alaykum." Seperti orang yang berbeda lagi, Dimas tiba-tiba ramah saat melihat adiknya. Kali ini Alya telah melihat Dimas dalam berbagai versi, yang tentu saja tiap versinya berhasil mengejutkan Alya.


"Cewek itu siapa, Bang?" tanya Indah berusaha sopan.


"Jawab dulu salam Abang, Dek," jawab Dimas dengan mencubit pelan hidung sang adik. Sepertinya, Dimas adalah tipe seorang abang yang sayang adik.


"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Bang."


"Pinternya Indah.... Adeknya Abang yang paling imut ini tadi pulang jam berapa? Gimana study tournya?" Dimas mengusap-usap kepala Indah dengan sayang.


"Abang jawab dulu dong pertanyaan Indah."


"Iya, iya. Kita bicara di dalam aja, ya."


"Ayo masuk, Kak," ucap Indah ramah mempersilahkan Alya untuk masuk juga ke rumah. Melihat Indah, Alya tak dapat menolak keimutan anak perempuan itu. Amarahnya tadi tiba-tiba sirna begitu saja karena keimutan Indah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2