Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Mengejar


__ADS_3

Tadinya Alya ingin bolos saja untuk menghilangkan diri dari orang-orang yang menggosipi dirinya. Namun, ia beruntung, hari ini pulang cepat dikarenakan rapat guru. Setelah istirahat pertama, semua murid sudah bisa pulang dan diminta segera meninggalkan area ruang rapat guru dan segera pulang.


Alya yang tak mengeluarkan apa-apa dari tasnya karena tidak ada guru yang masuk sejak selesai upacara tadi, bisa pulang lebih dulu dari murid-murid lainnya. Ia berlari cepat menuju halte bus sekolah. Kemudian tepat setelah ia sampai, ia beruntung ada angkot yang lewat dan cukup padat. Jadi, angkot ini tak perlu menunggu penuh murid-murid lain yang akan berkeluaran dari area sekolah.


"Udah sampai rumah, terus mau ngapain? Aku kan nggak punya kunci rumah. Aku juga nggak bisa seenaknya ganggu Tante Mira, lagi. Mana nggak punya nomornya Dimas," keluh Alya saat sampai di rumah.


Ia takut, Dimas tidak langsung pulang. Karena anak itu selalu pulang lebih lambat dari jam biasanya murid-murid pulang, sebab harus bicara dulu dengan guru pembimbing olimpiade, atau sekedar konsultasi soal-soal dengan para guru. Meskipun semua murid diharuskan langsung pulang karena rapat guru, Alya tak yakin Dimas akan langsung pulang. Bisa jadi ia menunggu rapat selesai untuk melakukan aktivasi biasanya itu.


Alya baru ingat, alasan dirinya ingin cepat-cepat pulang itu berkaitan dengan Dimas. Jika bertemu dengan Dimas sekarang, bagaimana cara dia menghadapi Dimas nanti? Apalagi, cara memandang Dimas saat di lapangan tadi, setelah dipandang seperti itu, apa yang ia lakukan jika berhadapan dengan Dimas?


"Alya, kamu aku cari di kelas kamu nggak ada. Udah aku duga kamu udah sampai rumah duluan."


Saat Alya termenung di depan rumah satu jam setelah sampai, tiba-tiba penghuni rumah yang lain datang. Bisa-bisanya Alya tak sadar akan kehadiran itu, padahal si penghuni itu menggunakan motor yang membisingkan teliga. Meskipun termenung, harusnya ia masih bisa mendengar suara bising itu.


"Dimas?" ujar Alya terkejut. Ia yang tadinya duduk termenung langsung berdiri saat Alya disapa to the point seperti itu oleh Dimas. Ya, tidak ada salam terlebih dahulu.


Alya kikuk di depan Dimas. Ingin meminta maaf, tapi ia sulit sekali berbicara saat sudah berhadapan. Aura Dimas pun, terlihat ia sangat marah setibanya di depan rumah.


Alya merasa jika bukan dia yang memulai, ia akan terus merasa bersalah. Jika ia bisa menangis, ia harus bisa menyelesaikan masalahnya juga.


"Dimas, aku minta maaf."

__ADS_1


"Maaf untuk?" tanya Dimas sinis.


"Maaf udah buat masalah dan melibatkan kamu. Aku tahu kamu pasti risih karena satu sekolah bakal tahu rumor yang beredar itu. Apalagi, kalau guru-guru tahu, pasti kamu nggak nyaman soal itu."


Alya lega, ia bisa mengungkapkan maafnya pada Dimas, meskipun ia tak akan bilang kalau Dimas tak bertanya maaf itu untuk apa.


"Iya, aku memang nggak nyaman! Bagus kalau kamu sadar," balas Dimas jujur dan terdengar dingin.


Alya yang awalnya lega kembali tercekik karena respons Dimas. Sebenarnya wajar jika diberi respons seperti itu. Hanya saja, Alya belum terbiasa saat diperlukan dingin begini. Karena Dimas yang ia tahu saat bertemu pertama kali adalah Dimas yang ramah dan hangat.


"Terus?" tagih Dimas.


Alya bingung. Apa ada lagi hal yang harus Alya akui untuk minta maaf ke Dimas?


"Kamu nggak mau minta maaf soal hal lain?" kode Dimas. Ia sudah seperti perempuan yang suka memberi kode. Tapi Alya, ia tak merasa melakukan kesalahan lain, karena menyeret Dimas masuk kedalam rumor dengan dirinya sudah merupakan kesalahan yang fatal, dan itulah yang paling Alya ingat di mana ia berbuat suatu kesalahan, tak ada yang lain.


"Hal lain? Emangnya aku ngelakuin kesalahan apa, ya? Maaf, nih, aku rada kurang peka kalau dikodein begini, Dim, hehe," balas Alya kikuk, tapi ia tutupi dengan tawa.


"Kamu nggak dengar tadi? Aku nyariin kamu kelas kamu, tapi kamunya nggak ada. Aku juga nggak lihat tas kamu di mana-mana di dalam kelas itu. Aku capek nyariin kamu."


"Ooh, gitu, ya? Kalau gitu, maaf, ya, Dim. Aku jadi ngerepotin kamu dan bikin kamu capek. Harusnya kamu nggak ke sini, kan? Kamu nyariin aku karena apa?"

__ADS_1


"Aku tahu kalau kamu nggak dengerin apa yang Bunda bilang soal kunci rumah. Karena waktu itu, kami nggak fokus. Bunda udah ngasih tahu kalau kunci cadangan ada di bawah pot bunga samping pintu. Kamu kalau pulang duluan bisa pakai kunci itu. Aku tahu hari ini kamu bakal pulang duluan, makanya aku nyari kamu untuk ngasih tahu kamu soal itu."


"Tapi, kenapa repot-repot, Dim? Kamu bisa kasih tahu lewat chat. Aku nggak enak jadinya ke kamu."


"Aku juga nggak mau nemuin kamu sampai nyariin ke kelas kamu segala asal kamu tahu. Mau gimana lagi, ini amanah Bunda. Bunda bilang, waktu itu ngelihat kamu yang nggak fokus dengerin Bunda soal keberadaan kunci cadangan itu, makanya Bunda pesen ke aku kalau misalnya ada hari di mana kamu pulang lebih dulu dan nggak tahu gimana cara masuk ke rumah, aku harus kasih tahu lagi di mana keberadaan kunci itu. Aku nggak ada kontak kamu. Males juga nanya sama temen sekelas kamu, bakal makin jadi aja nanti rumor soal aku dan kamu."


"Kalau gitu, kasih nomor kamu ke aku, Dim. Biar kamu juga simpan balik nomor aku. Kayak gitu lebih mudah, kan?" Dimas diam sejenak. Tapi ia pikir, memang itulah cara yang paling efisien.


Dimas dan Alya saling bertukar kontak. Kemudian, Alya mengambil kunci cadangan dan membuka pintu rumah sementaranya.


"Um..., Dimas, gimana cara aku menebus kesalahan ini? Kamu sampai ikut diseret, bahkan ada yang sampai menghina kamu karena rumor ini. Guru-guru pasti nggak suka dengar kamu pacaran meskipun itu nggak bener. Aku mau memperbaiki ini. Aku nggak mau kamu benci sama aku. Tatapan di lapangan tadi, aku nggak mau kamu menatap aku kayak gitu. Tatapan itu tatapan kebencian, kan?" Rupanya Alya masih tak enakan.


"Udah, kamu masuk. Kalau kamu mau perbaiki, nggak usah ambil pusing. Jauhi aku, jangan bicara sama aku, jangan dekati aku, atau diam-diam natap aku. Orang-orang yang bergosip itu bakal lihat kalau kita berantem dan putus. Rumornya juga pasti bakalan reda dengan sendirinya. Itu cara paling simpelnya," saran Dimas lugas. Ia tak memikirkan perasaan Alya yang pasti akan sulit melakukan itu karena mereka sudah tinggal satu atap, berbeda dengan Dimas yang dengan gampang melakukan itu karena pada dasarnya ia suka tak acuh oleh cewek.


"O-oke kalau kamu maunya gitu. Yang terpenting, kamu nggak jadi bahan hinaan lagi karena kamu berurusan sama anak dari siswa kelas gagal kayak aku."


"Jangan merendah! Aku nggak suka!"


Dimas kembali memakai helmnya dan melajukan motornya, meninggalkan Alya begitu saja. Ia tidak berpamitan dengan Alya dan pergi begitu saja setelah melontarkan kata yang sangat menyentuh hati Alya.


"Dimas, kamu tadi niat bela aku, kan? Berarti kamu nggak masalah kalau harus berhubungan dengan siswa dari kelas IPA 12 ini? Ya ampun..., gimanapun dinginnya kamu, kamu tetap orang baik, Dim," batin Alya.

__ADS_1


Alya tak menyangka akan dikejar Dimas sampai rumah. Padahal, Dimas bisa saja membiarkan Alya menunggu sampai penghuni rumah yang lain datang, tapi ia tak melakukan itu karena kebaikan hatinya pada Alya. Ia hanya tak ingin pamrih, sehingga mengelak ia melakukan itu hanya atas dasar amanah saja dari bundanya.


...----------------...


__ADS_2