
Ucapan Dimas memang nyelekit ke Alya. Dan ia secara sadar mengucapkan itu. Mungkin itu tadi, setelah mendeklarasikan cinta, Alya seperti jadi sosok pas untuk di benci Dimas. Apapun yang diucapkan Alya rasanya belum apa-apa sudah membuat Dimas muak. Belum lagi, Dimas benar-benar kereta soal mulut Alya yang suka ikut campur itu.
"Niatnya memang ingin minta maaf langsung, kok, ke Indah. Dasar cewek sok tahu, sok bener!" umpat Dimas saat ia juga menyusul masuk ke kamar. Entah kenapa, saat Alya sudah membanting pintu kamarnya tadi, semua anggapan soal Alya yang baik-baik menghilang begitu saja dari kepala Dimas.
Selesai mandi dan berpakaian santai, Dimas langsung masuk ke kamar Indah untuk menyelesaikan masalahnya dengan adik tercinta. Mana bisa si penyayang adik satu ini berlama-lama tak bicara dengan Indah sang adik. Tak usah diberitahu Alya pun, Dimas juga memikirkan waktu yang tepat, juga tentang bagaimana caranya agar ia dan Indah bisa berbaikan.
Ketukan pintu Dimas awali. Ia tak pernah mengetuk pintu kalau ingin masuk ke kamar Indah. Cuma, hari ini ia harus melakukan itu agar Indah tak semakin marah padanya, takut merasa terganggu dengan kedatangan Dimas tiba-tiba dan berujung makin tak ingin berbaikan dengan Dimas.
Setelah beberapa ketukan pintu, Dimas meminta izin untuk masuk lewat mulutnya. Kemudian ia mendapati Indah sedang duduk bertopang dagu menatap Dimas di pintu kamarnya.
"Ndah," sapa Dimas.
"Apa?" jawab Indah seraya memutarkan bola matanya dan jutekjutek, juga dengan masih duduk bertopang dagu.
"Ih, kok gitu jawabnya, sih?" Dimas yang tadinya kesal ke Alya jadi terbawa-bawa karena tak terlalu suka dengan sikap Indah saat ini.
"Abang juga, kenapa nyolot balesnya?" Indah makin nyolot jadinya.
"Lha, kan, kamu duluan," tuduh Dimas tai terima. Ia jadi tak mau kalah, meskipun biasanya ia selalu memilih mengalah jika bicara dengan Indah.
"Apa, sih? Kalau nggak ada yang penting Abang keluar aja. Males ngomong sama Abang. Abang jahat." Indah berdiri, tangannya menyuruh Dimas untuk keluar dari kamarnya, meskipun Dimas sebenarnya masih baru masuk dan berada di depan pintu kamar Indah.
"Lho, kenapa tiba-tiba gitu, sih, Ndah?" Dimas keheranan. Adik imutnya ini bisa seperti ini ternyata bicaranya, juga tingkahnya. Apa ini pengaruh karena Alya tinggal di rumah ini? tuduh Dimas dalam hati.
"Nggak tauk, pikir aja sendiri," sarkas Indah.
"Oke, oke, kita ngomong pelan-pelan, ya... Kamu duduk dulu lagi, dan dengerin baik-baik. Abang udah nggak tahan mau ngomong, nih." Dimas masuk dan duduk di samping Indah yang sekarang terduduk lagi dan kembali bertopang dagu di sofanya yang cukup untuk dua orang itu.
"Ngomong apa?" jawab Indah malas.
__ADS_1
Rasanya ia ingin sekali membalas omongan Indah. Tapi karena ia tak pernah melakukan itu dengan adik kesayangannya ini sebelumnya, lebih baik jangan cari masalah.
"Oke, Abang minta maaf."
"Maaf untuk?"
"Abang minta maaf karena udah ngomong kayak gitu ke kamu. Padahal Abang tahu, kamu cuma bercanda. Terus, Abang minta maaf juga, bukannya minta maaf di saat itu juga, tapi malah kabur. Esoknya bukan langsung minta maaf, tapi malah membiarkan sampai lama. Dan Abang bener-beber nyesel udah ngucapin kata kasar itu ke kamu," ucap Dimas lurus dan tulus, menatap langsung ke mata sang adik untuk menunjukkan betapa menyesalnya Dimas telah jahat pada adiknya sendiri.
"Iya, di maafin," jawab Indah cuek. Namun, Indah benar-benar memaafkan setelah mendengar kata maaf dari Dimas terucap. Ia sendiri juga sebenarnya ingin meminta maaf duluan, tapi aura dingin Dimas secara ajaib membuat Indah segan pada Dimas.
"Tapi Abang perlu jelasin ke Indah juga, bercanda soal topik itu nggak cocok di Abang. Dulu Abang pernah bilang, kan? Mungkin Indah aja yang lupa. Abang minta tolong, ya, Ndah, lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi. Takutnya, nanti Abang bisa jadi jahat lagi. Dan Abang nggak mau jahat sama adik kesayangannya Abang ini. Kamu mau janji, kan?" pinta Dimas. Kemudian Indah benar-benar menyadari kesalahannya juga. Memang benar Dimas sudah memberitahu Indah, tapi entah kenapa, keadaan waktu itu membuat Indah ingin menggoda Dimas dan Alya.
"Iya, Bang. Indah minta maaf, ya, karena udah bikin Abang jadi orang jahat. Kayaknya Indah harus minta maaf juga, deh, ke Kak Alya."
"Buat apa?"
"Tapi dia nggak marah, kan, Ndah? Buat apa? Yang marah, kan, cuma Abang. Dan itu kali pertama Abang ngomong kayak gitu ke Indah, jadi wajar kalau Abang minta maaf, dan kamu juga minta maafnya cuma ke Abang. Lagian, Alya nggak kelihatan marah soal topik itu, kan? Lebih baik nggak usah minta maaf kalau kamu nggak ada nyinggung apapun, ntar ribet. Kamu sama Alya aja masih ngobrol kayak biasa, kan? Itu artinya, dia nggak marah sama sekali ke kamu. Jadi, jangan overthinking dan overacting. Oke?"
"Um..., ya udah, deh, Bang."
"Jadi, Ndah, kita udah biakan, nih, kan?" Dimas memastikan.
"Ya Allah, iya lho, Bang. Apa mau musuhan lagi sama Indah?"
"Hahahaha, kamu, ya, Ndah.
"Nggak lagi deh bikin kamu marah. Abang kapok banget. Terus, nggak enak juga kalau liat kamu marah, Ndah. Nggak ada imut-imutnya. Abang, kan, sayang sama kamu karena kamu imut, hehe."
"Ooh, jadi Abang nggak sayang sama Indah kalau Indah udah nggak imut lagi?"
__ADS_1
"Eee..., siapa yang bilang gitu, coba? Jangan main asal simpulin aja, jatuhnya fitnah tahu, Ndah. Dosa."
"Iih, Abang, ih. Baru aja baikan. Ntar Indah marah lagi, lho, sama Abang."
"Cie makin manis kalau ngambek gitu," goda Dimas. Sesaat kemudian senyum Indah dibuat mengembang.
"Nah, senyum gitu, kan, jadi manis plus imut."
"Cieee pipinya merah," dibilang begitu oleh Dimas, Indah jadi semakin memerah. Karena itu ia jadi salah tingkah dan membuatnya geram dengan memukuli Dimas dengan bantal sofanya.
Dua Abang adik itu jadi bermain perang bantal dan tertawa lepas bersama. Dua hari ini, tidak ada keributan yang dirindukan itu. Kini, akhirnya keributan itu kembali lagi. Namun, itu bukan keributan yang buruk, melainkan keributan yang membawa kedamaian.
"Cie udah baikan," ucap Alya pelan. Ia ternyata sudah menyaksikan dua saudara itu berbaikan daritadi. Pemandangan itu terlihat karena pintu kamar Indah tak tertutup. Melihat mereka akrab lagi, mengembang pula senyum Alya.
Saat kelelahan, Indah rupanya menyadari Alya yang berada di depan pintu kamarnya terlihat tersenyum ke arah kamarnya.
"Eh, ada Kak Alya? Masuk, Kak," ucap Indah mempersilahkan. Tiba-tiba senyum Dimas hilang. Bersamaan dengan masuknya Alya karena dipersilahkan Indah, Dimas mengarah keluar kamar.
"Lho, Bang, kenapa keluar?" tanya Indah. Di situ Alya sempat menghentikan langkahnya untuk masuk karena merasa mengganggu kesenangan abang adik itu.
"Um, Ndah, Kakak senang kalian udah baikan. Tapi kayaknya Kakak nggak mau ganggu kalian dulu, deh. Hehe," tolak Alya. Niatnya untuk bergabung jadi diurungkan. Dan ia memilih kabur dan membiarkan mereka melanjutkan keakrabannya lagi.
Dimas kembali ke kamar Indah saat Alya sudah keluar.
"Ih, Abang kok keluar, sih? Kalau nggak suka berduaan, kan, ada Indah, kita bertiga. Nggak sopan tahu," protes Indah.
"Ooh, nggak, Ndah. Tadi Abang mau ambil sesuatu di kamar, pas banget ingetnya pas Alya mau ke sini. Tapi nggak jadi, deh, nanti aja. Gitu," jawab Dimas ngasal. Ia hanya tak suka saja Alya bergabung. Alya cuma orang asing. Sementara Indah percaya-percaya saja dengan jawaban ngasal itu.
...----------------...
__ADS_1