
Seminggu sudah Ica bergabung dengan klub Olimpiade yang Dimas ikuti. Banyak pelajaran yang bisa ia ambil di sana. Alya entah kenapa jadi merasa level otaknya sangat meningkat drastis setelah bergabung dengan orang-orang pintar di klub ini. Secara bersamaan pun, nilai akademiknya menjadi naik signifikan setelah banyak menghabiskan waktunya untuk belajar. Jika saja Ica masih di kelas sebelas, ia pasti sudah dipindahkan ke kelas yang sama dengan Dimas, atau setidaknya tidak berada di kelas siswa gagal ini. Tapi kerajinan Alya terlambat. Ia tak dapat mengubah status yang melekat di dirinya karena kelasnya itu, karena sudah berada di tingkat terakhir sekolah menengah atas.
Dimas sebisa mungkin menjaga jaraknya dengan Alya satu minggu ini. Ia tak berinteraksi apapun pada Alya selain di klub Olimpiade ataupun saat mengajari Alya. Dan perlu dicatat, komunikasi yang ia lakukan dengan Alya hanya seputaran, tidak lebih. Ia pandai membuat wajah dinginnya lebih dingin dari biasanya agar Alya tak berani menanyakan soal apapun selain pembelajaran.
Bagaimana tidak pintar, Alya sudah belajar di klub olimpiade, belajar dengan Dimas, kemudian entah kenapa, ia jadi berkemauan untuk belajar sendiri di kamarnya, menambah waktu belajarnya yang sudah padat itu. Namun sayang, para guru pembina belum memperbolehkan Alya untuk ikut Olimpiade di waktu dekat itu karena Alya belum genap seminggu waktu itu.
Hari Senin, pengumuman soal Olimpiade, as always. Pengumuman pemenang Olimpiade, semua orang sudah tahu itu dan mereka bosan disuruh menunggu lagi setelah panas-panasan upacara pagi ini hanya untuk mendengar pengumuman pemenang lomba. Karena orang yang dipanggil itu itu saja. Mereka akan lebih bersorak jika ada pemain baru yang tak terprediksi yang memenangkan itu. Dan kandidatnya hanyalah Alya seorang. Ya, itupun jika ia bisa memenangkan olimpiadenya. Untuk sekarang, Alya akan menjadikan menang dalam Olimpiade sebagai targetnya. Sehingga segala rumor tentang dirinya dapat tersingkirkan, dan banyak orang yang dulunya memandang rendah dirinya akan menjilat ludah mereka sendiri.
"Alya, kamu ikut foto juga nanti bareng sama klub olimpiade. Tapi sebelumnya, ambil fotonya dulu, ya, buat koleksi klub olimpiade. Soalnya, cuma kamu, kan, yang nggak berkompetisi dan menang? Boleh, kan?" Liza, si ketua klub memanggil Alya ke barisan upacara untuk ikut ke podium bergabung dengan klub olimpiade karena Alya sudah menjadi bagian dari keluarga klub olimpiade.
Sayangnya, Alya sebenarnya hanya dipanggil sebagai kebutuhan mereka. Ya, karena mereka butuh Alya untuk mengabadikan momen. Sekaligus membuat iri Alya.
Liza ini adalah sosok yang selalu berfoto disebelah Dimas setiap senin setelah upacara, karena ia juga menjadi juara di olimpiade. Sosok yang tak pernah memenangkan olimpiade, tapi selalu menang mengambil kesempatan untuk dekat dengan Dimas. Seperti biasanya, ia selalu berfoto di samping Dimas, meskipun ia bukan juara duanya. Kali ini juga begitu, ia mengambil posisi dengan sembrono, mengambil tempat di samping Dimas lagi. Padahal, ia tahu itu bukan tempatnya. Namun, orang yang tempatnya diambil itu mana bisa melawan seorang ketua klub yang pandai bermain licik itu. Meskipun ia juga sebenarnya menginginkan untuk berfoto di samping Dimas karena ia juga diam-diam suka Dimas.
Alya tak dapat membiarkan ketidakadilan ini. Ia tahu temannya yang harusnya berada di samping Dimas, bukan Liza. Ia menarik tangan Liza untuk bergeser, dan menyuruh orang yang harusnya ada di situ mengambil posisi. Liza merengut, sedangkan Dimas tak percaya Alya bisa seberani itu.
__ADS_1
"Risma, kamu yang juara duanya, jadi posisi kamu di sini kalau sesuai dengan urutan pemenangnya," ucap Alya saat melihat wajah kebingungan temannya itu setelah ditarik Alya untuk mengambil posisi di samping Dimas.
Selain Dimas, Alya memang banyak belajar dari Risma. Ia tahu harus pandai menjaga sikap agar rumor tak menjadi-jadi. Kemudian, ia melihat sosok Risma yang ternyata juga menyukai Dimas, tapi ia lebih memilih membiarkan perasaannya tersimpan tak diketahui Dimas, Alya ingin seperti itu. Dan akrab pula keduanya, obrolan bukan hanya membahas tentang soal-soal olimpiade, tapi mereka memperluas topik dengan membicarakan hobi dan sebagainya. Risma ini gadis yang cantik, tapi ia membungkus kecantikannya dengan mode cupu, sehingga tak jarang Risma menjadi korban bully. Namun, semenjak berteman dengan Alya, meskipun sebentar, orang-orang yang sering mem-bully jadi berkurang. Satu tadi, Alya baru saja menyingkirkan Liza yang secara tak langsung mem-bully Risma.
Sesi foto selesai. Semua siswa bubar dari lapangan, kemudian kembali ke kelasnya masing-masing. Jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Lalu pemenang-pemenang lomba masih di depan, mengabadikan momen bahagia ini dengan satu klub, baik yang menang dan yang kalah, yang ikut ataupun yang tak ikut olimpiade, semuanya diikutkan untuk berfoto bersama satu klub beserta pembinanya itu.
Untuk kali pertama, Alya bisa mengabadikan foto bersama Dimas, meskipun bukan persis di samping Dimas. Ia akan selalu mengenang momen berharga ini.
"Dim, minggu depan ikut Olimpiade lagi, kan?" tanya Alya pada Dimas ketika semuanya bubar setelah berfoto tadi. Ia memastikan tidak ada lagi orang disekitaran yang bisa mendengar obrolan mereka. Lagi, karena ia tak mau rumor itu makin menjadi.
"Retoris? Apa itu?" gumam Alya bingung. Kemudian ia mengingat-ingat kembali arti kata itu, daripada Dimas makin kesal jika Alya keceplosan bertanya soal hal remeh temeh itu.
"Kalimat retoris itu apa emangnya? Oooh..., iya, ingat. Aku udah tahu jawabannya, kalau gitu ngapain nanya kalau udah tahu jawabannya. Gitu, kan, ya? Padahal tadi Dimas udah kasih tahu lagi di kalimatnya. Hihi. Itu berarti nggak ada kata libur Olimpiade untuk Dimas, dan aku juga udah tahu soal itu," batin Alya membenarkan.
"Kalau gitu, Dim, aku boleh foto di sebelah kamu nggak kayak Risma tadi? Foto bareng kayak tadi dan akunya yang nggak persisi di sebelah kamu itu kayaknya kurang pas kalau mau di print, deh. Aku mau minggu depan ada foto kita yang bersebelahan."
__ADS_1
"Haha, kalau gitu kamu nggak ada bedanya dong sama Liza tadi? Apapun yang terjadi, dia selalu licik, mencuri posisi orang lain yang bukan miliknya."
"Eh? Bukan gitu, Dim. Aku niatnya pas foto bebas gitu, bukan foto para juaranya."
"Mana ada kesempatan kayak gitu! Kecuali kamu memang yang berhak dapat juaranya yang sesuai urutan posisi fotonya di sebelah aku. Kalau kamu dapat posisi itu, seribu foto sama kamu pun aku nggak nolak. Tapi itu tadi syaratnya, dan jangan licik seperti Liza."
"Ini Dimas lagi ngeremehin otak aku apa lagi mempersilahkan aku? Apa itu tadi Dimas lagi ngasih lampu ijo karena aku udah nyatain perasaan aku? Apa gimana, sih? Dimas kok jadi susah ditebak, sih?" gumam Alya pada dirinya sendiri.
"Jadi, aku nunggu juara dua dulu baru bisa foto seribu kali sama kamu?" ucap Alya saat Dimas sudah mulai berjalan kembali ke kelasnya.
"Kamu bertanya lagi tentang sesuatu yang udah kamu tahu jawabannya. Suka banget ngeluarin kalimat retoris! Cewek aneh!" kesal Dimas. Ia baru sadar ucapannya yang tadi seperti membiarkan Alya mengejarnya. Terdengar berlebihan dan memalukan juga jika didengar oleh orang lain. Mereka akan berfikir, ternyata Dimas yang asli seperti ini, Dimas yang lebay dan ternyata ucapannya tak sepintar isi otaknya.
Dimas berjalan cepat meninggalkan Alya. Lalu Alya, ia berjalan seperti anak kecil yang kegirangan, karena merasa didukung oleh Dimas aksinya mengejar si dingin itu.
"Mesti makin rajin belajar, nih biar bisa foto bersama, berdua aja bareng Dimas. Yuk bisa, yuk. Apa coba yang Alya nggak bisa? Hehehe," gumam Alya dengan suasana hati yang gembira.
__ADS_1
...----------------...