Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Keluarga Bahagia


__ADS_3

Sebuah keajaiban bisa dekat kembali dengan Dimas, meskipun hanya di rumah. Ia juga bersyukur selalu ada Indah atau orangtuanya Dimas yang ikut menimbrung saat Alya dan Dimas belajar bersama. Karena ia pun tak bisa berduaan dengan lelaki meskipun niatnya cuma belajar bersama.


Dimas benar-benar mengajari Alya sesuai ucapannya. Awalnya Alya tak percaya, tapi ini benar-benar terjadi, baru hari ini, tepat setelah semalam rencana ini diungkapkan. Meskipun cara mengajar Dimas agak sulit dipahami, Alya sudah senang Dimas berusaha mengajari tanpa mengolok-olok otak Alya yang lemot ini.


"Abang, Indah juga mau di ajarin soal yang ini. Tadi di sekolah soal ini salah, Indah nggak dapat nilai seratus gara-gara soal yang ini salah. Indah kesel nggak dapat seratus." Saat sedang fokusnya mengajari Alya, tiba-tiba Indah datang menginterupsi. Perhatian Dimas langsung teralihkan kepada Indah sepenuhnya. Alya merasa seperti tak ada kehadirannya setelah Indah datang menghampiri.


"Mana coba Abang lihat?" Respons Dimas yang menyesuaikan nadanya agar cocok saat bicara dengan anak-anak seperti Indah. Di situ Alya agak jealous, karena Dimas bisa tiba-tiba berubah menjadi lembut saat mengajari adiknya. Padahal, Alya tadi diperlakukan dengan dingin bak guru killer oleh Dimas saat diajari tadi.


"Indah..., kamu salah di soal yang susah. Harusnya ini soal olimpiade tingkatan anak SD, bukan untuk dijadikan tugas. Kamu udah bener di jalannya, kok. Lagian, nggak masalah kalau kamu cuma salah satu, kamu udah cukup berusaha, kok, Ndah. Abang bangga sama kamu, karena separuh jalan yang kamu kerjain bener, meskipun salah, kamu udah buat nilai plus karena ini soalnya sulit banget buat anak-anak di kelas kamu."


"Wah..., kalau gitu Indah hebat banget, ya, Bang?"


"Hebat banget, dong. Indah bahkan orang terhebat dari seluruh dunia, tahu," puji Dimas hiperbola. Ia mengusap-usap kepala Indah tanda apresiasinya pada sang adik.


"Abang apaan, sih? Umur Indah udah sepuluh tahun, Indah juga tahu kalau Abang berlebihan. Jangan lebay, deh, Bang."


"Aaaa... kamu udah besar, ya? Abang jadi kangen waktu kamu masih sekecil ini." Dimas memperagakan dengan tangan ketinggian seorang bayi.


"Itu sih bayi, Bang. Indah maunya cepet besar biar kayak Abang. Kayak Kak Alya, kayak Ayah sama Bunda juga."


"Gitu, ya? Kalau Abang sih, maunya kembali jadi kecil lagi. Kalau kecil lagi, kan, banyak yang sayang sama Abang. Semua orang juga bakal seneng liat keimutan Abang pas masih kecil. Karena waktu kecil, Abang lebih imut dari kamu." Dimas mulai jahil, ia menoel hidung Indah. Yang secara otomatis, Indah yang kesal jadi makin kesal.


"Bunda...., Abang ngaku-ngaku. Katanya Abang lebih imut dari Indah pas waktu kecil. Bunda, Ayah, imutan Indah, kan, daripada Bang Dimas?" adu Indah sedikit merengek. Ia menuju ke pelukan bundanya mencari kenyamanan.

__ADS_1


"Hahahaha," tawa Alya tiba-tiba terlepas.


"Kenapa kamu ketawa?" respons Dimas tak senang.


"Um.., maaf, Dim. Menurut aku lucu aja. Kalau kamu nggak nyaman, aku minta maaf." Dengan minta maaf, Alya bisa menghindar tatapan dingin Dimas. Ia harus berterima kasih pada Indah juga, karena secara tak langsung ia jadi terselamatkan berkat keberadaan Indah yang jadi prioritas Dimas saat ini. Dimas tak mengacuhkan Alya, ia benar-benar fokus pada Indah setelahnya.


"Indah..., sini balik. Katanya mau minta diajarin sama Abang."


"Nggak mau, Indah ngambek. Indah minta diajarin sama Pak Dokter aja."


"Pak Dokter, siapa?" tanya Alya dan Dimas bersamaan.


"Cie..., ngomongnya samaan," goda Indah. Si kecil ini ternyata juga pintar menggoda. Pipi Alya merona, ia langsung menunduk untuk menyembunyikannya. Tapi ia tak menyangka bisa mengucapkan kalimat yang persis sama dengan yang Dimas katakan, di waktu yang bersamaan pula. Ia penasaran apa Dimas bereaksi biasa-biasa saja setelah digoda seperti itu oleh Indah?


"Ayah, kan, dokter, Bang. Jadi, belajar sama Pak Dokter aja biar lebih pasti. Dokter, kan, lebih pinter daripada murid biasa kayak Abang. Indah juga nggak mau ambil Bang Dimas dari Kak Alya. Soalnya, sekarang giliran Kak Alya, kan, yang lagi diajarin sama Abang? Indah nggak mau ganggu. Indah mau sama Ayah aja."


"Ya ampun..., pinter banget, sih. Jadi pingin peluk. Perhatian pula, bisa peka soal aku yang agak cemburu Dimas diambil. Love you Indah."


Indah kemudian berlari menuju Dika yang duduk tak jauh dari mereka. Dimas hanya cemberut melihat adik kesayangannya itu lebih memilih ayahnya dan meninggalkan dirinya. Lalu, Alya yang melihat itu menahan tawanya. Jangan sampai Dimas melihat dan Alya malah ditegur lagi. Lagian, siapa yang tak akan tertawa melihat tingkah menggemaskan dua abang beradik ini? Apalagi wajah Dimas yang cemberut itu tak kalah imutnya dari wajah Indah. Bahkan Mira dan Dika pun tertawa karena itu.


"Hahaha, Dimas, jangan cemburu sama Ayah. Lagian, yang dilakuin Indah udah bener, tahu. Kamu fokus aja sama Alya. Lagian, nggak baik tahu pilih kasih gitu. Perlakuan kamu sama Alya jomplang banget, kamu harus adil, Dim. Kalau nggak bisa diperlukan kayak Indah, cukup perlakuan Alya kayak biasa aja, jangan diperlakukan dingin dan jutek kayak gitu. Itu juga berpengaruh lho ke cara Alya memahami penjelasan kamu. Kalau kamu ikhlas mengajari Alya, in syaa Allah ilmu kamu berkah, penyampaian kamu juga bisa buat Alya lebih paham. Ajarin Alya dengan benar, kayak kamu ngajarin Indah tadi," nasihat Mira setelah menertawai anaknya.


"Iya, Bun."

__ADS_1


"Wah..., di bela sama camer. Ya ampun..., berharap lebih boleh nggak sih?" batin Alya kegirangan. Mira yang seperti itu malah dianggap membela dirinya. Memang percaya diri Alya suka melebihi batas rata-rata orang lain.


Kata-kata sang Bunda langsung mempengaruhi cara mengajar Dimas. Ia menjadi lebih banyak bicara dan tak terlalu jutek, meskipun aura dinginnya tak berubah. Tapi ini lebih baik dari sebelumnya. Alya pun lebih mudah memproses pelajaran ke otaknya.


"Dimas balik ke kamar dulu," pamit Dimas. Mengajari Alya, berarti ia harus pandai membagi waktu untuk dirinya belajar juga. Mulai hari ini dan seterusnya. Dua jam mengajari Alya setelah selesai ashar, kemudian belajar di kamar sembari menunggu waktu maghrib. Lalu, setelah makan malam, ia kembali membantai untuk belajar lagi hingga jam sebelas malam, lebih satu jam dari batas jam belajarnya karena ia ingin tetap menjaga ritme belajarnya meskipun waktunya ia pakai untuk mengajari Alya.


Dimas juga langsung tidur di jam sebelas itu, tidur pulas karena kelelahannya sudah pasti bertambah. Karena ia sudah belajar dengan guru untuk membahas soal untuk olimpiade selanjutnya yang rutin ia lakukan setelah pulang sekolah selama satu jam lebih. Jadwalnya langsung rapat, sebab sampai rumah ia harus mengajari Alya, lalu belajar lagi sendiri. Bagi orang yang suka belajar seperti Dimas tidak masalah. Tapi Alya yang mengetahui itu merasa kasihan pada Dimas, karena tak ada hal lain yang Dimas lakukan selain belajar.


"Tante, apa Dimas nggak pernah ngelakuin sesuatu selain belajar? Ada hobi gitu, selain belajar?" tanya Alya berani kepada Mira.


"Um..., apa, ya..., belajar itu udah jadi hobinya Dimas, sih. Kalau kamu, Al, hobi kamu apa?" tanya Mira balik


"Ee..., agak susah juga kalau tiba-tiba ditanya begitu, Tante. Maafin Alya, ya, yang tiba-tiba nanya begitu soal Dimas, Tan," jawab Alya.


"Iya, nggak masalah. Jangan diambil pusing," balas Mira seraya melempar senyum.


Tak lama kemudian, waktu maghrib tiba. Dika dan Dimas memang sering melakukan shalat berjamaah ke masjid, tapi tak sekalipun Alya melihat langsung mereka pergi, karena jam segini ia biasanya ada di dalam kamar. Namun, karena ia tidak masuk kamar dan malah membantu Mira memasak untuk makan malam, ia jadi bisa melihat secara langsung.


"Ma syaa Allah calon imam..., ganteng banget pakai peci, sarung, sama baju koko begitu," takjub Alya pada Dimas. Ia langsung mengalihkan pandang karena sudah berani menatap Dimas lama-lama.


Keduanya kemudian pamit dan mengucapkan salam untuk berangkat ke masjid. Alya merasa jadi istri selama satu hari hanya dengan menyambut Dimas pergi dan menjawab salamnya saat pamit. Begini saja sudah bahagia, bagaimana nanti jika sudah menjadi seorang istri sungguhan Dimas?


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2