Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Pulang


__ADS_3

Alya dan Rian sudah banyak menghabiskan waktu bersama hari ini. Mereka bahkan sudah berkeliling mall dengan tangan yang sudah hampir penuh memegangi barang belanjaan. Alya sudah menolak untuk dibelikan ini itu, tapi Rian memaksa dengan dalih agar Alya kembali ceria. Juga karena ia tak bisa sesering dulu untuk membelikan Alya barang-barang secara langsung. Mengingat soal itu, seketika Rian merasa kesepian.


"Oiya, Yah, Alya mau tanya, dong."


"Tanya apa, Sayang?"


"Ayah memang udah kasih kabar soal ayah kalau kita lagi telponan. Tapi, itu semua bener, kan? Ayah makannya beneran teratur, kan?"


"Alya...., apa belum puas kamu nyuruh ayah selalu fotoin menu makanan apa yang lagi ayah makan? Tiga kali sehari loh itu. Dan sekarang kamu masih ragu lagi kalau ayah makannya nggak teratur? Yang bener aja dong, Yak."


"Hehe..., Alya cuma khawatir aja sama Ayah. Ayah kan di sana sendirian, beda sama Alya. Ayah nggak merasa kesepian, kan?"


"Ya ampun Alya..., gimana mau kesepian? Ayah nggak ada waktu buat mikir kalau Ayah lagi kesepian. Lagian, Ayah udah biasa, kok, Yak."


"Ciee yang sibuk sama kerjaan sampai nggak ngerasa kesepian pisah sama princess kesayangannya. Hahaha," goda Alya.


Ngomong-ngomong soal beda, Alya lupa kalau ia tak mengabarkan apapun kepada orang rumahnya Dimas soal kepergiannya.


"Astaghfirullah, Yah. Alya lupa!" ingatnya. Tanpa perlu berucap panjang lebar, Rian langsung mengerti maksud kelupaan putrinya itu.


"Haha.., udah Ayah duga. Tapi kamu tenang aja. Ayah udah ngabarin Om Dika kalau kamu pulang telat karena ketemuan sama Ayah. Tapi sebagai gantinya, Ayah harus ikut makan malam juga bareng kalian, Tante Mira yang minta."


"Oiya? Kapan Ayah ngabarin?"


"Di mall tadi, waktu kamu sibuk milih baju. Ayah nungguin sambil hubungi Om Dika."


"Ooh, gitu. Makasih banyak yah, Ayahku sayang. Umuach," gemas Alya mengucapkan terimakasih seraya mengecup ayahnya.


Keduanya sudah berada di mobil menuju pulang ke rumah Dimas. Memang masih sore, belum adzan maghrib juga. Tapi keduanya khawatir dan tidak enak dengan kepergian Alya yang tiba-tiba tanpa kabar tadi. Apalagi, ada Dimas yang sudah duluan pulang, pasti menyaksikan Alya yang kabur dari auditorium kampus itu dengan penuh drama. Jadi, lebih baik meluruskan semuanya secepatnya. Nama baik ayahnya juga dipertaruhkan di sini, meskipun ayahnya dan orang tua Dimas teman baik.

__ADS_1


...----------------...


"Yah..., Alya takut," ujar Alya saat mereka sudah di ambang pintu pemilik rumah yang cukup mewah itu.


"Nggak perlu takut, Yak. Mereka nggak bakal gigit apalagi makan kamu. Santai aja!"


"Tapi, Yah...," melas Alya. Rian merangkul sang putri agar merasa lebih tenang.


Hingga dibukalah pintu oleh Dimas. Dan tak disangka, ternyata ada Mira, Dika, dan juga Indah yang mengekor di belakangnya. Satu penghuni rumah itu menyambut kedatangan Alya dan Rian dengan hangat. Terlihat tawa bahagia saat mereka menyambut dua tamu itu. Termasuk Dimas, walaupun ia hanya menunjukkan senyum yang tipis.


Indah menggiring Alya dengan sangat antusias. Ia dudukkan Alya di sofa ruang keluarga. Bukannya memarahi Alya yang habis kabur dari rumah, satu penghuni rumah ini malah sangat bahagia menyusul Alya ke ruang keluarga.


Alya melirik Dimas dengan berani, berharap menemukan jawabannya di sana. Karena Alya begitu lihai menatap Dimas tanpa aba-aba, akhirnya tawa Dimas terekam dengan jelas. Bahkan hampir tak pernah Alya melihat tawa itu keluar dari seorang Dimas. Bukan menemukan jawaban, Alya malah makin heran. Meskipun secara bersamaan, ia senang dapat melihat tawa lepas Dimas selain tawa yang ia tujukan untuk Indah saja.


"Maaf, Tante, Om. Alya nggak bermaksud kabur dari rumah selama ini. Alya janji nggak akan lakuin ini lagi ke depannya." Alya buka mulut. Ia memang harus buka mulut dan mengakui kesalahannya.


"Al..., nggak apa-apa. Santai aja," jawab Mira mewakili semua penghuni rumah.


"Bang Dimas juga, Kak!" sambung Indah. Sebenarnya Alya sengaja tak menyebutkan nama Dimas, tapi malah diceploskan. Tapi biarlah, biar lengkap maksud dari ucapannya, pikirnya.


Dimas langsung membuat wajah kaku karena sadar sudah menunjukkan wajah bahagia berlebihan. Act cool, act fool.


"Kamu nggak tahu karena kamu buru-buru keluar tadi," respons Mira senang. Ia mengambil posisi duduk di samping Alya yang sudah bersampingan lebih dulu dengan Indah dan menggenggam tangannya.


"Maksudnya gimana, ya, Tante?" bingung Alya.


"Ya ampun Alya... ini tuh bikin Tante bahagia banget. Soalnya waktu pengumuman pemenang tadi, Tante sama Om dan juga Indah sengaja dateng bareng buat dengerin pengumumannya."


"Hehe..., Alya juga bahagia, Tante. Dimas menang lagi di juara satu, kan? Oiya, Dim. Aku belum bilang soal itu. Selamat, ya, atas kemenangannya lagi. Aku turut bahagia juga dengernya," Alya sengaja mengalihkan bahasan. Berusaha agar tak mengingat momen pahit di auditorium itu. Karena usahanya itu masih berbekas, saking kerasnya ia belajar demi memenangkan Olimpiade ini, setidaknya mendapatkan gelar juara, mau juara berapa pun itu. Namun sayang, usaha yang ia kira sudah maksimal itu tak membuahkan hasil.

__ADS_1


Alya tak menatap Dimas setelah ucapan selamatnya. Tak mengerti pula, wajah seperti apa yang akan Dimas buat. Karena sebelumnya, Alya dengan bodoh menantang Dimas jika ia menjadi pemenang dan berfoto di samping Dimas. Jujur, Alya sangat malu. Tak tahu harus ditaruh di mana mukanya.


"Kok kamu sekarang murung lagi, sih? Ini tuh berita bahagia, Alya," seru Mira.


"Hehe... kelihatan murung, ya? Maaf banget, ya, Tante."


"Alya... kamu kenapa minta maaf terus, sih? Ini berita membahagiakan, lho. Karena yang menang bukan cuma Dimas." Mira masih antusias.


"Iya, Tante. Semua anak klub Olimpiade juga menang, kecuali Alya," balas Alya masih murung.


"Kamu juga, Alya!"


"Hah? Juga apa, Tan?"


"Kamu menang di Olimpiade Bahasa Inggris. Juara pertama, Al, juara pertama! Tente bahagia banget waktu denger nama kamu di sebut dan jadi juara pertamanya."


"Hah? Beneran, Tan?"


"Nggak, bohongan!" Dimas tiba-tiba menyeletuk. Ketus lagi. Seketika Alya yang hampir bahagia itu diturunkan moodnya. Merasa dibohongi, meskipun tujuan bohongnya mereka untuk mengembalikan semangat Alya.


"Alya ke luar sebentar, ya, Tan. Cari minum," dengan cepat Alya berdiri. Rasanya ingin sekali kabur dan menangis setelah Dimas berkata seperti itu.


Belum sempat Alya pergi dan meninggalkan kebingungan di wajah semua orang, Dimas menghadang di depannya.


"Apa wajah Bundaku nggak kelihatan seperti orang jujur? Mereka udah repot-repot dateng juga buat kamu. Padahal mereka nggak mau dateng ke pengumuman kalau cuma aku yang ikut Olimpiade. Hargai dong!"


"Jadi aku harus bahagia atau makin sedih sekarang, Dim?" tanya Alya penuh perasaan yang emosional.


Suasana bahagia kini menjadi buram. Suram. Alya dengan spontan meninggalkan rumah, yang awalnya ia benar-benar pulang, ternyata ia tak bisa benar-benar pulang di rumah yang bukan miliknya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2