Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Obrolan di Meja Makan


__ADS_3

"Dim, denger-denger ada Olimpiade deket-deket ini? Bener, Dim? Kamu ikut nggak?"


Di meja makan, jelas-jelas semua orang sedang fokus dengan makanannya, tapi Mira malah tak bisa diam karena gatal mulutnya ingin bicara.


"Iya, Bun. Dimas selalu ikut, kan? Bunda kayak nggak ada pertanyaan lain aja. Padahal Bunda sendiri udah tahu jawabannya, kan?" Dimas malas, ia menjawab seadanya.


"Yaelah, Dimas. Dingin amat sama bundanya sendiri. Lagian kamu kayak nggak tahu Bunda aja, kalau ngomong begini pasti ada hal penting yang mau diomongin, tapi Bunda maunya basa-basi dulu. Biar abis pendahuluan, terus masuk ke isi, abis itu baru penutup," balas Mira mengejek. Membalikkan perkataan si anak. Alya terlihat menahan tawa menyaksikan percakapan ibu dan anak ini. Ia pikir, dinginnya Dimas hanya kepada perempuan-perempuan yang naksir dengan Dimas saja, ternyata ibunya sendiri pun tak ia pandang bulu.


"Oiya, Dim. Mulai besok supir yang Bunda bilang udah mulai kerja. Kamu nggak usah bawa motor lagi, ya. Kamu kalau pulangnya lebih telat dari jadwal, kabarin supirnya aja nanti. Lagi musim lomba, kan, ya?" lanjut Mira akhirnya to the poin.


"Diantar dan dijemput bebarengan sama Alya, Bun?" Dimas menanggapi.


"Iya, kamu nggak usah khawatir soal berduaan. Kamu bisa duduk di samping supir, terus Alya duduk di belakang. Lagian itu bertiga, kok, bukan berdua. Kan waktu itu udah kita bahas, Dim."

__ADS_1


"Iya, soal itu Dimas udah tahu. Tapi soal dijemput barengan juga, apa nggak kasihan sama Alyanya yang harus nunggu Dimas selesai dulu di klub Olimpiade?"


"Ooh, kalau soal itu, Alya tinggal ikut klub yang sama aja sama kamu. Klub olimpik itu cuma organisasi, kan? Jadi, nggak ada kata terlambat buat masuk di kelas 12."


"I-iya, sih, nggak ada salahnya. Tapi itu Bunda jangan mutusin seenaknya, dong. Gimana sama orang yang ngejalaninnya?"


"Lah, kalau Alya pasti seneng-seneng aja. Apalagi sekarang mode belajarnya lagi bagus buat ngejer impian masuk universitas di pusat, kan? Sekalian aja ikut Olimpiade, biar makin banyak pengalaman juga. Biar nggak ngerepotin supir juga. Bunda tahu kalau Alya paling nggak mau ngerepotin orang. Jadi, Alya nggak keberatan, kan, Al?" lempar Mira ke Alya.


Alya yang sedari tadi hanya menyimak sambil mengunyah makanannya, ketika namanya disebut ia jadi agak tersedak. Kemudian semua mata tertuju pada Alya, sebagai bentuk perhatian karena Alya tersedak sekaligus sebagai tatapan penuh tunggu atas jawaban apa yang akan Alya berikan.


"Ya Allah, mata Dimas bagus banget, maa syaa Allah...," puji Alya dalam hati. Entah kenapa, setiap ada sesuatu yang baru yang ia alami dan berkenaan dengan Dimas, Alya merasa lebih hidup dan semangat dalam banyak artian, salah satunya membuat Dimas tahu perasaannya dan semangat mengejar cinta Dimas.


Sejurus kemudian, Alya mulai fokus untuk memberikan jawaban dari pertanyaan lemparan Mira tadi.

__ADS_1


"Um..., Olimpiade, ya...? Alya bakal coba yang terbaik, deh. Mau ngikutin alur aja dulu, Tan, hehe. Lagian bener yang Tante bilang. Kasihan nanti pak supir malah harus bolak balik. Belum lagi sekarang harga BBM lagi mahal banget, kan? Hehe, gitu, sih, Tan," jawab Alya sopan namun agak gagok.


"Sekalian biar bisa berduaan juga sama Bang Dimas, kan, Kak Alya?" Indah tiba-tiba menyambung. Alya sangat terkejut dengan Indah yang tiba-tiba berucap seperti itu. Apa selama ini gelagatnya ketahuan oleh Indah? Alya bertanya-tanya.


"Eh? Tapi niatnya nggak salah juga, sih," batin Alya menanggapi.


"Indah, tolong, ya, itu sama sekali nggak lucu, lho, Ndah. Abang nggak suka. Kamu keterlaluan bercandanya. Bukan mengarah ke Alya aja, tapi ke Abang juga. Abang tahu, di umur kamu dan kelas kamu sekarang lagi zamannya becanda tentang cinta-cintaan dan di jodoh-jodohkan sesuka kalian, tapi jangan bawa becandaan itu ke rumah. Apalagi Alya dan Abang bukan anak SD. Kamu paham, kan?" Dimas berhenti mengunyah. Ucapannya terdengar tegas, tak seperti biasanya yang selalu Alya dengar lembut dan manja kepada Indah.


Kali ini Alya kembali dibuat terheran-heran karenanya. Sifat Dimas yang waktu itu membuatnya heran karena ia baru tahu bahwa orang dingin seperti Dimas ini ternyata penyayang adik, kini setelah mendengar kalimat dingin Dimas yang barusan ia ucapkan untuk Indah, telah menghapus seketika ingatan Alya tentang Dimas yang aslinya penyayang adik itu. Tak ia sangka, ia bisa sedingin itu dengan adiknya sendiri. Padahal, Indah hanya anak kecil dan ucapannya tadi hanya bercanda. Dimas malah membawa serius persoalan itu.


"Ah, Indah, maaf. Abang kayaknya berlebihan. Bun, Yah, Dimas udah selesai makannya. Izin ke kamar duluan, ya," ucap Dimas kini lirih.


Tak lama Dimas sadar atas ucapannya yang begitu dingin barusan kepada adik kesayangannya. Ia menyesalinya, kemudian berharap dengan menghilangkan dirinya dari peredaran Indah, ia dapat mengembalikan suasana menjadi normal kembali. Tapi ia tak tahu itu. Tepat setelah Dimas melangkahkan kakinya menuju ke kamar, Indah langsung menangis histeris, tangisannya tak tertahankan. Indah sampai membasahi makannya dengan air matanya. Lalu Dimas, ia tahu bahwa Indah menangis karena perkataannya. Tapi ia tahu, ucapan tak bisa begitu saja ditarik seperti menarik tali atau barang semacamnya. Ia hanya berpikir cara ini yang terbaik.

__ADS_1


Alya, Dika, dan Mira berusaha untuk memenangkan Indah sekeras mungkin. Namun, bukannya malah tenang, Indah malah semakin histeris. Pasalnya, ia baru kali ini dimarahi oleh Dimas. Ya, benar-benar baru pertama kalinya. Ucapan Dimas barusan telau mengubah mindset Indah, bahwa Dimas sudah tak sayang dirinya lagi dan karena itu ia dimarahi. Namun faktanya, Dimas semarah itu karena refleks sifat dinginnya yang dominan itu keluar. Apalagi saat membahas soal perempuan dan percintaan, Dimas benar-benar anti soal itu. Ia sendiri tak menyangka bisa lepas kendali, dan menunjukkan sifat dinginnya itu ke adik tersayangnya sendiri karena benar-benar tak toleran dengan topik itu. Dimas benar-benar merutuki dirinya sendiri. Ia hanya dapat berharap Indah mau mengerti dan memaafkannya.


...----------------...


__ADS_2