Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Suasana Hati Alya dan Dimas


__ADS_3

Alya pulang dengan suasana hati yang kacau. Bukannya selesai masalahnya dengan teman sebangku, ia diterpa pula dengan kebenaran yang menamparnya. Bahwa Dimas terlihat risih dengan gosip antara Alya dan Dimas. Dari nada bicara Dimas, Alya tahu bahwa Dimas benar-benar membenci topik itu. Dalam hati Alya juga kesal, karena sebenarnya yang memulai drama soal pacaran adalah Dimas, bukan Alya. Namun, karena Alya dianggap tak setara dengan Dimas dan hanya memanfaatkan wajah saja akhirnya yang seolah menjadi peran antagonis adalah Alya. Belum lagi dari cara Edo bicara sebab dendam terhadap Dimas. Namun, dari sisi yang lain di hatinya, Alya merasa pantas disalahkan dan merasa harus memperbaiki hubungannya dengan Dimas.


"Kayaknya ucapan Dimas waktu itu cuma dibilang supaya mau nenangin aku doang. Karena pada dasarnya, Dimas memang sosok yang baik. Padahal udah kelihatan banget kalau Dimas memang nggak suka rumor yang beredar tentang kita. Duh..., lama banget sih rumornya ilang? Kenapa orang-orang sibuk banget ngurusin hidup orang lain? Kayak nggak ada kerjaan aja. Lagian, tuh anak rohis kayaknya khilaf nya kelewatan, ya? Bisa banget cerita hidup orang dibikin bahan bercandaan. Dia pikir lucu apa? Emosi jadinya, kan? Astaghfirullah...," gumam Alya. Ia jadi harus mengelus-elus dadanya agar lebih tenang.


"Alya?" suara Dimas mengejutkan Alya. Mereka bertemu di dekat ruang tamu, berpapasan saat Alya akan mulai membantu membereskan rumah tempat ia menumpang itu.


"Ee, Dimas. Baru nyampe rumah? Kirain kamu bakal pulang telat kayak biasanya. Walaupun ini udah telat juga, sih."


"Iya, emang hari ini pulang cepat, lanjut belajar mandiri di rumah. Ada lomba lagi, jadi harus fokus."


"Hari ini aja apa sama besok dan seterusnya?"


"Besok aku pulang kayak anak yang lain biasa pulang. Kenapa?" Nada Dimas mulai sinis. Tampaknya suasana hati Dimas sedang buruk. Harusnya Alya paham soal itu, karena sebagian besar sikap Dimas sekarang sudah dipastikan karena jokes sok lucu anak rohis itu yang menyinggung hubungan Alya dan Dimas. Hari juga cukup terik, dan Dimas otaknya pun makin panas karena harus lanjut belajar lagi setelah pulang sekolah di klup Olimpiade yang ia ikuti di hari yang panas ini. Jika bisa Alya melihat wajah Dimas tanpa ragu, pasti ia akan melihat wajah Dimas yang dinginnya minta ampun, ditambah dengan nada bicaranya yang seperti itu. Tapi Alya lebih memilih menunduk, mencoba menebak dan membayangkan ekspresi seperti apa yang sedang dibuat Dimas dari suaranya saja sudah cukup.


"Eemm, maaf, Dim, jangan dingin gitu, dong. Tadi cuma nanya doang."


"Lagian nggak tiap hari juga aku pulang telat. Aku juga sering pulang di jam normalnya anak lain pulang, kok. Belakangan ini emang lagi musimnya lomba, jadi lebih sering pulang telat dari jam normal. Udah puas, kan? Apa masih dingin? Udah banyak omong tuh aku," ucap Dimas sarkas di akhir. Alya semakin tak ingin melihat langsung wajah Dimas seperti apa sekarang.


"I-iya, Dim. Puas, kok. Makasih penjelasannya," balas Alya dengan perasaan dagdigdug. Ia takut malah membuat Dimas makin bad mood lagi.

__ADS_1


"Indah sama Bunda ada?"


"Indah ada di rumah. Kalau Tante Mira tadi pergi lagi setelah anter Indah ke rumah. Om Dika juga sempat pulang, tapi pergi lagi."


"Oo, oke. By the way, aku nggak bisa ajarin kamu abis ashar nanti. Tapi kalau kamu mau tanya-tanya, bisa setelah makan malam, setengah jam ada waktu kosong aku. Kalau gitu, aku masuk kamar dulu lanjutin belajar mandirinya."


"Iya, Dim, silahkan. Hati-hati assalamu'alaikum,"


"Ha?"


"Ee, ada yang salah, ya? Maaf, Dim," cepat Alya menanggapi. "Duh, gara-gara nervous ini. Jadi salah ngomong, kan. Aaa..., makin runyam kalau Dimas nggak suka," rutuk Alya di batin.


"Astaghfirullah, maaf. Bukan apa-apa. Aku harusnya dari masuk rumah udah ucap salam. Tapi malah kamu jadinya yang ucapin salam duluan ke aku. Untuk salam itu, wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh," ralat Dimas. Ia dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamar.


Dimas tahu suaranya pasti dapat terdengar Alya dari balik hijab pembatas. Tidak ada yang harus dibicarakan, pikir Dimas. Solusinya waktu itu sudah pernah ia katakan, ia tak mau mengatakan hal yang sama lagi jika Alya membahas persoalan itu lagi.


...----------------...


Mira dan Alya ada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Sejak saat itu, hari ia pertama kali mengusulkan agar ikut membantu pekerjaan rumah sebagai bentuk balas budi dan tahu diri, Alya jadi selalu berada di dapur bersama Mira di jam ini.

__ADS_1


"Tante, soal pergi bareng Dimas untuk ke sekolah, Tante pernah omongin itu, kan, waktu Alya baru-baru pindah ke sini?"


"Iya, kenapa emangnya, Alya?"


"Soal itu, lebih baik nggak usah diterusin aja, deh, Tan. Soalnya, Tante tahu sendiri soal rumor Alya sama Dimas, kan? Alya pikir, nanti kalau bareng ke sekolahnya sama Dimas juga buat Dimas risih, belum lagi nanti rumor bakal menjadi-jadi. Alya takut itu malah jadi buat Dimas nggak fokus belajar. Alya pasti bakal merasa bersalah banget sama Dimas, Tan. Alya yang sekarang pulang pergi naik ojol nggak masalah, kok, Tan. Mungkin nanti bakal belajar naik angkot atau bus kota untuk daerah ke sini, deh, biar lebih hemat."


"Kamu berpikir seperti itu, Alya? Duh..., maaf, ya, jadi buat kamu kepikiran jadinya," respons Mira lembut seraya mengusap kepala Alya yang berbalut hijab.


"Tapi Tante juga mikir gini, Tante mau ada niatan rekrut supir pribadi aja. Soalnya, kerjaan Tante sama Om kayak makin banyak gitu, Alhamdulillah berkat kenaikan karir juga. Nah, jadi makin sibuk, dan kalau mau nyetir itu suka capek banget. Apalagi suasana jalanan yang macet bikim makin pusing abis pulang kerja. Tante juga agak. keteteran sekarang kalau mau anter jemput Indah."


"Tante kalau kecapean bilang ke Alya, ya. Alya mau banget mijitin supaya capeknya berkurang."


"Makasih, Alya. Itu memang tambahan solusi yang bagus. Tapi solusi utamanya, ya, itu tadi, Tante bakal rekrut supir pribadi. Nanti, mulai dari Indah, Dimas, dan Alya yang dianter sama supir. Terus, supir balik ke rumah buat anter Tante dan Om. Nah, soal pulang sekolah, Indah duluan yang bakal di jemput, menyusul untuk menjemput Alya sama Dimas, deh. Terus kalau Tante pulang lebih cepat, Tante juga bareng Indah dijemputnya. Kalau soal Om, kebanyakan pulang dan pergi ke rumah sakit, jadi itu ada jadwalnya sendiri nanti. Jadi, lebih enak, kan? Kamu juga nggak usah khawatir soal rumor itu. Dimas kalau dianterin suka beli roti dulu di dekat sekolah, jadi dia yang bakal turun duluan, nggak bakal berbarengan, deh, intinya sama kamu, Al. Jadi lebih hemat juga, kan?"


"Ini serius nanti tetap satu mobil berdua sama Dimas, Tan?"


"Nggak berdua, tapi bertiga sama supir. Jadi, nggak ada lagi yang harus kamu khawatirkan, oke? Jangan banyak dipikirin, Al. Nanti kamu stress lho. Hahahaha."


"I-iya, Tante," Alya menyengir paksa.

__ADS_1


"Solusinya bagus, sih. Cuma kayak dipaksain banget, ya?" batin Alya overthinking.


...----------------...


__ADS_2