
Dimas langsung masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan motornya. Padahal, ia telah di tunggu oleh Alya, tapi itu tak di hiraukan.
"Dim, tunggu," cegat Alya.
"Apalagi? Kalau mau bahas soal tadi, aku nggak punya waktu. Aku mau langsung belajar," balas Dimas. Lagi-lagi ia memasang tembok yang kokoh. Alya pun ciut nyalinya.
Kalau sudah begini, Alya jadi takut membahasnya. Tapi, karena sudah terlanjur memanggil Bayu, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
"Bantu aku belajar, boleh?" tanya Alya ragu-ragu. Ia juga pasti pusing karena tugas yang diberikan untuk dikumpulkan besok adalah fisika, mungkin meminta bantuan Dimas bisa membantunya. Jika sudah lebih rileks, mungkin ia bisa mengajukan pertanyaan yang ingin ia obrolkan sebenarnya. Menyelam sambil minum air, pikirnya.
"Aku juga mau belajar!" tolak Dimas mentah-mentah. Kemudian masuk ke rumah dengan cepat.
"Ya ampun, Alya. Kamu berani banget, sih? Kalau Dimasnya mau bantu belajar, emang belajar di mana? Dan belajar pasti cuma berdua, makanya di tolak sama Dimas. Ya, meskipun ada Indah di rumah yang udah pulang sekolah duluan. Ngomong kenapa nggak dipikir dulu, sih? Dasar diri ini," batin Alya sadar dan merutuki dirinya.
Alya mengikuti Dimas yang sudah masuk duluan. Ia ingat, tugas fisika yang akan dikumpul besok sangat sulit. Karena teringat tentang itu, ia mengeluh dengan berteriak. "AAAAAAAAARGH," teriaknya.
Sampai di depan kamar, Alya sudah mencapai batas maksimal stresnya, "Aaaaaargh..., kenapa dulu milih IPA, sih? Karena Ayah, nih. Tuh, kan, jadi kangen Ayah. AAAAAAAAARGH," ucapnya. Alya lupa kalau ia tidak berada di rumahnya, melainkan menumpang di rumah orang. Saat ia sadar harus menjaga sikap, ia beristighfar dan lagi-lagi merutuki diri sendiri.
Terdengar pintu kamar terbuka, tapi bukan pintu kamar Alya. Pintu dua kamar setelah kamar Alya dan Indah, kamarnya Dimas. Terlihat ia keluar sudah mengganti baju sekolahnya dengan baju rumah.
"Berisik banget, sih? Udah aku bilang, kan, kalau aku mau langsung belajar?" marah Dimas pada Alya. Sudah jelas Dimas akan marah jika belajarnya terganggu akibat suara bising yang di buat Alya.
__ADS_1
"Maaf, Dim. Aku keceplosan, padahal ini bukan rumah aku. Kebiasaan kalau di rumah. Maaf, ya, jadi ganggu kamu belajar. Aku janji nggak bakal teriak-teriak lagi," ungkap Alya. Mereka berbicaralah di depan pintu kamar masing-masing, dengan kamar Indah yang menjadi penengah. Tak lama, Indah pun ikut keluar dari kamarnya.
"Kak Alya..., emangnya fisika susah banget, ya?" ucap Indah tiba-tiba datang dan menyerobot.
"Haha, kalau menurut orang-orang yang kayak Kakak, pasti susah. Beda banget sama orang kayak abang kamu yang selalu juara satu olimpiade fisika," jawab Alya. Entah kenapa Dimas merasa tersindir. Dimas pun berdeham. Sadar akan dehaman Dimas, tiba-tiba Indah berpikir ide untuk membantu Alya.
"Bang, bantu Kak Alya, dong. Kakak udah dipuji itu, loh. Lagian, fisika pasti gampang banget untuk Abang, kan?" usul manja Indah pada sang Abang.
"Abang juga mau belajar, Hari Minggu nanti ada olimpiade. Lagian, Abang nggak mau bantu Alya, soalnya berduaan gitu nggak baik," Dimas menanggapi dengan lembut pada sang adik agar ia mengerti.
"Siapa bilang berduaan? Kan, ada Indah. Jadi, kita bertiga, bukan Abang sama Kak Alya doang. Indah juga mau tahu dikit-dikit soal fisika. Anak SD masih belajar IPA terpadu soalnya. Jadi, Abang nggak masalah, kan? Lagian, sebentar aja pasti selesai. Dan Abang bisa lanjut belajar," rayu Indah kukuh dengan usulannya. Karena Dimas sangat sayang adik, ia akhirnya luluh.
"Berapa soalnya?" tanya Dimas pada Alya. Seketika Alya terkejut karena Dimas mau membantunya.
"Ya udah, ngerjainnya di ruang keluarga," singkat Dimas.
"Kamu mau bantu aku, Dim? Makasih banyak, ya," ucap Alya sangat kentara nada senangnya.
"Ini karena Indah yang minta," lugas Dimas.
"Lho, Abang nggak ikhlas bantuin Kak Alya?" Indah menghakimi Dimas jadinya. Pipi kembungnya ia tunjukkan karena kesal dengan Dimas.
__ADS_1
"Indah..., kamu bawel banget, deh. Nanti Abang cubit pipi kamu sampai Abang puas, mau? Gemas Abang jadinya."
"Nggak maulah!"
"Ya udah, jangan bawel. Dasar adik bawel." Dimas mengacak-acak rambut Indah, kemudian lebih dulu ke ruang keluarga. Sementara itu, Alya segera berganti baju rumah dan siap-siap mengambil keperluan tugasnya.
Kalau ada Indah, kesempatan untuk bertanya soal sikap Dimas sangat kecil. Tapi biarlah, yang penting tugasnya selesai.
Dimas sama sekali tak mengajari Alya bagaimana cara penyelesaiannya. Ia hanya menuliskan jawaban dari tugas Alya, dan menyuruh Alya memperhatikan bagaimana Dimas membuat jalannya dengan rumus. Sama sekali tak ada bersuara. Alya pun segan bertanya jika sudah dibantu sejauh ini. Ada banyak pertanyaan di kepalanya tentang tugas fisikanya. Jika ia benar-benar menjiplak apa yang ditulis Dimas ke buku tugasnya, itu sama saja dengan menyontek. Entah kenapa menyontek tak terlalu Alya sukai, tapi ia selalu memberikan contekan pada temannya jika ada tugas.
"Udah selesai. Aku balik dulu ke kamar, mau belajar," Dimas mengakhiri. Ia berdiri, Alya pun ikut berdiri. Indah hanya melihat mereka sambil mendongakkan kepada karena ia malas berdiri.
"Anu..., Dim..., di bagian ini aku kurang ngerti. Kamu bisa jelasin?" tanya Alya takut-takut.
"Jangan buang waktuku. Aku cuma membantu kamu mengerjakan tugas, bukan berarti bisa merangkap untuk ngajarin kamu. Lagian, kamu bisa tanya itu sama guru fisika. Aku bukan guru!" jawab Dimas datar dan ada sindiran di sana. Kemudian berlalu ke kamarnya. Indah berusaha mengejar Dimas dan kompromi, tapi tak berhasil. Kemudian meminta maaf pada Alya karena tak dapat membantunya.
Alya cukup tahu diri. Ia tak menyalahkan Indah atau Dimas. Lagian, Alya bisa berulang kali melihat penyelesaian yang dibuat Dimas sampai paham. Selama ini ia telah menjadi wanita mandiri, urusan seperti ini tak masalah baginya, masih terbilang kecil. Namun, ada yang mengusik hatinya. Dimas yang ia kagumi dan ia sebut namanya dalam doa di sepertiga malamnya menunjukkan sikap yang begitu dingin. Ucapan-ucapan Dimas selalu mengejutkannya, tapi ucapan dinginnya yang ia lontarkan sebelum kembali ke kamar sangat membekas di hati Alya. Ia syok tahu Dimas sedingin ini.
"Apa aku suka sama orang yang salah? Kenapa diperlakukan sedingin itu aku malah ciut?" batin Alya.
"Alya..., ini tantangan baru. Jangan ciut kalau Dimas nunjukin dinginnya. Kamu tahu sendiri kalau Dimas itu sebenarnya baik, dia juga penyayang. Dinginnya itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan kebaikannya. Jangan menyerah! Tetap kejar Dimas." Sisi positif Alya menyemangati. Ia tetap berusaha untuk mengejar Dimas, mengejar cinta si dingin. Walaupun masih ia kejar lewat jalur langit di sepertiga malamnya. Esok ia akan berusaha lebih untuk membuat Dimas hangat padanya.
__ADS_1
...----------------...