
Sore tiba. Selesai melaksanakan shalat ashar, Alya bertemu dengan Mira yang ternyata baru pulang kerja. Selanjutnya, sesuai dengan rencana yang ia buat, ia akan membantu Mira untuk membereskan rumah. Sudah diberikan tumpangan, ia harusnya sadar diri dengan membantu-bantu. Ia tahu Mira tak mengharapkan itu, tapi ini bentuk balas budinya karena selain diberi tumpangan tempat tinggal gratis, Alya juga di beri makan gratis, fasilitas pribadi gratis, bahkan soal pulang pergi sekolah pun ikut gratis.
“Tante nggak maksa kamu lho, Alya. Kamu justru yang maksa buat bantuin beres-beres rumah. Kamu aneh banget! Di mana-mana, kita kalau di rumah orang pengennya santai. Lha, kamu pengennya capek-capekkan badan.” Mira berkomentar setelah Alya selesai membantunya membereskan rumah. Lalu Alya, ia menerima pujian itu dengan senyum ramah dan malu-malu.
Makan malam pun tiba. Yang memasak makan malam memang Mira, tapi ada Alya juga yang membantunya. Sebenarnya Mira ingin sekali merasakan masakan Alya, tapi tidak mungkin di hari ini, ia tahu kalau Alya pasti kelelahan.
“Gimana, Dim masakan Alya?" tanya Mira di meja makan. Dimas yang fokus pada makanannya tiba-tiba tersedak. Ia tak mengerti kenapa sang bunda tiba-tiba bertanya seperti itu.
Mira memang selalu bertanya soal rasa masakan ke keluarganya. Namun, kali ini ia bertanya khusus ke Dimas terlebih dahulu. Apalagi, ia berbohong soal masakan itu yang dimasak oleh Alya. Ia hanya ingin mengerjai Dimas sedikit, juga ingin melihat reaksinya. Dan langsung saja, Mira menahan tawa karena Dimas tiba-tiba tersedak setelah Mira melontarkan kalimatnya.
"Dim, minum dulu, minum. Abis udah agak enakan, baru Bunda mau denger pendapat kamu," ucap Mira.
Dimas meneguk minumnya. Lalu, Alya yang sudah merona tak menyangka Mira bisa berkata seperti itu, ia jadi merasa bersalah karena Dimas tersedak. Tiba-tiba, Dimas menatap Alya dengan tatapan dingin sehabis meneguk minumnya. Alya pun jadi bergidik ngeri, tak mengerti maksud Mira mengatakan hal yang tak benar seperti itu.
"Jadi, gimana, Dim?" tagih Mira. Dimas diam cukup lama.
"Enak. Tapi, agak asin dari masakan bunda yang biasanya," komen Dimas. Alya bukan sakit hati dikatai seperti itu, ia malah menahan tawa karena yang sebenarnya terjadi adalah Dimas sedang mengomentari masakan Mira, masakan bundanya sendiri.
"Maksud kamu apa ngomong gitu, Dim?" respons Mira terlihat agak marah.
"Dimas cuma ngomong yang sejujurnya, Bun," singkat Dimas.
"Ini masakan Bunda, bukan masakannya Alya. Jadi, kamu bilangin masakan Bunda hari ini keasinan?"
__ADS_1
"Dimas nggak bilang gitu, Bun,"
"Udahlah, Bunda ngambek pokoknya. Kamu juga jangan makan masakan Bunda kalau merasa keasinan. Nggak usah komentar kayak gitu juga. Jujur banget jadi orang."
"Bun, Dimas nggak bermaksud. Dimas minta maaf."
"Jadi, apa maksud kamu? Apa gara-gara Bunda bilang kalau ini masakan Alya, jadi kamu bisa mengomentari sejahat itu? Kalau ini beneran masakan Alya, kamu beneran mau komen yang nyakitin hati Alya kayak gitu?" desak Mira. Tiba-tiba Dimas diam tak mengelak. Bukan karena ucapan Mira benar, bukan juga salah. Hanya saja, ucapan Mira sedikit ada benarnya. Karena entah kenapa, Dimas tak suka dan cenderung dingin dengan apapun yang dikaitkan dengan cewek, termasuklah Alya di dalamnya. Ia selalu cuek, dingin, dan berusaha agar si cewek tak menyukainya, hanya itu maksud Dimas.
"Kenapa diam, Dim? Jadi itu bener?" desak Mira lagi. Kini, Alya merasa bersalah. Suasana meja makan kacau jadinya.
"Um..., tante, maaf menyela. Alya nggak masalah, kok, kalau dikomentari kayak gitu. Kalau misalnya Dimas memang komentar begitu di masakan Alya, Alya coba ngertiin kenapa Dimas ngomong kayak gitu. Mungkin, karena malu dan nggak nyaman juga, Tante. Alya juga kalau di posisi Dimas bakalan kayak gitu."
"Kalau gitu, ya..., ya udah, deh. Maafin Tante yang berlebihan ini, ya, Alya. Kamu nggak usah sungkan, makan aja yang banyak," ujar Mira. Tiba-tiba ia jadi ramah kembali setelah murka dengan Dimas. Namun, Dimas bersyukur, karena ia jadi terselamatkan.
"Maafin Bunda juga, ya, Dim. Bunda tadi mau menggoda kamu. Cuman, gara-gara kamu komen kayak gitu ke masakannya Bunda, ya, jadinya gini," ujar maaf Mira juga ke Dimas. Respons Dimas hanya mengangguk ragu, karena terkaman bundanya tadi masih terasa.
Semua sudah menghabiskan makanannya. Lalu, Alya dengan sigap membantu Mira untuk mencucikan piring bekas makan.
"Tuh, lihat, Dim. Alya rajin banget, ya? Dia mau cucikan piring kotor, termasuk piring kotor kamu."
"Padahal Dimas bisa cuci piringnya Dimas sendiri."
"Ngomong apa kamu, Dimas?"
__ADS_1
"Ng...,"
"Kalau mau cucikan piring kamu sendiri, kenapa nggak bantu Alya sekalian? Jadi, bukan cuma piring kamu yang dicuci, tapi bekas makanan yang udah abis juga, dan piring kotor lainnya."
Alya yang mendengar itu cepat-cepat menolak. "Nggak usah, Tante. Piring segini, mah, masih terbilang dikit. Alya sendiri yang cuciin udah cukup. Biar cepat selesai juga, Tan," kata Alya. Ia sudah tahu jika disuruh seperti itu, Dimas pasti akan risih. Apalagi kalau membantu mencucikan piring, otomatis mereka akan berdekatan. Alya sendiri meskipun ada rasa dengan Dimas, ia belum siap untuk itu. Bisa-bisa ia tak fokus dibuatnya dan malah memecahkan piring yang ia cuci. Bisa dibayangkan betapa jengkelnya Dimas nanti padanya.
"Wah..., rajin banget kamu, Alya. Menantu idaman, nih. Iya, kan, Dim?" lempar Mira. Namun, Dimas tak menggubris. Ia malah duduk di sofa ruang keluarga dan membuka ponselnya yang berisi e-book kumpulan soal olimpiade.
Mira mendatangi Dimas dan mengganggunya. Sepertinya, ibu satu ini suka sekali menggoda anaknya.
"Kamu tahu, Dim, sofa yang kamu dudukin ini tadi Alya lho yang bersihkan. Kinclong banget, kan? Kalai Bunda sih, mana bisa sebersih ini. Terus, Alya juga bantuin Bunda bersihkan seisi rumah. Padahal, ada juga bagian yang Bunda jarang bersihkan, ini ikut dibersihkan juga sama Alya. Jadi lebih rapi, deh."
"Iya, Bun, Dimas tahu," respons Dimas malas. Ia hanya ingin fokus membaca soal-soal, jadi, ia harus membuat Mira puas dulu hingga diam.
"Menantu idaman banget, kan?" tanya Mira lagi menjebak.
"Iya, Bun." Dimas tanpa sadar mengiyakan. Alya yang bisa mendengar pembicaraan mereka langsung merona.
"Berarti, istri idaman juga, dong?" jebak Mira lagi.
Dimas jadi sadar dengan ucapannya. Dan ia menyadari telah termakan jebakan batman. Ingin meralat, tapi ia memikirkan cara yang elegan dulu untuk meralatnya.
"Bunda juga menantu idaman, kok, istri idaman juga. Kalau Bunda nggak sesibuk ini, mungkin Bunda bisa buat rumah ini sebersih dan serapi ini. Bahkan, Bunda bisa banget bersihkan lebih bersih dadan lebih rapi dari ini. Dimas masuk dulu, ya, Bun. Mau belajar," ujar Dimas. Jika Bundanya bisa menjebaknya, ia bisa melepas jebakannya. Dan ia juga pandai menanggapi, sang Bunda jadi tak bisa lagi ribut soal itu kalau Dimas sudah membawa-bawa belajar.
__ADS_1
Lalu Alya, meskipun sudah mengira Dimas akan menanggapi seperti itu, ia masih saja kecewa seenaknya. Padahal, ia sudah berbangga diri diakui sebagai menantu idaman.
...----------------...