Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Rumor Baru


__ADS_3

Satu pekan sudah Dimas rutin mencoba berusaha mengajari Alya. Alya merasa lebih pintar, dan merasa jika ia bisa mengikuti pembelajaran di kelas IPA 1 bersama Dimas. Percaya diri sekali Alya, padahal baru satu minggu ini berjalan.


Diberikan kesempatan untuk diajarkan, ia jadi semakin rajin untuk memberikan hasil yang baik. Ia ingin lulus di kampus yang satu kota dengan ayahnya agar bisa hidup bersama ayahnya lagi. Ia yang dulu memang sudah selalu mengerjakan tugas dari guru, kini semakin rajin karena ia merasa mengerjakan tugas jadi lebih mudah berkat pengajaran Dimas. Dengan usaha ini, ia harap bisa sedikit mendekati untuk lulus di kampus impiannya.


Kerajinan Alya semakin dimanfaatkan oleh teman sekelasnya. Yang biasanya memang sering meminta contekan, kini mereka lebih ngotot meminta contekan dan diajarkan juga, meskipun itu hanya kode etis agar tidak kelihatan terlalu "memanfaatkan" Alya.


Alya senang bisa berbagi ilmu meskipun ia tak cukup mengerti dalam, atau mengajarkan teman sekelasnya seperti Dimas mengajar. Alya mengajar dengan caranya sendiri. Meskipun kadang ada temannya yang pura-pura memperhatikan karena kode etis tadi, padahal tidak benar-benar memperhatikan.


"Dena, nggak ikut nyontek juga?" Alya melihat teman semejanya itu kali ini tak ikut menyontek. Biasanya ia yang lebih dulu meminta contekan karena strategis tempatnya untuk meminta langsung ke Alya.


"Nggak, deh, males," jawab Dena.


"Males kenapa, nih? Males karena udah kerjain sendiri dari rumah ya? Atau malas aja ngerjain PR nya?" tanya Alya kepo. Dena juga terlihat enggan terlibat di topik pembicaraan.


"Aku nggak mau kerjain. Biar aja dihukum, aku nggak peduli," jawab Dena seraya memutarkan bola matanya.


"Jangan gitu, dong. Kita udah terakhir nih, udah kelas dua belas. Masa mau di malas-malasin terus?" Alya tampak menyemangati. Memang saat memasuki tingkat akhir di jenjang pendidikan, harusnya orang-orang mengkhawatirkan masa depannya, itulah yang Alya pikir.


"Al, kamu sejak kapan bisa ngomong gitu? Kamu tahu sendiri juga, kelas ini dijukukin kayak gimana sama kelas luar? Kamu tahu, kelas ini dipandang kayak apa sama guru-guru. Kalau mereka udah tahunya kita gini, mana ada semangat mereka untuk periksa PR kita," ucap Dena pesimis. Menyemangati Dena bukan kali ini Alya lakukan. Tapi rupanya, Dena terlalu sensitif dengan cara Alya menyampaikan.


"Emangnya kamu tahu darimana kalau mereka nggak semangat untuk periksa PR dari kelas kita, Dena?" tanya Alya yang agak sensitif juga dengan omongan pesimis Dena.

__ADS_1


"Al, udah, deh, kamu kok positif banget, sih? Semua orang tahu tiap kelas dengan akhiran IPA 12 kayak kita nggak dipeduliin sama guru. Kita ini siswa gagal," balas Dena makin pesimis. Namun, ia juga berniat mempengaruhi Alya untuk menyerah saja.


"Iya, aku tahu. Tapi, ini kan juga usaha. Kalau kita rajin buat PR sekelas, julukan itu bakal lepas dari kelas kita," tampak Alya tak ingin terpengaruh dengan ucapan Dena.


"Ya udah, kamu kalau jawab begitu, nggak apa-apa. Aku menghargai pendapat kamu, kok," balas Dena malas. Lalu tiba-tiba ia berlalu keluar kelas, padahal jam pelajaran sudah akan dimulai.


"Dena kenapa, ya?" batin Alya mengkhawatirkan Dena. Ia tahu Dena memang sering membolos, tapi ia tak pernah melihat Dena bolos sepagi ini. Bahkan Dena selalu jadi yang nomor satu untuk menyalin PR dari Alya karena memanfaatkan keuntungannya yang semeja dengan Alya. Tidak pernah Dena membolos, ia pasti selalu hadir karena sudah menyelesaikan tugasnya. Alya jadi merasa bersalah. Ia takut perkataannya pada Dena tadi kelewatan dan menyakiti hati Dena.


...----------------...


"Denger-denger kamu udah putus dari Dimas, ya, Alya?" suara seorang lelaki memekik ke arah Alya yang sedang duduk sendirian di kantin menyantap makanannya.


"Edo?" respons Alya yang memang kaget dengan kedatangan Edo tiba-tiba. Terlihat ia juga sendirian, tak bersama Septi sang pacar.


"Kamu nyamperin aku cuma mau ngomong itu?" balas Alya sinis. Meskipun yang disampaikan Edo tak benar, entah kenapa ia merasa kesal.


"Iya, emang kenapa? Mulut-mulut gue, jadi gue berhak ngomong apapun, kan?" Edo sudah seperti perempuan yang mau menang sendiri. Sepertinya, Alya yang jadi laki-lakinya sekarang. Lalu Alya, ia hanya berusaha meredam emosinya dengan makan tergesa-gesa agar seger pergi dari hadapan Edo.


Alya terhenti makannya, lalu Edo beralih tak memandang Alya lagi. Tiba-tiba dua orang ini hilang fokus dengan kehadiran Dimas di kantin, tak biasa pikir mereka.


"Bro, jadi Lo udah putus sama Alya?" Edo mengganti sasarannya menjadi ke Dimas. Seolah akrab, Edo berusaha merangkul Dimas bak sahabat dekat. Namun, seketika langsung ditepis Dimas dan tak memedulikan kehadiran Edo. Dimas lanjut memesan makanan di sana.

__ADS_1


Edo harusnya masih kesal karena kalah saat beradu dengan Dimas waktu itu. Namun, bisa-bisanya ia menjadi sok akrab dengan Dimas. Alhasil, ia malah mendapatkan perlakuan Dimas yang dingin. Hati Alya nampak agak bersyukur soal itu.


"Edo, stop. Kamu jangan cari gara-gara di sekolah. Kantin juga lagi rame. Emang iya aku udah nggak sama Dimas lagi, kamu puas, kan? Jangan bawa-bawa Dimas lagi." Alya ikut berdiri di dekat Edo dan Dimas berada. Badannya refleks ingin membela Dimas, tapi ia sebenarnya tak tahu kalau tindakannya ini malah tak membantu apapun.


"He..., udah jadi mantan masih belain aja, nih. Situ masih berharap, ya? Hahahaha. Gimana, Dimas? Nggak ada niatan balikan lagi sama si primadona dodol ini?" tanya Edo lagi sarkas. Alya tahu maksud dodol yang diucapkan Edo itu adalah untuk menyindir kemampuan otak Alya.


Kemudian, Edo mencoba lagi merangkul Dimas. Namun, Dimas dengan cepat menepis kasar dan dengan tegas berkata, "Nggak!" ucap Dimas seraya memandang sinis Edo. Kemudian, tatapan sinis itu juga di lemparkan ke Alya. Dingin, Alya merasa sangat kedinginan di tatap lagi seperti itu, dengan pandangan dingin itu.


"Hahahaha, ditolak mentah-mentah tuh, Alya," Edo malah memanas-manasi.


Alya kabur dengan cepat. Ia merasa akan membuat keributan dan rumor baru lagi kalau melanggati Edo. Ia tak ingin merepotkan Dimas lagi. Tapi sebenarnya, ia juga kabur karena dari mata Dimas ia merasa terusir.


...----------------...


Tujuan kabur Alya adalah kelasnya. Agak beruntunglah ia sudah memakan banyak makanannya hingga hampir habis, jadi ia tak akan merasa kelaparan tiba-tiba.


"Aku tadi lihat kamu sekilas di kantin lagi ribut sama Edo, perkara Dimas, Al. Aku boleh nanya nggak?" tanya Dena di tengah-tengah guru menjelaskan.


"Nanya apa?" respons Alya tak semangat. Setelah dari kantin tadi, Alya sama sekali tak fokus oleh penjelasan guru. Padahal, akhir-akhir ini ia selalu fokus tiap guru menjelaskan.


"Selama ini aku heran sama kerajinan kamu yang makin ningkat. Kamu juga jadi makin sering jawab-jawabin soal ke depan, nilai tugas kamu juga bagus. Intinya ya, aku mau bilang, kamu makin pinter aja, deh, sekarang. Apa bener yang Edo bilang kalau kamu masih berharap bisa pacaran lagi sama Dimas? Makanya kamu berusaha memantaskan diri buat jadi sepintar dia, jadi, nggak ragu buat Dimas mau pacaran lagi sama kamu karena setidaknya kamu udah nggak sebodoh dulu dan lebih pantas lahi sama Dimas. Dan tunggu, aku dianggap apa sama kamu, Al? Kamu nggak ada cerita sama sekali ke aku kalau kamu pacaran sama Dimas. Malah aku dengar dari mulut orang-orang dan gosip-gosip yang bertebaran. Aku pikir, aku temen terdekat kamu, Al. Tapi kayaknya aku aja yang kepedean."

__ADS_1


Obrolan tiba-tiba menjadi serius. Alya semakin tak fokus. Di satu sisi, ia harus fokus dengan guru yang sedang serius menjelaskan pelajaran. Di sisi lain, Alya juga harus fokus mendengarkan Dena meskipun di tengah-tengah penjelasan guru seperti ini.


__ADS_2