
Sampai di sekolah, teman-teman Alya sudah memburu Alya untuk menyalin PR miliknya. Alya juga tidak terlalu pintar, tapi ia selalu selesaikan PR yang diberikan oleh gurunya.
"Alya, lama banget hari ini nyampenya? Mana keburu kita nyalin PR dari kamu. Lah, wong PR nya bejibun," keluh salah seorang teman sekelas Alya.
"Iya, kamu juga pelit banget, nggak mau fotoin PR terus langsung dibagiin ke grup," timpal teman yang lainnya.
Meja Alya sudah dipenuhi teman sekelasnya yang mengantri untuk meminta izin menyalin PR Alya. Ada yang dengan memfoto, ada yang meminta izin karena sudah mendapat kiriman dari teman yang lain yang sebelumnya memfoto PR Alya. Definisi mencontek dengan sopan, ya, beginilah.
"Lah, kalau mau nyontek harus usaha, dong. Mau enaknya aja. Nanti aku nggak kasih PR punyaku, baru tahu rasa kalian!" respons Alya seraya mengancam.
"Aduh..., ampun ndoro. Kita cuman becanda doang tadi." Semuanya malah terlihat seperti penjilat setelah diancam sedikit oleh Alya. Melihat mereka seperti itu membuat Alya cekikikan.
"Halah..., bisa aja kayak gitu biar aku kasih contek terus. Dasar!"
...----------------...
Sudah tinggal satu atap dengan Dimas, tidak berarti membuat mereka langsung akrab. Apalagi, masih satu hari Alya menginap di rumah Dimas. Namun, apa masih wajar kalau saat bertemu seperti orang tidak saling kenal begini? Saat Alya sengaja untuk shalat dhuha dan bertemu Dimas, ia ingin menyapa. Dimas yang mengetahui akan di sapa malah membuang muka dan beralih dari mushalla setelah memasang sepatunya. Padahal, Alya hanya ingin bersikap sopan kepada anak dari keluarga yang sudah mau menampungnya. Meskipun ada niat lain dibaliknya.
"Ih, kok menghindar, sih? Perasaan tadi Dimas lihat aku, deh," Alya menggerutu kesal.
Dena melihat Alya saat ingin ke kantin. Untungnya ia tak melihat kalau Alya ingin menyapa Dimas tadi.
"Al, kamu rajin duha pas istirahat sekarang, ya," sapa Dena.
"I-iya, alhamdulilah. Kamu juga jangan pacaran aja, sholat sana," Alya menyindir Dena yang di sampingnya ada pacarnya. Yang merasa tersindir malah berdeham.
"Ayo makan, nanti keburu abis makanannya sebelum kita pesan," ucap Dena pada pacarnya menghindar dari "ustadzah" Alya.
__ADS_1
"Dena... Dena..., pinter banget menghindar kayak seseorang," Alya pun mengaitkan perilaku Dena dengan Dimas yang menurutnya mirip.
Alya berjalan ke mading utama sekolah, mengisi waktu setelah shalat duha selagi jam istirahat masih ada. Ia tidak ke kantin sekarang, malas mengantri panjang untuk memesan jajan. Ia melihat berita tentang prestasi murid di sekolah ini. Ia melihat foto Dimas ada di sana sebagai juara pertama olimpiade tingkat nasional. Lalu ia melihat foto di sebelahnya. Tampak foto bersama anak-anak yang memenangkan olimpiade di sana bersama Dimas. Alya melihat secara seksama siapa yang berfoto bersama Dimas itu.
"Lah, ini kok kayak pernah lihat, ya? Oiya, cewek ini selalu memenangkan olimpiade juga, walaupun nggak pernah juara satu kayak Dimas. Dia kok kayak seneng banget sih foto bareng Dimas? Beda banget sama cewek yang lain yang juga menang olimpiade. Hmm..., mesti dicurigai nih," gumam Alya seperti mendeteksi musuh.
...----------------...
Hari yang panjang akhirnya tiba. Karena ada kerja kelompok lain, Alya harus pulang sore juga hari ini. Tapi, tidak se-petang waktu itu. Ia juga belum berpapasan dengan waktu ashar. Kerja kelompok kali ini hanya menentukan pembagian tugas saja. Itu pun sudah banyak memakan waktu karena beralasan mau makan siang dulu lah, shalat dulu lah, mabar bentar lah, dan lain-lain yang menghabiskan waktu cukup panjang. Pukul tiga siang mereka baru selesai.
"Eh..., ketemu sama Neng Alya lagi. Nggak sama pacarnya, Neng? Dimas bukan, sih?"
Alya membeku saat ia mendengar suara yang sama saat ia pulang telat juga waktu itu. Ia lupa kalau harus bertemu dengan segerombolan anak IPS ini kalau pulang sampai telat. Tapi Alya tidak bodoh, ia berniat menunggu ojol di dekat gerbang sekolah. Merekanya saja yang melihat Alya dari tongkrongan yang langsung menggoda Alya. Padahal cukup jauh dari tongkrongan mereka, tapi penglihatan mereka tajam juga rupanya.
"Hahahaha. Iya, bener. Palingan Alya manfaatin Dimas buat kabur dari kita waktu itu. Sampai ngaku sebagai pacarnya Dimas segala. Hahahahaha," timpal kawanan yang lain.
"Alya, udah, deh jangan bohong. Mana mau orang dingin kayak Dimas sama kamu. Yang mau dan cocok sama kamu, ya, kita-kita ini. Anak-anak IPS kayak kita ini apa kurang ganteng, hah?" Mereka menyombongkan diri.
"Iya, kalian memang ganteng, kok," ucap Alya merespons. Mereka langsung percaya diri dan senangnya bukan main mendapat pujian dari salah satu primadona sekolah.
"Terus, kenapa nggak mau nih sama salah satu dari kita? Kurang apa coba?"
"Karena kalian cuman ganteng tampangnya doang. Kalian dekatin perempuan cuman untuk pemuasan kalian doang. Akhlak kalian nggak ganteng. Beda sama Dimas," imbuh Alya sarkas.
"Halah, nggak usah sok suci, deh. Kelas kamu juga nggak beda jauh kok orang-orangnya sama sifat kami yang anak IPS ini."
"Iya, itu kelas aku yang begitu, tapi akunya nggak. Maaf, ya, aku malas meladeni sekumpulan laki-laki yang nggak bisa menghormati wanita." Alya keberaniannya tampak sudah terkumpul. Ia keluar dari kerubungan mereka dengan paksa.
__ADS_1
"Eee..., tunggu dulu," cegat mereka. Alya pun tidak bisa keluar dari kerubungan itu.
"Apasih pegang-pegang?"
"Kita belum selesai ngomong, Alya." Tangan Alya dipegang cukup kuat untuk mencegatnya.
"Lepasin. Lepasin, nggak? Sakit tahu!" Alya sekuat tenaga berusaha melepaskan.
"Kita nggak akan macam-macam, kok. Santai aja. Ayo ikut ke tongkrongan kita, ada banyak makanan dan gratis," tawar mereka. Kemudian perlahan mereka menyeret Alya yang secara otomatis terseret karena tangannya yang seperti ini.
"Nggak mau! Lepasin, nggak?" Kali ini Alya mengeluarkan seluruh tenaganya sampai membuat orang yang menggenggam tangan Alya berhenti, tapi tidak cukup kuat untuk benar-benar melepaskan genggaman tangan ini.
Alya melihat ke arah gerbang sekolah. Mengambil kesempatan untuk meminta tolong pada orang yang nampak, siapapun itu. Saat Dimas keluar dari gerbang, Alya merasa masih ada harapan. Karena sebelumnya Dimaslah yang menolong Alya dari segerombolan orang-orang ini.
"Dimas! Tolongin. Dimas!" teriak Alya pada Dimas. Dimas langsung melihat karena suara Alya cukup keras.
Sangat disayangkan, Dimas keluar gerbang hanya untuk mengambil makanan yang ia pesan dari aplikasi ojol saja. Setelah mengambilnya, ia langsung masuk ke area sekolah lagi. Dimas juga hanya memandang Alya biasa, tak berniat menolongnya. Mereka seperti orang asing, padahal tinggal seatap.
"Tuh, kan, bener. Mana ada dia hubungannya sama Dimas. Dia malah masuk lagi ke sekolah dan mengabaikan kamu. Hahaha. Udahlah, Alya, kita-kita masih lebih baik daripada Dimas."
"Ya Allah, Dimas. Aku pikir kamu bakal nolongin aku lagi kayak waktu itu. Aku kayaknya salah udah menganggap kamu orang yang sangat baik," batin Alya kecewa.
Melihat dimas yang enggan menolongnya, seketika tenaga Alya melemah. Ia menjadi lebih jinak sekarang. Tangannya pun ia biarkan di genggam dengan kasar.
Melihat ketenangan Alya, laki-laki yang menggenggam tangan Alya dengan kuat mengendurkan kekuatannya. Alya juga ikut dengan mereka ke tempat tongkrongannya yang tak jauh dari sana. Terlihat ada cewek lain yang ada di sana selain Alya. Mungkin mereka pacar dari segerombolan anak IPS ini.
...----------------...
__ADS_1