
Keesokan pagi, saat Dimas dan Alya yang diantar lebih dulu oleh pak supir, di situ Alya merasa bersalah karena ternyata akibat dari ucapan Dimas pada Indah waktu itu sangat berdampak. Pertama, tidak ada suara apapun saat mereka sarapan tadi, meskipun biasanya selalu ada percakapan saat sarapan. Kedua, Indah sama sekali terlihat tak sudi menatap Dimas sedikitpun, sementara Dimas asik meliriki Indah untuk memulai percakapan, tapi lidahnya malah kelu dan memilih diam. Ketiga, tidak adalagi Alya melihat rutinitas abang adik itu, seperti saat Dimas mengusap-usap kepala Indah atau sekedar menoel dan mencuri makanan milik Indah, yang biasanya menghiasi pagi hari mereka.
Alya merasa bersalah, karena ia tak bisa membantu apapun untuk membuat adik abang ini akur kembali, meskipun ia jelas-jelas tahu dirinya juga terlibat di dalamnya.
Dimas duduk di bangku sebelah supir, sementara Alya duduk di belakangnya. Tak ada kesempatan Alga melihat Dimas jika dibelakangi seperti ini. Namun, dengan tak dapat menatap Dimas, ia menjadi memiliki keberanian yang lebih.Terpicu oleh rasa ingin berkontribusinya agar Dimas dan Indah membaik, rasanya ia akan mengungkapkannya sekarang. Alya tahu ini ide gila. Mau bagaimana lagi, mumpung mereka tak berduaan, dan Dimas tak menatap Alya atau sebaliknya, ini kesempatan emas untuk bicara.
"Dim, aku suka sama kamu," ucap Alya sangat jelas. Supir di sebelah Dimas berusaha mendatarkan mukanya. Padahal ini hari pertama supir itu bekerja, tapi Alya sudah memberikan kesan yang luar biasa. Sembari fokus menyetir, supir itu pun berusaha menguping.
Sementara Dimas, ia yang tadinya membaca artikel di ponsel, tiba-tiba terhenti. Alisnya pun berkerut keheranan. Ia juga tak menyangka dengan ketiba-tibaan Alya itu.
"Tapi cukup aku aja yang suka sama kamu. Kamu nggak usah ngapa-ngapain. Kita juga punya idealisme yang sama, kan? Nggak mau pacaran?" imbuh Alya.
Dimas makin mengerutkan keningnya karena tak paham.
"Makasih buat yang waktu itu, tentang pacaran pura-pura, status kita yang pernah pacaran yang seantero sekolah pada tahu itu, meskipun itu slaah satu cara kamu buat nolongin aku. Aku jadi pernah ngerasain gimana rasanya punya hubungan semacam itu walaupun pura-purapura-pura," sambung Alya.
"Aku tahu topik percintaan sangat kamu benci. Makanya aku mau ngungkapin ini sekarang, biar kamu tahu langsung dari pengakuan yang keluar dari mulut aku, bukan tahu dari mulut orang lain, juga secepatnya aku ngasih tahu biar kamu benci ke akunya sekarang, jangan pas waktu aku nggak mau dibenci kamu karena semakin lama ini aku pendam, semakin menjadi-jadi rasanya, semakin aku nggak mau dibenci sama kamu. Aku nggak mau kalau kamu tahu dari orang lain kamu malah makin menjauhkan diri dari aku, menganggap aku menjijikkan atau semacamnya. Aku juga mau ungkapin ini karena aku nggak mau memanfaatkan keadaan di mana aku tinggal satu atap sama kamu, berusaha genit atau semacamnya untuk dekat sama kamu. Kalau kamu udah tahu soal ini, kan, kamu bisa lebih waspada saat aku mendekat, kalau kamu mau. Jadi, lebih baik mulai sekarang kamu bertindak ke aku kayak gitu, dan aku tahu alasannya. Bukan nanti, saat aku nggak tahu kenapa tiba-tiba kamu ngejauhin aku misalnya."
"Soal Indah, aku nggak mau lihat kalian begitu, Dim. Apalagi, ini juga ada kaitannya sama aku. Indah cuma bercanda, tapi mungkin bercandaannya itu nggak bisa kamu terima. Boleh aku minta kamu untuk baikan sama Indah lagi? Aku rindu ngeliat keakraban kalian sebagai abang adik. Karena dengan kebisingan itu, aku jadi nggak terlalu rindu sama ayah. Soalnya, lihat kalian itu, mirip banget kalau ayah lagi jahilin aku."
__ADS_1
Semua keberanian Alya telah ia keluarkan. Namun, tak sepatah kata pun di respons Dimas. Alya merasa seperti bicara dengan angin. Atau kulkas sekalian? Hahaha, soalnya Dimas kan katanya manusia kulkas.
"Ehem," Alya berdehem setelah berhenti untuk menunggu respons Dimas yang tak kunjung datang.
"Pak Supir, namanya siapa, Pak?" Sangking bosan dan kesal menunggu Dimas membuka mulut, supir pun Alya ajak ngobrol.
"Panggil aja Pak Didi, namanya soalnya sama kayak Mas Dimas," jawab supir itu.
Dimas menoleh. Ia memang tak diberitahu bundanya apapun soal supirnya itu. Agak kesal saat ia tahu mereka memiliki nama yang sama. Apalagi mendengarkan panggilan Didi itu untuk supirnya.
"Wah, tadi itu kayaknya Alya bisa ngomong ke Pak Didi juga, tuh. Hahaha. Soalnya Dimas juga namanya, kan? Kebetulan macam apa ini? Kok kocak banget. Hahaha."
"Mana manggilnya kayak panggilan sayang, lagi. Didi dari kata Dimas. Whahahahahahahah." Tawa Alya pecah. Ia tak sadar telah menyinggung Dimas. Dan Dimas di sana makin kesal di bangkunya.
"Pak Didi nggak mau ngerespons? Tadi Alya udah berani banget, lho nyatain perasaannya. Nggak enak, lho, dikacangin. Usaha yang dikeluarin jadi sia-sia juga," ucap Alya mulai serius lagi.
"Hehe, nggak berani. Biar Mas Dimas aja," jawab Pak Didi.
Tak lama, tibalah tempat Dimas biasa berhenti sebelum masuk ke sekolahnya, untuk membeli beberapa donat kesukaannya. Kedai yang jaraknya 100 meter dari sekolah, di sana ia diturunkan duluan. Hal ini juga bertujuan untuk menghindari rumor baru lagi untuk Dimas dan Alya.
__ADS_1
Dimas hendak langsung turun setelah supir meminggirkan mobilnya.
"Dim!" saat sedang melepas seat belt nya, Dimas di cegat Alya.
"Mas?" sambung Alya agak menggantung. Tapi Dimas malah mengira Alya memberikan nama panggilan yang batu, yang di mana ia tak suka dengan panggilan "Mas" itu. Seingat Dimas, itu sudah pernah ia beritahu Alya.
"Ck, APA?" balas Dimas tak ramah. Tangan kirinya sudah siap-siap membuka pintu.
"Yaelah, dingin amat," dumal Alya sebelum mengomel.
"Dim, aku udah nyatain perasaan aku. Jadi, untuk kedepannya aku nggak akan segan buat ngejar kamu, nggak perlu sembunyi-semhunyi lagi buat modus ke kamu. Kamu nggak boleh nolak, karena ini usaha aku buat setidaknya ada persiapan perasaan di kamu waktu kamu mau halalin aku nanti. Terus, saling suka, deh. Tapi nggak usah pacar-pacaran, langsung nikah aja. Kamu pasif juga nggak apa-apa. Ya?"
"Terserah!" ucap Dimas dingin. Ia sama sekali tak menganggap ucapan Alya yang benar-benar serius itu. Kemudian langsung membuka pintu mobil.
" Sampe jumpa di klub Olimpiade ya, Mas."
"Wha--? TERSERAH!"
Pertama, Dimas agak shock dengan cara Alya mengejar cinta Dimas hingga sampai beneran ikut klub Olimpiade agar selalu bisa di dekat Dimas saat di klub nanti maupun saat jemputan datang nanti. Kedua, panggilan Mas itu, kali ini ia tahu bahwa Alya sedang menjahilinya. Daripada marah, diam adalah cara paling ampuh untuk menghadapi makhluk bernama Alya ini, pikir Dimas.
__ADS_1
...----------------...