
Senin tiba. Selesai upacara, pasti selalu ada sambutan tambahan lagi yang membuat kaki Alya dan kawan-kawannya yang malas itu lemas. Sudah upacara panas-panasan, harus mendengar sambutan tambahan lagi setelah selesai, pikir mereka.
Alya memang merasa lelah, tapi ia juga menikmati ini. Karena setelah selesai upacara, pasti ada sambutan dari kepala sekolah atau bagian kesiswaan yang akan memamerkan murid-murid yang berprestasi dan membanggakan sekolah. Dan salah satu murid itu adalah Dimas, yang memenangkan peringkat pertama untuk kesekian kalinya dalam Olimpiade, yang kali ini adalah olimpiade fisika yang ia ikuti.
Saat kepsek memanggil nama Dimas, Alya langsung sumringah. Di tatap dari jauh pun, Dimas masih kelihatan gantengnya. Apalagi saat Dimas sudah memegang trofinya dan tersenyum untuk difoto. Yang membuatnya tak senang adalah, melihat Dimas berfoto dengan cewek lain. Itu sudah wajar karena sesi foto bersama, tapi si cewek ini kelihatan ingin menghimpit dan mengambil posisi untuk foto di samping Dimas. Dilihat-lihat, cewek itu kelihatan sama dengan cewek yang waktu itu Alya lihat di mading. Cewek yang kelihatan lebih seneng saat foto di samping Dimas, beda sama cewek yang lain.
"Ternyata, dia yang ganjen cari posisi untuk foto di samping Dimas, toh. Kasihan banget, sih, Dimas, kayak risih gitu jadinya. Senyumnya yang ganteng dan natural tadi kayak dipaksain gitu jadinya. Tu cewek kok nggak peka, sih? Jelas-jelas Dimas kelihatan banget risihnya," batin Alya berkomentar. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan dan geram diam-diam.
"Bosen ah, yang juara itu-itu aja. Ngapain pake di umumin lagi, sih. Semua orang juga pada tahu yang juaranya siapa aja. Sangking seringnya mereka muncul, kita pada udah nggak peduli lagi," ujar Edo agak kuat. Jadi, meskipun ia ada di barisan anak IPS, anak-anak IPA juga bisa mendengar, terutama kelas Alya—IPA 12 yang barisnya sangat dekat dengan anak IPS.
Alya melihat ke arah Edo. Anak itu memang senang membuat onar di depan orang banyak. Alya pun bisa mengerti Edo bisa bicara begitu karena ia masih kesal dengan Dimas. Alya sudah memastikan, tidak ada bekas bogeman di wajah Dimas. Itu artinya, perkemahan waktu itu, Dimas yang lebih unggul, dan Edo masih kesal karenanya.
__ADS_1
"Kamu nggak boleh gitu, Edo. Meskipun bosen, tiap orang di sekolah ini mesti tahu siapa murid yang udah banggain sekolah," respons Alya langsung ke Edo. Mereka hanya berjarak empat banjar saja, dan dengan suara tak sekuat Edo, Alya yakin ucapannya tersampaikan. Ia hanya tak tahan ingin mematahkan argumen Edo, ia juga mengerti perasaan kesal Edo, makanya ia berucap selayaknya dan memilih kata yang tak menyakiti Edo.
"Makin males, ih. Ada ceweknya yang belain. Ya kamu pasti bangga banget lah, soalnya cowok kamu yang lagi dipamerin karena menangin lomba," balas Edo sewot. Nada suaranya ia naikkan satu oktaf dari sebelumnya. Rupanya, ia yang kesal dengan Dimas juga menaruh kekesalannya pada Alya. Apalagi, Edo membawa-bawa persoalan waktu itu.
Sekitaran jadi ribut menggosipi Alya. Mereka yang berbisik-bisik sebagian ada yang terdengar jelas di telinga Alya.
"Wah..., jadi beneran si Alya ini ceweknya Dimas? Aku kira cuma gosip doang."
Sekelebat, terdengar suara yang mayoritasnya adalah nyinyiran. Alya tak nyaman. Semua orang jadi menggosipi dirinya dan Dimas. Mungkin bukan hanya kelas 12 saja yang mendengar, tapi bisa sampai ke kelas 10 dan 11, atau bahkan, gosip ini bisa sampai ke telinga para guru. Bagaimana jika ini membuat Dimas tak nyaman? Alya yang di gosipkan hanya bisa berlakon pura-pura tak mendengar dan bersikap biasa saja. Ucapan Edo pun tak bisa ia gubris, takut malah jadi makin kacau.
"Wih..., si dingin itu pacaran? Seriusan? Apalagi sama si primadona dari kelas siswa gagal. Gue kira Dimas seleranya yang pinter juga kayak dia. Ternyata, Dimas cuma kepincut sama cantiknya doang. Humph..., Dimas sok elit, ternyata rendahan juga." Terdengar nada sombong dari barisan anak IPA 2. Tampaknya suara Edo benar-benar kuat sehingga bisa sampai di barisan kelas unggulan. Padahal, mayoritas anak kelas unggulan itu tak suka bergosip terang-terangan.
__ADS_1
Alya sebelumnya tebal kuping, tapi setelah kemampuan belajarnya dibawa-bawa, kesabaran Alya sudah habis. Alya percaya, tidak ada hubungannya wajah dengan kepintaran. Apalagi soal cinta. Apa salah orang bodoh jatuh cinta kepada orang pintar? Sebaliknya, apa salah jika orang pintar jatuh cinta dengan orang bodoh? Mereka bahkan bukan menghina Alya saja, tapi ikut menghina Dimas. Alya tak nyaman lagi. Gosip ini sudah dipastikan telah sampai di telinga guru-guru.
Selesai kepsek mengumumkan prestasi para siswa, siswa yang baris sudah boleh bubar untuk masuk ke kelasnya masing-masing. Namun, Alya dengan cepat bubar duluan melalui depan lapangan, dekat dengan para murid berprestasi itu berfoto. Ia bahkan menjadi orang pertama yang bubar lebih dulu. Ia tak peduli lagi jika dirinya menjadi pusat perhatian. Ia hanya ingin cepat-cepat kabur dan tak mendengarkan hal lain yang lebih menyakitkan hatinya lagi dari gosip orang-orang.
Saat lewat di lapangan dan dekat dengan posisi Dimas berdiri, Alya berani menatap ke arah Dimas. Dan kebetulan, Dimas ternyata juga menatap Alya. Dimas sudah mendengar gosip yang diributkan anak-anak di barisan upacara, ia terlihat seperti marah ke Alya. Ditatap begitu bisa Alya pahami. Alya hanya menatap Dimas penuh sesal, matanya memancarkan permintaan maaf yang dalam kepada Dimas, semoga itu tersampaikan meskipun hanya dengan sebuah tatapan.
Selanjutnya, saat selesai saling menatap, Alya ingin sekali menangis rasanya. Sudah lama ia tak menangis karena kehidupannya yang terbilang keras dan membuatnya bermental baja. Menjadi seorang anak yang hidup tanpa ibu, sendirian saat di rumah karena ayahnya sibuk bekerja dan kini harus dititipkan di rumah orang lain, lalu tak bosan orang-orang menghinanya tentang paras yang cantik tapi otaknya tak mengikutinya, lelah juga dicap sebagai siswa gagal karena ia berada di kelasnya yang sekarang, dan banyak hal lain yang ia tak menangis meskipun normal harus menangis jika menghadapi hal itu. Kini, ia ingin menangis rasanya. Bukan karena dicibir seperti tadi, bagi Alya itu sudah biasa. Akan tetapi, karena ditatap dengan pandangan tak suka seperti itu oleh Dimas.
Dan sampai di kelas, air matanya yang sudah ia tahan pun kini menetes. Ia cukup hebat bisa menahannya sampai tak ada orang-orang yang melihat. Ia termasuk cewek kuat dan tak cengeng dipandang orang-orang. Ia tak mau merusak citra baiknya yang satu ini jika dilihat orang menangis.
Tak perlu lama-lama menangis, setelah meneteskan beberapa, Alya segera menghapusnya. Kemudian, menghibur diri dengan menonton video lucu di ponselnya untuk menghiburnya dan melupakan hal yang membuatnya menangis tadi. Cara ini selalu ampuh jika dirinya merasa ingin menangis.
__ADS_1
...----------------...