
"Aku kira cuma bercanda. Rupanya anak ini benar-benar datang dan bergabung di klub olimpiade ini. Gila apa gimana, sih? Bukan masalah otaknya, tapi apa dia kuat nahan cibiran orang karena dia berasal dari siswa kelas yang gagal? Bukannya rumor soal pacaran itu udah membebani dia? Dan lagi, gimana kalau rumor soal dia yang mau ngejer dan balikan plus sok ikut klub ini di satukan dan diucapkan orang-orang untuknya? Gila, kan? Bahkan orang gila pun kalah dengan kegilaannya," gerutu Dimas saat Alya sedang memperkenalkan dirinya di klub olimpiade.
Alya benar-benar serius mengejar cinta Dimas. Di pagi hari tadi sudah mendeklarasikan cinta, sepulang sekolah Dimas langsung dipepet, diikuti sampai serius ikut klub olimpiade di hari yang sama.
"Hai, Mas," sapa Alya setelah selesai memperkenalkan diri dan berjalan menuju kursi seraya berdada-dada pada Dimas saat bertepatan tiba di dekat Dimas. Ia pastikan suaranya hanya bisa di dengar oleh Dimas dan tingkahnya tak mencurigakan. Dan panggilan Mas itu, ia senang hanya dia saja yang memanggil Dimas begitu. Berasa Dimas itu suaminya, pikirnya. Latihan aja dulu, entar kalau udah sah bisa lancar manggilin Mas nya, pikir Alya. Dan tentu, Dimas jengkel dengan panggilan itu. Tapi Alya seperti punya jiwa masokis, ia senang dimarahi Dimas, senang melihat wajah Dimas yang jengkel terhadapnya langsung. Mungkin ia hanya senang menjahili Dimas sesekali, karena Alya merasa selalu dijahili Dimas. Seperti balas dendam saja.
"Mas, nanti ajarin aku, ya, kalau nggak ngerti," bisik Alya lagi. Kini ia sudah duduk tepat di sebelah Dimas. Ya, di sebelah Dimas. Sudah tidak ada lagi space untuk diduduki selain di sebelah Dimas. Beruntung sekali Alya ini.
Dimas berpura-pura tuli dan buta. Ia benar-benar mengabaikan Alya selama kelas klub olimpiade itu berlangsung. Saat Alya sudah menginjakkan kaki di klub olimpiade ini, Dimas sudah merasa sangat jengkel. Bersebelahan dengan Alya bahkan sudah seperti mimpi buruk. Entah reaksi kimia macam apa yang telah terjadi pada Dimas. Tepat setelah pernyataan cinta dari Alya, secara refleks Dimas mencoba untuk menjauh dari Alya, dan semua yang Alya lakukan untuk mengejar Dimas terasa risih untuk Dimas. Dimas memang seanti itu dengan percintaan ternyata.
...----------------...
Di dalam mobil, Alya berdua dengan si kembar "Dimas" di depan. Alya merasa senang hari ini meskipun di klub olimpiade tadi ia sepenuhnya diabaikan Dimas. Ia senang karena mulai hari ini dan seterusnya, ia akan semakin dekat dengan Dimas.
Sementara Dimas berkebalikan. Ia sangat merasa risih dengan makin lengketnya Alya, dan ia tak dapat berbuat apapun karena mereka tinggal di satu atap. Alya berbeda. Berbeda dengan setiap cewek yang sudah Dimas tolak mentah-mentah cintanya, yang di mana mereka tak akan berani lagi mendekati Dimas karena tahu sedingin apa kulkas satu ini, ditambah penolakan yang sudah mereka terima. Alya gigih, ia masih mau mendekat, ya, dengan caranya sendiri. Kegigihan Alya membuat Dimas kerepotan.
Dimas jadi seperti orang yang berbeda dari sebelumnya terhadap Alya. Padahal, waktu itu ia sudah rela mau membantu Alya dan mengaku pacaran hingga rumor itu tersebar, dan itu tulus ia lakukan karena merasa kasihan dengan Alya, dan satu-satunya cara yang Dimas pikirkan waktu itu adalah meladeni ide Alya soal mereka yang ber-skenario pacaran itu.
Tidak ada obrolan apapun hingga mereka sampai di kediaman. Alya dan Dimas turun dari mobil bersamaan, sayangnya Dimas jalannya lebih cepat, ia lebih unggul jika mereka sudah berlomba.
"Dimas, kamu udah mengabaikan aku seharian hari ini. Tapi kamu jangan abaikan ucapan aku tadi pagi, ya. Aku mau kamu sama Indah baikan. Kamu udah dingin kalau di sekolah, di rumah jangan dingin juga, dong, Mas. Aku berasa pengen kabur aja dari rumah kamu, tahu. Alasan aku betah, kan, karena kehangatan kalian berdua itu ngingetin aku sama ayah. Jadi, aku minta tolong, ya, Dimas," ucap Alya seraya sedikit mengejar Dimas.
Dimas menghentikan jalan cepatnya, kemudian berbalik ingin menanggapi.
"Hah? Mas? Apaan lagi itu?" Dimas kelihatan marah dari nada bicaranya.
"Um..., nggak apa-apa. Pokoknya aku akan selalu manggil begitu mulai sekarang. Biar kamu ingat juga kalau kamu itu seorang abang, dan kamu punya adik. Dan abang adik harus akur."
__ADS_1
"Apa hubungannya coba? Nggak nyambung!" Dimas kembali melanjutkan langkah cepatnya.
"Kamu sambung-sambungin, dong, biar nyambung."
"Terserah!" balas Dimas jengkel.
"Kulkas!" balas Alya kuat. Itu memang sebutan yang bagus untuk si dingin itu, pikir Alya. Ia juga jengkel didinginkan tanpa sebab seperti ini.
"Ee..., apa maksudnya?" Dimas berhenti kembali, merasa terganggu dengan olokan "kulkas" dari Alya itu.
"Nggak ada,"
"He...?" Dimas tak percaya, dan ia seperti mengejek Alya dengan nada bicaranya.
"Udah, pokoknya kamu harus baikan sama Indah titik."
Di depan kamar, Alya berpapasan dengan Indah yang sudah tak mengenakan seragamnya lagi. Ia tampak santai dengan baju rumahnya.
"Kak Alya, sekarang pulangnya lama, ya?" sapa Indah.
"Ee, iya, Ndah. Barengan sama Dimas biar nggak ngerepotin Pak Didi."
"Ooh."
"Kakak juga ikut klub olimpiade bareng Dimas juga, lho, Ndah. Hihi," tambah Alya. Agar ia bisa mencegat Indah untuk mengghibahi si pujaan hati, Dimas.
"Oiya?" tanya Indah datar.
__ADS_1
"He'eh," jawab Alya exited. Namun sayang, Indah tak begitu tertarik. Ia hanya ber-oh ria. Kemudian setelah melihat Dimas menyusul masuk, Indah langsung berbalik badan menuju kamarnya. Mereka bahkan tak sempat bertatap, tiba-tiba Indah jadi marah kepada Dimas. Padahal, yang pertama marah itu Dimas.
Kini Alya menatap Dimas seraya melipat tangannya di depan dada, memerhatikan Dimas layaknya bos.
"Apa?" tanya Dimas bingung, serta tak suka dengan attitude Alya sekarang ini.
"Kamu lihat tingkah Indah, kan? Pertama, kamu memang marah besar waktu itu. Sekarang, Indah yang marah besar ke kamu. Kalau aja waktu itu kamu langsung minta maaf, mungkin Indah nggak bakal merajuk berkepanjangan gini. Biasanya, kan, kalah bahas topik yang berkenaan kamu Indah kelihatan semangat banget, ini kayak nggak minta sama sekali."
"Terus, apa?"
"Sekarang, Dim, perbaikan hubungan harmonis kalian."
"Nggak segampang itu."
"Lho, kok gitu, sih?"
"Denger, ya, Alya! Aku udah nahan-nahan buat nggak bicara hal yang nyakitin hati kamu. Aku bisa aja ngeluarin kata-kata yang sama kasarnya seperti di meja makan waktu itu ke Indah untuk kamu, bahkan bisa jadi malah lebih parah lagi. Kamu cuma orang asing di sini, jangan urus yang bukan urusan kamu. Apa kamu kekurangan masalah hidup untuk kamu urusin sampai-sampai mau ngurusin hidup orang lain?"
Alya mematung. Kalimat Dimas nyelekit, tapi apa yang diucapkan memang benar adanya.
"Diam, kan, kamu?"
Dimas berlalu melewati Alya tanpa rasa bersalah.
"Emangnya kenapa kalau aku cuma orang asing?" Alya merintih, suaranya sumbang. Secara refleks ia malah membanting pintu kamarnya setelah mengucapkan kalimatnya.
...----------------...
__ADS_1