
"Ee... apa iya? Mungkin ada anak 12 IPA 1, atau adik kelas yang lagi penjas juga hari ini, yang anak rohis juga, yang aku maksudkan tadi, yang ngaji tadi," bantah Dimas tak percaya hingga ucapannya pun jadi berbelit.
"Iya, emang ada anak IPA 1 juga yang akhwatnya. Adik kelas juga sama piketnya. Tapi itu tadi, Dim. Meskipun ada kelas penjas sekalipun, mereka nggak bakal langsung ke sini. Yang ikhwannya aja nggak langsung ke sini pas penjas, apalagi yang akhwat. Ini juga baru kamu orang yang pertama ke mushalla, kan? Padahal ada anak IPA 1 yang ikhwan juga yang lagi penjas."
Tak lama, terdengar suara agak berisik dari area shalat akhwat. Ramai-ramai siswi berseragam olahraga mendatangi area sholat. Disusul pula dari arah depan, ramai-ramai suara ikhwan berseragam olahraga menyerbu bagian tempat wudhu ikhwanikhwan, tapi bagian ikhwan masih dapat menjaga suaranya, tidak seperti bagian akhwat.
"Assalamu'alaikum akhwat," ucap Dimas kuat. Seketika suara bising dari bagian akhwat mereda. Mereka menjawab salam Dimas dan langsung sadar bahwa mereka terlalu berisik saat memasuki mushalla.
"Jaga suara, ya. Kalau mau lanjut tadarus lagi lebih baik. Jangan buat kotor mushalla juga, karena kita abis dari lapangan, bau badan dan bau matahari. Kalau niatnya mau ngadem karena ada AC di dalam mushalla, lebih baik balik ke kelas dan langsung ngadem di kipas kelas masing-masing. Sebentar lagi juga mau memasuki waktu Dzuhur, jadi mohon kondusif," tegur Dimas sekaligus menyindir. Ia tahu hari ini cuaca sangat terik dan panas di luar, apalagi bagi siswa-siswi yang mendapatkan giliran penjas dan menggunakan lapangan sebagai tempat belajarnya. Makanya, mayoritas kelas yang sudah selesai penjas langsung menyerbu mushalla. Dimas juga begitu soalnya. Namun, karena ia. lebih dulu selesai dengan praktek penjasnya, ia lebih dulu datang ke mushalla. Sekalian mandi juga untuk menghilangkan bau badannya. Namun, karena begitu sampai ia langsung diperdengarkan lantunan indah seorang akhwat yang sedang mengaji, ia malah terbiua dan ingin lebih mendengarkan suara itu. Suara yang sejuk itu dan ditambah AC yang tak kalah sejuk membuat Dimas lupa bahwa dirinya sudah mandi keringat tadi.
Seketika sekumpulan akhwat yang masuk mushalla tadi berhamburan keluar mushalla karena merasa tersindir dengan ucapan Dimas yang tepat sasaran. Begutupula dengan ikhwan yang juga dapat mendengar ucapan Dimas yang keras suaranya itu. Daripada disindir sekali lagi, lebih baik sadar dirinya sekarang, pikir mereka.
"Bro, galak amat. Hahaha. Cewek wajar, mah bising gitu. Kalau gini bakal di cap manusia kulkas lho kamu, Dim. Padahal, kamu udah terkenal baget dinginnya, hahaha. Ya walaupun, kita makasih juga ke kamu udah gantiin kerja kita. Syukron, ya, Dim," respons si kawan.
"Afwan. Sama-sama. Udah, ya, aku mau mandi dan ganti baju dulu sebelum dzuhur. Kayaknya bau badan aku bakal ganggu pas shalat berjamaah nanti," balas Dimas sekaligus pamit.
...----------------...
Dibalik hijab pembatas ikhwan dan akhwat, Alya dapat mendengar semua perkataan antara Dimas dengan dua anak rohis itu. Alya merasa beruntung, kali ini ia dapat melihat sosok Dimas yang banyak bicaranya. Tak biasanya yang suka irit ngomong dan cenderung dingin ucapannya. Ia juga mengetahui kebiasaan Dimas yang ditiap ada pelajaran penjas, ia selalu mandi dulu di mushalla dan berganti baju. Kebiasaan yang tak ia sangka, sampai Alya pun berpikir bahwa Dimas bisa tiap hari mandi di mushalla karena sering pulang telat untuk membahas soal-soal dengan guru dan tim olimpiadenya. Meskipun itu belum terkonfirmasi oleh sang terdakwa—Dimas dan hanya asumsi Alya belaka.
Waktu akan dimulainya adzan tinggal lima menit lagi. Selesai tadarus karena diinterupsi Dimas, Alya menghabiskan waktu dengan ponselnya sembari menunggu waktu adzan.
"Assalamu'alaikum, Akhwat." Terdengar lagi suara panggilan dari balik hijab pembatas. Namun kali ini, Alya mengenal jelas bahwa ini bukan suara Dimas.
__ADS_1
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Alya sendirian. Karena tepat setelah teguran Dimas dilontarkan, seluruh akhwat merasa terusir dan hanya menyisakan Alya.
"Ada anak rohis di situ?" tanya pemuda rohis yang satunya.
"Nggak ada. Cuma aku doang."
"Siapa?"
"Alya."
"Alya siapa?"
"Duh, ribet banget, sih," sempat Alya mendumal.
"Alya Zahra Shafira. Kelas 12 IPA 12, kelasnya siswa gagal. Kenapa? Yang tadi kurang jelas?"
"Iya, aku. Kenapa emangnya? Tapi aku nggak bolos, kok. Aku ke mushalla justru karena diusir sama guru dari kelas. Daripada nggak jelas ngapain, lebih baik ke mushalla tadarusan, pikirku gitu. Jangan dilaporin, ya."
"Nggak, kita nggak. bakal laporin. Makasih ya konfirmasinya. Cuma mau nanya itu aja. Maaf kalai kita buat kamu nggak nyaman."
"Iya nggak masalah," ucap Alya mengakhiri.
"Tadi denger sendiri, kan, Dim? Yang tadi itu beneran bukan anak rohis. Kamu udah puas, kan, karena udah tahu siapa pelantun yang sebenarnya?" Lempar dua orang itu ke Dimas yang ternyata sudah kembali ke mushalla setelah selesai mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
"I-iya. Maaf jadi meragukan kalian." Dimas agak gagok. Ia sadar bahwa secara terang-terangan telah memuji Alya dengan bebas didengar jika ingin mendengar. Setelah ini, Dimas yang di rumah pasti akan rusak imagenya, pikirnya. Di depan bisa sedingin itu, di belakang memuji dengan lugas, Dimas membayangkan bagaimana Alya akan mengucapkan kalimat itu langsung ke Dimas. Namun, ia segera menepis pikiran itu, toh ia bisa membalikkan keadaan dan menunjukkan sikap dinginnya lagi jika tiba-tiba Alya membahas tentang ini kepada Dimas.
"Aa.., nggak masalah. Kita juga penasaran soalnya. Santai aja."
"Kamu mau adzan nggak, Dim?"
"Umm..., boleh, deh."
"Iya, bener, udah lama nggak dengar Dimas adzan. Apalagi biar klop sama yang tadarus tadi. Suaranya sama-sama sejuk masuk ke kuping."
"Haha, apaan, sih," jawab Dimas agak risih kedengarannya.
"Eemmm, tadi itu cuma mau muji kamu aja, kok. Kita nggak pernah percaya gosip soal kamu dan Alya." Si kawan malah keceplosan, dan malah membuat Dimas semakin risih. Baru saja Dimas ingin menepis pikiran soal Alya, tiba-tiba ada hal yang membuatnya semakin kesal lagi.
"Hah? Apa lagi, sih?"
"Aduh, Afwan, Dim. Mulut ini suka kayak cewek kadang. Aku nggak maksud menyakiti hati kamu. Tadi cuma niat mencairkan suasana aja dengan candaan kayak gitu. Maaf banget, Dim."
"Gosip itu bahkan udah sampai ke anak rohis, ya? Hahahaha. Nggak masalah, sih. Kalian juga ngerti, kan, aku cuma manusia biasa yang bisa aja buat salah. Waktu itu aku sadar yang aku lakuin itu nggak baik. Aku harap kalian nggak beranggapan yang aneh-aneh lagi antara aku sama Alya. Aku juga kadang risih kalau orang bahas itu lagi. Tapi, yang tadi kamu bilang nggak bakalan aku masukin ke. hati, kok. Aku bisa ngerti kalau kamu lagi bercanda. Justru aku yang aku minta maaf karena kelewatan reaksinya, soalnya masih sensitif aja pas orang bahas gitu. Maaf, ya," ucap Dimas setelah menarik nafas panjang sebelumnya sehingga lebih tenang. Lawan bicaranya pun ikut tenang saat melihat raut wajah ramah Dimas terlihat.
"Dim, kita juga minta maaf, ya."
"Iya. Aku langsung adzan aja, nggak, nih? Udah masuk waktunya, kan?"
__ADS_1
"Oo, iya, Dim, silahkan."
...----------------...