
Akhir pekan. Keluarga Dimas lengkap di rumah, tak berkegiatan. Akhir pekan dijadikan waktu untuk beristirahat dari kesibukan selama enam hari beraktivitas. Kebiasaan ini agak kurang cocok dengan Alya, tapi ia sudah agak terbiasa karena bukan pertama kalinya ia tinggal dan menghadapi hal ini.
Berbeda dengan Alya. Jika ia masih tinggal dengan Ayahnya, ia pasti sudah meminta bepergian kepada ayahnya, ke mall misalnya. Jika ayahnya tak sibuk, pasti mereka pergi bersama, tapi kebanyakan Alya refreshing ke mall sendiri karena mengerti kelelahan Rehan. Kadang, Rehan akan menyempatkan untuk mengantar jemput Alya sebagai seorang ayah yang sayang anak. Alya selalu meminta untuk bepergian di akhir pekan, karena enam hari di sekolah ia sudah merasa jenuh meskipun tak mengikuti kegiatan ekskul apapun. Satu-satunya pengobat kejenuhannya ya melarikan diri dengan menghabiskan satu hari penuh untuk melupakan semua hal yang berhubungan dengan sekolah, yaitu dengan berjalan-jalan dan melihat hal baru.
Ingin rasanya meminta izin untuk bepergian seperti yang biasa ia lakukan di akhir pekan. Namun, ia takut malah mengganggu ketenangan. Apalagi semua orang terlihat lelah dan menikmati waktu istirahatnya di sini, pikir Alya. Keinginannya harus ia tahan juga karena segan, ia sudah diberi banyak fasilitas oleh keluarga Dimas.
"Abang, ngaji bareng, yuk. Belakangan ini abang nggak ngaji sama ustadzah karena sibuk belajar. Abang ngaji nggak pas di kamar, pas nggak ada ustadzah?" Indah yang baru saja mengantar sang guru ngaji itu mengadu pada Dimas yang baru saja keluar dari kandangnya.
Di akhir pekan pun, seorang anak masih ada kegiatan akademik. Alya awalnya terkejut karena membayangkan otaknya pasti tak akan mampu bertahan jika harus mengaji lagi setelah enam hari full diisi dengan pelajaran yang berat di sekolah. Apalagi, saat menemani Indah mengaji tadi bersama ustadzahnya di ruang mushala, Indah bukan hanya diajarkan soal mengaji al-Qur'an saja, tetapi juga doa-doa dan ceramah yang berkaitan langsung dengan kehidupan. Kalau itu Alya di umur yang sama dengan Indah sekarang, ia pasti sudah kabur duluan. Siapa yang tahan tiga jam mengaji dan membahas hal berat seperti itu di usia belia seperti Indah? Memang keluarga dokter itu beda dari yang lain, pikir Alya.
"Indah adik kecilnya Abang..., maaf banget, Abang nggak bisa. Kamu ajak Kak Alya aja, ya. Suaranya maa syaa Allah, lho, Dek. Bisa tuh jadi ustadzah kedua kamu. Hukum tajwid pun udah nggak diragukan lagi tuh," jawab Dimas lembut.
"Ee? Dimas?" batin Alya bingung yang tak sengaja mendengar obrolan abang adik itu karena posisi mereka tak terlalu jauh.
"Wih, beneran, Bang?"
"Iya, Dek. Ngapain juga Abang bohong?"
"Kalau gitu, kita ngajinya bertiga aja. Lebih bagus kayak gitu, kan? Jadi kayak tadarus rame-rame gitu. Sambung ayat, terus nanti ngajinya gantian, bergilir gitu, Bang. Abis itu, saling koreksi bacaan masing-masing. Kayak gitu silaturahmi terjalin, dan makin berpahala, kan? Soalnya, kata ustadzah, mengaji dan menyimak orang yang lagi ngaji itu berpahala. Berarti, kalau kita ngelakuin keduanya itu, pahala kita jadi dobel, dong, Bang, iya, kan?" Baru diberitahu oleh gurunya tadi, Indah langsung mengimplementasikan ke kehidupannya. Benar-benar anak yang cerdas, tapi itu malah membuat Dimas menyesali ucapannya barusan yang ia lontarkan.
"Abang! Kok diem aja? Dijawab, dong!" seru Indah.
"Udah, ya, sekarang, kan, jadwal Abang buat belajarlah sama Alya. Lain kali aja diomongin lagi, ya. Tuh, kasihan Alya udah nunggu di sana."
"Tapi beneran, ya. Kapan-kapan ngaji bareng bertiga, ya?" ancam Indah.
"Iya, bawel. In syaa Allah."
__ADS_1
Dimas berlalu menuju ruang keluarga tempat biasa ia mengajari Alya. Terlihat Alya duduk dengan rapi, tapi bukan karena ia sudah menunggu lama, melainkan refleks saat Alya sadar keberadaannya yang dekat dengan mereka diketahui, ia gerak cepat untuk duduk agar tak ketahuan sedang menguping.
Indah rupanya ikut mengintil di belakang. Ia duduk di sebelah Dimas. Namun, pandangannya memandang intens ke Alya dengan senyuman yang tak pudar. Agak aneh, tak seperti Indah yang biasanya.
"I-indah, jangan lihatin Kakak kayak gitu, ah. Jadi malu, tahu," ucap Alya.
"He..., Kakak lucu banget mukanya kalau malu, hahahaha."
"Ndah, jangan diganggu, ya. Biar cepat mulai belajarnya. Kamu kalau ngeganggu, Abang bisa marah, lho."
"Iya, iya. Tapi Indah mau ngomong satu hal dulu ke Kak Alya sebelum pergi dari sini."
"Ee..., jadi kamu lihatin Kakak terus karena mau ngomong sama Kakak? Mau ngomong apa, Ndah?" Alya mengambil alih peran Dimas. Nada bicaranya pun meniru Dimas yang selalu lembut dan terkesan memanjakan Indah.
"Kata Abang, Kakak kalau ngaji suaranya bagus banget," ucap Indah. Alya yang mendengar sudah tak terlalu kena mental, karena sebelumnya ia sudah mendengar itu dari kegiatan mengupingnya. Alya tetap agak shock karena Indah tanpa diminta telah memverifikasi apa yang Alya kira salah dengar. Sebelumnya, ia berpikir Dimas tak mungkin memujinya, tapi sudah terbukti bahwa Dimas tadi memang memujinya.
"Oiya? Alhamdulillah, kalau gitu," respons Alya menyembunyikan rasa senangnya dengan menunjukkan wajah datarnya.
"Tapi intinya, kan, sama aja, Bang. Intinya, Kak Alya tadi dipuji soal suara ngajinya. Terus, dipuji juga soal bacaan tajwidnya," lawan Indah.
"Terimakasih, Dimas, Alhamdulillah aku tersanjung dengarnya. Suara adzan kamu juga bagus. Adem banget masuk ke telinga. Apalagi, tiba-tiba mulut aku nggak bisa berhenti ucap takjub karena pertama kali dengar suara adzan kamu yang berkesan itu. Pas lagi badmood sih sebenernya sebelum dengar kamu adzan, tapi setelah kamu adzan, seketika aku lupa semua masalah dan mood banget waktu itu. By the way makasih banyak, ya, Dim," puji Alya balik.
"Emang sebagus itu, Kak, suara adzannya Abang?"
"Lho, emangnya Indah belum pernah denger langsung Dimas adzannya gimana?"
"Belum, sih. Tapi, kalau soal ngaji, sih, sering. Karena dulu ngajinya bareng sama ustadzah yang tadi. Terus, suara Abang kalau ngaji juga bagus lho, Kak. Indah jadi penasaran kalau kita bertiga ngaji bareng, pasti adem banget tuh musholla nanti. Hahaha."
__ADS_1
"Iya, boleh tuh ngaji bareng. Ajak tante sama om juga biar tadarusan rame-rame."
"Bagus, sih..., tapi ayah sama bunda ngajinya di kamar. Terus mereka sibuk banget. Jadi, nggak bakal punya waktu buat ikut ngaji bareng."
"Kalau dibuat jadwalnya pasti bisa, lah, Ndah. Iya kan, Dim?"
Asyik mengobrol berdua dengan Indah, Alya kemudian menyadari harusnya ada Dimas juga yang lebih bawel kalau bicara dengan adik kesayangannya. Ada keanehan saat Dimas tak ikut menimbrung.
"Dimas? Kamu nggak mau ikut nanggapin ceritanya Indah? Tumben banget." Dimas tak menggubris. Terlihat Dimas sedang melamun, tatapannya kosong dan tak memperhatikan Indah seperti biasanya.
"Dim?" panggil Alya lagi. Namun, tampaknya masih belum ampuh untuk membuyarkan lamunan Dimas.
Hingga Indah mengubah posisinya untuk berdiri, kemudian menaruh area kepalanya dekat dengan telinga Dimas. "Abang??! abAAAAAAAANG!" teriak Indah. Disitu barulah Dimas sadar.
"Astaghfirullah, Indah. Kenapa teriak-teriak, sih? Kasian kuping Abang. Besok kalau nggak bisa nyimak penjelasan guru, kamu yang jelasin balik, ya, ke Abang?" ucap Dimas yang tampak sangat terkejut.
"Lagian, Abang, sih, melamun. Bener kata Kak Alya, biasanya Abang ikut nanggepin kalau ngobrol sama Indah. Melamunin apa, sih, Bang?"
"Ung, nggak. Abang cuma masih terkesan. Ternyata suara adzan Abang waktu itu bisa buat damai satu orang di kala masalahnya melanda walaupun cuma sejenak. Di saat Abang mikir kalau Abang nggak bisa bantu apa-apa, ternyata suara adzan Abang diam-diam ngebantu."
"Ha? Abang ngomong apa, sih? Indah nggak ngerti. Kak Alya ngerti?"
Alya diam. Indah merasa itu adalah jawaban bahwa hanya Indah saja yang tak mengerti ucapan Dimas barusan.
"Kak Alya beneran ngerti?" tanya Indah. Alya hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.
Alya semakin jatuh hati pada Dimas. Karena sekarang ia semakin tahu bahwa Dimas benar-benar orang yang sangat baik. Ia ternyata memikirkan banyak hal. Terutama ia memikirkan perasaan Alya yang waktu itu berantakan karena menguping pembicaraan dari balik hijab mushola itu. Padahal itu hanya hal sepele. Mendengar Dimas senang atas kontribusinya itu, tiba-tiba Alya merona. Hatinya terasa berbunga-bunga.
__ADS_1
Alya menyadari saat ini satu langkah hubungannya dan Dimas mulai berkembang. Kali ini keduanya sudah sama-sama berani memuji pribadi masing-masing. Mungkin ke depannya akan ada kedekatan lain yang membuat upaya pengejaran Alya untuk mengejar cinta si dingin ini maju selangkah demi selangkah.
...----------------...