Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Rencana


__ADS_3

Alya berusaha melakukan saran Dimas agar rumor tentang dirinya dan Dimas reda. Namun, ia harus tebal kuping dulu saat melakukannya agar semua berjalan lancar.


Sudah satu pekan rumornya belum juga reda. Padahal, Alya sudah benar-benar seperti orang asing dengan Dimas. Ke sekolah pun, ia meminta agar naik ojol saja agar tak merepotkan keluarga Dimas, dengan pembicaraan yang panjang dulu tentunya. Sulit meyakinkan keluarga itu karena sudah menganggap Alya bagian dari keluarga juga. Namun, Dimas secara berani menjelaskannya rumor di sekolah dan membuat mereka mengerti, sehingga Alya bisa meyakinkan mereka.


"Orang-orang di sekolah udah pada tahu, tante sama om juga Indah juga jadi tahu. Malu banget aku. Untung nggak langsung di usir dari rumah ini. Untung Om sama Tante pengertian, karena menganggap itu cuma rumor, nggak ada curiga sama sekali ke aku. Kalau mereka nggak pengertian, mereka bisa aja tahu kalau itu bukan sekedar rumor dan jadi tahu perasaan aku ke Dimas kalau langsung diselidiki. Alamat langsung diusir sih, itu," gumam Alya yang sedang mengepel lantai itu.


"Der!!" seseorang mengejutkan Alya dengan suara yang menggelegar.


"Eh Indah. Kamu ngejutin kakak aja, deh. Mau copot tahu jantungnya," respons Alya yang begitu terkejut, ia mencoba memegang bagian tubuh dekat jantungnya, mencoba mengamankan jantungnya.


"Kakak terkejutnya lucu banget. Seneng aja liat kakak kayak gitu, hehe. Kakak ngomong sama siapa tadi? Indah baru aja nyampek sini. Karena nggak tahu ."


"Ndah, sini, jangan ganggu Alya ngepel. Nanti kotor lagi," panggilan Dika yang sudah duduk di sofa ruang keluarga.


"Iya, Yah."


"Nanti Kak Alya siap ngepel langsung datengin Indah, ya. Kalau mau punya temen ngomong, Indah bisa jadi temennya Kakak."


"Haha, bisa aja kamu, Ndah. Makasih ya." Indah mengangguk dan kemudian segera menghampiri ayahnya.


"Huh..., untung gumamanku tadi nggak sampai kedengeran di kuping Indah. Biarpun Indah masih kecil, dia anaknya dewasa banget. Kalau Indah jadi nggak suka sama aku gimana, dong? Padahal, Indah bisa jadi peluang bagus buat aku deketin, dan deketin Dimas juga sekalian. Eh.., aduh, malah jadi buruk, nih, niatnya," ucap Alya, kini hanya dalam hati, tak berani bergumam lagi.

__ADS_1


Selesai mengepel, Alya balik ke kamar untuk mandi terlebih dahulu. Keringatnya bercucuran semua, sebab sebelum beberes rumah ia minum dulu karena kehausan. Ia juga tak ingin Dimas ilfeel dengan bau yang dihasilkan Alya karena berkeringat.


...----------------...


"Alya kalau nggak bisa ngobrol atau berpapasan sama Dimas, harusnya lebih akrab di rumah, dong, ya? Aneh banget tinggal di satu rumah tapi nggak pernah ngobrol. Dimas, nih, kamu kebawa-bawa dari sekolah, sampai keterusan ngehindar dari Alya waktu di rumah. Bunda nggak suka kayak gitu, Dim," omel Mira di meja makan. Semenjak usaha meredakan rumor itu dilakukan oleh Alya dan Dimas, keadaan meja makan jadi terlihat canggung. Alya juga secara natural jadi bungkam saat berhadapan dengan Dimas meskipun bukan di sekolah.


"Kamu denger, Dimas? Bunda bicara sama kamu," ucap Mira lagi lebih tegas.


"Iya, Bun," jawab Dimas seadanya.


"Apanya yang iya? Jangan asal iya-iya aja, ya, Dim. Kamu denger apa yang Bunda bilang, kan?"


"Iya, Bun. Dimas denger, kok. Kalau gitu, Dimas berusaha yang terbaik, deh. Nggak bisa mewujudkan ekspektasi Bunda juga, sih, tapi Dimas usahain."


"Ada Indah, tuh. Kamu bisa bantu Alya belajar juga, lumayan tuh pahalanya dan ilmu kamu juga jadi berkah. Kalau bisa, ajak Alya ikut olimpiade juga, Dim."


"Untuk ikut olimpiade kayaknya nggak bisa Dimas jamin. Soalnya, mempertahankan nilainya aja susah, guru di kelas Alya juga lebih sering nggak masuk. Jangankan untuk olimpiade, untuk menjawab soal uts atau uas aja Alya butuh belajar ekstra. Nggak bisa buat waktu belajar yang sama juga kayak Dimas, bisa aja badannya Alya nanti nggak sanggup ngikutin dan malah jadi sakit."


"Sebenarnya bukan badan, sih, Dim. Tapi otak yang takutnya nggak bisa ngikutin waktu belajar dan cara belajar kamu. Aku aja butuh waktu banyak untuk ngertiin yang waktu kamu nolongin aku buat ngerjain tugas fisika waktu itu," Alya menimbrung dalam hati.


"Kalau gitu, kamu pelan-pelan ngajarinnya. Kalau kamu bisa ngajarin Alya sampai Alya bisa jadi juara olimpiade, Bunda bakal bangga sama kamu. Bunda juga bangga, bukan kamu aja anak Bunda yang memenangkan olimpiade, tapi ada Alya juga yang udah jadi anggota keluarga kita," balas Mira.

__ADS_1


"Lagian, Alya di sini kira-kira cuma sampai lulus SMA, kan? Jadi, kita harus buat kenangan sebanyak-banyaknya bersama Alya yang juga anggota keluarga ini."


"Bener, Dim. Kamu juga biar nggak ada penyesalan karena di sekolah nanti bakal terus menghindari Alya," sambung Dika.


"Mungkin, Alya bisa aja di sini terus kalau dapat kampus di sini, kita nggak tahu, Bun, Yah."


"Kalau dapat di kampus kota ini pun, kamu juga bakal merantau, kan? Sama aja, nggak lengkap," komplain Mira.


"Dimas emangnya mau kuliah ke luar kota, ya?" Alya ikut dalam obrolan. Ia berani masuk karena bahasannya juga mudah untuk ia ikuti sekarang.


"Ooh, iya, Alya. Dimas mau kuliah di pusat, di sana tempat kuliah ayahnya dulu." Setelah mendengar itu, semangat Alya jadi lebih membara untuk kuliah di kampus yang ada di pusat. Bisa berkuliah di tempat yang sama dengan Dimas berarti bisa meneruskan perjuangannya untuk mengejar cinta Dimas.


"Alya juga pengennya kuliah di pusat, Tante. Biar dekat sama kantornya ayah sekarang. Tapi, Alya ragu untuk masuk ke sana. Butuh nilai yang tinggi untuk masuk di universitas itu. Sedangkan Alya nggak yakin bisa masuk," ungkap Alya.


"Nah, pas banget. Kalau gitu, Dim, kamu ajarin Alya juga soal-soal untuk persiapan masuk universitas. Kalau di rumah, kamu bisa ngajarin, kan? Udah, deh, yang olimpiade itu nggak usah kalau kamu merasa risih di sekolah harus konsultasi olimpiade barengan sama Alya. Bantu Alya aja dulu buat fokus lulus di Universitas yang ada di pusat," saran Mira.


"Kamu dan Alya bisa tinggal sama-sama, bersama ayahnya Alya juga, Om Rian. Ayah juga dulu kuliah ngekos bareng sama Om Rian, biarpun merantau, Ayah belum bisa mandiri. Jadi, semuanya lebih gampang waktu tinggal sama Om Rian yang lebih mandiri dari Ayah. Apalagi kamu, Dim. Ayah nggak pernah lihat kamu ngerjain hal lain kayak beberes rumah atau masak. Kerjaan kamu cuma belajar dan belajar. Kalau ada Om Rian dan Alya, kamu kan bisa lebih terbantu. Kamu juga bakal dianggap anak sendiri sama Om Rian," ujar Dika berencana.


"Kita nggak tahu gimana masa depan, Yah. Kalau udah kejadian, baru kita omongin lagi," interupsi Dimas.


"Iya, bener. Yang penting udah ada rencana. Nah, sekarang, Dimas bantu Alya dulu untuk mewujudkan keinginan Alya yang juga mau kuliah di pusat. Mau, kan?" dukung Mira.

__ADS_1


"Dimas usahain, tapi nggak janji," jawab Dimas. Itu saja sudah cukup. Mira dan Dika tahu, jika anaknya bilang seperti itu, pasti akan dilakukan sesuai yang diucapkan, bahkan bisa sampai melebihi ekspektasi mereka.


...----------------...


__ADS_2