
Olimpiade pertama Alya. Tepat satu minggu dari tanggal Olimpiade yang paling baru. Alya optimis sekali bahwa ia akan menjadi bagian dari penerima piala kemenangan, sebab kali ini ia begitu semangat belajar demi dapat mengklaim haknya, yaitu berfoto dengan Dimas sang pujaan hati. Ia tahu terlalu cepat membuat pengakuan bahwa dirinya menyukai Dimas, tapi Alya tak ragu perasaannya untuk Dimas memang benar begini adanya.
"Dim, kalau aku dapet juara olimpiade aku bakalan diapresiasi, nggak? Di apresiasi sama kamu."
Alya dan Dimas sudah berada di auditorium sebuah kampus yang mengadakan lomba untuk mendengarkan pengumuman para pemenang lomba. Alya harus bersusah payah mengamankan tempat untuk bersampingan duduknya dengan Dimas, ia juga harus menerima umpatan dan kekesalan Liza yang merasa tempatnya di rebut oleh Alya. Dimas pandai memilih tempat dipojok, yang niatnya supaya tempat disampingnya bisa diisi siswa dari sekolah lain. Tapi sangat disayangkan karena Alya rupanya lebih pintar memanfaatkan celah.
Dimas diam, pura-pura tuli. Padahal, sedari tadi setelah ucapan itu dilontarkan Alya, ia terus memanggili Dimas agar mendapat respons.
Alya menyerah. Duduk bersebelahan begini saja sudah cukup, pikirnya. Kalau dipaksa mendapat responsnya Dimas, bisa-bisa ia sudah keburu tua duluan.
Lama menunggu, tibalah pengumuman pemenang Olimpiade ini.
Alya begitu bersemangat saat nama Dimas dipanggil sebagai pemenang, tentu saja juara satu di bidang lomba Olimpiade fisika. Tak kalah girang juga, saat temannya yang juga menyukai Dimas itu—Risma dipanggil sebagai juara dua bidang lomba Olimpiade biologi.
Lantas, ia jadi murung. Keoptimisannya perlahan sirna. Saat semua nama anak dari klub olimpiade dipanggil, namanya tak kunjung dipanggil. Dari mata lomba Olimpiade yang di lombakan, ada kategori saintek (sains teknologi) yang meliputi; Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Lalu ada yang kategori soshum (sosial humaniora);
Sosiologi, Geografi, dan Ekonomi. Namun, ada juga yang meliputi dua bidang tadi, Olimpiade bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Terlihat Liza tampak tersenyum menyeringai saat ia diumumkan sebagai juara tiga lomba Olimpiade kimia. Lalu bermaksud menurunkan kepercayaan diri Alya, bahwa tak perlu menunggu namanya disebut, pulang saja sana!
Alya memang tak terlalu percaya diri di bidang saintek ataupun soshum. Ia mengambil cabang lomba yang ia sangat percaya diri dalam mengerjakannya. Yang setiap diujikan di sekolah, ia tak pernah mendapatkan nilai merah. Bahasa Inggris. Ya, Bahasa Inggris. Cabang lomba yang hanya diikuti oleh Alya sebagai pesertanya dari klub Olimpiade sekolahnya. Cabang lomba yang juga paling akhir diumumkan pemenangnya. Hingga Alya bertanya-tanya, adakah harapan untuk menunggu sampai akhir? Atau pulang saja karena sudah tahu hasilnya, hasil yang buruk tentunya, seperti ejekan Liza.
__ADS_1
Penyebutan juara dimulai dari yang paling rendah hingga ke juara pertama. Sudah diumumkan penjuaraan di cabang lomba bahasa Inggris, tapi sudah sampai juara ketiga, tak ada lagi harapan untuk terus berdiri di sana, karena pengumuman pemenang selanjutnya sudah pasti bukan nama Alya yang akan di sebut.
Ia berlangkah cepat. Hatinya gusar, bersamaan dengan keramaian yang ia tinggalkan itu. Ia sudah tak peduli, sudah tak ada lagi harapan untuk menjadi pemenangnya. Baik juara dua, apalagi juara satu.
Ia pulang tanpa pamit dengan rombongan klub Olimpiade. Tak tahu akan pulang ke mana, ke rumah orangtua Dimas, atau kemana?
...----------------...
"Alya? Ya ampun, sayang..., kamu kok udah sampai sini aja, sih?"
"Hehe...," tawa hambar Alya.
Ia mendekati ayahnya, kemudian mengambil tangannya untuk di salim.
Lantas, Alya langsung menitikkan air matanya di pelukan Rian. Menangis hebat sampai ia berteriak-teriak di sana.
Rian tak mengatakan apapun. Ia memilih untuk menunggu Alya yang bercerita lebih dulu daripada harus menanyakan kenapa saat ini Alya di sini dengan keadaan ini.
Sambil mengusap lembut punggung Alya yang bertujuan agar ia lebih tenang, Rian sesekali mengecup kepala Alya dan memberikan ucapan menenang. "Cup cup cup..., Alya putri ayah..., cup cup cup..., Ayah sayang banget sama kamu, Yak," ucapnya.
"Ayah kangen banget sama kamu, Yak. Meskipun video call tiap hari, tapi rasanya pengen ketemu langsung dan peluk kamu kayak gini. Atau sekedar merasakan tangan ayah di salim sama kamu, ayah rindu banget momen itu. Kamu apa kabar, Yak?" Rian melanjutkan kalimat penenangnya untuk Alya.
__ADS_1
Kaburnya Alya dari tempat pengumuman pemenang itu rupanya tak main-main. Saat ia mendapati kabar bahwa ayahnya singgah di sini tadi pagi karena urusan pekerjaan, ia segera menuju hotel tempat Rian menginap. Menunggu kedatangan ayahnya dari dinas di lobi. Dan saat menemukan Alya di sana, Rian terkejut bukan main, sekaligus ada rasa bahagia karena begitu merindukan anak semata wayangnya itu.
Cuma Rian lah tempat Alya pulang. Tempat ia bisa berkeluh kesah soal apa yang terjadi dengannya hari ini, karena memang sebenar-benarnya rumah Alya adalah Rian.
Setelah cukup merasa lebih baik, Rian mengajak Alya ke sebuah kafe dekat hotel untuk lanjut mengobrol.
"Ayah nggak mau nanya Alya kenapa?"
Saat mereka selesai makan, Alya akhirnya buka suara. Ya..., setelah Rian harus berusaha menebak makanan apa yang akan Alya makan, tentunya.
"Ayah siap dengar cerita kamu kalau kamu memang mau cerita ke Ayah. Jadi, karena kamu tanya soal itu, berarti kamu udah siap buat cerita? Hmm? Ada apa sayang...?" tanya sang Ayah dengan lembut dan tatapan yang menyejukkan.
Alya ikut Olimpiade, soal itu memang ia belum menceritakannya pada Rian. Karena merasa sudah sangat ingin mengeluarkan unek-uneknya, ia pun menceritakan semuanya. Dengan ekspresif dan nada bicara yang menggebu-gebu karena amarah. Sorot matanya juga mencerminkan kekecewaan pada segala hal. Baik itu dirinya, keadaan, atau orang-orang sekitar tadi. Ia bercerita, kala itu ia benar-benar merasa sendirian, tak ada siapapun yang ia kenal. Hingga akhirnya memutuskan untuk datang menemui sang ayah.
Air mata sudah tak harus dititikkan lagi, karena Alya sudah menumpahkan semuanya saat memeluk Rian tadi.
Rian tak menanggapi apa-apa. Ia hanya menjadi pendengar yang baik buat Alya. Ia sangat paham bahwa anaknya ini butuhnya cuma untuk didengarkan agar bebannya hilang. Bukan meminta saran atau motivasi apapun yang mungkin akan membuat mood Alya makin berantakan.
"Kesel, Yah! Untung Allah baik banget. Di hari yang buruk ini, ada sisi baiknya. Ayah secara kebetulan lagi dinas di sini," ucap Alya menutup pembicaraan. Lantas, ia meneguk minumannya untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang kering setelah bercerita dengan menggebu-gebu tadi.
Benar, sekarang beban Alya langsung hilang setelah mengungkapkan semua. Rian tersenyum dan merespons dengan mengacak dengan gemas kepala Alya yang berbalut hijab. Membuat senyum Alya seketika mengembang karena rasa sayang sang Ayah padanya begitu terasa.
__ADS_1
...----------------...