
"Astagaaa... Astaghfirullahalazim. Apa aku salah berekspresi? Dan kemenangan itu? Kenapa nggak seperti nyata? Maksud semua orang apa sih sebenernya?"
Alya merah padam dan marah, sangat marah. Ia menangis terisak-isak, sudah lama ia tak begini. Setahunya, ia adalah perempuan yang kuat semenjak ditinggal sang ibu sedari umur enam tahun. Tapi kali ini ia malah berakhir dengan wajah sembab yang merah dan sesenggukan.
Alya berjalan tanpa arah dari rumah Dimas. Orang-orang komplek bertanya-tanya soal keadaan Alya yang memprihatinkan. Namun sayangnya Alya tak peduli soal itu.
Ia memang berusaha kuat setelah Bundanya meninggalkannya untuk selama-lamanya. Waktu itu juga, ia masih kecil dan tidak terlalu mengerti arti kehilangan, apalagi Bunda yang notabene adalah sosok yang paling berharga, bagi siapapun, bukan hanya bagi Alya.
Ia berakhir di taman komplek yang cukup luas dengan tak ada orang di sekitarnya. Siapa juga yang mau malam-malam ke taman? Ia pasti aman jika di sini, pikir Alya.
Ia tumpahkan segala emosi yang ia tahan selama ini. Ya, karena selama ini ia selalu menekan emosinya. Selalu terlihat baik-baik saja, meski awalnya ia terpaksa. Karena meskipun sekecil itu, semua orang tahu rasanya kehilangan sosok ibu. Apalagi, Bundanya begitu menyayangi Alya setulus hati. Keluarga Alya memang keluarga yang sangat harmonis dengan masing-masing anggotanya begitu terbuka untuk masalah apapun. Jadi, saat kehilangan salah satu anggotanya, level sakitnya itu terasa berbeda.
Semenjak kenal Dimas, bukan, semenjak tinggal terpisah dengan ayahnya dan kenal dengan Dimas, Alya agak merasa kesepian. Dan ia baru menyadarkan kesepian itu sekarang. Kenapa baru menyadari sekarang? Kenapa ia lampiaskan saat kenal dengan Dimas, dan pemicunya Dimas? Karena rasa sakitnya sudah tak terbendung lagi. Ia merasa benar-benar kesepian saat menyadari Dimas sedingin ini. Karena ia dibesarkan di keluarga yang amat hangat. Saat berdua saja dengan ayahnya pun, Alya tak merasa kehangatan itu berkurang. Ia merasa tertantang di awal saat ia tahu Dimas begitu dingin. Tapi makin kesini, Dimas bagai kulkas berjalan yang tak kenal kasih sayang. Padahal, orangtuanya begitu hangat dan sangat terjaga sekali keharmonisan keluarga mereka.
Alya melihat ke belakang sekilas. Tak ada yang mengejar ternyata. Ia kecewa. Ia ingin dikejar, tapi di sisi lain ia juga ingin tak dikejar. Mungkin ia hanya ingin tahu, seberapa pedulinya mereka terhadap kesedihan Alya.
Beberapa saat hingga Alya merasa tenang. Air matanya sudah tak keluar. Sisanya ia hanya melamun dan bergeming. Acuh terhadap tatapan orang komplek yang menganggapnya tak waras. Juga acuh terhadap perutnya yang sudah berteriak kelaparan.
Sampai ia merasakan asam lambungnya naik saat ia ingin memeluk kedua lututnya. Ia menjerit kesakitan, sekali saja. Tapi sukses menjadi pusat perhatian. Tepat setelahnya, satu bungkus roti di lemparkan dan Alya menoleh.
"Ayo balik. Udah ditungguin buat makan malam bareng." Suara si pemberi roti itu terdengar. Ada rasa gembira saat suara itu didengar Alya, tapi berganti menjadi raut sendu sesaat setelah ia menoleh dan mendapati bahwa orang itu hanya ayahnya.
__ADS_1
Berharap apa Alya barusan? Ia dengan seenaknya membenci Dimas saat ini, tapi dalam hati ia ingin disusul Dimas dan dengar permintaan maaf yang harusnya diucapkan Dimas.
Ica tak perlu gengsi jika kini ayahnya datang. Yang harusnya, Alya sudah sedari tadi di susul, bukan sekarang. Ia memakan roti yang tadi terlempar itu untuk mengganjal perut. Setidaknya ia bisa lebih cepat selesai untuk dinner nanti dan duluan masuk kamar. Ia tak enak dengan Mira dan Dika yang baik hati, tapi masih muak dengan Dimas. Ya begitu jadinya.
"Ayah sengaja biarin kamu tenang dulu baru mau ngejar kamu. Kamu nggak marah, kan, sama Ayah?" tanya Rian yang sudah mengambil posisi duduk di sebelah sang putri.
Alya tak mengacuhkan Rian. Menoleh pun kini enggan. Roti yang ia makan kasar dan kunyah dengan jelek itu juga menyimbolkan ia sedang merajuk.
"Kalau kamu marah itu wajar. Ayah bisa ngerti, kok," ucap Rian lagi dan tersenyum dengan tulus.
Tapi didiamkan itu menyakitkan. Rian seperti mendapatkan sayatan di hatinya. Sedangkan Alya, ia juga sebenarnya tidak mau mendiami ayahnya.
Rian mengeluarkan semua kata-kata yang kiranya dapat membuat Alya mengeluarkan suara. Dan ternyata ia berhasil membuat Alya menyimpulkan senyum meski tipis.
"Umur empat puluh delapan itu bukan jompo, Yah!" balas Alya.
"Jadi?"
"Masih muda atuh. Masih bisa dibilang kakek. Hahahaha."
"Ya elah, Yak. Kalau dipanggil kakek sama aja jompo namanya. Gimana sih kamu!"
__ADS_1
Keduanya tertawa lebih bebas. Dan Alya mendekatkan dirinya untuk bersandar di pundak Rian. Lalu dengan lembut, Rian membalas dengan mengusap lembut kepala putri kesayangannya itu.
Alya tenggelam di dalam kehangatan yang diciptakan Rian. Seolah lupa kalau mereka tinggal terpisah.
"Kita ziarah ke makamnya Bunda besok, ya?" ujar Rian. Alya langsung duduk tegak dan tampak bahagia.
Lalu Rian melanjutkannya ucapannya. "Ayah kangen banget sama Bunda. Jadi, mumpung Ayah di sini, nggak masalah, kan, Yak? Abis pulang sekolah biar Ayah yang jemput. Oiya, mau pergi sekolah nanti, biar Ayah juga yang antar. Ayah kangen anter jemput kamu kalau sekolah," ucapnya seraya mencubit hidung Ayah di akhir.
"Alya juga kangen banget sama Bunda. Kangen juga di anter jemput ke sekolah sama Ayah. Walaupun di SMA ini, Alya kebanyakan naik ojol, sih. Hahaha."
Rian kembali mengusap kepala Alya. Kemudian menatapnya dengan penuh sayang. Rasanya ia ingin menangis melihat wajah cantik anaknya itu sembab. Alya yang begitu mirip wajahnya dengan sang ibu mengingatkan Rian soal rasa kehilangan yang besar saat ditinggalkan untuk selamanya oleh sang istri. Kini ia teringat, ia kurang perhatian kepada peninggalan sang istri yang paling berharga ini—Alya. Baru sadar pula, ia tak begitu sering menghabiskan waktu bersama Alya di masa SMA nya. Apalagi, Alya dan dirinya juga sekarang tinggal terpisah. Namun, kesedihannya ia tepis. Mencari motivasi agar tak berlarut dalam kesedihan.
"Makanya, Yak, kamu harus kuliah di pusat dan tinggal bareng Ayah, ya. Nanti kita lebih banyak habiskan waktu bersama, membalas waktu yang selama ini, ya." Alya mengangguk. Kemudian berdiri dan membersihkan celana belakangnya yang pasti kotor karena ia baru duduk di atas tanah, bukan di bangku taman. Anehnya itu, ada terlihat bangku taman, ia malah memilih duduk di rumput.
"Kamu mau kemana, Yak?" tanya Rian bingung.
"Katanya ditungguin sama mereka, Yah. Yaudah, jangan buat mereka menunggu. Alya juga abis ini mau langsung belajar lagi biar nanti nilainya bagus dan lulus di kampus negeri di pusat, biar bisa tinggal bareng Ayah lagi."
Rian tersenyum. Ia mengikuti Alya yang sudah berjalan lebih dulu. Tampak Alya berjalan dengan tegap. Suasana hatinya sudah normal kembali. Dan Rian tak tahu, Alya bisa ceria kembali karena motivasi yang sangat berpengaruh telah diucapkan dari mulut Rian.
...----------------...
__ADS_1