
Ayah dan anak ini rupanya berlomba untuk sampai di rumah Dimas. Alya yang menantangnya lebih dulu. Tentu saja, Alya yang duluan menantang karena sudah lama tak melakukan hal ini dengan ayahnya. Ia rindu, dan kini rindu itu sudah terbayarkan.
Mereka sampai di depan rumah dengan ngos-ngosan. Tidak ada yang menang, karenanya keduanya sama cepatnya. Mereka lantas beradu tos dan tertawa bersama. Sampai tawa mereka terdengar oleh orang rumah hingga Dika membuka pintu diikuti oleh Mira yang menyambut dengan hangat. Meski disambut dengan hangat, Alya merasa biasa saja. Senyumnya sirna, ditambah wajahnya langsung ia tekuk kembali setelah melihat Dimas yang berdiri juga menyambut di belakang Indah. Sementara Rian, ia berusaha mengembalikannya semangat Alya. Tak enak jika tak membalas baik sambutan hangat mereka. Dan karena Alya paham kode itu dari rangkulan Rian, kali ini Alya harus menjaga sikap walaupun hatinya kesal dengan Dimas.
Makan malam berlangsung. Alya tak ada bicara sedikitpun dan hanya menikmati makanan yang sudah dihidangkan. Tak ikut menimbrung juga, karena Rian pintar memilih topik yang tak akan melibatkan anaknya yang sedang bad mood itu. Kalau Dimas, sudah biasa ia diam jika makan bersama begini, jadi tidak ada yang heran. Yang mayoritas bicara hanya para orang tua. Indah kadang ada menyela untuk bicara pada bundanya.
Esok Alya tak akan pergi atau pulang sekolah bersama Dimas. Rasanya menyenangkan bila memikirkan akan di antar jemput oleh Rian ayahnya, dan tak bertemu oleh si dingin Dimas. Dan di waktu yang bersamaan, itu akan menyulitkan Dimas jika ingin berbaikan dengan Alya, tapi tak ada kesempatan yang mendukung. Itu pun jika Dimas memang mau berbaikan. Lagian, mustahil Dimas mau meminta maaf kalau ia merasa memang ia tak membuat kesalahan apapun kepada Alya. Karena yang sensitif itu Alya. Ia tak harus bertanggungjawab untuk memperbaiki mood Alya.
...----------------...
Pagi itu Alya izin untuk tidak ikut sarapan bersama keluarga Dimas. Ia juga meminta ayahnya lebih cepat menjemput karena ia tahu ayahnya masuk pagi di pekerjaannya. Ia juga sudah membeli beberapa roti di minimarket untuk keduanya, sarapan di mobil.
Pagi yang indah karena di antar oleh Ayah tercinta, pikir Alya bahagia.
__ADS_1
Senin mengharuskan ia harus bertemu dengan Dimas. Karena mau tak mau, ia juga menjadi pemenang di Olimpiade kemarin. Meskipun tak menang sekalipun, ia masih bagian dari klub Olimpiade yang di dalamnya pasti ada Dimas.
Di mobil tadi Alya benar-benar tak ingin membahas soal Olimpiade kemarin meskipun Rian selalu memancing. Tapi kini ia tak dapat mengelak lagi. Topik soal dirinya yang memenangkan Olimpiade itu menjadi topik utama di sekolah. Bagaimana tidak, Alya yang notabene berada di kelas yang di mana dijuluki kelas siswa gagal itu benar-benar memenangkan Olimpiade, juara satu lagi. Tak banyak yang menghina dan membuat tuduhan palsu bahwa Alya menyogok lah, membeli kunci jawaban lah, tak dianggap pemenang karena tak mengambil kategori soshum atau saintek lah, dan semacamnya. Alya benar-benar dengar cibiran buruk yang lebih keras itu ketimbang pujian-pujiannya. Lebih banyak yang menatapnya dengan tatapan tidak suka ketimbang tatapan penuh rasa bangga. Termasuk para guru yang harusnya bangga pada kemenangan perdana Alya, tapi yang Alya temukan di sorot mata mereka adalah tatapan penuh tanya yang tajam dan beberapa ada yang sinis.
Ia mencari-cari guru-guru yang mengajar di kelasnya, yang pasti tahu sebesar apa perjuangan Alya dan pesatnya perkembangan naiknya nilai akademik Alya, yang harusnya bisa memberikan tatapan kebanggaan untuk Alya. Namun, Alya terlalu banyak berharap. Guru-guru itu tetap memasang raut wajah yang sama. Lalu terakhir, ia berharap dapat melihat wajah yang ingin ia lihat dari guru bahasa Inggrisnya yang pelajarannya membuat ia keluar sebagai pemenang lomba kategori bahasa Inggris. Namun, ia lupa. Guru itu masih merajuk dengan kelasnya yang amat bandal, sehingga sudah dua minggu ini ia tak mengajar di kelasnya. Alya menang pun tak ada raut bahagianya sama sekali.
Setelah semua juara sudah di berikan trofi nya secara simbolis, semua anak klub Olimpiade di beri salaman dan ucapan selamat. Hanya Alya saja yang cuma mendapatkan salaman. Rasanya ia seperti tak dianggap dan ingin kabur. Atau seharusnya tadi ia minta saja untuk bolos satu hari saja dan menunggu ayahnya selesai bekerja di kantornya. Sekolah menjadi tempat yang sangat menyeramkan baginya hari ini.
Tak perlu meminta haknya untuk berfoto di samping Dimas, si Liza yang centil itu sudah ancang-ancang duluan mengambil tempat Alya. Dan lagi, pemenang yang bukan berasal dari saintek atau soshum itu dianggap tak ada. Sekalian saja Alya menghilangkan keberadaannya dengan duluan masuk ke kelas setelah meninggalkan trofinya di meja tempat benda itu di letak tadi. Dan tentu saja tidak ada yang sadar. Tidak ada yang mengejar Alya untuk ikut sesi foto klub Olimpiade itu. Dan benar, tak ada satupun yang melirik hilangnya keberadaan Alya. Termasuk Dimas.
"Huh..., tidur wae lah. Mumet ndasku." Alya yang menjadi orang pertama yang masuk kelas itu langsung tidur di mejanya. Toh tidak ada guru yang akan masuk di kelasnya sebelum jam istirahat pertama selesai. Teman sekelasnya yang lain paling lebih memilih untuk cabut.
...----------------...
__ADS_1
"Lama banget sih bel pulang sekolah," gerutu Alya. Sudah adzan dzuhur, dan benar-benar tak ada satu orangpun yang bangga akan kemenangan Alya. Selama di sekolah, ia badmood total.
Rian sudah menjemput. Pekerjaannya sudah selesai. Ia tak sabar menunggu putrinya.
Alya mendapatkan pesan dari Rian soal tibanya. Seketika kedatangan itu membuat Alya menjadi riang kembali. Ia tak bisa merasa dibanggakan di sekolah ini, tapi ia memiliki ayah yang selalu bangga padanya.
"Woi, kamu! Sekarang masih belum waktunya pulang. Sana masuk!" tegur satpam yang mencegat Alya keluar pagar sekolah. Ya..., Alya langsung mengambil tas dan keluar kelas untuk segera menemui ayahnya. Padahal jika menunggu bel pulang, hanya sepuluh menit lagi.
"Maaf, Pak. Saya tadi udah diijinkan pulang duluan sama guru. Lagian, bel juga bentar lagi. Sama aja kalau Bapak nahan saya nggak ada guna," protes Alya.
Alya dipersilakan keluar dari lingkungan sekolah dengan ditatap penuh kebencian oleh satpam itu.
Ia tahu, meskipun menang, ia hanyalah seorang pecundang. Semua orang di sekitarmu ini tak ada yang bangga sedikitpun terhadap kemenangannya. Semuanya membencinya.
__ADS_1
...----------------...