Mengejar Cinta Si Dingin

Mengejar Cinta Si Dingin
Tentang Berandal Sekolah


__ADS_3

Setelah melakukan beragam hal dan menyerah, akhirnya Alya berakhir di tongkrongan anak IPS berandalan itu.


"Alya, santai aja. Kita nggak jahat, kok. Lagian, kamu nggak cewek sendirian di sini. Jadi, lebih aman." Laki-laki yang menggenggam tangan Alya itu membawa Alya ke perkumpulan perempuan di tongkrongan itu.


Alya duduk di sana seraya disuguhi berbagai makanan gratis yang mereka sebutkan sebelumnya.


Lalu, seorang perempuan mendekat dan duduk di sebelah Alya. "Hai, Alya. Kita seneng banget kamu mau main ke tongkrongan kita," sapanya.


"Kamu kenapa mau nongkrong di sini? Kamu bagian dari mereka, kah? Maaf, nih, sebelumnya kalau nggak sopan gini." Alya langsung membuat posisi bertahan kembali.


"Aku Septi, pacar Edo. Emang kami sekelas, sih, sama-sama anak IPS."


"Edo yang mana?"


"Yang narik kamu ke sini tadi."


"Yang narik aku? Emang kamu nggak apa-apa lihat pacar sendiri narik cewek lain?"


"Kayaknya kamu belum tahu gimana aslinya tongkrongan ini, deh, Alya. Kamu salah paham. Mungkin, kamu juga kemakan rumor yang beredaran di sekolah kalau kami-kami ini berandalan sekolah."


"Lho, emangnya bukan gitu?"

__ADS_1


"Sebelum itu, aku mau denger pendapat kamu dulu, deh, tentang kami."


Karena terkejut dengan ucapan Septi, Alya langsung beristighfar karena menilai orang dari sampulnya saja. Lalu, Alya memulai ceritanya. "Sebelumnya, maaf nih kalau pendapatku bakal nyakitin hati kalian," ucapnya mengawali.


"Iya, nggak masalah. Lanjut lanjut."


"Kalian berandalan, itu yang aku lihat. Anak dari kelas IPS yang bermasalah dan terlalu nakal semua ada di kelompok ini. Mungkin nggak jauh beda sama orang-orang di kelasku yang terkenal bandal, nakal, dan nggak pintar, tapi kalian lebih parah karena suka mengganggu sekitar. Aku contohnya, beberapa hari yang lalu, aku diganggu sama segerombolan kelompok ini. Aku merasa nggak aman karena aku sendirian cewek, dan mereka ramai cowok semua. Dan hari ini terjadi lagi. Mengganggu kenyamanan orang lain itu nggak baik, tahu. Apalagi, niat mereka menggoda aku," lanjut Alya.


"Terus, aku banyak mendengar cerita dari teman sekelas juga kalau cowok di sini suka bawa cewek ke tongkrongannya untuk jadi pemuasnya doang. Mungkin, mereka nargetin aku juga makanya hari ini aku berakhir di sini," sambungnya.


"Kamu juga, nggak diapa-apain di sini, kan? Anak-anak cewek lain nggak digunakan sebagai alat pemuas aja, kan? Dan yang lebih penting, aku nggak akan di apa-apain, kan? Aku mau pulang, soalnya nggak mau buat khawatir orang rumah," imbuh Alya. Ia kembali tak tenang kembali karena mengingat waktu sudah cukup sore, dan dirinya yang sekarang menumpang di rumah orang tidak boleh sembarangan pulang petang.


"Alya, santai dulu. Nih, ada minum sama makanan gratis. Tenang aja, nggak ada obat-obatan dan racun didalamnya. Minuman masih tersegel, dan makanannya juga makanan kemasan, snack-snack doang. Monggo di makan, biar kita ngobrolnya lebih santai," tawar Septi. Alya pun langsung membuka snack kesukaannya seraya menyimak cerita Septi.


"Tuh, kan, nggak baik tahu kayak gitu. Dan lagi, jangan coba-coba untuk ajak aku ke kelompok ini. Aku mau fokus belajar biar bisa masuk kampus negeri, aku udah kelas 12, nggak punya waktu lagi buat nongkrong. Sorry ya," sanggah Alya.


"Iya iya, kalau nggak mau nggak masalah. Tapi, aku pengen ngasih tahu kamu aja kalau kita-kita nggak seburuk yang kamu kira."


"Oke kamu udah kasih tahu. Tapi, tetap aja masih belum membersihkan nama kalian. Gimana soal cowok-cowok ganteng di sini yang nargetin cewek untuk pemuasnya doang?"


"Well, soal itu kamu bener. Aku juga nggak bisa ngelak. Tapi, perilaku yang kamu maksud itu pasti melibatkan dua orang, kan? Pasti dua-duanya sama-sama setuju untuk merasakan sensasinya. Kalau nggak, mungkin diantara kami udah ada yang ketangkap polisi karena udah ngelakuin pelecehan."

__ADS_1


"Iya kalau emang bener begitu. Gimana kalau salah satunya diancam untuk tutup mulut? Si korban tetap jadi korban dan nggak bisa lepas diperlakukan sebagai alat." Alya malah nyolot. Septi jadi terpancing emosinya dan nyolot balik.


"Kamu nggak percaya sama kita? Kamu lihat, orang-orang yang menjadi alat itu udah jadi pasangan member kami dan masuk kelompok kami. Kalau pacaran, pasti dilakukan atas dasar suka sama suka." Nada suara Septi yang sebelumnya tenang kini meninggi akibat ucapan Alya.


"Kamu juga begitu?"


"Aku beda, Alya. Aku bukan wanita murahan. Wanita di sini juga nggak ada yang murahan. Aku bisa pastikan kalau kami masih suci dan belum melewati batas wajar. Aku pacaran sama Edo juga karena kami sahabatan udah dari lama. Terus sekelas juga di sekolah."


"Dan alasan kamu nggak marah kalau pacar kamu goda cewek lain apa? Aku bahkan sampai digenggam tangannya. Normalnya kamu marah, kan?"


"Edo, semua cowok kelompok ini, mereka memang berandal. Tapi mereka bukan cowok yang nggak setia sama cewek yang dicintainya."


Sepertinya pembicaraan sudah tak berjalan semulus awal. Septi semakin tinggi nada suaranya saat menanggapi ucapan Alya. Padahal, Alya sudah memposisikan diri dengan baik dengan merubah nada suaranya menjadi lebih tenang dan tak menghakimi, hanya sekedar seperti penanya biasa. Akhirnya, ia ingat bahwa lebih baik menghindari perdebatan daripada mengalami hal yang tidak diinginkan setelahnya. Diskusi mereka sudah diikutcampuri oleh setan, oleh karena itu lebih baik di akhiri.


"Ya udah, aku sekarang udah denger kebenaran tentang kelompok kalian. Dan aku juga nemu pandangan baru kalau kalian nggak seburuk yang aku pikirkan. Maaf kalau perkataanku menyakiti hati. Kayaknya, aku nggak bisa lama-lama di sini. Aku cewek berhijab, nongkrong di sini pasti membuat orang-orang salah persepsi tentang aku. Aku nggak mau kayak kalian yang sebenarnya orang baik, tapi malah dianggap buruk oleh orang lain karena kalian menetap di lingkungan yang nggak baik di pandang. Aku cuma bilangin, kok. Nggak ada bermaksud menghakimi. Kalau aku ketemu kamu, aku juga pasti akan negur kamu karena kamu orang baik, bahkan semua orang di sini, termasuk segerombolan cowok yang berhasil narik aku ke sini." Alya berujar mendamaikan hati Septi yang tadinya panas.


"Kamu mau temenan sama kita?"


"Iya, mau. Tapi, aku nggak mau di ajak ke sini lagi. Kalau kita ketemu di kantin atau di mana, aku pasti mau di ajak ngobrol sama kalian, kok." Alya memberikan senyum terbaiknya kepada Septi, senyum penuh ketulusan dan pandangan mata yang berbinar ketika jujur mengatakannya.


"Aku harus pulang sekarang, nanti orang rumah kecarian. Makasih minuman dan makanannya, ya," pamit Alya bergegas untuk pergi dari tongkrongan mereka.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2