Menikah Dengan Tuan Muda Yang Dingin

Menikah Dengan Tuan Muda Yang Dingin
BAB.9. Melihat drama Korea (REVISI)


__ADS_3

Setelah lama suasana hening putri menghancurkan keheningan itu.


"Oh ya, rian siapa yang menanam bunga mawar yang indah ini?" tanya putri dengan menatap manik mata Rian.


"Kenapa?" tanya rian yang membalas tatapan putri.


"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga!" ujar putri dengan sedikit memajukan bibirnya.


"Kalau jawabannya aku?" balas rian yang masih tak menghiraukan protes putri.


"Itu tidak mungkin!" ujar putri yang menggelengkan kepalanya seolah-olah sangat tak setuju.


Rian pun memutar bola matanya malas, kemudian rian pun pergi meninggalkan putri yang masih cemberut.


'aih ,apa benar ya rian yang menanam ?'batin putri.


Setelah puas melihat bunga mawar putri melangkah pergi, di tengah jalan ia melihat fahri supir sekaligus asisten rian.


"Pak fahri!" sapa putri sambil berlari menuju fahri, fahri yang merasa namanya dipanggil pun menoleh.


"Non panggilnya fahri saja," ucap fahri sambil menebar senyumnya.


"I-ya," balas putri sambil mengatur nafasnya kembali.


"jadi ada apa non?" tanya fahri setelah nafas putri kembali normal.


"Saya mau bertanya siapa yang menanam bunga mawar di halaman belakang?" tanya putri yang nyatanya masih sangat penasaran tentang hal itu.


"Oh itu tuan yang menanam non," jawab fahri, yang membuat putri melongo.


"Baik non saya pergi dulu," balaa fahri yang masih memiliki pekerjaan untuk mengurus perusahaan, ia kesini hanya ingin mengambil proposal kerja sama dari Rian saja.


Fahri pun berjalan menjauh dari putri.


'aih , masa sih tuan es itu menanam bunga , sama sekali tidak mungkin' batin putri.


'ah ,sudahlah put kau repot untuk hal yang tidak perlu ' batin putri lagi.


"Nona, tuan memanggil anda untuk segera pergi ke ruang makan, makanannya sudah siap," ujar pembantu disana.


"Baik, terima kasih ya bi," balas putri tersenyum ramah.


Putri pun segera pergi ke ruang makan, tidak ada percakapan di antara sang pasutri karena putri maupun rian sama sama fokus pada makanan masing-masing.


Setelah mereka selesai, mereka duduk di ruang tamu.


"Hey tuan muda, minimal tuh ajak aku berkeliling, agar aku mengenal rumah ini," ujar putri mendengus kesal.


"Kau kan bisa berkeliling sendiri," balas rian datar.


"Kalau tersesat bagaimana?!" seru putri sedikit teriak.


"Rumah ini tak seluas itu," balas rian melirik dingin putri.


"Hais, ya udahlah," kata putri meninggalkan rian dengan kesal.


Di sepanjang langkahnya, ia selalu mengutuki rian yang selalu membuatnya kesal.


Tanpa ia sadari ia sudah berada di sebuah ruangan yang entah itu dimana.


"Astaga aku tersesat beneran dong," ujar putri menepuk dahinya lelah.

__ADS_1


"Yang denger tolong samperin," teriak putri sayang sekali tak ada yang membalas teriakannya.


Putri pun segera melangkah, pandangannya mencari seseorang bak scanner.


Matanya berbinar saat ia melihat Rian di ujung lorong.


"Tunggu!" teriak putri sambil berlari mengejar rian.


Putri akhirnya menyamai langkah kaki rian dengan susah payah, karena memang langkah rian begitu cepat.


"Hey kau makan apa sampai jalan mu cepat begitu?" tanya putri.


"Dasar lambat!"


Putri hanya diam saja, ia juga malas berdebat dengan rian.


Setelah beberapa menit mereka sampai di ruang tamu.


"Tunggu, ini kan ruang tamu tadi, itu berarti kau sudah menghafal rumah ini?!" kata putri sambil terkejut.


"Hm," Dehem rian santai.


"Lalu kenapa kau tidak mengajak ku berkelilin?" tanya putri dengan kesal.


"Bukan urusanku," jawab rian sambil mengambil remote untuk menyalakan tv.


"Kau, ah sudahlah dasar MENYEBALKAN," ujar putri menekan kata 'menyebalkan' dan pergi menaiki tangga menuju kamar mereka.


Putri pun memasuki kamarnya, dan menutup pintunya dengan keras.


"Huh memang pria itu menyebalkan, dia tidak punya perasaan, dasar es balok!" teriak putri sekesal-kesalnya.


"Ekhem," Dehem rian yang ternyata ada di balik pintu.


"Cih, ayo kuajak berkeliling," ujar rian mencoba membujuk putri yang marah, Rian hanya takut putri menelepon sang mama.


"Itu hanya bualan!" teriak putri lagi, nada kesalnya sudah amat parah.


"Apa aku pernah berbohong padamu?" tanya rian.


"Ish iya-iya tapi tepati perkataan mu tadi," kata putri dengan nada suara yang sudah normal.


Kemudian putri membuka pintu kamar dan melihat rian yang tepat berhadapan dengannya.


"Ayo tepati perkataanmu!" seru putri.


"Ayo," balas Rian dengan mimik muka datar.


Rian pun mengajak putri berkeliling mulai dari ruang tamu, dapur, gudang, ruang makan juga ruangan yang lain.


"Sudah puas?" tanya rian melirik ke arah putri.


"Sudah," jawab putri dengan riang,


setelah itu dengan santainya putri menyalakan tv di ruang tamu sedangkan rian duduk di sampingnya.


Putri mengalihkan channel tv nya dan tepat pada drama kesukaan nya yaitu drama korea, rian hanya diam saja tiba-tiba...


"Apa-apaan kau dasar pria breng**k tak tau di untung," emosi putri terlihat meluap-luap.


Rian yang tadinya fokus membaca koran pun terheran-heran mendengar umpatan putri.

__ADS_1


'apa salahku hingga dipanggil pria breng**k ' batin rian.


"Dasar keterlaluan awas kau," kata putri lagi.


"Aku bukan pria seperti itu b*doh!" kata rian tak kalah emosi, kini ia benar benar terpancing emosi.


Sebab seumur-umur tak ada yang berani mengejek Rian.


"Apa sih ke pedean amat aku bicara soal drakor itu bukan kau," kata putri dengan judes.


'memang ya kalau seorang wanita sudah melihat drama pasti ujung ujungnya gini ' gumam rian.


"Aku dengar, lagian apa salahnya jika aku terhanyut di drama ini?" kata putri.


"Jikaa aku begini bukan berarti semua wanita kek aku," imbuhnya lagi.


"Hm."


' kenapa putri hari ini aneh' batin rian.


' sudahlah rian sepertinya ia hanya tidak terbiasa ' batin rian lagi.


Akhirnya rian pun ikut melihat drama itu, dan...


"Pria anj*** pria ba*****!" teriak rian reflek, sebab tokoh pria di drama itu mencemarkan nama seluruh laki-laki.


Ingatlah, Rian tak sedingin itu.


'dia mengomentari ku tadi ,tapi lihat dia sendiri ' batin putri.


Kemudian iklan pun lewat.


"Dasar pria tidak tau malu, ini pula pakai iklan segala!" kata rian kesal.


Segala sumpah serapah rian ucapkan sedangkan putri hanya diam dan berkata di hatinya.


'apa ini benar benar pria es balok yang ku kenal ?, kenapa terlihat berbeda saat melihat drama ?! '


itulah yang sedari tadi putri fikirkan .


Drama itu pun dimulai lagi, tanpa disadari drama itu membuat Rian dan putri semakin dekat.


Setelah 1 menit..


"Ya gitu dong bales pria itu!" seru putri bersemangat.


"Nah iya begitu terus!" ujar rian tak kalah antusias.


Mereka terhanyut sampai drama itu selesai, alhasil mereka lelah karena terhanyut di drama itu.


Seketika di lihat jam menunjukkan pukul dua belas siang.


"Hey rian yuk makan siang aku laper nih," ajak putri.


"hm," balas rian yang kembali ke mode sok cool nya.


Mereka pun melangkah ke ruang makan, dan makan bersama, nyatanya makanan sudah tersedia di meja itu saat keduanya datang.


Setelahnya mereka menaiki tangga dan merebahkan dirinya di tempat tidur lalu mereka pun tertidur.


Tanpa di sadari mereka tertidur dengan posisi saling berpelukan, entah apa yang akan mereka fikirkan jika mereka bangun. Terkejut? Yah pasti.

__ADS_1


Namun sayangnya, Rian langsung berbalik arah dan membuat putri dan Rian tidur searah bukan berpelukan.


__ADS_2