
Setelah terbangun, putri bergegas melihat jam dinding yang tergantung di sudut kamarnya.
"Masih jam dua siang," ujar putri. Ia pun bergegas mengganti pakaiannya dan makan siang, sepertinya berteriak sudah menguras energi putri.
Yah putri kira ia juga tak perlu terlalu sedih begini kan? Tak ada gunanya juga.
"Non ini sarapannya," ujar bi fifi, pembantu selain bi lea.
"Iya bi makasih ya," balas putri dengan tersenyum seketika ia melupakan semua masalahnya.
Putri pun memakan dengan lahap makan siangnya, hingga hanya butuh waktu sekitar lima menit saja untuk putri menghabiskan makanan itu, setelahnya putri membawa piring bekasnya menuju dapur.
"Lho non piringnya bisa ditaruh di meja makan aja nanti kami yang mengambil," ujar bi lea memandang khawatir putri, takut jika putri tak sengaja menjatuhkan piringnya dan membuat dirinya terluka.
"Iya non," sahut bi fifi mendukung bi lea, wajahnya pun tak kalah khawatir.
"Tidak apa-apa bi, hari ini putri ingin mencuci piring bekas putri sendiri," jawab putri ramah.
"Oh baik non kalau begitu, tetapi.. tolong jangan sampai terluka non," ucap bi lea dan disertai anggukan dari bi fifi.
Selesai drama itu, kini putri sedang berjalan ke halaman belakang rumahnya di sana terdapat sebuah kursi, putri pun duduk di kursi itu.
"Dulu pertunangan di majukan ,apa sekarang pernikahan?" ucap putri, kini ia termenung ia benar-benar tak ingin menikah!
"Ah iya kenapa aku tidak tanya rian itu saja, siapa tau kita juga bisa membuat rencana untuk membatalkannya? Kalau perlu aku ingin memanipulasi nilaiku saja! Ah tapi.. mama dan papa sudah mengambil ijazahku," kata putri mulai berbicara sendiri.
Kemudian ia mengambil hp nya yg ada di saku bajunya dan menelefon rian.
tut-tuut-tu
"Kenapa?"
"Kenapa kau mau memilih pakaian pengantin sekarang apa pernikahannya sudah dekat?"
"Iya, lagipula bagaimana bisa kau lulus lebih cepat?"
"Ya mana kutau! Kalau aku tahu pun aku pasti memanipulasi nilaiku duluan. Apa tidak ada cara untuk mengundurnya lagi?"
"Jelas tidak ada!"
Tut Tut tuuut
__ADS_1
"Tuh kan! Kenapa sih aku harus lulus duluan," ucap putri dengan tangan mengepal karena kesal.
"Ssharusnya aku memburuk kan nilai ku setidaknya aku tidak lulus duluan seperti ini," sesalnya lagi, mengapa pula ia dianugerahi watak pintar dalam pelajaran tapi kikuk dalam urusan lainnya?
"Lagipula kenapa aku harus dijodohkan dengan si es balok itu," ucap putri sambil mengecilkan suaranya saat menyebut kata es balok.
"Non, ada apa? Mengapa nona terlihat kesal?" tanya bi fifi yang kebetulan lewat.
"Ada suatu kejadian bi," jawabputri sambil menormalkan emosinya.
"Begini non ini hanya nasehat, jangan menyesali yang sudah terjadi ini semua pasti adalah yang terbaik bagi nona," kata bi fifi tersenyum.
"Baik bi, semoga saja bibi benar," balas putri sambil berusaha menguatkan hatinya.
Bi fifi pun pergi melanjutkan pekerjaannya meninggalkan putri yang masih termenung.
"Bi fifi emang benar, tidak ada gunanya aku menyesali semua yang telah terjadi. Sebab, menyesal pun tak akan merubah keadaan," gumam putri.
"Ayo put semangatlah!" seru putri menyemangati dirinya sendiri.
"Bagus lah aku gila karena menyemangati diri sendiri," lanjut putri sambil menepuk jidatnya.
Putri segera bangkit dan menuju kamar mandi, setelah ia mandi, ia memainkan hp nya, maklum saja putri juga remaja yang masih kecanduan tentang gadget.
Padahal di kenyataannya ia masih menyesali karena ia lulus lebih cepat, tapi bagaimana pun mereka mengucapkan selamat jadi ya putri harus tetap membalasnya, hitung-hitung tata Krama.
Hari pun berlalu tepat pada jam 6 malam rian datang untuk menjemputnya, saat sampai di depan rumah putri, rian langsung masuk dan disambut oleh orang tua putri.
"Eh rian menantuku. Sudah datang rupanya," ujar papa alfin terkekeh senang.
"Iya pa," balas Rian yang mau tak mau harus menjawab ucapan papa Alfin, padahal Rian sendiri masih tak ingin menikah.
"Put rian udah dateng ayo keluar!" teriak mama mila.
"Iya ma, sabar dikit dong!" balas putri dengan berteriak juga.
Putri pun keluar ia hanya memakai pakaian sederhana karena memang ia tidak suka kemewahan.
Itu juga sebabnya meski memiliki pelayan putri selalu ingin mengerjakan semua sendiri.
Setelah itu rian dan putri pun pamit kepada papa alfin dan mama mila.
__ADS_1
Putri dan rian melangkah menuju mobil seperti biasa fahri yang menyetir.
"Apa kau akan mengantarku di mall itu lagi?" tanya putri was-was jika akan dibawa ke mall sepi itu lagi. Ia bukanlah orang yang anti sosial.
"Iya," jawab rian santai seolah-olah tak ada beban.
"Tapi mall itu sangat sepi, asal kau tau ya! Aku bukan orang yang menyukai suasana sepi," balas putri agak kesal.
"Tidak aku sudah membukanya untuk umum," timpal rian singkat.
"Baguslah," ujar putri dengan riang
rian yang melihatnya tersenyum tipis.
Sementara fahri yang hanya fokus ke jalanan saja tidak tau bahwa nyatanya itu pertama kalinya Rian tersenyum setelah beranjak dewasa.
Hanya butuh beberapa menit mereka sampai semua orang terlihat menunduk maupun itu pedagang atau pembeli.
Rian merasa biasa saja karena ia sudah sering mendapat perlakuan seperti ini, lain dengan putri yang merasa risih karena diperhatikan.
Alhasil, rian yang sama sekali tidak menoleh tidak menyadari kalau putri sangat tidak nyaman.
Setelah melewati semua orang kini mereka berada di ruang yang bertuliskan"baju pengantin".
Untuk hal ini rian juga turut masuk mereka melihat-lihat dan pada akhirnya putri menunjuk sebuah gaun couple untuk mereka berdua.
"Bagaimana dengan yang ini rian? gaunnya juga tidak terbuka," ucal putri, sebelum ini putri sudah mengajukan beberapa gaun tapi rian punya satu alasan yaitu "gaunnya terlalu terbuka."
Itulah yang terjadi setiap putri memilih gaun. Putri pun segera memberikan gaun itu pada Rian.
"Hmm boleh juga, tapi coba mau lihat dulu ukurannya," seru rian datar.
"Astagaa ukurannya terlalu kecil ternyata ini untuk pengantin cilik," jawab putri sambil menepuk jidatnya, karena ia memang tidak melihat ukuran gaun itu, ia hanya melihat modelnya saja.
Pada akhirnya mereka harua berkeliling lagi.
"Hey rian ayolah pilih satu gaun saja, dari tadi hanya aku yang memilih," seru putri dengan nada kesal.
"Aku tidak pandai memilih gaun," balas rian tetap datar.
'astaga aku seharusnya tau itu ' batin putri.
__ADS_1
'aku pintar dalan hal mata kuliah tapi aku bodoh dalam urusan membaca orang ' batin putri lagi