Menikah Dengan Tuan Muda Yang Dingin

Menikah Dengan Tuan Muda Yang Dingin
BAB.7. Persiapan pernikahan (REVISI)


__ADS_3

Kini putri menunjuk sebuah gaun lagi, ia sudah mengukur ukuran, juga mempertimbangkan keterbukaan gaun itu.


Pada akhirnya mereka memilih gaun tersebut, setelah membungkus gaunnya putri dan rian meninggalkan mall itu.


Mereka melangkah menuju mobil


setelah mereka masuk mobil, fahri langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Di dalam mobil...


"Rian berapa hari lagi kita menikah?" tanya putri yang ingin mempersiapkan mentalnya terlebih dahulu.


"Kata papa bastian tiga hari lagi," jawab rian cepat.


"Se-secepat itu? Memang tidak bisa diundur lagi?" tanya putri dengan wajah kesal.


Rian hanya melirik putri sebentar dan tidak menjawab pertanyaannya, sungguh Rian sendiri juga tak mau menikah!


Setelah mengetahui hal itu putri bercampur aduk.


"Pernikahan itu di publik kah?" tanya putri mencoba menetralkan ekspresi kesalnya.


Rian hanya mengangguk sebagai balasan, setelah itu putri diam seribu bahasa.


Beberapa saat kemudian, tanpa disadari mereka sudah sampai di rumahnya putri, putri pun turun dan memasuki kamarnya.


'astaga secepat itu aku menikah?'batin putri.


Ia dengan cepat mengirim pesan ke mamanya.


My best mommy 🦋


Ma, apakah teman-teman ku akan diundang semua? 📲


Setelah beberapa menit menunggu


ada pesan balasan.


Ya diundang teman satu kuliah mu semua diundang. ✉️


Mata putri terbelalak karena semua teman kuliahnya di undang, putri pun mengetik lagi.


Pa, ma bagaimana kalau aku yang ngasih undangan ke tiara? 📲


Setelah itu mamanya membalas..


Iya sebenarnya boleh sih, tapi undangan nya udah ke sebar semua. ✉️

__ADS_1


Yah ok deh ma, gapapa. 📲


"Undangan nya udah ke sebar dong," ujar putri.


Lalu ia mengotak-atik hpnya lagi, terlihat bahwa putri sedang mengetik pesan kepada seseorang.


My best friend 🌺


Ar, emang kamu udah dapet undangan pernikahan ku? 📲


Kebetulan tiara sedang online jadi jawabannya pun cepat sampai.


Udah kok put, tapi kok gak kamu sih yang nganter? ✉️


Ya gimana aku mau nganter, aku aja gak tau kapan di sebarnya. 📲


Ah ya udah lah aku mau off dulu ya bye. ✉️


Iyaa 📲


N: Yang beremoji 📲 itu pesannya putri dan yang beremoji ✉️ itu balasan lawan pesan putri.


"Yah, gak bisa dong aku bicara ama tiara, udah gak bisa ketemu di kuliah, buat nyebar undangan juga gak bisa, menyebalkan," ujar putri dengan nada kesal.


Putri terus mengutuk kelulusan juga rian yang harus muncul di kehidupannya tanpa aba-aba, seandainya anak yang dimiliki papa bastian dan mama alexa perempuan pasti tidak begini.


Bi lea yang mendengarkan karena tidak sengaja lewat pun hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar kata kata yang di ucapkan nona nya.


"dasar anak muda jaman sekarang," kata bi lea sambil melanjutkan langkahnya.


"Ish dasar andai aja aku ga di jodohin," kata putri lagi, tapi berbeda kali ini ia tidak berteriak, ia hanya meratapi nasibnya saja. Ya, sepertinya nasihat bi fifi tadi merasuk ke jiwa putri.


Sementara itu.....


"Kenapa aku harus menikah dengan gadis itu!" seru rian.


"Gadis itu bahkan tidak mengucapkan (terima kasih) saat aku menjemput dan memulangkannya, gadis itu memang menjengkelkan," oceh rian.


Apa daya fahri hanya bisa diam mendengar celotehan tuan mudanya.


'*tuan muda... sejak kapan kau bisa mengoceh selama ini , apa nona mengajari*nya?' batin fahri. Karena sedari tadi memang rian selalu mengoceh tentang putri.


Sejak meninggalkan rumah putri sampai menuju ke kantor,bahkan sampai di ruangan nya, rian selalu mengoceh, pada akhirnya fahri juga yang harus mendengarnya.


'kenapa setiap kali aku selalu jadi korban ?!' batin fahri lagi.


"Tuan apa anda tidak akan menandatangani berkas-berkas itu?" tanya fahri halus mencoba mengingatkan.

__ADS_1


"Jangan memerintahku!" balas rian.


Memang rian memiliki pribadi yang dingin akan tetapi jika mood nya baik dan ia berbicara dengan orang yang sudah lama dekat dengannya, ia tidak akan bersikap juga berbicara dengan dingin.


Nah, Fahri bingung. Bukannya Rian tidak mau berdekatan dengan putri? Lalu mengapa dia memiliki mood baik dan bersuka rela membagi perasaannya? Padahal biasanya kalau Rian kesal ia hanya akan diam dan dingin saja.


'Astagaa salah terus , baiklah tuan muda kau selalu benar dan aku selalu salah ' gumam fahri pelan.


"Kau mengatakan sesuatu?" tanya rian melirik tajam ke fahri.


'apa tadi kedengaran ya , habislah ' batin fahri.


"Fahri aku bertanya padamu," ujar rian tetap melirik tajam dengan hawa yang menusuk tulang belulang fahri.


' Pada akhirnya sikapnya yang ini kembali juga,' batin Fahri meneguk ludahnya pasrah.


"Tidak tuan, saya tidak mengatakan apa-apa," jawab fahri cepat.


"Bagus, karena aku tadi mendengar seseorang sedang menghina ku,"ujar rian menyindir dengan halus.


"Itu hanya perasaan tuan saja," balas fahri seolah berusaha mengalihkan topik. Padahal Rian sudah tau tentang ucapan itu.


"Ya mungkin saja," sahut Rian datar.


Setelah puas mengoceh layaknya orang yang sedang bergosip, rian pun mengerjakan berkasnya.


Alhasil, fahri lega karena rian berhenti mengoceh, kini mereka sibuk dengan kehidupan kantor.


Sementara mama alexa dan mama mila ternyata berada di rumah keluarga pratama.


"Lexa kira kira gedung nya yang mana ya," tanya mama Mila kebingungan.


"Iya semua bagus," ujar mama alexa yang sama bingungnya.


Mama alexa dan mama mila memang sedang menyiapkan gedung untuk pernikahan anak mereka yaitu putri dan rian.


Papa bastian dan papa alfin pun hanya bisa diam melihat kerempongan istri mereka. Biasalah mereka kan suami nurut istri.


"Mil menantuku suka warna apa?" tanya mama alexa.


"Putri suka warna merah lexa, bagaimana dengan Rian?" ucap mama mila.


"Wah sama dong kayak rian, dia juga suka warna merah," ujar mama alexa.


"Hahaha, mereka memang jodoh! Ah ya, gimana kalau kita memilih gedung dengan dekorasi yang semua serba merah?" usul mama mila.


"Wah bagus itu mil, idemu itu sangat briliant," balas mama alexa dengan semangat.

__ADS_1


Mereka pun mulai memilih gedung yang persis seperti yang mereka rencanakan.


__ADS_2