
tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar sana.
"Rian... siapa yang berada di luar sana? Kau mengundang seseorang untuk datang kemari?" tanya putri.
"Kau bilang apa?" tanya rian yang tak mendengar suara putri, maklum saja saat ini Rian sedang mandi. Suara shower membuatnya tak begitu mendengar pertanyaan putri.
"Ada yang mengetuk pintu, siapa itu? Kau mengundang seseorang?" teriak putri yang sedang berjalan ke kamar mandi.
"Mana ku tau," balas rian acuh.
Sedangkan di depan kamar..
"Lexa mereka sama sekali tidak membukanya, bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi?" ucap mama mila cemas mengingat sang anak tidak tahu apapun tentang dunia luar.
"Entahlah mil, aku juga khawatir! Mana kamarnya kedap suara, kita jadi tidak bisa mendengar kondisi di dalam sana," ujar mama alexa tak kalah cemas pun mulai menyalahkan kedap suara di kamar pasangan pasutri tersebut.
"Andai kita tadi datang sama bastian juga alfin, mereka bisa mendobrak pintu ini," imbuh mama alexa yang seketika lupa dengan keberadaan pengawal yang siap membantu kapan saja.
"Iya huh," ujar mama mila sambil menarik nafas yang dalam.
Sementara itu..
Di dalam kamar putri terus mendesak rian agar cepat selesai.
"Rian ayo cepat!" teriak putri di depan pintu kamar mandi.
"Kenapa?" kata rian datar karena sudah mulai kesal dengan putri.
"Haduh kalau di depan itu orang jahat gimana coba?!" teriak putri yang hanya dibalas acuhan oleh Rian, nampak sekali bahwa suara lelaki itu sama sekali tidak peduli.
Akhirnya rian pun keluar dari kamar mandi dan menghampiri putri, pakaiannya sudah rapi.
"Ada apa?" tanya rian dengan dingin.
"Aku kan sudah bilang ada orang yang mengetuk pintu! Kau tuli?" ujar putri.
"Astaga kau tinggal membukanya."
"Kalau itu orang jahat?" ujar putri cemas.
"Di luar ada pengawal, mereka selalu menjaga rumah ini, tidak mungkin ada orang jahat yang bisa masuk," jelas rian pada putri sambil membuka pintu, Rian tentu harus banyak bersabar dengan semua tingkah laku putri.
CKLEK
"Kalian itu bagaimana? Ada orang mengetuk pintu gak dibuka-buka!" marah mama alexa.
__ADS_1
"Iya kalian keterlaluan, kami itu mengkhawatirkan kalian tau!" ujar mama mila kesal.
"Ah, maaf ma tadi putri kira kalian itu orang jahat " ujar putri sambil memelankan kata "orang jahat."
"Mama masih bisa mendengarmu ua put, lagipula sekarang nih ya nak.. mana ada orang jahat secantik mamamu ini?" kata mama mila menyorot matanya tajam ke arah putri.
'alamak ....' batin putri agak menyesali keputusannya.
"Maaf ma," ujar putri sementara rian hanya diam.
"Jadi kau tidak meminta maaf pada mama mertuamu ini?" tegur mama alexa.
"Maaf bi," ujar putri cengengesan.
"Aku masih muda jangan panggil aku bibi panggil mama saja, lagipula kau sudah menjadi menantuku," ujar mama alexa.
"Iya m-ma maaf," kata putri lagi.
"Tidak masalah menantuku," ujar mama alexa yang akhirnya tersenyum gembira.
"Rian apa kau habis melakukan sesuatu pada putri?" tanya mama mila tiba-tiba sambil menatap rian penuh selidik.
"Maksud mama?" tanya rian yang memang sudah disuruh untuk memanggil orang tua putri dengan sebutan mama dan papa.
"Ah, tidak usah di fikirkan, lupakan saja," ujar mama mila.
"Emm, ma ayo turun kita berbincang di ruang tamu saja, gak enak kalau disini," ajak putri yang diangguki oleh semuanya.
Mereka lalu duduk di sofa dan berbincang-bincang sedangkan rian hanya sesekali tersenyum tipis.
Terdengar suara tawa yang menyeringai rumah itu, suasana terlihat sangat ceria.
"Eh udah gak kerasa udah dua jam, kami harus pulang, nanti malah kita pulang di ceramahi papa kalian," ujar mama mila.
"Hahaha, iya ma. Aku ngerti kok tabiatnya papa," balas putri.
Dengan bergegas mama mila dan mama alexa pulang dari rumah anak mereka, kemudian beberapa saat kemudian terdengar suara mobil yang menjauh dari halaman rumah.
"Hah, jadi sepi lag," ujar putri, putri pun duduk kembali karena ia sempat berdiri tadi.
"Rian kenapa kau sama sekali tidak bersuara tadi? Padahal kami juga memberimu kesempatan untuk membalas ucapan kami," ujar putri bertanya dengan mimik wajah penasaran.
"Aku tidak mengerti tentang topik kalian," balas rian santai.
"Hah apa?! Topik yang trend begitu kau tidak tau? Ugh, sudahlah tidak ada gunanya berbicara dengan es," sahut putri menepuk dahinya lelah.
"Siapa yang kau bilang es hah?” Teriak rian yang membuat putri kaget.
__ADS_1
'astaga aku dalam masalah , aku tadi mengucapkan nya secara lisan ' batin putri.
"Aku bertanya padamu, put," ujar rian yang membuat putri terserentak dari lamunannya.
"Tidak kau mungkin salah dengar," balas putri berusaha mengakhiri pertanyaan rian padanya.
"Twlingaku masih sehat putri." kata rian menyorot matanya ke putri yang membuat aura dingin di sekitarnya.
"Ah iya-iya maaf deh, aku sudah salah karena telah mengejekmu," ujar putri.
"Aku hanya bertanya siapa yang kau sebut es? Aku tak memarahimu, aku hanya ingin tahu."
"K—kau yang kupanggil seperti itu," balas putri dengan memejamkan matanya, takut jika Rian akan mengeluarkan suara kerasnya lagi. Tak terbiasa dengan interaksi lawan jenis membuat putri menjadi lebih kuno tentang hal ini.
"Kenapa kau memanggilku seperti itu?" tanya rian lagi.
"Karena kau hampir tidak pernah tertawa, dan seperti tadi.. Tadi pun kau tidak membalas ucapan kami dengan aktif," jawab putri.
"Begitu ya," sahut Rian menganggukkan kepalanya pelan.
"K—kau tidak marah padaku rian?" tanya putri seraya membuka matanya kembali secara perlahan.
"Hntuk apa aku marah jika kau mengatakan kebenaran?" jawan rian yang membuat putri lega.
"Baiklah maaf jika aku menyakiti perasaan mu karena kata-kata fakta yang kuucapkan," ujar putri.
"Tidak," balas rian.
Kemudian...
TAP TAP TAP
Suara langkah kaki terdengar, putri pun menoleh ke sumber suara.
“Fahri!” sapa putri dengan senyumannya.
“Halo, nona,” balas Fahri dengan senyuman pula, kemudian ia mendatangi Rian.
"Tuan maaf mengganggu waktu tuan, saya ingin mengabari bahwa saya mendapat beberapa lamaran dari orang yang ingin menjadi pelayan di rumah ini," ujar fahri.
"Letakkan di kamarku, aku akan mengurusnya nanti malam," balas rian dengan nada tegas.
"Baik tuan," sahut fahri dengan setengah membungkuk.
Kemudian fahri menaiki tangga dan menaruh lamaran tersebut di kamar rian.
Saat fahri turun dan sudah sampai di ruang tamu...
__ADS_1
"Fahri, belilah pasta dari restoran langganan kita!" perintah rian yang disertai anggukan fahri.
Tak berselang lama, fahri pun melangkah pergi dari rumah tuan dan nonanya.