Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian

Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian
MDJCK Bab 11 #Terima kasih malaikat ku.


__ADS_3

Dengan langkah terseok-seok Arya memapah Arata seorang diri. Dia menyelusuri jalan hutan dengan harapan akan menemukan mahluk yang dapat menolong Istrinya. Arya tidak perduli jika itu orang pendalaman ataupun dedemit yang penting mereka dapat menolong Istrinya yang semakin memucat.


Kanguru, bertahanlah..! Meski aku sangat membencimu, tapi aku tidak bisa melihat musuhku mati begitu saja! batin Arya. Bahkan, di dalam darurat sekalipun, Arya masih tidak melupakan permusuhan mereka yang entah mau di mana kemana.


"Siput, aku sangat haus..." ucap Arata yang telah sadar dari pingsannya.


Mendengar suara lirih yang keluar dari mulut Arata, Arya langsung berhenti melangkah dan menurunkan Arata di dekat pohon besar.


"Kamu sudah sadar!? Maafkan aku, aku masih belum melihat kehidupan di hutan ini. Hutan ini benar-benar sangat menyebalkan!" ujar Arya terlihat sangat pasrah dan juga merasa bersalah.


"A..aku haus..." sahut Arata dengan sangat lemas.


Pakh...! Arya menepuk jidatnya dengan kasar.


"Ya tuhan! Karena aku tidak kuat, jadi aku meninggalkan tas kita di dekat sumur itu. Mana bisa aku menggendong kamu sambil membawa tas ransel kita yang cukup besar!" sahut Arya.


"Haaaus..." Arata benar-benar terlihat seperti orang sekarat. Bahkan dia tidak sanggup lagi untuk mencaci maki Arya yang lemah.


Arya terlihat sangat bingung dan cemas melihat Arata dan keadaan mereka.


"Aku akan cari sungai di dekat sini, aku mohon kamu jangan kemana-kemana, Oke!" Arya memperingati Arata.


Dan Arata pun hanya bisa mengangguk mengerti.


Arya bergegas tidak ingin membuang waktu. Dia menyelusuri hutan yang lebat itu dengan membabi buta. Dia tidak kenal takut apalagi lemah. Dia mendedikasikan diri dan hidupnya demi menyelamatkan musuhnya yang sangat dia benci itu. Tidak terhitung sudah berapa tahun mereka bermusuhan sampai akhirnya mereka menjadi pasangan suami istri. Kini, Arya merasa tidak bisa begitu saja kehilangan istrinya.


Tidak tahu apa yang membuat Arya begitu sangat memperdulikan Arata saat ini. Padahal, jika Arya mau membiarkan Arata mati begitu saja, maka otomatis kemenangan dan harta akan jatuh ke tangannya. Tetapi Arya merasa tidak bisa jika harus menang dengan cara seperti ini.


Ketika nafas sudah mulai tersengal karena lelah, akhirnya Arya mendapatkan sedikit secercah harapan ketika telinganya mendengar sebuah air terjun.


Dengan hati gembira Arya pun bergegas untuk mengambil air. Beruntung Arya masih menggandoli botol air yang kosong. Dengan cepat dan gesit Arya pun bergegas kembali ke tempat di mana dia meninggalkan Arata.


Arya bersyukur karena Arata masih tetap berada di tempatnya. Arya sangat cemas dan takut jika Arata akan di mangsa oleh hewan buas yang ada di dalam hutan tersebut.


"Hey, kamu masih hidupkan!?" ucap Arya sambil menggoyangkan tubuh Arata.


"Haaus..." sahut Arata.


"Iya sayang, ini minumlah..," ucap Arya yang langsung menyodorkan air minum ke mulut Arata.


Ceguk..

__ADS_1


Ceguk..


Ceguk..


Arata benar-benar menikmati air murni dari penggunungan itu. Rasanya benar-benar sangat segar dan murni, seperti ada manis-manisnya.


(Iya manis! Seperti reader yang sedang membaca novel ini :)


Setelah beberapa cegukan akhirnya Arata dapat membuka matanya dengan bulat.


"Di sini tidak ada siapa-siapa, kenapa kamu memanggil aku sayang!?" tanya Arata mengintimidasi.


"Oh...Emm..!" Arya nampak bingung. Karena dia sendiri tidak tahu mengapa kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya.


"Mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan sandiwara kita. Oya, bagiamana, apakah ini masih sakit?" tanya Arya mengalihkan pembicaraan.


"He'em! Jika tidak di obati maka akan terinfeksi," ucap Arata melihat pedih ke arah kakinya terkena jeratan.


"Tanaman apa yang bisa membuat lukamu ini supaya lekas sembuh?" tanya Arya dengan serius.


"Kita sudah sampai mana? Apakah masih jauh untuk sampai ke biksu Tong?" tanya Arata.


"Maafkan aku," ujar Arata tiba-tiba.


Arya melirik Arata dengan seksama.


"Maafkan aku, semua ini gara-gara aku. Andai aku mengikuti jalur yang benar, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi," lanjutnya dengan nada merasa sangat bersalah.


Arya tersenyum kecut.


"Apakah kini kamu telah sadar. Di sini memang tidak ada yang bisa di salahkan selain dirimu!" ketus Arya.


Arata melirik kesal ke arah Arya.


"Ya! Ya...! Semua ini adalah salah aku, bukankah aku sudah mengakuinya!" teriak Arata kesal.


"Baguslah jika kamu merasa. Sekarang bagaimana ini!?" Arya menatap sekelilingnya. Dia baru sadar jika dirinya dan istrinya benar-benar berada di hutan yang sangat lebat dan menyeramkan.


"Yang aku tahu, kita harus terus ke arah barat," ujar Arata dengan yakin dengan apa yang dia ingat.


"Apakah kamu yakin!?"

__ADS_1


"Percayalah padaku, aku akan bertanggung jawab dengan ingatkan ku yang tajam ini," ujar Arata dengan sangat yakin.


Karena tidak ingin berlama-lama, akhirnya Arata bergegas berdiri untuk melanjutkan perjalanan. Tapi, kakinya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi untuk saat ini.


"Auw!" pekik Arata.


"Hmm.. Sini, aku gendong aja!" ucap Arya yang langsung memberikan pundaknya untuk Arata.


"Apakah kamu masih sanggup untuk menggendong aku!?" tanya Arata meragukan Arya.


"Aku hitung sampai satu, jika tidak lekas naik maka akan..."


"Hap!" Belum Arya selesai bicara, Arata langsung naik ke punggung Arya.


Arya hanya tersenyum tipis melihat kelakuan istrinya yang menyebalkan itu.


"Ke arah sana!" ucap Arata menunjukan jalan.


"Apakah kamu yakin?"


"Em, dari pengamatan aku, itu pasti benar!" sahut Arata dengan sangat percaya diri.


"Baiklah! Nona Arata, apakah anda sudah siap! Semangat!" teriak Arya menyemangati dirinya sendiri supaya sanggup untuk menggendong istirnya yang berbobot itu.


"Semangaaaat......!" sahut Arata yang menyemangati suaminya.


.........


Arata benar-benar tidak pernah menduga jika suaminya akan mengikuti langkahnya dan menyelamatkan dirinya. Arata sangat yakin jika suaminya memilih jalan pintas karena mengkhawatirkan dirinya. Arya adalah pribadi yang tidak suka dengan yang namanya jalan pintas.


Arata pun masih menyalahkan dirinya sendiri. Karena tergoda oleh bunga yang sangat cantik dia malah tidak sengaja menginjak jeratan.


Arata yang kesakitan mencoba untuk mencari air untuk membersihkan lukanya. Arata sangat takut jika jeratan itu terdapat racun, tapi beruntung hal itu tidak terjadi.


Arata akhirnya menemukan sebuah sumur, ketika dia ingin memastikan jika sumur itu ada airnya, Arata malah tidak sengaja terperosok.


Beruntung Arata tidak mati ataupun mengalami cidera serius karena sumur itu tidak memiliki air banyak. Mungkin hanya setetes air saja.


Ketika dalam fase pasrah akan mati, Arata benar-benar tidak pernah menduga jika Arya datang untuk menyelamatkannya.


"Meski aku sangat membencimu, tapi suatu saat aku pasti akan membalas budi atas kebaikan mu ini. Terima kasih banyak siput, kamu adalah malaikat ku saat ini," batin Arata merasa sangat bersyukur.

__ADS_1


__ADS_2