
Arata dan Arya dituntun untuk memasuki sebuah kamar yang ukurannya sangat kecil.
"Silahkan Dek, kalian istirahatlah dulu. Nanti malam kita akan memulai ritual berendam di kolam kehangatan," ujar seorang nenek-nenek.
"Baik, Nek!" sahut Arya dan Arata yang nampak menggigil kedinginan karena usai berendam di kali.
Tidak ingin berlama-lama memakai baju yang basah, Arata dan Arya langsung memasuki kamar yang sangat kecil itu setelah nenek pergi.
Ukurannya tidak lebih dari 3x5 meter.
Arata dan Arya saling melongo tidak percaya dengan kamar super mini itu.
"Apakah mereka salah memberi kita kamar?" tanya Arata nampak tidak percaya.
"Sepertinya tidak!" sahut Arya yang langsung menghampiri dua koper miliknya.
Arata nampak tambah bingung dengan Arya yang mendekati koper besar itu.
"Koper siapa itu!?" tanya Arata penuh curiga.
"Miliku!" sahut Arya dengan wajah tanpa berdosanya.
Arya dengan tidak perduli langsung membuka kopernya dan memilih baju mana yang ingin ia pakai.
Lalu dengan tiba-tiba...
BUUGGH!
Ciuman maut dari telapak kaki Arata pun menyapa pipi mulus Arya.
Arata dengan kaki kuda-kudanya bersiap untuk menendang wajah Arya yang sebelahnya lagi.
Namun...
Sheeett...
"Aaahhhkk!" teriak Arata yang terpeleset oleh genangan air yang menetes dari bajunya.
Hap!
Arya dengan sigap menangkap tubuh Arata.
Kini, dua mata saling menatap.
Arata melihat pipi Arya memerah karena tendangan kakinya. Entah mengapa, rasa menyesal menyelimuti hati Arata.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Arya dengan manis membuat Arata dibuat malu semalu-malunya.
"Kamu bisa memakai bajuku, itu pun jika kamu mau," ucap Arya yang dengan perlahan merebahkan tubuh Arata di atas kasur busa mini.
Deg..Deg..Deg.. Suara jantung Arata.
Ya tuhan, ada apa dengan jantungku? Tidak! Aku tidak boleh terperangkap oleh mulut mautnya. batin Arata.
__ADS_1
"Ehm! Aku tidak papa, terima kasih telah menyelamatkan aku. Oya, maaf juga untuk itu!" Arata menunjuk pipi Arya. "Tapi semua ini karena salah kamu! Mengapa kamu berbohong kepada aku jika kamu tidak membawa apa-apa, Hah!" Arata mulai teringat pembahasan awal.
"Emm ...!" Arya sok berfikir. "Sepertinya aku tidak memaksa kamu untuk mempercayai kebohongan aku," lanjutnya dengan ekspresi penuh kemenangan.
Melihat itu, Arata langsung naik pitam dan berniat bangkit dari kasur dan menghajar suaminya yang kurang ajar itu.
Namun, sepertinya Arya telah membaca pergerakan Arata sehingga dia pun dengan gesit menindih tubuh Arata dan mengunci pergerakan Arata.
Meski Arata jago bela diri. Tetapi kekuatannya tetap kalah dengan kekuatan otot Arya yang terlatih.
"Lepaaaaas!" teriak Arata kesal.
Arya terdiam sesaat. Entah mengapa dunia menjadi sangat sunyi ketika ia melihat gundukan gunung kembar di balik baju Arata yang basah.
Tatapan Arya tak lepas dari sesuatu yang pink kecoklatan-coklatan.
"Woy!" teriak Arata membuyarkan lamunan Arya.
Arya tersenyum mesum ke arah Arata membuat Arata mendelik.
"Apa!? Jangan macam-macam terhadap aku, atau kamu akan tahu akibatnya," ancam Arata yang mulai was-was dengan pergerakan Arya.
Arya tersenyum Joker.
"Bukankah kita harus segera memiliki anak," ucap Arya sembari mendekati wajah Arata.
Nampak Arata seperti terbius oleh rasa yang tak menentu di dalam hatinya.
Lalu..
Di balik pintu, biksu dan seorang nenek yang sedang lewat kamar mereka tidak sengaja mendengar desisan Arata. Mereka tersenyum senang ketika mendengar suara teriakan Arata yang sangat keras.
Mereka berfikir jika, Arya telah menjebol gawang Arata sehingga membuat Arata berteriak.
Tapi nyatanya.
Arya sedang mencubit lengan Arata dengan sangat kuat sampai lengan Arata memerah.
"Aaauuwh! Shheeettt... Arya! Sakit!" pekik Arata membuat biksu dan nenek-nenek itu pun pergi. Mereka tidak ingin menganggu ritual penyatuan itu.
Bahkan, mereka pun segera menghubungi seseorang.
"Hallo kakek, misi pertama telah berhasil," ucap biksu itu memberi laporan kepada kakeknya Arata. Mereka sama-sama tidak percaya jika misi pertama akan langsung berhasil. Menyuruh pasangan suami istri itu berendam dan memberinya kamar yang kecil. Ini adalah ide yang sangat konyol.
Di dalam kamar, Arya tersenyum manis kepada Arata yang sedang meringis ngilu.
"Itu balasan untuk kamu karena sudah kurang ajar pada suaminya sendiri," jawab Arya dengan menjulurkan lidahnya.
Arata melihat lengannya yang sangat merah karena cubitan dari Arya.
Lalu, ide bagus pun terlintas dalam benaknya.
"Ini adalah KDRT, aku bisa melaporkan mu kepolisi!" ucap Arata antusias memotret lengannya untuk tanda bukti.
__ADS_1
"Itu adalah tanda cinta, siapa yang berani menangkap suami yang sedang bercinta dengan istrinya," jawab Arya dengan santai sambil mengganti bajunya di depan Arata.
Arata terdiam sesaat.
' Ya tuhan, ternyata dia memiliki perut kotak-kotak. Keren! batin Arata tertegun sesaat melihat tubuh suspek musuhnya itu.
"Apa yang kamu lihat? Cepat ganti bajumu atau kamu akan masuk angin. Kita akan melakukan perendaman nanti malam. Jangan sampai kamu sakit dan menunda ritual kita, aku ingin segera menuntaskan ritual ini dan pergi dari sini," ucap Arya yang langsung keluar dari kamar.
Di balik pintu, Arya memegang jantungnya yang berdebar tidak keruan sedari tadi ketika satu kamar dengan Arata.
Arya adalah pria normal. Melihat sesuatu milik wanita, jelas ubun-ubunya akan terasa cenat-cenut.
'Apa yang kamu pikirkan Arya!? Ingat, dia adalah musuh kamu. Apakah kamu yakin akan memiliki anak dari musuh mu sendiri. batin Arya merasa sangat dilema.
Disisi lain, Arata nampak malas menggunakan outfit milik Arya.
"Dasar pria menyebalkan! Bagaimana dia bisa mengelabuhi aku seperti ini!? Iiihh... Bodoh, bodoh, bodoh!" Arata nampak uring-uringan sendiri.
Arata terlihat sangat marah karena dirinya telah tertipu oleh Arya. Andai dia tidak mendengarkan Arya, pasti dia memiliki banyak baju salin yang sudah dia siapkan.
Sebenarnya di tas ranselnya, Arata masih memiliki dua baju yang dia bawa. Namun, baju itu adalah persiapan untuk mendaki. Karena tidak memiliki baju lagi, Arata memilih berhemat pakaian dan meminjam baju milik musuhnya.
Setelan kaos longgar dan juga celana training pendek, Arata terlihat sangat sederhana namun tetap cantik dengan rambut yang terurai karena basah.
Terlihat Arya yang sedang duduk termenung di pinggir kolam ikan koi.
Ikan-ikan itu terlihat sangat terawat. Kolam yang jernih dengan tatanan tanaman air yang pas. Benar-benar ikan dengan harga jual yang mahal.
Sedangkan Arata. Dia memilih berjala-jalan ditaman sakura.
Arata melihat sekelilingnya, namun lebih tepatnya adalah dia melihat sebuah gunung akan segera dia daki dengan Arya.
'Akankah aku ke sana dan menemui biksu Tong. Lalu, jika kami bertemu dengan beliau, apa yang harus kami lakukan? Akankah aku dan pria menyebalkan itu benar-benar harus memiliki seorang anak bersama. Aaahh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana melakukan hal itu dengan dia. Hmm, aku sangat yakin jika dia pasti tidak pandai melakukan itu. Yah, aku meragukan keperkasaannya!" batin Arata dengan nada naik turun menahan emosi dan kesal..
Ketika akan kembali, Arata di kejutkan dengan kehadiran Arya yang sudah berdiri di belakangnya.
"Oh, ya Tuhan! Arya, kamu menganggetkan aku saja!?" ujar Arya mengelus dadanya.
"Apakah kamu sedang melakukan sesuatu?" tanya Arya curiga, karena ekspresi wajah Arata terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Oh, tidak ada! Aku hanya melihat-melihat saja," sahut Arata membuang muka.
Arya menatap Arata dengan lekat. Sepertinya dia sedang memastikan sesuatu.
"A..apa yang kamu lakukan!?" tanya Arata terlihat sangat was-was dengan tatapan Arya.
"Cuci baju ini sampai bersih ketika kamu sudah selesai meminjamnya. Aku tidak ingin bakteri yang ada di tubuhmu menempel pada bajuku," ucap Arya dengan serius lalu tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan Arata yang masih terbengong.
"Aryaaaaaa....!" teriak Arata berlari mengejar Arya untuk memberinya pelajaran.
Arya yang mengetahui jika Arata mengejarnya pun langsung berlari untuk menghindar.
Nampak aksi kejar-kejaran suami dan istri. Di mata Arata, Arya adalah mangsa yang harus segera ditangkap dan dimusnahkan.
__ADS_1
Namun, di mata orang-orang yang mengintip aksi mereka adalah, Arata dan Arya sepasang suami dan istri yang sangat romantis dan harmonis. Benar-benar kesalahan pahaman yang sangat membengongkan.