Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian

Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian
MDJCK Bab 03 #Sandiwara


__ADS_3

Sang kakek menatap cucu mereka dengan perasaan tidak percaya.


Rambut acak-acakan, baju yang berantakan, bahkan lipstik Arata blepotan kemana-mana.


Kedua orang tua masing-masing hanya bisa berdiri dengan perasaan iba melihat anak-anak mereka yang sangat memprihatikan.


"Apakah ada yang bisa menjelaskan sesuatu!?" tanya Kakeknya Arata.


"Ketua, Tuan Arya dan Nyonya Arata habis melakukan hubungan intim di dalam mobil. Mereka adalah pengantin baru, alih-alih tak ingin mereka bertengkar jadi saya membiarkan mereka melakukan itu. Bukankah Ketua ingin segera memiliki cicit?" jelas Pak supir.


"Hahaha ...!" Kedua kakek itu sama-sama tertawa dan mengangguk mengerti.


"Bagus, bersatu lebih baik dari pada saling bertengkar dan menjatuhkan satu sama lain. Kakek berharap akan segera melihat cicit kami," ujar Kakeknya Arata.


"Ingat! Kami hanya akan memberi kalian waktu selama dua tahun. Jika sampai selama dua tahun kalian tidak juga memiliki anak, maka kami akan menyerahkan semua harta kami ke Negara dan dinas sosial." ancam kakeknya Arya.


Arata dan Arya hanya bisa membungkukkan badan mereka untuk menghormati kakek ketua.


"Maafkan atas ketidaksopanan kami karena hadir dalam penampilan seperti ini. Sungguh ini adalah sebuah kecelakaan yang tidak dapat kami hindari," ujar Arya menjelaskan dengan rasa hormat.


"Hahaha ... Kecelakaan yang akan menjadi keuntungan. Kami memakluminya cucuku. Ayo, kita masuk." Kakeknya Arya mempersilahkan anak-anak mereka dan cucu-cucu mereka untuk masuk.


Tuan Fang dan Tuan Kim saling melirik tajam. Mereka tahu jika tidak semudah itu anak-anak mereka melakukan hubungan intim. Mereka tahu, pasti ada sesuatu yang tidak beres di antara anak-anak mereka.


Di meja bundar, semua orang duduk di posisi mereka masing-masing.


Keluarga dari kakeknya Arata duduk di bagian kanan. Keluarga dari Kakeknya Arya duduk di bagian kiri.


"Dalam perjanjian besar kami ingin menyatukan kembali dua perusahaan yang dulu bersahabat tetapi kini saling menjatuhkan dibawah tangan Fang dan Kim. Sungguh ini sangat di sayangkan!" Kakeknya Arya nampak bernafas berat.


"Keputusan yang kami buat dalam meja hijau kemarin bersama perdana menteri. Kami bersepakat untuk melengserkan Kim dan Fang. Kerusakan, kerusuhan, dan kecurangan yang kalian buat membuat keputusan ini sangat mudah kami palu." Dengan berat hati Kakeknya Arata mengumumkan hal tersebut.


"Ayah! Ini tidak dapat diterima. Dia dulu yang memulai pertikaian ini, Ayah!" teriak Tuan Kim Ayah dari Arata.

__ADS_1


"Tidak! Ayah, keluarga Kim duluan telah membuat kerusuhan ini. Dia bekerjasama dengan mafia hitam untuk merusak barang-barang kita!" sahut Tuan Fang, Ayah dari Arya tidak ingin kalah juga.


Pak supir yang mendengar ada yang meninggikan suara di ruang meja bundar langsung turun tangan.


"Tuan Fang dan Tuan Kim, di mohon untuk tenang dan tidak membuat keributan di depan ketua!" tegur Pak supir.


Tuan Fang dan Tuan Kim yang saling melotot, langsung melirik ke arah kakek ketua. Merekapun tak berkutik di depan ayah mertua mereka.


"Asing kan mereka!" Perintah kakeknya Arata.


"Apa! Ayah, dengan rasa hormat saya, mohon maafkan suami saya?" ujar Nyonya Shian, istri dari Tuan Kim.


"Ayah, tanpa mengurangi hormat kami. Saya juga memohon supaya ayah sudi memaafkan suamiku?" ujar Nyonya Yuan, istri dari Fang.


Dua wanita itu berdiri dan membungkuk bersama. Mencoba meminta ampun atas sikap suami-suami mereka.


"Kalian adalah ahli waris resmi, tetapi mengapa kalian dengan ceroboh membiarkan suami-suami kalian menghancurkan perusahaan yang sudah susah payah kami bangun!?" Kakeknya Arata merasa sangat kecewa dengan putrinya.


Nyonya Shian dan Nyonya Yuan saling melirik sinis. Ternyata, dua wanita ini juga saling bermusuhan sejak mereka duduk di bangku sekolah.


"Kalian ikut bersama dengan suami-suami kalian untuk diasingkan di pulau selatan!" ujar Kakeknya Arya mengambil keputusan. Kakeknya Arata pun mengangguk setuju. Meski mereka adalah putri-putri mereka, tetapi untuk kesejahteraan Arata dan Arya, mereka harus memisahkan cucu mereka dari kedua orang tuanya yang tidak dapat digugu.


Keputusan ketua ketidak dapat digagu-gugat. Akhirnya, kemerdekaan dua wanita bangsawan itupun berakhir karena mereka harus mengikuti suami-suami mereka yang akan diasingkan.


Di ruangan terpisah. Arata dan Arya menemui kedua orang tua mereka yang akan segera diberangkatkan.


"Ayah, Ibu, mengapa kalian melakukan hal konyol ini. Mengapa kalian ribut di depan kakek! Jika kalian pergi, bagaimana dengan aku. Apakah Ayah dan Ibu tahu, wanita itu tidaklah sepolos yang kalian tahu. Di dalam mobil, dia menindih tubuhku dan menguncinya menggunakan kaki badaknya lalu dia menggelitik telapak kaki aku sampai rasanya aku ingin mati karena kaku!" ujar Arya mengadu domba perihal apa yang terjadi di dalam mobil.


"Oh, ya tuhan. Bagaimana wanita se-anggun dia bisa melakukan hal itu kepada suaminya sendiri. Aku tidak bisa meninggalkan putraku seperti ini. Aku takut, wanita siluman itu akan membunuh putraku dengan keji demi menguasai harta kita!" Nyonya Yuan seperti tidak dapat terima.


"Tapi bagaimana caranya, sayang!?" Tuan Fang nampak bingung.


"Ya kamu harus berusaha dong suamiku! Bujuk Ayah supaya dia tidak jadi mengasingkan kita. Atau paling tidak bujuklah Ayah supaya hanya kamu saja yang diasingkan!" Nyonya Yuan nampak tidak perduli dengan nasib suaminya selanjutnya.

__ADS_1


"Apa! Bagaimana bisa seperti itu!?"


"Apakah kamu tega melihat putra kita tersiksa sendirian di dalam pernikahannya bersama dengan wanita siluman itu!?"


"Ayah, berusahalah untuk aku?" Arya nampak memohon.


Tuan Fang pun bernafas berat.


"Baiklah, akan aku usahakan demi kamu putraku. Jadilah pemenangnya dan bawa Ayah kembali," ujar Tuan Fang mencoba untuk mengalah.


****


Di dalam ruangan terpisah. Arata pun memeluk manja Ibunya.


"Hiks ... Hiks ... Ibu, apakah kamu tahu apa yang terjadi di dalam mobil. Pria itu, dia mengikat tangan aku dan menyumpal mulutku menggunakan koas kakinya lalu menggelitik telapak kaki aku ini. Hiks ... Hiks ... Jahat sekali pria itu, Ibu, Ayah!" ucap Arata mengadu perihal apa yang terjadi di dalam mobil.


"Kurang ajar! Keturunan Fang memang tidak dapat di percayai! Bagaimana dia memiliki putra yang sangat tempramental seperti itu! Jika aku tidak akan diasingkan hari ini juga, aku akan menyusun rencana untuk memusnahkan Fang dengan tanganku sendiri!" umpat Tuan Kim terlihat sangat marah.


"Sayang, jaga emosimu! Jika tidak, kamu akan semakin lama diasingkan oleh Ayah!" ujar Nyonya Shian mencoba untuk menasehati Suaminya.


"Ibu, bagaimana nasib aku jika kalian pergi. Hiks ... Hiks ...!" Arata nampak tak rela.


"Sayang, dengarkan ibu baik-baik. Kamu adalah seorang wanita. Wanita biasanya bertindak sesuai hati dan pikiran. Jadi, maksud ibu kamu harus benar-benar terlihat seperti wanita yang mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga. Berkorban lah sedikit untuk mendapatkan kemenangan sayang," ujar Nyonya Shian memberi ide dan dukungan secara mental.


"Tapi bagaimana jika putri kita benar-benar terluka parah!?" Tuan Kim nampak tidak terima jika sampai putrinya kenapa-napa.


"Ini hanyalah sandiwara, sayang! Aku yakin jika pria bodoh itu tidak akan berani untuk memukul putri kita dengan sungguhan. Aku juga sangat yakin jika dia takut mendapatkan cap hitam dari Ayah!" ujar Nyonya Shian meyakinkan suaminya.


"Baiklah Ibu, kalian serahkan semua kepada Arata. Karena Arata adalah aktor terbaik di dunia!" Arata kembali bersemangat untuk menjatuhkan Arya, suami tercintanya.


***


Tanpa mereka sadari, ternyata kedua kakek mengetahui segalanya dari rekaman CCTV.

__ADS_1


Kedua kakek-kakek itu pun akhirnya tahu apa yang sudah terjadi kepada cucu-cucu mereka. Bukan soal hubungan intim, melainkan saling membunuh-lah yang sudah terjadi di antara Arya dan Arata.


Kedua kakek itu pun akhirnya tersenyum untuk membuat rencana penyatuan cucu-cucu mereka.


__ADS_2