
Arya memilih untuk membawa mobil sendiri. Alasannya adalah.
"Aku ingin hanya berdua dengan istriku! Jika kalian diutus untuk mengawasi kami, bawalah mobil sendiri!" ucap Arya membuat Pak supir memundurkan kakinya dan mempersilahkan Arya memasuki mobil.
Apa yang sedang dia lakukan, dia hanya ingin berdua saja dengan aku? Ya tuhan, ada apa dengan pria ini?? batin Arata merasa sangat terheran-heran dengan sikap manis musuhnya itu.
"Sayang, gunakan sabuk pengaman kamu," ucap Arya yang langsung memasangkan sabuk pengaman Arata. Karena Pak supir masih berdiri di samping mobil, jadi Arata hanya membiarkan Arya.
Di perjalanan, Arya hanya diam tak mengucapkan sesuatu membuat Arata merasa rikuh. Ini hal baru bagi mereka. Biasanya, jika tidak ada orang di samping mereka, maka mereka akan bertindak layaknya tikus dan kucing.
"Arya?" panggil Arata lirih.
"Hmm.." jawab Arya singkat.
"Apakah di mobil ini ada sebuah kamera pengawasnya?" tanya Arata sambil mengecek mobil yang mereka tumpangi.
"Sepertinya tidak, memang kenapa? Yang mengawasi kita hanya mobil yang ada di belakang kita," jawab Arya.
"Huuuf, syukurlah jika begitu. Em, Arya?" Arata nampak ragu-ragu.
"Hmm ...!"
"Apakah kamu yakin kita akan melakukan itu dan memiliki anak?" tanya Arata.
"Mau bagaimana lagi."
"Jika kita kontrol ke dokter, kita bisa melakukan bayi tabung tanpa harus melakukan hal itu. Apakah kamu tidak bisa membujuk kakek sekali saja!" nada Arata mulai meninggi.
"Ayah aku berbicara kepada kakek. Dia mau bertanggung jawab penuh atas semua kesalahannya asalkan kakek mau memaafkan Ibu. Tapi yang didapatkan adalah, mereka malah mendapatkan tambahan hukuman," jelas Arya jika sangat mustahil untuk membujuk kakek.
Arata terlihat sangat sewot mendengar penjelasan Arya.
"Kakek aku adalah kakek yang baik sebelum dia bertemu dengan sahabatnya yang menyebalkan itu!" tukas Arata menatap jalan dengan tajam.
Arya yang mendengar kakeknya dianggap menyebalkan langsung melirik Arata dengan ekspresi ingin memakanhidup-hidup wanita yang ada di sampingnya itu.
__ADS_1
"Apa kamu mengatakan jika kakek aku menyebalkan!? Asal kamu tahu ya, kakek aku adalah sosok yang sangat bijak dan dermawan. Dia tidak pernah menghukum siapapun kecuali tanpa hasutan dari Kakek sangar itu!" tukas Arya yang sepertinya tidak tahan lagi untuk bersikap manis dan diam.
Arata yang mendengar kakeknya di katai langsung menatap Arya yang fokus menyetir.
"Apa yang kamu katakan! Hay, Arya pria jelek, asal kamu tahu yaaa.... Emph....!" Ketika akan mengoceh, mulut Arata disumpal dengan sapu tangan milik Arya.
"Emph!" Arata mengambil sapu tangan yang ada di mulutnya.
"Aryaaaaa! Loe bener-bener jorooooook... Huweeekk.!" Arata terlihat seperti ingin muntah karena sebelum sapu tangan di masukan dalam mulutnya, Arya sudah menggunakan sapu tangan itu untuk membuang ingusnya usai makan tadi.
"Hahahhahaahhahaaaaaa......! Nenek lampir memang pantes disumpal biar nggak berisik!" Tawa Arya terlihat sangat puas.
"Arya, jika aja loe gak lagi nyetir, gua bakal masukin sepatu mahal gua ini untuk menyapa otak loe yang lengser itu!" Arata terlihat sangat menahan kesal.
"Huuusstt...! Loe bisa gak sedetik aja kalo gak ngomong! Panas telinga Gua!" ucap Arya langsung memasang handset bluetooth dan menyetel musik kesukaannya.
Arata yang sudah tidak dianggap hanya bisa diam. Tidak mungkin jika musuh sedang mengacuhkan atau tidak merespon dirinya, kitanya masih saja mengganggu dirinya. Arata tidak ingin dikatai carper alias (Cari Perhatian).
Perjalanan sangat panjang, Arata baru sadar jika kupluk yang ada di sweater Arya terlipat atau tidak rapi. Dia juga melihat jika lagi-lagi tali sepatu Arya tidak diikat dengan benar. Arata juga memperhatikan jika outfit yang digunakan Arya tidak oke banget membuatnya mendengus kesal.
"Arya, bisakah kamu sedikit saja memperhatikan penampilanmu! Apakah aku terus-terusan harus memperingati kamu! Meski kita akan naik gunung, setidaknya perlihatkan pada penghuni gunung seperti monyet, ular, gajah, harimau kalo kita ini adalah manusia elite, manusia dari keluarga terpandang yang disegani banyak khalayak!" ujar Arata dengan ekspresi seperti malas untuk menjelaskannya.
"Terus, apa hubungannya dengan hewan-hewan itu!?" tanya Arya yang masih fokus menyetir.
"Ya tuhan ARYA JEN! Hmm, ya setidaknya kita harus perlihatkan kepada mereka supaya mereka juga segan untuk menyentuh kita!" jelas Arata.
"Hahahahaa...!" Arya tertawa keras.
"Jika kamu tidak ingin di makan dengan hewan-hewan buas itu, harusnya kamu belajar bahasa hewan, bukannya malah bergaya dengan barang-barang mahal milikmu itu, tidak guna di mata mereka!" ucap Arya.
Arata terdiam dan memalingkan wajahnya ke jalan.
'Dia sama sekali tidak mengerti! batin Arata gundah.
****
__ADS_1
Singkat cerita, mereka kini telah sampai desa yang menjaga kelestarian Gunung Utara. Sangat terlihat dengan warganya yang masih sangat tradisional.
Patung-patung di kuil terlihat sangat dijaga dan terawat.
Seorang Biksu menyapa kedatangan Arya dan Arata.
"Selamat datang di desa kami yang sederhana ini. Kami senang akhirnya dapat bertemu dengan kalian, kami sudah menunggu kalian sedari tadi," ujar Biksu itu ramah.
"Em, apakah Anda mengenal kami?" tanya Arata.
"Owh, hehehe. Saya tidak mengenal kalian, tetapi kami sangat mengenal kakek kalian," jawab Biksu itu.
Arya dan Arata hanya tersenyum tipis. Mereka di bawa ke sebuah kali yang sangat bersih. Mereka diminta untuk melakukan ritual yang Arya dan Arata sendiri tidak tahu.
"Semua proses sudah kami atur. Setelah melakukan ritual di sini, baru kalian bisa lanjut untuk naik ke atas Gunung untuk mencari Biksu Tong.
"Em, bisa kami lihat jadwalnya?" tanya Arata. Entah mengapa pernyataan itu muncul, mungkin karena dia sudah terbiasa jika di kantor menanyakan jadwal kepada Sekertarisnya.
"Oh, tentu!" jawab Biksu itu yang langsung memanggil muridnya untuk membawakan sebuah buku yang telah tertulis.
Arata dan Arya hanya menatap dengan bingung kesebuah buku yang ada di tangan Arya saat ini.
"Apakah kamu mengerti?" bisik Arata kepada Arya.
"Aku sangat bodoh soal belajar aksara kuno. Aku sama sekali tidak tertarik pada saat itu, jika aku tahu ini akan berguna, pasti dulu aku akan belajar aksara dengan baik," sahutnya.
"Bodoh ya bodoh aja!" ejek Arata dengan berbisik.
"Apa kamu bisa?" bisik Arya.
Arata tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Biksu, kami tidak dapat membacanya. Mengapa semua tulisannya memakai aksara?Hehe, kami tidak mengerti," ujar Arya.
"Ya...ya.. Karena itu adalah sebuah doa ritual. Semua jadwal itu aku dapatkan ketika aku bersemedi. Semua yang aku tulis adalah sebuah petunjuk dari dewa. Tapi tenang saja, semua ritual ini tidak sulit dan tidak membahayakan nyawa. Kami hanya akan menyegarkan tubuh dan jiwa kalian supaya dapat rileks untuk mendapatkan momongan," ujar Biksu.
__ADS_1
Arata dan Arya saling melirik canggung. Membuat anak!? Jika disuruh memilih, mereka lebih baik memilih membuat 1000 candi dari pada membuat anak bersama.