
Arata dan Arya bergeming, terpaku dan tercengang bersama-sama melihat sebuah nisan di depan mereka.
Shani tersenyum dan berkata.
"Ayah telah pergi sejak lama. Tetapi kenangan selama hidupnya tidak bisa membuat orang-orang di sekitarnya dapat melupakannya. Masyakarat sekitar telah membuat tempat ini untuk mengenang Ayah. Aku sendiri tidak dapat melarang mereka sebab cinta yang mereka berikan kepada Ayah. Aku sendiri tidak keberatan dengan mereka yang berdatangan untuk berkunjung ke makam ayah untuk meminta keberkatannya," jelas Shani memberikan pernyataan.
Arata dan Arya sama-sama menatap dengan ekspresi tercengang tidak percaya.
Mereka melewati gunung rimba. Melewati terkaman dari serigala. Melewati seratus anak tangga. Ternyata pada akhirnya, orang yang ingin mereka temui telah mati dan hanya menyisakan batu nisan.
Nafas keduanya memburu benar-benar merasa tidak tahu harus berbuat apa dan berkata apa.
Rasa sakit hati mereka sangat mendalam karena terus-terusan di bohongi oleh kakek-kakek mereka.
Tapi Arata dan Arya sama-sama sadar, jika memberontak pun tidak akan ada gunanya.
Arata dan Arya akhirnya tersenyum sambil menetralisir urat-urat mereka yang sudah menegang.
"Oh, hoho.. sangat di sayangkan suamiku. Kita telah melewati banyak rintangan tetapi ternyata biksu Tong telah wafat," ucap Arata memasang wajah sendu.
"Kamu benar sayang. Hm, sepertinya kita harus segera memberi salam dan pergi dari sini. Tidak bagus menganggu istirahat seseorang yang telah damai di sana," ucap Arya sambil mengedipkan mata kepada Arata.
"Ah, kamu benar sekali sayang. Setelah kita berdoa dan meminta di beri anak, kita sebaiknya langsung pulang," ujar Arata.
"Maaf memotong pembicaraan kalian. Tetapi kakek ingin kalian berada di sini sampai Arata benar-benar positif hamil. Kita akan membantu untuk melakukan program kehamilan untuk kalian. Pertama-tama, setiap pagi sampai sore kalian harus bersemedi di depan nisan Ayah dan berdoa dengan khusyuk, lalu sore kita akan melakukan pembersihan, dan malam kita akan melakukan ritual penyatuan. Semua ini akan rutin terjadi setiap hari sampai Arata benar-benar positif hamil. Hanya pada malam gerhana bulan saja kalian di larang melakukan penyatuan karena itu adalah sebuah pantangan," ucap Shani menjelaskan.
Mata Arata dan Arya sama-sama berkedut ketika mendengar itu.
Bersemedi di depan nisan lalu melakukan ritual penyatuan. Ini adalah hal konyol yang tidak pernah terpikirkan oleh Arata dan Arya.
"Ohhahaha... Maafkan kami Shani, sepertinya kami tidak bisa melakukan itu. Jika kami bersemedi setiap hari, lalu bagaimana dengan pengunjung yang ingin mendatangi nisan biksu Tong!?" ucap Arata.
"Kamu tidak perlu cemas Arata, karena kuil akan di tutup selama program ini berlanjut. Tidak akan ada pengunjung yang di perbolehkan untuk mengunjungi makan Ayah untuk sementara ini," jawab Shani.
Arya memijat Kepalanya yang terasa ingin meledak. Arata pun hanya bisa tersenyum canggung karena tidak tahu lagi harus bagaimana.
Sampai akhirnya, demi menolong kedua orang Arata dan Arya yang sedang diasingkan di sebuah pulau jauh. Arata dan Arya mau tidak mau mengikuti program kehamilan yang sangat konyol bagi mereka.
...
Singkat cerita, Arata dan Arya kini telah melakukan semedi mereka yang pertama.
Pukul 7 pagi, cuaca sangat dingin tetapi mereka hanya menggunakan baju kimono putih tanpa mengunakan jaket kulit atupun selimut tebal.
Arata dan Arya terlihat menyatukan kedua tangan mereka dan memejamkan mata mereka untuk memulai semedi sampai sore hari.
Ketika sedang fokus, Arata mencoba melirik Arya yang masih memejamkan matanya.
"Hust..? Hust..?" panggil Arata. Namun Arya masih terdiam.
__ADS_1
"Hust..! Hay, siput!?" panggil Arata lagi. Tapi lagi-lagi Arya tidak merespon panggilnya.
Arata yang kesal pun langsung mentoyol bahu Arya setelah memastikan tidak ada siapapun di sana kecuali mereka berdua.
Tuing! Arata sedikit menggunakan tenaganya untuk mentoyol bahu Arya.
Seketika, tubuh Arya pun langsung terjatuh dari posisinya. Ternyata, Arya memejamkan mata bukan karena fokus berdoa, tetapi dia tertidur.
Melihat Arya yang masih tertidur meski terjatuh, Arata langsung panik dan segera membangunkan Arya.
"Hay! Siput cepat bangun!? Hust...hust...!" Arata mencoba menggoyangkan tubuh Arya.
Tapi bukannya bangun, Arya malah menarik tangan Arata dan menganggapnya sebagai bantal guling. Alhasil, Arata pun jatuh dalam pelukan Arya.
"Aaahk!" pekik Arata terkejut.
Jedugh ... Jedugh..
Jantung Arata sekita berdebar sangat kuat ketika menatap bibir merah Arya dan matanya yang lentik.
"Ya Tuhan, kenapa dia sangat tampan ketika sedang tertidur?" batin Arata merasa canggung.
"Aaah.. Tidak! Tidak! Tidak! Ini tidak boleh seperti ini. Arata sadarlah, dia adalah musuhmu yang nyata. Kamu berada di sini sampai detik ini karena kedua orang tuamu yang seharus segera di selamatkan," batin Arata kembali meyakinkan dirinya sendiri.
BUGH!
"Aaaaggh! Ya tuhan, apa yang kamu lakukan padaku Ara!? Sssheeeet!" hardik Arya sambil meringis kesakitan.
"Huuusstt!" Arata langsung menutup Arya dengan tangannya karena takut suara bising Arya akan di dengar oleh seseorang.
"Jangan berisik! Nanti ada yang dengar!" ucap Arata.
"Sheet.. apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu tiba-tiba menendang senjata ku!? Apakah kamu tidak tahu betapa pentingnya barangku ini!" tukas Arya.
"Hm, maafkan aku. Tapi aku melakukan ini karena kamu telah kurang ajar padaku. Selain itu, kenapa kamu malah tidur ketika sedang bersemedi!?"
"Apa bedanya tidur dengan bersemedi! Bukankah itu sama-sama memejamkan mata dengan waktu yang cukup lama!"
"Ist...ist.... Kenapa bodoh selalu kamu pelihara. Jelas sangat berbeda antara bersemedi dengan tidur."
"Hm ... Sudahlah, aku sangat lelah akhir-akhir ini. Aku akan melanjutkan semedi ku dan melanjutkan mimpi indah ku!" ujar Arya. "Mengganggu saja!" lanjutnya mengumpat.
Melihat Arya yang sudah mengambil posisi untuk bersemedi lagi, Arata terlihat sangat kesal sebab, dia sangat lapar dan juga bokongnya terasa panas harus duduk berjam-jam.
"Arya..," bisik Arata mencoba membangunkan Arya.
Arya yang masih sadar pun hanya menjawab, "Hem?" Tanpa membuka mata dan menoleh ke arah Arata.
"Aku sangat lapar," ujar Arata.
__ADS_1
Mendengar itu, Arya pun membuka matanya dan melihat bahwa di depan mereka ada buah-buahan.
"Kenapa tidak makan itu saja," ucap Arya menunjukan buah-buahan itu.
"Apa! Apakah kamu sudah gila!? Itu adalah makanan yang untuk biksu Tong!" ucap Arata.
"Apakah orang yang sudah meninggal bisa makan makanan ini!?" tanya Arya.
Arata pun berfikir juga dengan apa yang di katakan Arya. Tapi dia langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak mau mendapatkan masalah karena sudah memakan makanan untuk biksu Tong. Bagaimana jika roh biksu Tong marah dan menghantuiku. Hiiiii.... Aku tidak ingin itu terjadi."
Arya berdecak mengejek. "Cih, hari gini masih percaya dengan hantu!" sindir Arya yang langsung mengambil satu apel besar yang di sediakan untuk sesajen biksu Tong.
Mata Arata pun mendelik melihat Arya yang memakan apel itu dengan tanpa beban di pikirnya.
Arya melirik Arata yang sedang menelan ludahnya sendiri dengan susah. Terlihat jika Arata sangat tergoda dengan apel di makan oleh Arya.
"Mau?" tanya Arya membuyarkan Arata.
"Ah, tidak! Bukankah kita di suruh puasa selama bersemedi? Kamu telah melanggar aturan Arya. Aku akan melaporkan mu kepada Shani. Aku yakin, Shani akan melaporkan mu kepada kakek," ujar Arata dengan senyum penuh kemenangan.
"Apakah ini cara kamu membalas budi kepadaku. Aku sudah menggendong mu mendaki gunung di tambah menggendong mu untuk menaiki 100 anak tangga. Lagi pula, apel ini sangat segar dan fresh!" ujar Arya yang tidak perduli dan melanjutkan memakan apel yang super besar itu.
Arata di buat terpaku dengan ucapan Arya. Dia memang telah berhutang budi banyak kepada Arya, maka tidak akan etis jika dia mengadu untuk menjatuhkan Arya.
"Hehehe, aku hanya bercanda siput, jangan dianggap serius. Oya, apakah aku boleh mencicipinya juga?" ujar Arata dengan wajah yang memelas.
"Makanlah, sebelum ada yang melihat kita," ujar Arya.
Arata pun dengan tidak ragu-ragu mengambil satu apel besar untuk mengganjal perutnya yang sangat kelaparan.
"Biksu, saya minta apelnya satu ya. Satu saja!?" ujar Arata meminta izin terlebih dahulu. Sungguh Arata tidak ingin di hantui hanya gara-gara sebuah apel.
Arya hanya meliriknya sambil tersenyum kecut. " Heh, hari ini masih percaya hantu!?" batin Arya.
Arata setelah berdoa, akhirnya dia bisa dengan lega memakan apel yang ada di tangannya. Setelah apel itu masuk ke dalam mulut, Arata langsung mengembangkan senyumnya karena rasa apel yang sangat manis dan fresh.
"Eemm... Ini sangat lezat sekali. Kenapa apel selezat ini harus membusuk di sini. Bukankah itu sama saja seperti membuang-buang makanan!?" ujar Arata dengan tidak sabar menghabiskan apel besar yang di tangannya.
"Pelan-pelan saja makannya. Kamu terlihat seperti orang tidak pernah makan apel saja," sindir Arya.
"Ist.. diamlah! Kamu menganggu selera makan ku saja!" umpat Arata dengan kesal. "Lanjutkan saja acara makanmu, jangan menggangguku. Aku hampir mati gara-gara menahan lapar sedari tadi. Saat ini, apel ini sangat berarti dibandingkan dengan seluruh uang yang aku punya," lanjutnya.
"Tidak! Aku sudah kenyang. Hem, aku ingin melanjutkan tidurku supaya nanti malam aku tidak kelelahan untuk membuat anak. Aku ingin melakukannya sampai 5 ronde," ucap Arya dengan senyum lalu memejamkan matanya.
"Uhuk...uhuk..uhuk...!" Arata tersedak karena terkejut dengan apa yang di ucapkan Arya. Arata melirik ke arah Arya yang masih memejamkan matanya dengan perasaan tidak percaya.
"Ya tuhan, apa yang baru saja dia katakan!?" batin Arata yang kini dia merasa sangat canggung.
__ADS_1