Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian

Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian
MDJCK Bab 08 #Keharmonisan Dua Besan.


__ADS_3

Di sebuah pulau pribadi kita di perlihatkan oleh dua pasang suami isteri yang sedang bersiap untuk lomba.


Lomba apa?


Jelas itu bukanlah lomba biasa.


Di depan mereka adalah sebuah meja dengan 5 bibit unggul yang terdiri dari, bibit jagung, gandum, beras, tomat dan juga cabai.


Karena di pulau itu tidak di sediakan supermarket, jadi mereka harus bertani untuk mencukupi kebutuhan mereka untuk kedepannya sampai anak-anak mereka datang untuk menjemput mereka, dan itu tidak tahu kapan.


Tuan Fang dan Nyonya Yuan orang tua dari Arya Jen sudah bersiap untuk mengalahkan Tuan Kim dan Nyonya Shian orang tua dari Arata Shikamaru.


Meja di depan mereka jaraknya adalah 2 kilo. Untuk sampai di meja yang terdapat 5 bibit unggul itu, kedua pasangan suami istri harus melewati rintangan yang sangat ringan dan mudah yang terdiri dari, mereka harus melewati jembatan kecil yang menggantung di antara dua tebing, mereka juga harus naik turun beberapa bukit dan yang pastinya mereka akan melewati hutan yang ada di pulau itu.


Kedua besan yang sudah tidak muda lagi, mereka saling menatap tajam dan saling bermunajat jika lawan mereka akan kalah dan tidak mendapatkan apa-apa.


Nyatanya, meski sudah tak muda lagi, tetapi kewarasan belum juga menyadarkan mereka jika, bersatu lebih baik saat ini dari pada harus saling menerkam. Seharusnya.


Perjalanan yang tidak mudah, 2 kilo di lalui dengan pertarungan dan juga perjuangan yang sangat luar biasa.


"Hay kau dasar perut buncit! Aku tidak yakin kau bisa menyebrangi jembatan ini! Tubuhmu terlalu gemuk, aku takut jika tambang ini akan putus jika kau lewati. Hahaha!" teriak Tuan Fang kepada Tuan Kim dari sebrang sisi jembatan mini itu.


Tuan Kim yang memang sedari awal sangat takut akan ketinggian langsung menciut ketika musuhnya menyemprot ujaran pemati nyali.


"Sayang! Jangan dengarkan apa kata mereka. Pikirkan jika kita tidak mendapatkan apa-apa. Setidaknya, kita harus mendapatkan gandum atau bibit jagung untuk bertahan di pulau ini!" Nyonya Shian nampak terus menyemangati suaminya.


Sebenarnya, Nyonya Shian bisa saja pergi duluan dan meninggalkan suaminya di tengah hutan itu. Tetapi, dia tidak tega jika harus meninggalkan suaminya sendiri. Ia takut, jika suaminya yang sedikit gemuk itu akan menjadi santapan empuk para penghuni hutan itu.


"Ta..tapi sayang.." Tuan Kim nampak ragu.


"Ini demi putri kita," sahut Nyonya Shian menyemangati suaminya.


Mengingat putrinya, akhirnya Tuan Kim bertekad menaklukan jembatan yang sangat mengandung andrenalin.


Di sisi lain, Tuan Fang dan Nyonya Yuan sudah berhasil duluan di meja bibit unggul. Tetapi, lelah dan letih serasa di permainkan ketika mereka melihat jika meja itu kosong tidak ada satupun bibit unggul di sana.


Sampai akhirnya Tuan Kim dan Nyonya Shian tiba. Mereka sangat terkejut ketika melihat meja harapan mereka kosong.


"Hay Yuan! Mengapa kamu bertindak curang! Bukankah pemenang hanya boleh ngambil 3 bibit unggul dan sisanya akan di ambil oleh kami!? Mana sisanya!?" teriak Nyonya Shian merasa emosi.


"Hay mulut sowang! Jangan asal bicara kamu ya! Asal kamu tahu, kami juga tidak mendapatkan apa-apa. Meja ini kosong ketika kami sampai!" sahut Nyonya Yuan dengan tak kalah emosi.


"Heh, kamu pikir aku percaya dengan mulut berbisa mu itu, Hah!" teriak Nyonya Shian mendekati Nyonya Yuan lalu dia mencoba menggeledah tubuh Nyonya Yuan.


"Hay, apa yang kamu lakukan!" teriak Yuan mendorong Shian dengan kasar.


"Hay! Jangan sentuh istrikuuuu!" raung Tuan Kim tak terima istrinya didorong sampai terjatuh.


Ketika Tuan Kim maju, Tuan Fang pun tak mau kalah dan mencoba melindungi istrinya.


"Hay pria buncit, akulah lawanmu!" Tuan Fang nampak gagah.

__ADS_1


"Hahaha... Hay pria botak! Kamu pikir, aku takut padamu Hah! Kamu hanyalah seonggok kotoran b* bi yang telah menodai mataku!" Tuan Kim dengan sangat puas mengolok Fang.


"CUIH! Jangan banyak bicara br*ngsek...!" Tuan Fang nampak tak sabar ingin mengempeskan perut buncit Kim dengan bogeman tangan tumpulnya.


Ketika kuda-kuda sudah siap. Sebuah helikopter terbang di atas mereka dan menjatuhkan 5 bibit unggul itu.


Tetapi, karena bibit unggul yang ringan, jadi balon parasut itu berterbangan entah kemana mengikuti angin.


Mereka yang melihat itu pun langsung lari berpencar untuk mencari keberadaan bibit unggul yang terjatuh itu.


Tanpa mereka sadari, ternyata mereka telah berpisah satu sama lain.


Kini, mereka hanya bersama dengan nyawa mereka saja sendirian di tengah hutan.


Nyonya Yuan dan Shian yang menyadari jika mereka berpisah dengan para suami mereka, seketika langsung panik dan berlari tak tentu arah untuk mencari keberadaan suami masing-masing.


Di dalam kepanikan, Nyonya Shian tidak sengaja menginjak sesuatu di kakinya.


Betapa senangnya Nyonya Shian ketika dia mendapatkan bibit beras unggul.


Setelah mendapatkan bibit beras, nyonya Shian nampak mencoba tenang dan mengingat ke arah dimana tempat semula.


Ketika yakin, akhirnya Nyonya Shian memutuskan untuk ke arah barat.


Ketika sedang berhati-hati, Nyonya Shian mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan jantungnya.


Kreeeek....


Entah bagaimana mulanya, Nyonya Yuan jatuh dari langit dan mendarat tepat di depan Nyonya Shian.


"Yuan! A..apa yang terjadi dengan kamu!?" tanya Shian terkejut sambil membantu Yuan berdiri.


"Ahk!" pekik Yuan. "Aku tadi mencoba mengambil ini di atas sana," jelasnya sambil menunjukkan bibit jagung.


"Ya tuhan, kamu membahayakan nyawa kamu hanya untuk sebungkus bibit jagung ini!" ujar Shian.


"Apa yang kamu katakan, Shian! Apakah kamu tidak tahu jika bibit ini sangat berarti saat ini. Aku adalah pemanjat yang hebat, hanya saja aku tadi tidak sengaja menginjak ranting kayu yang lapuk," jelasnya dengan tatapan sinis.


Shian terdiam sesaat.


"Hm, syukurlah kamu baik-baik saja. Oya, apakah kamu ingat di mana posisi meja?" tanya Shian.


Yuan nampak enggan untuk memberi tahu.


"Ayolah Yuan, kita saling membutuhkan saat ini!" ujar Shian mencoba untuk membujuk Yuan supaya mau bekerjasama.


"Aku tidak membutuhkanmu, pergilah!" Yuan nampak masih enggan untuk berjalan bersama dengan Shian.


Namun, kakinya yang terkilir membuatnya tidak bisa berjalan.


"Aku akan membantumu!" ucap Shian yang langsung memegang pergelangan kaki Yuan.

__ADS_1


"Hay, apa yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu ingin membunuhku!?" teriak Yuan nampak ketakutan.


Tapi Shian enggan mendengarkan celotehan Yuan.


Sampai akhirnya..


Kreek!


"Aaaaaaaaaahhh!" teriak Yuan yang kesakitan.


"Gak usah lebay! Apakah kaki kamu terasa lebih baik!?" tanya Shian.


Yuan terdiam sesaat. Dia menggerakkan kakinya dan rasanya jauh lebih baik.


Karena rasa berhutang budi, akhirnya Yuan mau menunjukan jalan kepada Shian. Karena dia habis memanjat pohon tinggi, akhirnya Yuan bisa tahu di mana letak meja berada.


Di perjalanan mereka hanya saling diam satu sama lain. Mereka sama-sama enggan untuk saling berbicara meski terlihat jika mereka perduli satu sama salin.


Sampai akhirnya, mereka melihat suami-suami mereka yang sedang terkulai lemas karena lelah habis mencari istri-istri mereka.


"Shian! Syukurlah kamu kembali. Aku sangat khawatir jika kamu kenapa-napa," ucap Kim yang terlihat sangat cemas.


"Suamiku, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas," sahut Shian mencoba untuk melepaskan pelukan sang suami.


Di sisi lain, Fang nampak memucat melihat kaki istrinya yang membiru.


.


Fang sangat takut jika sampai ayah mertuanya tahu jika putrinya terluka seperti ini, pastilah dia akan menjadi daging stik yang alot.


"Oh istriku... Apa yang terjadi dengan kaki mulus mu ini sayang..!?" ucap Fang.


"Hm, aku tadi jatuh dari pohon. Aku tidak sengaja menginjak ranting lapuk," jelas Yuan..


"Ya tuhan! Sayang, apa kamu lakukan di atas pohon!?"


"Aku ingin mengambil ini." Yuan menunjukan sebuah bibit jagung.


Mata Fang nampak berbinar-binar menatap bibit jagung yang ada di tangan Istrinya.


"Syukurlah, puji dewa. Akhirnya, kita mendapatkan bibit unggul ini. Istriku, lihatlah, aku juga mendapatkan bibit gandum," ujar Fang.


"Apa! Apakah kamu tidak mendapatkan bibit cabai!? Bagaimana aku bisa makan tanpa adanya rasa pedas di bumbu!" Yuan nampak kesal.


Shian dan Kim tersenyum kemenangan. Akhirnya, mereka mendapatkan 3 bungkus bibit unggul yang terdiri dari, beras, cabai dan tomat.


Ketika akan kembali ke rumah sederhana yang sudah disiapkan, dari atas bukit sana mereka dapat melihat jika ternyata, Meraka dapat menyusuri bibir pantai untuk bisa kembali.


Mereka berempat sama-sama tercengang sebab, ternyata mereka telah di kelabui. Nyatanya, ada jalan yang sangat mudah tanpa mereka harus mendaki bukit dan juga melewati jembatan. Hanya cukup menyusuri bibir pantai, mereka bisa dengan mudah sampai ketempat tujuan.


Merasa sangat gila, mereka berempat pun tertawa bersama-sama menyusuri bibir pantai. Mereka benar-benar tidak percaya.

__ADS_1


Mereka adalah anak dari kolomerat terpandang. Tetapi kini, mereka seperti kecoak bodoh yang mudah di kelabui.


__ADS_2