Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian

Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian
MDJCK # BAB 18


__ADS_3

Singkat cerita, sore hari telah tiba.


Arata dan Arya akhirnya merasakan hukuman yang mana selama ini tidak ada yang berani menghukum seorang Arata Shikamaru atupun Arya Jen.


Mereka harus membersihkan seluruh kuil dari halaman belakang sampai halaman depan. Dari lantai di dalam ruangan sampai di luar ruangan. Semua ini adalah hukuman karena Arata dan Arya telah memakan makanan yang disajikan untuk biksu Tong.


"Arata.. Arya...!?" panggil Shani.


Arya dan Arata yang sedang menyapu daun yang tidak kunjung bersih pun langsung menoleh.


"Ada apa Shani? Apakah hukuman kita sudah selesai? Dari tadi kita membersihkan tempat ini tanpa istirahat. Hehehe, kami sungguh sangat lelah," ujar Arata sedikit memberi kode.


"Oh, tidak Arata. Saya datang hanya ingin mengatakan jika, kamar mandi umum juga di bersihkan ya. Semua kuil harus benar-benar bersih," ujar Shani.


"Apa! Bagaimana bisa kalian menghukum kami seperti itu. Kami hanya memakan satu, dua apel saja. Jika kalian merasa keberatan dengan tindakan kami. Kalian tenang saja, kami akan mengirimkan satu truk apel untuk kalian!" tukas Arya merasa sangat kesal.


Shani yang mendengar omelan Arya hanya tersenyum.


"Jika kalian ingin memiliki anak, kalian harus memiliki hati yang bersih. Memakan yang bukan hak kalian, itu adalah mencuri. Apakah kalian ingin anak kalian menjadi pencuri juga?" ucap Shani.


"Mana mungkin anak kami akan menjadi pencuri. Kami adalah orang kaya, saya tidak akan membiarkan anak saya merasa kekurangan sampai harus mencuri!" tukas Arata yang kini juga merasa marah dengan ucapan Shani.


"Nyatanya, kalian adalah orang kaya tetapi kalian malah mencuri," sindir Shani.


Arata dan Arya sedikit bingung harus menjawab apa.


"Itu... Itu karena kami tidak di beri makan sedari pagi. Wajar dong kalo di siang hari perut kamu lapar!" jelas Arata.


"Benar!" sahut Arya membela.


"Bukankah sudah di katakan jika kalian harus berpuasa sampai sore hari. Itu adalah salah satu syarat untuk menahan diri segala macam hasrat duniawi. Pelajaran baik, akan menjadikan anak-anak yang baik pula."


Arata dan Arya terdiam. Mereka saling menatap dan akhirnya menundukkan kepala mereka. Mereka sadar, dan mereka juga ingin memiliki anak-anak yang baik.


"Maafkan kami, Shani. Terutama karena kami telah memakan makanan yang di sajikan untuk roh Biksu Tong. Kami sadar dan menyesal untuk itu," ucap Arya.


"Benar, kami ingin memiliki anak yang baik. Tidak seperti kami," ujar Arata sambil menundukkan kepalanya.


Arya yang melihat wajah sendu Arata pun langsung mendekat dan memeluknya.


"Kamu jangan kawatir, anak kita, dia pasti akan baik dan berbakti," ucap Arya dengan sangat lembut membuat Arata merasa nyaman membalas pelukan Arya.


Shani tersenyum melihat keromantisan Arata dan Arya yang sangat murni.


"Ehm.. pacarannya di lanjutkan nanti ya. Sekarang lakukan dulu tugas-tugas kalian dengan ikhlas. Dengan begitu, maka kalian akan segera bersih dari sifat-sifat tamak. Oya,. sebelum jiwa kalian bersih, kalian di larang untuk melakukan penyatuan. Besok, kalian lakukanlah semedi dengan benar, supaya proses penyatuan bisa segera di lakukan," jelas Shani.


Arata dan Arya hanya tersenyum malu ke arah Shani. Shani pun langsung bergegas pergi meninggalkan Arata dan Arya.

__ADS_1


"Hem, dia sangat cantik dan baik. Tutur kata lembut dan menenangkan hati. Sangat beruntung pria yang dapat menikahinya," gumam Arya menatap penuh kagum ke arah Shani.


Arata menatap sinis ke Arya. Entah mengapa, dia merasa sakit dan tidak suka ketika Arya memuji wanita lain.


"Mengapa tidak kamu nikahi saja!?" ucap Arata dengan wajah sewot.


Arya tersenyum dan berkata, "Kan sudah ada kamu," jawabnya tersenyum.


Mendengar itu, Arata pun langsung tersipu malu dan bingung harus berkata apa. Tetapi beruntung dia masih bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Yah, tentu. Karena jika kamu berpaling dariku, kamu harus bersiap kehilangan semua hartamu," ujar Arata.


Arya berjalan mendekati Arata dengan wajah datar.


"Apa menurutmu aku melakukan ini hanya demi harta?" tanya Arya.


Wajah Arya yang hanya berjarak satumilisenti dari hidung Arata membuat jantung Arata serasa berdetak sangat kencang.


"Oh, ya! Jika begitu kamu pasti melakukan ini demi orang tuamu. Sama seperti aku, aku juga melakukan ini demi orang tuaku," sahut Arata dengan sangat gugup.


"Kamu benar, aku melakukan ini demi kedua orang kita," ucap Arya dan langsung pergi meninggalkan Arata.


Arata tertegun mendengar jawaban Arya.


"Apa, orang tua kita? Apakah dia mengatakan itu dengan sadar!?" gumam Arata tidak percaya. Dia merasa sedikit senang karena Arya menganggap kedua orang tuanya juga sebagai orang tuanya.


Namun, betapa terkejutnya Arata ketika melihat Arya dan Shani saling tertawa dan bermain air bersama. Mereka terlihat sangat bahagia.


Arata benar-benar tidak percaya, hanya beberapa menit Arata dan Arya berpisah, tetapi dia sudah bersenang-senang dengan wanita lain.


Arata yang terbakar api cemburu pun langsung berjalan cepat ke arah Arya dan juga Shani. Namun karena tidak berhati-hati, Arata pun terpeleset dan berkahir akan terjatuh.


Hap!


Sebuah tangan dengan gesit menyelamatkan Arata.


Pria tampan dan gagah dengan kulit yang sangat glowing. Otot yang sangat kekar nan berkarisma mampu membuat mata Arya mendelik. Arya dengan kasar membuat selang di Tangannya dan berjalan marah ke arah Arata dan pria itu.


"Sayang, kamu tidak papa?" tanya Arya yang langsung merebut Arata dan pria itu.


"Oh! Aku tidak papa Arya, syukur ada dia yang menolongku," ucap Arata tersenyum ke arah pria itu.


Arya menatap tidak suka ke arah pria itu, tetapi dia harus menyembunyikan perasaan itu.


"Terima kasih banyak, Tuan. Anda telah menyelamatkan isteri saya, jika tidak ada anda, saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan istri saya yang tercinta ini," ucap Arya membuat Arata merasa geli dengan kelebaiannya.


"Sama-sama Tuan, saya hanya kebetulan akan ke kamar mandi dan melihat Nona ini akan terjatuh, jadi saya spontan membantunya," ucap pria itu.

__ADS_1


"Suamiku, kamu sudah pulang?" ucap Shani membuat Arata dan Arya sama-sama mendelik terkejut.


"Apa! Dia suami kamu?" tanya Arata.


Shani tersenyum dan mengangguk.


"Benar Arata, dia adalah suamiku. Dia dinas di luar kota beberapa hari ini," jawab Shani.


Dalam hati, Arata tersenyum senang dan Arya pun merasa bersalah karena sudah berburuk sangka terhadap pria yang telah menolong Istrinya.


"Ah, aku baru tahu jika kamu sudah menikah," ucap Arya.


"Wajar saja, dia adalah wanita yang sangat cantik, tidak bagus wanita cantik menjomblo lama-lama," ucap Arata.


"Ah, tidak seperti itu juga Arata. Kami sudah menikah sejak dini. Ayahlah yang telah menjodohkan dan menikahkan kami," ucap Shani.


"Ouh, begitu," sahut Arya dan Arata mengangguk.


"Oh ya sayang, perkenalan. Ini adalah Arata dan Arya, cucu dari Kakek," ucap Shani memperkenalkan Arata dan Arya kepada suaminya.


"Oh, kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Tuan, Nona, maafkan atas kelancangan saya," ucap pria itu merasa sungkan ketika tahu siapa orang barusan dia tolong.


"Ah, hahaha. Tidak perlu berlebihan Tuan, justru sayalah yang berterima kasih karena anda sudah menolongku," ujar Arata.


"Panggil saja saya, Yhosi," ujar pria itu ramah.


"Ah ya, Yhosi. Jika begitu panggil saya Arya dan juga istri saya Arata. Kita adalah keluarga mulai saat ini," ucap Arya.


"Ya sudah, kalian lanjutkan saja dulu pekerjaan kalian. Kami pergi dulu," ucap Shani membuat Arata dan Arya tersenyum kecut. Mereka pikir setelah ini mereka akan bebas, nyatanya tidak semudah itu.


"Sayang! Apa yang kamu lakukan!? Mengapa kamu menyuruh Tuan muda dan Nona melakukan pekerjaan ini!?" tanya Yhosi yang ikut terkejut dengan kelancangan istrinya.


"Ini adalah perintah dari Kakek," jawab Shani.


Yhosi pun mengangguk mengerti dan langsung membungkuk hormat sebelum akhirnya meninggal Arata dan Arya.


Arata pun tersenyum membalas sikap ramah Yhosi.


Bahkan Arata masih tersenyum meski Yhosi dan Shani menjauh membuat Arya merasa kesal.


"Ingat! Dia sudah punya istri," sindir Arya.


"Aaaa... Apakah kamu cemburu!?" ledek Arata.


"Cih, yang benar saja. Bukankah kamu yang cemburu dengan ku!?" ujar Arya memutarkan balikan kata.


"Ah, hahaha.. cemburu? Yang benar saja," ucap Arata yang mulai enggan untuk berdebat dengan Arya.

__ADS_1


Melihat Arata berjalan menjauh, Arya pun mengejarnya dan terus meledeknya. Sampai akhirnya Arata pun kesal dan menyemprot air ke tubuh Arya.


__ADS_2