
Kini Arata dan Arya menghadapi kakek mereka untuk saling meminta penjelasan. Arata dan Arya berlutut untuk menghormati sang kakek yang kini terlihat sangat marah.
"Mengapa kalian begitu lama sekali sampai ke sini?" tanya Kakeknya Arata.
Arata yang merasa bersalah langsung menundukkan kepalanya.
"Maafkan Arata kakek. Semua ini adalah salah Arata. Aku telah mengambil jalan pintas sehingga membuat kami tersesat," jelas Arata sambil mengepalkan tangannya karena merasa takut dan juga rasa bersalah.
Arya yang merasa tidak tega melihat Arata, karena dia tahu apa alasan Arata sebenarnya yang ingin menemukan tanaman untuk menyuburkan benih-benih pembuahan membuat anak pun langsung ikut berkata.
" Itu bukankah kesalahannya, kakek. Arata, dia hanya ingin mempercepat proses kehamilannya. Dia memilih jalan pintas karena dia ingin mencari tanaman penyubur rahim," jelas Arya menambahi.
Arata yang mendengar Arya telah membantunya pun langsung menatap dengan perasaan tidak percaya.
Padahal, jika Arya tetap diam dan ikut memojokkan Arata, jelas Arya akan mendapatkan memenangkan pernikahan mereka dan dia bisa dapat semua aset harta milik keluarga Arata.
Arya tersenyum dan mengangguk melihat Arata yang sedang menatapnya. Seolah-olah berkata "Semua akan baik-baik saja".
Kakek yang mendengar penjelasan dari Arya pun langsung tersenyum senang. Kakek yang awalnya ingin marah, akhirnya dapat tersenyum lega.
"Hahaha...!" Kedua kakek saling tertawa mengangguk mengerti dan merasa senang.
Arata dan Arya hanya bisa menundukkan kepala mereka ketika mendengar suara tawa yang menggelegar.
"Bagus, kakek senang mendengar perjuangan kalian yang bersungguh-sungguh untuk segera mendapatkan cicit untuk kami. Hmm, jika begitu kalian lanjutkan perjuangan kalian di sini untuk segera mendapatkan momongan. Kakek akan pulang terlebih dahulu," ujar kakeknya Arya.
"Pesan kakek. Kalian sudah dewasa, jangan seperti anak kecil jika sedang bertengkar," ujar kakeknya Arata menasehati.
"Baik, kakek!" sahut Arata dan Arya serempak.
Mereka yang awalnya ingin menanyakan mengapa kakek memberikan jalan yang sulit untuk mereka akhirnya mengurungkan niat ketika mereka melihat jika suasana hati kakek sudah membaik.
Singkat cerita, akhirnya kakek telah meninggalkan kuil menggunakan mobil yang ternyata bisa menanjak ke atas kuil. Tidak perlu bertanya"kok bisa" karena sudah di jelaskan jika jalan dari timur sudah di bangun untuk mempermudah masyarakat untuk mengunjungi kuil tersebut.
Setelah kepergian kakek, Arata dan Arya akhirnya dapat bernafas dengan lega. Berhadapan dengan kakek benar-benar mampu membuat dada mereka terasa sesak.
"Arya, terima kasih banyak karena kamu telah membantu ku," ucap Arata dengan tulus.
"Kamu jangan senang dulu. Aku membantu bukan untuk menyenangkan hatimu. Aku membantu mu hanya karena demi kakek dan kedua orang tua kita. Aku tidak ingin kakek kecewa dan aku juga tidak ingin membuat kakek murka dan menambah hukuman untuk kita," jelas Arya dengan wajah mengejek Arata. Seolah dia telah berkata, akulah pemenangnya.
Arata yang awalnya telah tersentuh dengan sikap Arya kini kembali memanas karena pengakuan Arya telah melukai harga dirinya.
"Ayo kita masuk, kita belum bertemu dengan biksu Tong. Aku sangat penasaran bagaimana bentuknya, mengapa kakek ingin sekali kita bertemu dengan beliau," ujar Arya dengan tersenyum kecut lalu meninggalkan Arata yang sedang terpaku.
Arata berdecak dan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Cih! Tidak dapat di percaya. Bagaimana aku bisa menyukai pria licik sepertinya," umpat Arata kesal. "Ups! Apa yang telah aku ucapkan!? Aku menyukai pria itu!? Cih, lidahku pasti sudah terkesleo . Mana mungkin aku menyukai pria seperti dia! Seperti tidak ada pria lain saja di dunia ini," gumam Arata uring-uringan sendiri. Dia pun langsung menyusul Arya yang sudah berjalan duluan meninggalkan dirinya.
Kaki Arata terhenti ketika dia melihat Arya mengobrol dengan wanita cantik.
"Siapa wanita itu?" batin Arata bertanya-tanya. Entah mengapa, Arata mengepalkan tangannya dan berjalan cepat ke arah Arya dan wanita itu yang sedang mengobrol sambil tertawa ringan.
Tanpa permisi, Arata langsung merangkul tangan Arya membuat Arya terkejut sesaat.
"Sayang, siapa dia?" tanya Arata sambil tersenyum manis ke arah Arya.
Arya membalas senyum Arata dan berkata, "Dia adalah putri dari biksu Tong. Dia akan menemani kita untuk bertemu dengan beliau," jawab Arya.
"Owh, salam kenal nona. Saya adalah Arata, istri dari suamiku, Arya Jen," ujar Arata sambil mengulurkan tangannya ke arah wanita cantik itu.
"Panggil saya Shani, Nyonya. Senang bertemu dengan kalian," jawab Shani ramah.
"Oh, hohoho.. Panggil saya Arata saja. Sepertinya kita seumuran," ujar Arata.
"Baiklah, Arata. Em, jika begitu ayo kita naik ke atas(kuil yang berada diatas). Ayah sudah menunggu kita," ujar Shani.
Ketika Shani berjalan menjauh, Arata langsung melepaskan tangannya dari sisi Arya. Tapi seketika Arya menarik kembali tangan Arata untuk ke sisinya.
Arata sungguh sangat terkejut dengan sikap Arya yang tiba-tiba. Arata menatap wajah Arya yang menatap lurus ke depan. Arya sama sekali tidak melirik Arata yang sedang sangat terkejut dengan sikap Arya yang tiba-tiba.
"Ar....Arya... Di sini sudah tidak ada siapa-siap. Lepaskan aku," bisik Arata.
" Ada atau tidak ada orang, bukankah ini yang kamu inginkan. Ayo kita jalan," ucap Arya sambil tersenyum.
Tapi Arata tidak ingin dibodohi ataupun terlihat bodoh. Dia langsung menarik tangannya dari sisi Arya.
"Tidak! Maafkan saya Tuan Arya yang terhormat. Saya bersikap seperti tadi bukan untuk menyenangkan hati anda. Saya hanya tidak ingin orang curiga dengan hubungan kita dan mengadukan hal-hal aneh kepada kakek. Aku ingin segera pergi dari tempat ini dan kembali ke istana ku!" tukas Arata dengan tegas lalu pergi jalan duluan meninggalkan Arya yang sedang terbengong. Arata berhenti dan berbalik menatap Arya, dia tersenyum Joker lalu jalan kembali meninggalkan Arya.
Arya mengepalkan tangannya dengan erat dengan sikap Arata yang telah mempermainkan dirinya.
"Heh, tunggu saja. Jika kamu tidak jatuh dalam pelukanku, bukan Arya namanya!" gumam Arya berjanji akan menaklukkan wanita itu dan membuatnya jatuh dalam genggamannya.
*****
Kini, dua sejoli telah berganti pakaian serba putih. Selama mereka mengikuti program kehamilan, mereka harus terus memakai baju putih.Tidak tahu apa alasannya, yang penting mereka dapat segera menyelesaikan misi mereka.
Arata terlihat sangat anggun dengan gaun putihnya yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya nampak lebih segar dengan bunga yang menempel pada rambutnya sebagai hiasan rambut.
Arya yang dasarnya menyukai rambut panjang terurai sangat terpesona melihat istrinya yang sangat berbeda kali ini.
Arata masih tidak sadar jika dirinya telah di perhatikan oleh suaminya tercintanya. Dia berjalan dengan Shani sambil tertawa ringan. Entah apa di obrolkan, mata Arya masih tidak bisa lepas dari pesona Arata.
__ADS_1
Setelah semakin dekat, Arya langsung menghampiri Arata dan Arya.
"Hay sayang, dari mana saja?" sapa Arata tersenyum ketika melihat Arya datang.
"Aku habis melihat ikan koi di sana. Sama seperti di desa suci ikan di sini juga sangat besar-besar dan terawat. Aku jadi ingin memilikinya untuk di pelihara di rumah kita," jawab Arya.
Arata tiba-tiba bersikap manja dan memeluk Arya.
"Sayang, aku juga mau," ucap Arata sambil memasang wajah gemas ke Arah Arya. Arya yang melihat itu pun jantungnya langsung berdebar tidak karuan.
"Kalian bisa membawanya ketika pulang nanti," ujar Shani membuka suara.
"Benarkah? Wah, terima kasih banyak Shani, kamu baik sekali," ujar Arata merasa senang.
"Bukan apa-apa. Tempat ini adalah milik kakek kalian. Jadi, apapun yang ada di sini adalah milik kalian juga," jelas Shani.
"Apa!?" Arata dan Arya pun sama-sama terkejut. Mereka sama sekali tidak tahu jika kakek mereka adalah pemilik tempat itu.
Shani pun hanya mengangguk dan tersenyum.
....
Singkat cerita, mereka pun akhirnya benar-benar berjalan menuju ke tempat biksu Tong setelah beberapa kali di tunda karena harus ini dan harus itu terlebih dahulu.
"Apa kamu sama sekali tidak tahu jika tempat ini milik kakek?" tanya Arata berbisik kepada Arya.
"Jika aku tahu, mana mungkin aku mau di bodohi lewat hutan untuk sampai ke sini!" sahut Arya.
"Hm, sehebat apakah biksu Tong ini? Mengapa kakek sangat ingin kita bertemu dengan beliau. Apakah aku sungguh bisa hamil setelah bertemu dengannya!?"
Langkah kaki Arya terhenti dan menatap Arata.
"Mana mungkin kamu bisa hamil setelah bertemu dengan dia. Ingat! Kamu hanya akan hamil setelah aku mengunjungimu!" ucap Arya dengan tegas.
Mendengar itu Arata pun cekikikan.
"Ckckckck... Apa maksud kamu Arya. Tentu aku hanya akan hamil anak kamu," ujar Arata begitu saja. Tanpa sadar Arya pun tersenyum mendengar ucapan Arata.
"Bagus, baiklah, ayo kita bertemu dengan biksu Tong. Hem, aku tidak sabar bertemu dengan beliau, apakah dia sudah setua kakek kita?" ujar Arya tersenyum sambil menggandeng tangan Arata.
Arata pun menerima gandengan Arya dan mereka tertawa bersama membayangkan bagaimana bentuk biksu Tong.
"Mungin kepalanya akan botak sama seperti biksu lainnya. Ckckck!" sahut Arata.
"Huusst, jangan keras-keras, nanti ada dengar," bisik Arya.
__ADS_1
"Ckckckckck....!" Arata dan Arya pun sama-sama tertawa bersama.
Sampai di sini, mereka masih belum sama-sama menyadari bagaimana perasaan mereka satu sama lain. Terkadang mereka merasa jika semua hanya sandiwara, tetapi nyatanya mereka mereka merasa jika itu adalah perasaan mereka yang sebenarnya. Tapi sejauh ini, mereka masih menyangkalnya.