
Seorang pria paruh baya bersujud di bawah kaki kakeknya Arya. Dia adalah Tuan Fang..
"Ayah, aku mohon ampunilah aku. Semua ini adalah kesalahanku, jadi aku memohon kepada Ayah supaya Ayah dapat mengampuni Yuan!" Tuan Fang nampak bersunguh-sungguh.
Namun kakeknya Arya yang telah mengetahui segalanya tidak menjawab, malah ia ingin mengambil sebuah parang yang menjadi hiasan di belakang kursinya untuk menebas kepala menantunya itu.
"Hukuman kalian bertambah!" ujar Kakeknya Arya dengan tiba-tiba dengan wajah yang dipalingkan ke kanan.
"Apa!?" Tuan Fang pun mendelik tidak percaya. Permohonannya yang tulus sangat membuahkan hasil, yaitu ia mendapatkan tambahan hukuman.
Pak supir yang sudah mendengar jika ketua memberikan jawaban, akhirnya meminta Tuan Fang untuk segera meninggalkan ruangan Kakeknya Arya.
"Tuan Fang, saya tahu Anda pasti sudah mendengar jawabnya. Mari, ikut dengan saya karena helikopter sudah siap!" ucap Pak supir.
Tuan Fang tidak dapat berkutik, semakin dia melawan maka akan semakin cepat dia mati. Tuan Fang hanya bisa pasrah dengan mengepalkan jari-jari di tangannya.
"Ayah, saya pamit undur diri," ucap Tuan Fang berjalan mundur.
"Sayang..!" Panggil Nyonya Yuan yang berlari ke arah Tuan Fang.
"Bagaimana!?" tanya Nyonya Yuan sangat tidak sabar menunggu jawaban.
Tuan Fang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kita mendapatkan tambahan hukuman," jawab Tuan Fang dengan raut sendu.
"Apa! Bagaimana mungkin Ayah melakukan ini kepada putrinya sendiri. Ya tuhan, aku tidak dapat percaya ini!" Nyonya Yuan mengelus dadanya yang terasa sangat panas dan menggebu-gebu.
"Tuan, Nyonya, helikopter akan lepas landas," ujar Pak supir meminta Tuan Fang dan Nyonya Yuan untuk bergegas.
"Ibu, Ayah, kalian percayakan ini kepada Arya, Arya akan mengalahkan wanita siluman itu dan meraih semua hartanya. Arya juga akan segera menjemput Ibu dan Ayah," ucap Arya mencoba untuk mengikhlaskan kedua orang tuanya yang akan diasingkan.
"Sayang, kami sangat percaya kepadamu. Doakan Ibu supaya Ibu sehat-sehat di sana, ya!?" Nyonya Yuan nampak sangat berat meninggalkan putranya.
"Istriku, bukannya mendoakan anaknya malah meminta anaknya mendoakan kamu! Dia sangat sibuk untuk memenangkan pertarungan ini, jadi putra kita ini tidak ada waktu untuk mendoakan kamu!" ujar Tuan Fang menegur istrinya.
"Oh, iya juga ya suamiku. Emm ,,, jika begitu biar Ibu saja yang mendoakan putra Ibu tersayang ini. Semoga kamu dapat segera menjemput ibu ya, Nak!?"
"Baik, Ibu."
"Tuan, Nyonya, mari ...?" Pak supir mengarahkan Tuan Fang dan Nyonya Yuan untuk naik ke dalam helikopter.
"Daadaaaa .... sayaaaaang ....!" teriak Nyonya Yuan nampak tidak rela untuk pergi meninggalkan putranya.
__ADS_1
"Ibu .....! Arya akan segera menjemput Ibu ....!" teriak Arya sambil melambaikan tangannya.
Akhirnya, helikopter pertama berhasil lepas landas. Kini, gantian keluarga Arata yang akan lepas landas.
"Sayang, kamu lihatlah pria itu, dia sangat tidak berdaya tanpa kedua orang tuanya. Tapi Ibu sangat yakin jika kamu akan mampu tanpa kami," ujar Nyonya Shian mencoba membangkitkan keberanian di dalam diri Arata.
"Tenang saja, Ibu. Ibu percayalah kepada Arata. Semua jurus yang Arata pelajari dari Guru yang diutus oleh Ibu sudah Arata kuasai semuanya," ucap Arata meyakinkan ibunya.
"Hmm, sayang. Ayah hanya ingin berkata, jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai kamu membahayakan dirimu, sungguh Ayah tidak dapat kehilangan dirimu. Ayah rela kehilangan harta tetapi Ayah tidak sanggup jika kehilangan nyawa putri ayah satu-satunya ini." Tuan Kim nampak sangat serius.
"Sayang! Apakah kamu sedang meragukan putri kita! Arata, jangan dengarkan Ayah kamu yang pengecut ini, kamu tetap harus menang dan kalahkan pria lemah itu!" ucap Nyonya Shian mencoba untuk mensuport putrinya.
"Baik, Ibu. Emmm ... Ayah, ayah jangan khawatir karena Arata akan selalu berhati-hati dalam bertindak," ucap Arata meyakinkan kedua orang tuanya.
Arata memeluk Ayah dan Ibunya sebelum akhirnya helikopter itu lepas landas.
Setelah kedua orang tua Arata pergi, kini hanya tinggal menyisahkan Arata dan Arya di sebuah lapangan landasan.
Kedua suami istri itu saling menatap hangat, sehangat percikkan matahari.
Mereka saling berjalan mendekat.
Senyum manis sama-sama mereka lempar untuk memberi kesan baik, karena mereka tahu jika kakek mereka sedang mengawasi mereka dari kejauhan.
"Oh, suamiku ..!" Arata bergaya terharu dan meletakkan kepalanya di dada bidang Arya.
Kedua kakek itu hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat sandiwara yang cukup luar biasa epiknya yang dipertunjukkan oleh cucu-cucu mereka.
Arata dan Arya berjalan bergandengan sambil melemparkan senyum manis mereka ke arah kakek-kakek mereka.
"Kakek, jika begitu kami akan langsung kembali. Ayah dan Ibu sudah pergi, jadi Arya harus fokus untuk memimpin perusahaan," ucap Arya terlihat sangat berwibawa.
"Kakek, izinkan Arata juga mengurus perusahaan. Meski Ayah sudah tidak ada untuk membimbing Arata, tetapi Arata yakin Arata sanggup untuk mengurus perusahaan kita," ucap Arata terdengar sangat manis dan elegan.
"Sayang, jika kamu tidak mengerti soal sesuatu tanyakanlah kepadaku. Bukankah perusahaan kita kini telah kembali bersatu. Perusahaanmu adalah milikku dan perusahaan aku adalah milikmu." Arya benar-benar terlihat seperti suami yang penuh tanggung jawab.
"Oh, terima kasih banyak suamiku." Arata tersenyum penuh haru.
"Ehm...! Kami memutuskan, kalian tidak akan mengurus perusahaan," ucap Kakeknya Arya.
"Haaaaa!?" Arata dan Arya sama-sama terkejut dan memasang wajah meminta penjelasan.
"Kami hanya ingin kalian fokus membuat anak!" ucap Kakeknya Arata menjelaskan.
__ADS_1
"Oh, haha... Apa maksud kakek, kami bahkan sudah membuatnya malam dan siang," ucap Arata dengan memasang wajah yang memerah karena malu-malu, pret.
"Kami ingin kamu segera positif selama waktu kurang dari 3 bulan," ucap Kakeknya Arata membuat Arya dan Arata ternganga seketika.
"Apa! Kakek, bagaimana bisa seperti itu. Waktu dua tahun saja kami tidak bisa menjanjikan apa lagi hanya 3 bulan!?" Arya tak dapat mengerti.
"Apa maksud kamu tidak dapat menjanjikan? Bukankah dalam perjanjian sudah tertulis jika ..!"
"Iya kakek, tetapi maksud Arya adalah ...," ucap Arya terpotong karena tak tahu harus berkata apalagi.
"Anak adalah anugrah dari tuhan, kakek! Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha tetapi kehendak tetap di tangan Tuhan," ucap Arata melanjutkan.
"Hmm ... Oleh karena itu kami sudah memikirkan ini matang-matang!" ucap Kakeknya Arya tersenyum.
"Apa!?" tanya Arata dan Arya.
"Kami akan mengirimkan kalian ke kuil yang ada di gunung Utara. Di sana ada seorang biksu yang sangat ahli dalam kesehatan. Dia juga ahli dalam berdoa supaya pasiennya segera mendapatkan momongan. Namun, perjalanan itu tidaklah mudah, untuk mencapai ke gunung kalian harus jalan kaki dan melewati rintangan. Jika kalian berhasil melewati rintangan dengan jujur, maka kalian akan bisa bertemu dengan biksu hebat itu." Jelas kakeknya Arata.
Bagaikan suara burung gagak di atas kepala, bahkan otot-otot tubuh Arata dan Arya seketika melemah ketika mendengar jika mereka juga akan diasingkan secara tidak langsung.
"Siapa yang sanggup!?" tanya Kakeknya Arya.
"Ini terlalu sulit kakek, kita bisa melakukan program hamil di rumah sakit saja yang jelas semuanya serba canggih," ucap Arata.
"Benar, kakek. Jika kita kehutan, terus bertemu dengan harimau, yang ada kakek akan mendapatkan jasad kita, bukan seorang cicit!" ucap Arya yang juga menolak.
Kedua kakek itu tersenyum lalu memerintahkan pak supir untuk membawakan sesuatu.
Sebuah laptop dengan rekaman pengakuan Arata dan Arya perihal apa yang sudah terjadi di dalam mobil.
Arata dan Arya sama-sama terkejut jika kejadian itu telah di pantau oleh kakeknya.
"Alih-alih untuk mendapatkan cicit, itu juga salah satu hukuman untuk kalian karena telah berani membohongi kami," ucap Kakeknya Arya dengan sangat serius.
Arata dan Arya hanya bisa menundukkan kepala mereka dengan pasrah.
"Pergi ke gunung Utara atau kami akan melengserkan kalian seperti kami melengserkan kedua orang tua kalian secara tidak hormat!" ancam Kakeknya Arata.
"Baik, kakek! Kami akan pergi." Arata dan Arya sama-sama tidak berdaya. Mereka hanya bisa bersikap sopan dan membungkukkan badan mereka.
Kedua kakek itu akhirnya dapat tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Arata dan Arya yang sedang dalam keadaan berkecamuk tidak menentu.
Mereka tidak bisa membayangkan, bagiamana mereka harus berhubungan intim dengan musuh beratnya sendiri untuk mendapatkan seorang cicit untuk kakek mereka.
__ADS_1
Arata dan Arya kini saling menatap tajam didalam kepasrahan.