
Ini adalah malam pertama Arata dan Arya berada di desa suci itu. Mereka telah bersiap dengan pakaian ritual khusus untuk berendam di air kehangatan. Arata dan Arya tak kurang-kurangnya berfikir mengapa mereka harus berendam dan berendam terus. "Apakah tubuhku ini kotor!?" batin mereka yang tidak bisa berbuat banyak.
Sebuah kolam yang terus mengeluarkan asap sangat bisa ditebak jika itu adalah pemandian air panas.
Dengan lilin yang disusun sedemikian rupa rapinya, Arata dan Arya dituntun untuk duduk di sebuah batu yang ada di tengah-tengah kolam itu.
Arata dan Arya saling berhadapan. Mereka mengambil posisi bersemedi sesuai arahan dari biksu.
Malam yang dingin dan air yang hangat membuat Arata merasa sangat nyaman. Di tambah dengan aroma bunga sakura yang di taburkan ke dalam kolam, benar-benar sensi yang sangat Arata sukai.
"Adek-adekku sekalian, sekarang pegang lah tangan pasangan masing-masing, lalu pejamkan mata kalian. Ketika saya membaca sebuah mantra, coba kalian ingat-ingat kesan romantis yang pernah terjadi di antara kalian. Kita akan membangun sebuah kemistri di antara adek-adek sekalian supaya malam ini lebih terasa sangat hangat. Nah, sekarang ayo kita mulai ritualnya!" Biksu itu dengan semangat membuka sebuah kitab untuk di bacanya.
Arata dan Arya saling memandang jijik. Arata dengan malas memegang tangan suaminya yang kini sudah mengulurkan tangannya.
Jika bukan karena kedua orang tuanya dan juga hartanya, Arata tidak akan pernah sudi untuk bersandiwara lebih lama dengan pria yang kini menatapnya dengan tatapan mes*m. Sepertinya Arya sengaja memancing geram Arata.
Dengan arahan biksu, kini mereka saling berpegangan dan mulai memejamkan mata mereka.
Ketika biksu menyuruh mereka untuk mengingat masa-masa indah, di sana Arata telah di ingatkan dengan sebuah insiden yang sangat romantis bersama dengan Arya
Arata mengingat bagaimana romantisnya Arya menabrak dirinya dan langsung menangkap tubuhnya yang akan terjatuh.
Dua mata saling menatap pada saat itu, tetapi hal yang paling Arata tidak pernah lupa adalah, Arya yang sedang flu dengan sengaja bersin di depan mukanya dan menyemburkan lendir kental kewajahnya lalu ia langsung melepaskan pegangannya pada tubuh Arata karena dia ingin mengelap ingsunya, alhasil Arata pun tetap terjatuh meski tertunda sebentar. Adegan romantis pun berkahir tragis membuat jantung Arata berdebar-debar sangat kuat pada malam itu ketika mengingat kenangan manis, asem dan pahit dengan Arya.
Di sisi lain, Arya juga telah diingatkan oleh kenangan lama masa-masa sekolah. Menjadi kuat adalah impian semua pria, sampai akhirnya Arya tidak menduga jika ternyata guru kungfu yang akan dia abdi adalah wanita cantik tapi tak menarik, bagi Arya.
Pada saat itu, Arata benar-benar terlihat sangat profesional. Dia mengajari Arya dengan sangat lembut sama seperti peserta lainnya.
__ADS_1
Bahkan, Arya sempat terlena dengan kegagahan Arata yang sangat mempesona ketika sedang adu tanding dengan guru lainnya ataupun dengan murid lainnya.
Sampai akhirnya kini giliran Arya. Dia maju untuk melawan guru cantiknya yang bukan lain adalah musuhnya sendiri.
Awalnya Arya akan mengira jika Arata akan bersikap baik kepada dirinya sebagaimana dia bersikap baik kepada murid lainnya.
Tapi ....
Hasilnya adalah, Arya harus pergi kerumah sakit karena pinggang terkilir dan tangan yang hampir patah.
Malam itu benar-benar sangat panas. Sebenarnya biksu tidak perlu menyiapkan pemandian air panas, bahkan jika mereka di letakan di air es, maka seketika air es akan berubah menjadi air panas.
Kedua tangan pasangan suami istri itu mulai mengerat rapat. Bahkan dapat kita lihat bagaimana otot-otot sampai keluar dari posisinya.
Mata mereka masih saling terpejam. Mereka benar-benar menikmati momen-momen romantis mereka pada masa itu.
Di perhatikan lebih seksama, Arata dan Arya saling memegang erat seperti enggan untuk melepaskan genggaman mereka. Padahal, Biksu telah mengatakan jika mantra sudah selesai, mereka boleh membuka mata. Nyatanya, sampai beberapa menit Arata dan Arya masih setia saling bergenggaman erat.
Melihat jika erupsi akan segera terjadi, biksu pun langsung on the way (OTW) pergi meninggalkan pasangan suami istri yang benar-benar sedang dalam gejolak kesal.
Ketika biksu telah pergi, dengan tiba-tiba kedua mata suami istri itu terbuka dan saling menatap tajam. Sepertinya ada sesuatu yang ingin segera mereka tuntaskan.
Bibir mereka menggertak dan tangan mereka saling meremas satu sama lain.
Aura pertumpahan darah sepertinya akan segera terjadi.
"Kamu! Bahkan kamu belum meminta maaf kepada Ku!" bentak Arata yang mulai tidak tahan lagi ketika mengingat masa-masa itu.
__ADS_1
"Kamu masih menyalahkan aku setelah kamu sudah hampir membuat aku mati! Wanita macam apa kamu ini!" sahut Arya yang mulai ikut terpancing.
"Bukan salah Ku! Salahkan sendiri kepada dirimu sendiri, mengapa harus lemah menjadi laki-laki!" tukas Arata yang seolah-olah paham apa maksud Arya.
"Aku tidak lemah! Aku hanya tidak mungkin melawan seorang wanita sepertimu!" balas Arya.
"Apa kamu bilang!? Wanita LEMAH!?" Arata benar-benar kehabisan sabar.
"Wanita ya wanita saja. Meskipun dia otot kawat tulang besi, wanita ya wanita saja. LEMAH!" ucap Arya merasa tidak takut ketika membangunkan harimau betina.
"HIIIIAAAAK!" Tendangan dari syurga pun mendarat tepat ke senjata tumpul milik Arya.
Arya yang mendapatkan serangan dengan tiba-tiba pun langsung merasakan sakit yang sangat luar biasa.
Ingin sekali dia berteriak dan *******-***** tubuh Arata sampai akhirnya jadi adonan donat.
Tapi, tendangan maut ini benar-benar membuat tubuh Arya tidak berdaya dan akhirnya jatuh pingsan.
Arata semringai melihat musuhnya kini telah tumbang.
Biksu yang diam-diam melihat pun langsung menutup mulutnya. Biksu tidak pernah menduga jika sebenarnya pasangan suami itu saling bermusuhan.
"Ini tidak dapat di biarkan, aku harus menelepon kakek!" gumam Biksu itu.
Singkat cerita.
Suara menggelegar dari balik handphone.
__ADS_1
"Segera kirim langsung mereka ke gunung untuk bertemu dengan biksu Tong!" tegas Kakek.