Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian

Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian
MDJCK # Bab 20


__ADS_3

Arata dan Arya kini telah bersiap untuk bersemedi dan juga bersiap untuk menahan lapar seharian sampai sore menjelang.


Terlihat kedua pasutri itu sangat khusyuk berdoa dan juga meminta. Entah apa yang mereka inginkan, tetapi belum sampai setengah hari Arata sudah mulai goyah karena merasakan bokongnya yang panas.


Shat.. Shett.. Shat.. Shett... Suara keluhan Arata menggangu konsentrasi Arya, dan Arya pun akhirnya mencoba melirik ke arah Arata.


Di mata Arya, terlihat Arata yang mencoba menggoyang bokongnya ke kiri dan ke kanan untuk mencari siklus udara, karena bokong Arata benar-benar terasa panas dan terasa kempes.


Melihat itu entah mengapa membuat hati Arya merasa tidak tega.


Sambil masih memejamkan mata, Arya mencoba untuk melepaskan jubah putih yang dia gunakan untuk menghangatkan tubuh. Karena cuaca pada hari itu benar-benar sangat dingin seperti akan turun salju.


Tanpa basa-basi Arya langsung memberikan jubah itu kepada Arata tanpa menoleh dan tanpa berkata.


Arata yang merasakan ada yang menyentuh langsung melirik ke Arya.


Sontak Arata terkejut ketika melihat Arya memberikannya sebuah kain tebal.


"Arya, apa maksudnya ini?" bisik Arata.


"Kamu sangat berisik. Gunakan itu untuk alas kamu duduk. Jangan banyak tanya dan lakukan saja," ujar Arya masih memejamkan matanya.


Arata yang tidak ingin menganggu konsentrasi Arya pun langsung menggunakan kain tebal itu untuk di duduki. Usai mendudukinya, Arata pun dapat tersenyum.


"Ah, sungguh melegakan. Ini terasa empuk sekali," batin Arata.


.....


Di sisi lain, di sebuah pulau, kita di perlihatkan dua pasangan suami istri dengan lelah menyiram taman mereka. Karena, mereka harus mengangsu atau mengambil air dari sungai menggunakan ember untuk dapat menyiram tanaman mereka supaya tidak mati.


Tidak adanya selang ataupun alat lain yang dapat mengalirkan air dari sungai atau dari sumur ke ladang mereka, akhirnya hanya cara itu yang dapat mereka lakukan.


Tuan Fang terlihat sangat lelah dan tidak sengaja terjatuh dan memecahkan ember yang mereka punya.


"Oh ya tuhan, sayang! Apa yang kamu lakukan. Ember kita pecah! Apakah kamu tidak tahu jika alat ini sangat berguna. Tidak punya lagi selain ini. Apa kamu pikir di sini ada pasar! Ada mall? Ada yang jual parabotan!?" sentak Nyonya Yuan marah.


"Sayang, maafkan aku. Aku sungguh tidak sengaja. Aku sangat lelah dan juga letih. Otot-otot ku serasa terbakar dan menghanguskan tulang-tulang ku. Aku, aku sungguh tidak sanggup lagi," ujar Tuan Fang pasrah. Dia terkepar dan meresapi setiap sendi tulangnya yang ingin patah.


Nyonya Yuan seketika naik pitam dan ingin segera menguyur suaminya yang di rasa tidak berguna itu.


Tapi, ketika dia ingin mengambil air untuk memberi pelajaran ke suaminya. Tuan Kim dan Nyonya Shian datang dan menghentikan niatnya.


"Yuan, tenangkan dirimu. Kamu tidak perlu semarah itu kepada suamimu. Kasihan dia, dia pasti sangat lelah," ujar Nyonya Shian menasehati Nyonya Yuan.


"Apa maksud kamu! Tidak perlu mencampur rumah tangga orang, urusi saja rumah tangga mu dengan benar," ujar Nyonya Yuan sewot.

__ADS_1


"Yuan, lihatlah suami mu. Dia tergeletak tidak berdaya, dia pasti sangat kelelahan, sama seperti aku juga," ucap Tuan Kim.


"Apa maksud kalian berkata seperti itu!? Apa menurut kalian aku juga tidak lelah!? Setiap mengambil air kami selalu bergantian! Apakah menurut kamu aku tidak lelah dan hanya diam diri menyaksikan suamiku bekerja!" teriak Nyonya Yuan terlihat putus asa.


"Yuan, tenangkan dirimu. Kita semua juga sangat lelah. Kami juga merasa putus asa, kamu harus bersyukur karena tanaman kamu ada beberapa yang tumbuh, tapi lihatlah punya kami. Kami sudah menyiramkannya sampai tanah itu banjir, tetapi tidak juga muncul kehidupan dari biji yang kami tanam," ujar Nyonya Shian yang kini terlihat sangat lesu dan pasrah.


"Shian benar Yuan. Gunakan saja ember kami untuk menyiram tanaman kalian. Kami sudah pasrah untuk bertani. Mungkin aku akan belajar memancing ikan saja untuk makan," ujar Tuan Kim sambil menyerahkan ember ke Yuan.


Yuan nampak tersentuh dengan kebaikan dan juga kemalangan yang di rasakan Shian dan Kim.


Yuan tersenyum dan berkata.


"Mari kita bertani bersama-sama. Kita melakukan semua bersama. Di pulau ini, hanya ada kita saja. Jika tidak saling menolong maka kita akan saling membunuh. Aku, sungguh maafkan aku yang sangat keras kepala ini, hiks...hiks...!" ujar Nyonya Yuan sendu.


Shian pun langsung memeluk Yuan dan menangis bersama.


"Hiks...hiks.. kamu benar Yuan, di sini hanya kita saja. Jika tidak saling membantu, maka kita akan kesulitan untuk menjalankan hidup. Tidak tahu kapan anak-anak akan menjemput kita mengingat mereka memang tidak akur sedari dulu," ujar Nyonya Shian.


"Kamu benar Shian. Ayah tidak akan mengizinkan kita pulang jika Arata dan Arya belum memiliki anak Huaaaa....!" pecah sudah tangis Yuan dan Shian meratapi nasib mereka.


"Uhuk... Uhuk...!" Tuan Fang terbatuk-batuk sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Suamiku...!" teriak Nyonya Yuan.


"Fang...!" teriak Nyonya Shian dan Tuan Kim.


"Uhuk...uhuk... Aku tidak papa.. uhuk...uhuk.. Kalian tidak perlu cemas kepadaku," ujar Tuan Fang mencoba untuk mengelap darah yang keluar dari mulutnya.


"Sayaaaaang... Apa yang terjadi denganmu!? Mengapa bisa begini!?" teriak Nyonya Yuan panik melihat suaminya yang benar-benar kritis.


"Ayo cepat bawa dia pulang,!" ujar Tuan Kim.


Ketika sampai gubuk, mereka pun bersama-sama mengurus tuan Fang.


"Aku akan buatkan air putih hangat," ujar Nyonya Shian antusias.


"Aku akan mencari madu di sekitar sini. Sangat baik madu untuk orang sedang batuk. Aku kemarin melihat lebah madu terbang di sekitar sini. Pasti tidak jauh," ujar Tuan Kim yang juga antusias.


Nyonya Yuan hanya mengangguk pasrah dan juga rasa berterima kasih yang mendalam. Tidak perlu di ucapkan, Tuan Kim dan Nyonya Shian sudah paham dari tatapan Nyonya Yuan sangat berterima kasih karena telah di bantu.


Tuan Kim, dengan alat seadanya langsung mencari keberadaan lebah madu. Dia menggunakan kantong plastik untuk menutupi wajahnya supaya tidak di sengat oleh lebah.


Menyusuri hutan sendirian adalah bukan pengalaman Tuan Kim. Bahkan bisa di kata dia adalah pecundang kesendirian di tempat yang sepi. Tapi, musuhnya sedang sekarat yang membuat mau tidak mau Tuan Kim harus memberanikan diri.


"Kim, ini adalah demi prikemanusiaan. Ayo, kamu pasti bisa!" gumam Tuan Kim berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Tidak lama, akhirnya Tuan Kim melihat seekor lebah yang sedang terbang. Tidak menunggu lama Tuan Kim langsung mengikuti lebah madu tersebut.


Ketika sudah sampai, alangkah terkejutnya Tuan Kim ketika melihat sarang madu yang cukup besar.


Tidak hanya cukup besar, tapi juga mereka memiliki sarang di atas pohon yang sangat tinggi.


Tuan Kim langsung terbelalak, tercengang dan juga terkulai lemas secara bersamaan ketika melihat sarang lebah yang besar berada di pucuk pohon yang sangat besar dan tinggi.


"Ya tuhan, ini mah namanya aku mau bunuh diri, bukan mau menyelamatkan musuh," ujar Tuan Kim yang langsung menciut nyalinya.


Beribu-ribu juta lebah benar-benar membuat Tuan Kim bimbang untuk meminta madunya meski hanya secuil.


Tuan Kim mondar-mandir untuk mencari ide bagaimana dia meminta madu itu meski hanya sedikit. Sungguh sebenarnya dia sendiri tidak ada pengalaman untuk mencuri madu dari lebah.


Sampai akhirnya,


Flashback...


Sebuah kilat bayangan terlintas dalam benaknya.


Dia teringat ketika dirinya akan melakukan perjalanan bisnis di sebuah desa untuk pembuatan tempat wisata alam.


Dia sempat melihat beberapa orang sedang membakar daun untuk menimbulkan asap.


"Apa yang mereka lakukan?" tanya Tuan Kim pada rekan kerjanya.


"Mereka sedang membuat asap untuk mengusir lebah," ujar teman rekan kerja.


Pada saat itu, Tuan Kim benar-benar tidak perduli dan langsung pergi dari tempat itu.


Comeback...


Dan kini Tuan Kim teringat.


"Ah, Ya. Asap!? Aku harus membuat Asap," ujar Tuan Kim senang karena akhirnya dia menemukan cara.


Karena tidak ada korek, akhirnya Tuan Kim menggunakan metode kuno untuk membuat api. Yaitu dengan cara mengunakan batu yang di hantam satu sama lain.


Tak...Tak...Tak..Tak..Tak..Tak...


beberapa kali Tuan Kim membuat percikan api dari batu dan akhirnya, asap pun mulai timbul.


Setelah asap mulai tebal. Tuan Kim melancarkan aksinya untuk mengusir lebah dan mengambil madunya.


Tuan Kim dengan susah dan payah memanjat pohon yang sangat tinggi itu. Sampai di pucuk, Tuan Kim sangat terkejut karena dirinya benar-benar berada di ketinggian 20 METER.

__ADS_1


"HUUUUUAAAAAAA... Ini tinggi sekaliiiiii.! Fang! jika kamu tidak berterima kasih padaku, maka kamu harus membayar mahal untuk satu tetes madu ini," ujar Tuan Kim mengomel sendiri.


Singkat cerita, Tuan Kim pun akhirnya pulang dengan membawa begitu banyak bentolan di wajah dan juga beberapa dibagian tubuh lainnya. Benar-benar perjuangan yang sangat keren demi membahagiakan musuh.


__ADS_2