
Pagi itu, Arata merasakan efek proses trimester pertama masa kehamilan. Dia merasa jika dirinya lebih suka tidur dan enggan untuk bangun.
Arata yang biasanya disiplin dan mengutamakan penampilan. Kini dia merasa sangat berbeda 180° dari sebelumnya.
Dia merasa malas walau hanya untuk sekedar menggunakan bedak apalagi berdandan full. Intinya malas untuk berdandan.
Tok..
Tok..
Tok..
"Sayang, apakah kamu masih tidur, nak!?" tanya Nyonya Shian dari luar kamar.
Arata dengan malas membuka pintu.
"Mamah, Arata masih mengantuk. Arata masih malas untuk keluar kamar," ucap Arata.
"Aaa.. ini tidak seperti kamu. Tapi mama tahu jika ini adalah efek kehamilan mu. Tidak papa, kamu tidak usah bangun. Lanjutkan saja tidurmu dan nanti mama akan membawa sarapan untukmu," ucap Nyonya Shian memanjangkan anaknya.
"Terima kasih banyak, mah."
"Oya, bangunkan Arya. Dia harus segera berangkat ke kantor bersama dengan kakek dan papahnya."
"Arya?" Arata mengurutkan keningnya. Arata baru sadar jika Arya tidak pulang semalam.
"Ah, dia sudah berangkat ke kantor mah. Pagi sekali, semua orang belum bangun," lanjutnya mencari alasan.
"Hem, ketika akan menjadi seorang Ayah sepertinya mengubah kelemotannya. Baguslah jika begitu," ujar Nyonya Shian.
"Ya sudah, Arata lanjutkan tidur ya, mah?" ujar Arata.
"Baik sayang, tidurlah yang nyenyak."
Nyonya Shian berjalan ke arah dapur dan berniat untuk membuatkan makanan untuk anaknya. Meski ada pelayan dan koki, tetapi Nyonya Shian ingin melakukan sendiri untuk anaknya. Setelah pulang dari pulau, kini Nyonya Shian tidak gengsi lagi untuk berada di dapur
"Nyonya, biarkan kami saja," ucap salah satu koki.
"Tidak! Ini untukku. Hem, aku sudah lama sekali tidak menyiapkannya makan seperti ini untuk putriku," ujar Nyonya Shian sambil mengenang masa lama.
Nyonya Yuan pun tidak lama datang.
"Di mana Arata?" tanya Nyonya Yuan.
"Dia sedang istirahat. Efek kehamilannya, dia jadi sedikit pemalas. Padahal dia adalah gadis yang mandiri dan disiplin," jawab Nyonya Shian.
"Aaahh.. dia sama seperti aku ketika mengandung Arya. Meski aku adalah wanita energik, tapi ketika hamilnya Arya aku lebih suka menghabiskan waktu di ranjang," sahut Nyonya Yuan.
Mendengar itu Nyonya Shian sedikit memikirkan sesuatu.
"Apa!? Hem, ini tidak bisa di biarkan. Arata tidak boleh terus-terusan seperti ini, jika tidak, bagaimana jika anaknya akan menjadi seperti bapaknya. Lemot dan lemah!" gumam Nyonya Shian.
Mendengar anaknya di hina, Nyonya Yuan pun langsung panas.
"Apa kamu bilang! Anakku lemah dan lemot! Dia sudah berhasil membuat perut anakmu melendung dan kamu masih bisa berkata jika anakku lemah!?" sahut Nyonya Yuan marah.
"Hem, kenapa kamu jadi sewot seperti itu. Aku hanya berkata fakta. Tapi saat ini aku menarik kata-kata ku karena, setelah dia menjadi calon Ayah. Arya jadi semakin getol bekerja. Apakah kamu tahu, ketika kita semua belum bangun, dia sudah berangkat bekerja," ucap Nyonya Shian.
"Benarkah? Arya sudah berangkat bekerja? Ya tuhan, kasihan sekali anakku. Dia bahkan belum memakan apapun. Ini pasti wanita siluman itu yang telah menyuruh anakku untuk bekerja sangat keras!" ujar Nyonya Yuan.
__ADS_1
"Apa kamu bilang! Kamu mengatakan putriku yang cantik dengan sebutan wanita siluman. Hay! Yang wanita siluman itu adalah kamu, dasar nenek peyot!" teriak Nyonya Shian yang tidak terima.
Ketika ibu-ibu sudah mulai memanas, kakek dan para suami datang.
"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut!? Apakah kalian ingin kami asing kan lagi!?" ucap kakeknya Arya.
Semua orang langsung menundukkan kepala mereka di depan kakek. Tuan Fang dan Tuan Kim memberi kode kepada isteri-isterinya untuk diam dan jangan membantah. Di belakang kakek, Tuan Fang dan Tuan Kim sudah mati kutu.
"Maafkan kami, Ayah?" ucap Nyonya Yuan dan Nyonya Shian tertunduk.
"Kalian pulanglah ke kediaman kalian. Aku tidak ingin cucuku terganggu dengan keributan yang kalian buat!" perintah kakeknya Arata.
"Tapi, Ayah! Aku ingin menemani putriku?" ucap Nyonya Shian.
"Tidak!" tolak kakeknya Arata dengan tegas..
Nyonya Shian pun hanya bisa menghela nafas berat.
"Baiklah, Ayah!" sahut Nyonya Shian dan langsung pergi dari sana.
Dua pasangan suami istri itu akhirnya memasuki mobil mereka masing-masing untuk meninggalkan kediaman Arata dan Arya.
Meski berat, tetapi karena sebuah perintah sudah turun, akhirnya mereka pun pergi dengan berat hati.
Kakek yang melihat anak-anak sudah pada pergi, langsung berkata kepada pelayan.
"Jaga baik-baik cucu saya. Perhatikan semua apa dia makan. Jangan biarkan dia kelelahan. Kasih vitamin tepat waktu. Apakah kalian mengerti!?" tanya Kakeknya Arata dengan tegas.
"Siap!" sahut 20 pelayan yang berjejer dengan rapi.
Kedua kakek itu pun mengangguk dan merasa puas dengan antusias 20 pelayan yang sangat energik.
...
Selang beberapa menit, seorang pelayan yang datang sambil membawa nampan berisi sarapan mencoba mengetuk pintu kamar Arya.
Tok..
Tok..
Tok..
"Nyonya, sarapan telah siap!" ujar seorang pelayan wanita itu.
"Bawa masuk dan letakan di meja!" sahut Arata.
Pelayan pun dengan ragu-ragu masuk ke dalam dan meletakan sarapan di meja sesuai perintah.
"Di mana, mamah?" tanya Arata dengan mata yang masih tertutup.
"Nyonya Shian dan semua orang telah pergi, Nya," jawab Pelayan.
"Apa!? Mamah dan papah sudah pergi!? Terus kakek?" tanya Arata.
"Kakek juga telah pergi. Mereka tidak mau menganggu istirahat Nyonya Arata. Sehingga kakek meminta semua untuk kembali," jawab pelayan.
"Hem, baiklah. Kamu boleh keluar!"
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Arata langsung terbangun dan berjalan bolak-balik sambil memikirkan sesuatu.
"Di mana Arya? Apakah dia benar-benar sedang mencari pria bapak dari anak Yang sedang aku kandung!? Ah, kenapa dia begitu sangat menyebalkan sih? Hem, tetapi kenapa dia bisa semarah itu ya? Apakah dia... Cemburu?" Arata mencoba menebak-nebak.
"Tidak! Dia tidak mungkin menyukai ku. Aku sangat yakin dia melakukan ini karena tidak ingin anak ini mendapatkan warisan. Sebab anak ini bukanlah darah dagingnya. Itu pasti yang sedang Arya pikiran!" gumam Arata lagi.
"Jika anak lahir, maka 50% saham akan di jatuhkan untuk anak ini. Itu sebabnya dia tidak ingin itu terjadi, dia pasti berfikir jika ayah anak akan ini datang ketika anak ini lahir dan merebut hartanya. Hahaha, ini sangat lucu sekali. Mengapa aku bisa menikah dengan pria kolot itu, bahkan kini aku sedang mengandung anaknya," gumam Arata kembali.
Dia merasa lucu tetapi juga merasa sedih. Entahlah, mungkin karena situasi dan juga hormon ibu hamil.
Arata memutuskan untuk mengeksekusi makanan yang terlihat sangat lezat di depan mata. Sudah berhari-hari Arata tidak merasakan makanan mewah dan juga lezat seperti ini.
Tetapi ketika dia memasukannya ke dalam mulut, Arata langsung memuntahkan makanan itu.
"Ah, ada apa ini? Mengapa mulutku tidak bisa memakan ini? Padahal bubur ayam ini adalah makanan kesukaan aku. Hem, aku hanya ingin makan ubi jalar," gumam Arata merasa aneh. Tetapi karena dia ingin, jadi dia sudah meminta pelayan untuk membuatkannya ubi jalar rebus.
.....
Di sisi lain, Arya terlihat sangat arogan dengan setelan jas mahal sambil menatap wanita yang pernah tidur di dalam kamar bersama dirinya waktu itu. Di restoran mewah itu, Arya benar-benar menjadi pusat perhatian wanita malam itu
Arya pun menatap wanita itu seperti dia ingin segera menelanjangi wanita itu.
"Ada apa memanggil ku kembali? Apakah kamu ingin melakukannya kembali?" tanya wanita itu sambil mengedipkan matanya.
"Ckck..!" Arya berdecak jijik.
"Kita pesan kamar sekarang!" ucap Arya tanpa basa-basi. Bukan tanpa alasan, Arya hanya ingin segera melihat apakah wanita yang ada di depannya itu memiliki tanda lahir seperti yang selalu ada di bayang-bayangnya.
"Tuan, anda sangat terburu-buru. Mengapa kita tidak makan dulu dan menghabiskan satu botol bir?" ujar wanita mencoba untuk menggoda. Yah, memang itu adalah pekerjaanya.
"Tidak! Aku hanya ingin memastikan sesuatu!" tukas Arya tegas.
Uhuk...uhuk..uhuk.. wanita terbatuk-batuk mendengar ucapan Arya.
`Apa? Memastikan sesuatu. Gawat, malam itu dia tidak bercinta denganku. Ah, ini pasti ada yang tidak beres!` batin wanita itu.
"Aaahkk!" Wanita itu dengan sengaja menjatuhkan air ke bajunya.
"Oh ...maaf, Tuan. Saya permisi ke kamar mandi dulu. Maaf!" ucap wanita itu dengan buru-buru berlari ke kamar kecil.
Setelah masuk ke kamar mandi, wanita itu langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Arata yang sedang menikmati ubi jalar yang masih panas dengan nikmat pun berdecak kesal dengan suara ponsel yang mengganggunya.
"Ih! Siapa sih sepagi ini telfon-telfon! Menganggu saja!" umpat Arata kesal.
"Hallo!?" jawab Arata.
"Hallo, ini aku. Wanita malam yang kamu hubungi waktu itu."
"Kamu! Ada apa? Apakah kamu menghubungiku hanya ingin meminta uang? Apakah waktu itu kurang!?"
"Yah, aku akan meminta uang setelah aku memberi tahu berita penting ini kepada mu. Tapi ini terserah padamu, apakah kamu ingin dengar atau tidak?"
"Katakanlah, tidak usah buang-buang waktu ku!"
"Tuan yang tidur denganmu menghubungi ku dan meminta ku untuk tidur dengan dia sekarang. Dia bilang ingin memastikan sesuatu!" jelas wanita itu.
"Apa!" Mendengar hal itu jelas langsung membuat Arata terkejut dan juga panik.
__ADS_1