
Perjalanan panjang akhirnya membuahkan hasil. Dari sisi sebrang jembatan gantung, kepala suku dan para rakyatnya yang ikut mengantar Arata dan Arya menyampaikan salam perpisahan kepada Arata dan Arya.
Kepala suku berpamitan dan meminta maaf karena mereka tidak bisa ikut bersama Arata dan Arya untuk menemui biksu Tong.
Tidak tahu apa alasannya, tetapi Arata dan Arya tidak ingin memaksa Kepala suku untuk ikut bersama mereka.
"Kami hanya bisa mengantar kalian sampai di sini. Di sebrang sana adalah kawasan biksu Tong, jadi tugas kami telah selesai. Semoga kalian segera di beri momongan dan bahagia bersama. Kalian telah di ciptakan untuk bersatu dan bersama. Saling menjaga dan saling lah percaya satu sama lain. Ini nasehat dari saya," tutur kepala Suku.
Arata dan Arya hanya bisa tersenyum canggung mendengar hal itu. Jika kepala suku tahu bagaimana mereka sebenarnya adalah musuh bebuyutan, pastilah kata-kata manis itu tidak akan dia ucapakan. Pikir Arata dan Arya.
"Sebelumnya terima kasih banyak karena kalian sudah sudi menolong dan membantu kami. Sungguh kami telah berhutang banyak kepada kalian. Kami akan membalas budi di lain waktu. Datanglah kepada kami jika kalian memerlukan pertolongan atau semacamnya, kami akan senang hati membantu kalian," ujar Arya.
"Benar, terutama saya. Saya benar-benar berhutang nyawa kepada kalian. Kami akan mengirimkan sedikit rezeki ketika kami kembali ke kota," tambah Arata.
Kepala suku tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, kami tidak dapat menerimanya. Inilah kami, kami hidup menyatu dengan alam. Jika begitu, kami permisi dulu. Selamat tinggal," ujar kepala suku dengan ramah dan bergegas pergi dari tempat itu.
Arata dan Arya masih terdiam sampai akhirnya kepala suku dan para kawannya masuk ke dalam hutan lagi. Setelah bayangan suku itu telah benar-benar pergi, barulah Arata dan Arya bergegas untuk menyebrangi sungai.
"Apakah kamu siap?" tanya Arya.
"Kenapa tidak! Kita sudah sampai sini dengan susah dan payah," sahut Arata menatap kagum dengan bangunan indah di atas gunung.
Sambil berjalan, Arya terus menatap Arata yang terlihat sangat berbeda. Biasanya Arata adalah wanita yang anggun, rapi dan bersih. Tapi lihatlah keadaanya sekarang. Dia benar-benar tidak berbeda dengan gelandangan.
Di tambah sikap Arata yang sangat antusias untuk memiliki bayi darinya. Arya benar-benar tidak dapat memikirkan bagaimana caranya dan bagaimana cara memulainya.
....
Mereka akhirnya berhasil menyebrangi jembatan yang sangat tinggi dengan selamat. Kini mereka menaiki anak tangga yang jumlahnya ada ratusan untuk sampai ke atas gunung.
Ketika mereka bersiap untuk menaiki anak tangga, kaki Arata tidak sengaja terpeleset dan berakhir lukanya kembali terluka.
Arata meringis ngilu merasa luka sebelumya yang sudah membaik kini kembali terluka.
"Auh! Sheeettt... Ah, ini sakit sekali," ringis Arata kesakitan.
"Kanguru! Kamu tidak papa!?" tanya Arya yang terkejut melihat Arata terpeleset, karena Arya berada di depan, jadi dia tidak tahu apa yang terjadi.
"Aku terpeleset, ini sakit sekali Arya. Aku tidak bisa ikut naik ke atas untuk saat ini," ujar Arata sambil meringis.
Arya yang merasa kasihan akhirnya menyiapkan pundaknya untuk kembali menggendong Arata.
__ADS_1
Arata yang melihat Arya menyiapkan pundaknya langsung terkejut.
"Arya, apa yang mau lakukan?" tanya Arata.
"Naiklah, aku akan menggendong mu sampai ke atas," jelas Arya.
"Apa!? Arya, apakah kamu tidak lihat! Anak tangga ini sangat banyak, kamu pasti tidak akan sanggup untuk menggendong aku sampai ke atas!" ujar Arata.
"Kita akan berhenti sejenak jika aku merasa lelah," jawab Arya santai tapi tatapannya cukup untuk meyakinkan Arata.
Arata pun terdiam sejenak sampai akhirnya dia memutuskan untuk naik ke pundak Arya.
Sebenarnya Arata merasa tidak tega, karena kemarin Arya sudah menggendongnya cukup lama, dan kini dia harus menggendongnya lagi untuk menaiki anak tangga yang jumlahnya sudah bikin kaki kita lemas.
Satu ... Dua ... Tiga ... Empat ... Lima ...! Arya terus menghitung anak tangga untuk memastikan jika dirinya telah sanggup melangkah berapa tangga sebelum akhirnya dia berhenti di angka 50 untuk beristirahat.
"Huuuuuuffffttt!" Arya menurunkan Arata dan membuang nafas kasar.
"Haaaaaaaah... Huft...!" Arya ngos-ngosan.
"Tadi itu gila bukan, aku menaiki 50 anak tangga dalam satu kali nafas!" ujar Arya memuji dirinya sendiri.
"Bukankah kamu bernafas setiap kali kaki melangkah!? Jika kamu hanya satu kali bernafas, pastilah kamu sudah mati dari tadi," ujar Arata berniat meledek Arya.
Arata pun tersenyum dan kembali naik ke pundak Arya. Sebenarnya Arata sengaja berkata seperti itu hanya untuk melepaskan kecanggungan di antara mereka. Hidup mereka selalu berdebat kapan dan di mana saja. Maka akan aneh jika Arata bersikap manis dalam keadaan otak masih sadar.
Tenaga Arya benar-benar terkuras habis setelah akhirnya 100 anak tangga dia lalui.
Arya sampai tersungkur karena rasa lelah yang dia rasakan.
"Waow....!" Arata terbelalak melihat sebuah kuil yang tersembunyi di atas gunung.
"Aku tidak percaya ini," lanjutnya dengan mata yang berkaca-kaca karena senang.
"Ini adalah kuil di atas awan. Aku tidak tahu jika ada tempat seindah ini di gunung yang menyeramkan seperti ini," ujar Arya yang juga mulai bangkit dari duduknya. Rasa lelah seketika hilang.
Mereka masih berada di luar gerbang. Arata dan Arya sama-sama tersenyum dan mencoba untuk membuka gerbang bersama secara perlahan.
Setelah gerbang kecil itu di buka, betapa terkejutnya Arata dan Arya setelah melihat apa yang ada di depan mata mereka.
Ternyata mereka telah masuk dari pintu belakang kuil. Nyatanya, di depan mereka ada sebuah pintu utama yang mana tempat itu telah di bangun untuk para wisatawan yang akan ingin mendatangi/mengunjungi kuil tersebut.
Arata dan Arya benar-benar tidak bisa habis pikir.
__ADS_1
Mereka ternyata bisa dengan mudah mendatangi kuil dari dari sisi timur. Dari sisi timur, ternyata gunung itu sudah di bangun untuk mempermudah masyarakat untuk mengunjungi kuil tersebut.
Ingin sekali Arata dan Arya berteriak menggila. Mereka hampir saja mati karena telah melewati gunung yang sangat mengerikan.
Tubuh Arata dan Arya langsung terkulai lemas setelah mereka sadar jika mereka telah di tipu oleh kakek mereka supaya lewat dari Utara untuk sampai ke kuil biksu Tong.
"HAAAAAAAAAA........!" teriak Arata dan Arya frustasi.
Semua orang menatap aneh ke arah Arata dan Arya yang terlihat sangat kotor dan berantakan. Namun orang-orang hanya menatap sekilas lalu menikmati pariwasata yang sedang mereka lakukan kembali.
Teriakan Arata dan Arya memancing para biksu untuk menghampiri mereka.
Arata dan Arya saling menatap dan tersenyum kecut. Lalu Arata memasang mata elang untuk mengintimidasi Arya.
"Semua ini adalah ulah kakekmu, tuan Arya yang terhormat! Jika aku mati, maka kakekmu harus membusuk di penjara!" teriak Arata kesal.
Arya tersenyum sinis, lalu tangannya mentoyol kepala Arata.
"Apa kamu bilang!? Cih, apa kamu tidak waras!? Jelas-jelas ini pasti adalah ide dari kakekmu yang kejam itu! Kakek aku adalah manusia yang sangat lembut, tidak seperti kakek kamu yang jahat dan kejam itu. Bahkan sifat kejamnya pun menurun pada cucunya!" tukas Arya menyindir Arata.
Mendengar itu hati Arata pun langsung terbakar dan membuat jiwanya ingin segera melenyapkan suami yang ada di depannya itu.
"Kamu ....!" Arata menatap tajam ke arah Arya.
Entah siapa yang memulai, akhirnya Arata dan Arya pun saling bergulat dan jambak-jambakan.
Aksi mereka telah membuat para pengunjung merasa terhibur. Tidak sedikit dari mereka yang merekam kejadian tersebut. Bukannya memisahkan, mereka malah saling mendukung supaya jagoan mereka menang.
Beruntung beberapa biksu segera datang dan memisahkan Arata dan Arya.
"Lepaskan aku! Biarkan aku membunuh pria brengsek itu!" tukas Arata.
"Dasar wanita silumaaan! Sini kamu jika berani!" sahut Arya emosi.
Kedua tangan mereka sama-sama di pegang oleh para biksu membuat Arata dan Arya tidak bisa melanjutkan pergulatan mereka.
Sampai akhirnya mereka terdiam karena terkejut. Kakek Arata dan Kakek Arya juga berada di sana dan melihat semua tindakan mereka.
"Kakek...!?" ucap Arata dan Arya terkejut.
Kedua kakek itu hanya melihat dan kemudian pergi meninggalkan cucu-cucu mereka.
Arata dan Arya pun mendelik ketika melihat kakek mereka memilih untuk pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
__ADS_1