
"LARIII......!" teriak Arya yang terus menggandeng tangan Arata untuk menghindari kejaran dari serigala yang terlihat beringas mengejar mereka.
Di malam hari dengan suasana terang bulan, membuat jarak pandang mereka sedikit membaik untuk melihat sekitarnya.
"Arya. Di sana!" ucap Arata menunjuk sebuah rumah pohon yang cukup tinggi.
Tanpa membuang waktu sedetik pun akhirnya mereka dengan tergesa-gesa naik ke atas. Tepat ketika serigala akan ikut naik ke atas, mereka langsung menjatuhkan tangga yang menjadi alat untuk sampai ke atas rumah pohon.
AAAUUUUUWWNG.....
AAAAUUUWWWNG...
para serigala meraung-raung di sekitar pohon di mana Arata dan Arya menyelamatkan diri mereka.
"Hiks...hiks... Arya, aku takut sekali!" ujar Arata meringkuk ketakutan di pelukan Arya.
"Tenanglah, kita aman di sini. Jangan takut, mereka tidak akan bisa naik ke sini," ucap Arya mencoba untuk menenangkan Arata.
"Bagaimana... Bagaimana jika mereka bisa naik ke atas sini?" Arata benar-benar merasa sangat takut.
"Itu tidak akan terjadi," sahut Arya yang semakin mempererat pelukannya kepada Arata. Jujur, sebenarnya Arya juga sangat takut pada saat ini. Tapi dia harus terlihat kuat demi sang isteri.
Ketika melihat para serigala akhirnya pada pergi, Arata dan Arya pun bernafas dengan lega.
Mereka memutuskan untuk bermalam di rumah pohon itu karena takut jika para serigala akan datang lagi.
Terlihat Arya mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. Arya melepaskan pelukannya kepada Arata dan menatap rembulan yang sangat indah dan terang.
Arata hanya dian melihat Arya yang mulai merebahkan tubuhnya dan menatap rembulan.
"Sini..." ucap Arya mengajak Arata untuk rebahan bersamanya.
"Apa?" Arata sedikit gugup.
"Kita istirahat di sini sampai besok pagi. Jarang-jarang kita dapat melihat bulan seperti ini. Sangat indah dan nyaman," ucap Arya tersenyum ke arah bulan.
Arata tertunduk seperti merasa sangat bersalah.
"Ada apa?" tanya Arya yang melihat wajah Arata yang di tekuk.
"Maafkan aku," ucap Arata.
Arya mengerti dan langsung tersenyum.
"Tidak papa, aku tahu kamu tidak sepintar itu dalam mengingat apapun. Salah aku juga yang mengikuti perkataan mu," ucap Arya terdengar lembut namun mampu membuat suasana dingin langsung memanas.
Arya pikir Arata akan meledak dan marah-marah kepadanya. Tapi nyatanya, Arata malah semakin menundukkan kepalanya membuat Arya heran.
"Ada apa? Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Tadi ... tadi hanya gurauan saja," lanjutnya Arya menjelaskan.
Arata menggeleng kepalanya dan menetaskan air mata. Dia masih terdiam dan membisu membuat Arya semakin di buat merasa bersalah.
Arya bangkit dari rebahannya dan langsung duduk dan memegang tangan Arata.
"Hey, kamu menangis? Maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud untuk..."
"Tidak Arya, ini salah aku. Hiks..hiks...!" ucap Arata yang semakin deras menangis.
__ADS_1
Arya merasa tidak tahu harus bagaimana akhirnya memutuskan untuk memeluk sang isteri. Meski ragu-ragu, tapi akhirnya Arya memeluk tubuh Arata yang terasa lemas.
"Sudahlah, yang terpenting kita selamat. Kamu tidak perlu merasa bersalah sampai seperti ini. Tidak ada yang menduga jika hal seperti akan terjadi. Hm, lebih baik kamu istirahat supaya kita besok bisa melanjutkan perjalanan kita. Kita menyasar jauh sekali dari kediaman biksu Tong. Kita seharusnya terus ke Utara, tetapi kita malah ke barat. Tapi syukur, kepala suku mengatakan jika mereka akan menemani kita sampai ke kediaman Biksu Tong," jelas Arya.
Mendengar jika mereka tersesat sangat jauh membuat Arata semakin dalam menangis.
"Hiks..hiks.. maafkan aku Arya, sungguh maafkan aku. Sebenarnya, alasan aku memilih jalan pintas bukan karena untuk sampai ke kediaman biksu Tong. Tapi, sebenarnya nenek biksu mengatakan jika ke arah barat ada sebuah tanaman yang bisa menyuburkan kita supaya bisa segera memiliki anak. Maafkan aku Arya, maafkan aku," jelas Arata dengan suara yang bergetar karena merasa sangat malu dan bersalah secara bersamaan.
Arya sedikit tercengang mendengar pengakuan Arata. "Jadi. Jadi dia sedalam itu menginginkan seorang anak dariku?" batin Arya bertanya-tanya.
Rasa tidak percaya menyelimuti hati Arya, tapi entah mengapa dia merasa sangat senang mendengar pengakuan dari musuh yang kini menjadi isterinya.
Arya mencoba untuk mengangkat wajah Arata dan menatap matanya. Terlihat wajah Arata yang memerah karena malu. Tapi Arya sangat menyukai sikap Arata yang malu-malu seperti ini.
"Kamu tahu, kita pasti akan memiliki anak dan bahagia bersama," ucap Arya begitu saja keluar dari mulutnya.
Suasana terang bulan benar-benar sangat syahdu dengan angin yang sepoi-sepoi.
Arata menatap tidak percaya jika Arya akan berkata begitu.
Jantng kedua insan berdegup kencang. Arata hanya bisa mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Arya yang baru sadar dengan apa yang barusan dia ucapan pun langsung melepaskan genggaman tangannya kepada Arata.
Seketika, suasana syahdu berubah menjadi canggung.
Beberapa tahun bermusuhan dan bertengkar hebat dan mereka saling berkata manis, tentu hal seperti itu tidak pernah terlintas dalam benak mereka.
Mereka saling melirik dan membuang muka ketika mata mereka saling bertemu.
"Ah, tidak papa Arya. Saya juga melakukan semua ini demi kakek. Kakek menginginkan cicit dari kita," sahut Arata yang tidak kalah canggung tapi dia memaksakan untuk tersenyum.
Arya pun mengangguk mengerti dan membalas senyum Arata.
Malam semakin dingin di rasa Arata. Dia mengusap lengannya untuk menghangatkan tubuhnya sendiri, tapi sepertinya itu kurang efektif. Kini, tubuhnya semakin merasakan dingin membuatnya menggigil.
Arya melihat itu dan merasa jika dirinya harus melakukan sesuatu. Entah keberanian dari mana, secara sadar Arya langsung menarik tangan Arata untuk jatuh ke dalam pelukannya.
Hap...!
Arata pun terpaku sejenak merasakan jantungnya ingin meledak dalam pelukan Arya.
Arya tersenyum lalu berkata, "Malam ini sangat dingin. Tidurlah, kita akan merasa hangat dengan seperti ini. Jangan berfikir yang macam-macam, aku melakukan ini hanya karena...-"
"Terima kasih," sahut Arata memotong ucapan Arya.
Arya melihat Arata yang memejamkan matanya. Dia hanya tersenyum tipis dan
Ikut memejamkan matanya.
Hari yang sangat berat dan melelahkan untuk mereka. Mereka pun akhirnya dapat tertidur dengan nyenyak di bawah cahaya rembulan dan bintang-bintang.
....
Sampai akhirnya pagi pun menjelang. Suara teriakan para suku membangunkan Arata dan Arya yang sedang tertidur dengan posisi saling berpelukan.
Arya dan Arata yang baru sadar pun langsung bergegas untuk segera bangun. Terlihat jika Arata dan Arya sama-sama canggung dengan keadaan mereka saat ini. Arata dan Arya bahkan tidak saling melirik satu sama lain. Kecanggungan benar-benar sedang menyelimuti diri mereka.
__ADS_1
Mereka pun langsung berteriak ke bawah untuk menyahuti para suku yang sedang mencari keberadaan mereka.
Para suku yang melihat Arata dan Arya berada di atas rumah pohon yang mereka buat pun langsung memasang tangga supaya Arata dan Arya bisa lekas turun.
Di saat Arata dan Arya sudah di bawah, mereka akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.
Dari Arata yang ingin buang air besar, pergi ke kali dan akhirnya bertemu dengan segerombolan para serigala kelaparan.
"Begitulah kisahnya Paman, Bibik. Kami terjebak di atas semalam karena takut jika kami turun, para serigala itu akan mengejar kami lagi," jelas Arata yang mendapatkan anggukan dari Arya.
Kepala suku terlihat merasa bersalah.
"Maafkan kami yang tidak dapat menjaga tamu dengan baik," ucap kepala suku.
"Oh, hohoho.. Anda tidak perlu merasa bersalah Paman. Ini juga salah kami yang tidak memberi tahu kalian jika kami ingin keluar. Em, yang lebih penting sekarang kami baik-baik saja, tidak ada yang perlu di cemaskan," ucap Arata yang lagi-lagi mendapatkan anggukan dari Arya.
Akhirnya, untuk menyingkat waktu mereka pun bergegas untuk pergi gunung bagian Utara di mana biksu Tong berada.
Di perjalanan, Arya terus memperhatikan Arata yang berjalan sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Arya diam-diam tersenyum karena dia tahu apa maksud dari pergerakan Arata.
"Dia masih berusaha untuk mencari obat itu? Apakah dia benar-benar sungguh ingin memiliki anak dariku? Apakah, ...?" Arya terpaku dengan pikirannya sendiri. Dia terus tersenyum merasakan jantungnya berdebar-debar karena sikap manis dari Arata yang sedang berusaha untuk mencari keberadaan tanaman herbal penyubur kandungan.
**********
Di sebuah pulau pribadi yang sangat jauh dari tempat ramai. Dua pasang suami isteri sedang dalam masa tidak baik-baik saja.
Tuan Fang dan Nyonya Yuan dengan susah dan payah mencoba menanam bibit unggul yang mereka dapatkan.
Begitu pun dengan Tuan Kim dan Nyonya Shian. Mereka dengan tegar mencoba menanam bibit unggul yang mereka dapatkan.
Mereka sangat berusaha keras meski mereka tidak memiliki keahlian untuk itu. Bertani, mungkin mereka akan memilih menjadi tukang derektur utama jika ada pilihannya. Tapi itu tidak akan terjadi untuk saat ini. Mereka mau tidak mau harus bertani dan menghasilkan makanan mereka sendiri dalam waktu kurang dari 3 bulan. Karena makanan yang di sediakan tidak banyak, mereka pun harus irit setiap harinya supaya setok makanan yang tersedia cukup sampai mereka panen.
"Oei...Oei... Lihatlah mereka. Suami, apakah kamu yakin jika tanaman mereka akan berhasil. Lihatlah cara mereka menanam. Hahaha, mereka mau menanam bibit atau mau mengubur mayat mereka!" sindir Nyonya Yuan mencoba mengejek Tuan Kim dan Nyonya Shian.
"Hohoho... Istriku, jangan kamu berkata begitu. Wajah mereka terlihat sangat menyedihkan, jika kamu tambah bensin, saya takutnya mereka akan meledak! Hahahahaa..." Mereka tertawa sangat puas ketika mengejek Tuan Kim dan Nyonya Shian.
Nyonya Shian ingin sekali melayangkan pacul untuk memisahkan kepala dan tubuh Tuan Fang dan Nyonya Yuan. Namun semua niatnya dihalangi oleh Tuan Kim.
"Diamlah, jangan kamu hiraukan ucapan mereka. Ada banyak cara lain untuk membalas mereka," bisik Tuan Kim membuat kening Nyonya Shian mengkerut.
"Apa maksud kamu, Kim!?" tanya Nyonya Shian.
"Sudahlah, sebaiknya kita pulang sekarang. Hari sudah semakin panas. Kita lanjutkan saja besok. Tidak perlu terburu-buru dan jangan takut untuk makan. Aku bisa memancing ikan untuk mu jika sampai tanaman ini tidak tumbuh. Aku lebih khawatir jika kulitmu ini terbakar dan menghitam. Sangat sulit mencari skincare di tempat seperti ini," bisik Tuan Kim mampu membuat wajah Nyonya Shian memerah karena malu dan senang.
"Aaa ... Sayang, kamu romantis sekali. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama seperti ini," tutur Nyonya Shian mengingat masa muda mereka.
Tuan Fang dan Nyonya Yuan yang merasa di acuhkan hanya bisa terdiam ketika musuh mereka memilih pergi. Bahkan Nyonya Yuan sempat kesal ketika Tuan Kim dan Nyonya Shian berjalan romantis bersama.
"Cih, apa-apaan mereka. Apakah mereka bermaksud bersikap romantis di depan kita. Menyebalkan!" ketus Nyonya Yuan nampak tidak suka melihat kebahagiaan orang lain.
"Sayang, kita juga istirahat yuk?" ucap Tuan Fang yang terlihat sangat kelelahan.
"Apa! Jika kita tidak segera menyelesaikan ini bagaimana kita akan segera panen. Cepat selesaikan!" sahut Nyonya Yuan yang tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
Tuan Fang hanya bisa mendengus pasrah ketika melihat kegigihan istrinya yang menolak untuk beristirahat.
****
__ADS_1