
Pagi hari di rumah yang sangat besar, sepasang suami-istri sedang sibuk memantau pelayan mereka untuk mengepak barang-barang yang akan mereka bawa untuk mendaki di Gunung Utara.
"Tuan, semua sudah siap. Apakah masih ada lagi yang harus kami lakukan?" tanya pelayan pria itu.
"Tidak!" Arya menjawab singkat sambil tubuhnya masih rebahan dan menatap langit-langit kamarnya. Sepertinya, Arya memikirkan banyak hal.
"Jika begitu, saya pamit undur diri."
"Hmm ..."
...
Di dalam kamar Arata, pelayan wanita pun dengan sibuk mengepak barang-barang Arata Yang jumlahnya 10 kalilipat dibandingkan dengan barang bawaan Arya.
Arya hanya akan membawa dua koper tetapi kita di perlihatkan jika Arata hampir mengosongkan seisi lemari yang ada di kamarnya.
Para pelayan hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan tanpa berani membantah.
"Aku ingin gaun ini dibawa, ini juga dibawa dan ini juga dibawa. Hmm, ini gaun yang sama kaya yang tadi tetapi beda warna, dibawa juga tidak ya? Bawa saja, siapa tahu akan lebih cocok pakai warna ini dari pada yang tadi!" ucap Arata yang sibuk menggobrak seisi lemarinya.
"Selimut tebal bawa! Koas kaki dua kotak bawa (satu kotak lemari isi 20pasang), bawa 10 handuk, bawa 10 sepatu untuk mendaki, ini bawa, ini bawa, ini bawa, ini bawa .....!" Arata terus mengeluarkan semua yang ada di lemarinya sampai hanya tertinggal gaun pesta saja. Karena Arata berfikir jika di gunung tidak mungkin ada pesta. "Tapi tunggu!" Arata seperti mengingat sesuatu. "Aku akan bawa dua gaun pesta, siapa tahu di gunung ada pesta orang pedalaman. Ah, itu pasti seru sekali!" ujarnya dengan antusias.
Para pelayan dengan kerepotan memunguti semua baju yang Arata keluarkan dari lemarinya. Jika Arya hanya butuh satu dua pelayan, tetapi Arata membutuhkan 10 pelayan untuk membantunya.
Nampak Arya berulang kali melihat arloji di tangannya. Sudah dua jam berlalu setelah dia menduduki meja makan.
"Apakah dia berniat mengganti sarapan menjadi makan siang!?" umpat Arya kesal karena telah lama menahan lapar.
Sedangkan Arata di dalam kamarnya, dia masih belum siap dengan semua barang yang dia packing. Bahkan pelayan sampai membongkar beberapa koper karena Arata bingung harus berangkat pakai baju apa dan celana yang mana. Karena semua baju di lamari sudah di packing, jadi pelayan harus membongkarnya untuk menemukan baju yang ingin dipakai oleh Arata saat itu.
Setelah tiga jam membuat Arya menunggu, akhirnya Arata telah siap dengan setelan sweaternya.
Penampilan Arata sangat sederhana tetapi tetap terlihat wah dengan barang branded yang ia gunakan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Selamat pagi, suamiku?" Arata tersenyum manis menyapa Arya.
"Apakah mata istriku ini telah kehilangan fungsinya. Lihatlah jam di arloji kamu, ini sudah menunjukan pukul pagi menjelang siang!" cetus Arya terlihat sangat kesal.
"Ups!" Arata mencoba mengecek jam di tangannya.
__ADS_1
"Ya tuhan, waktu wanita ternyata lebih berguna. Selama 3 jam aku disibukan mengepak barang-barang yang akan aku bawa, sedangkan Anda!? Anda selama 3 jam hanya sibuk duduk manis menunggu kedatanganku. Terima kasih atas waktu Anda yang terbuang sia-sia karena telah menunggu istri Anda yang tercinta ini." Arata merasa sangat bahagia. Entah mengapa, tetapi dia sangat bahagia karena musuhnya rela tidak makan hanya karena menunggu dirinya.
"Sudahlah, ayo kita makan lalu berangkat!" ucap Arya cuek.
Arata pun dengan elegan mengambil posisi duduk dan bersiap untuk makan pagi menjelang siang.
Usai makan, Arya langsung beranjak dari duduknya. Ketika akan keluar, dia sangat terkejut melihat pelayan yang berjejer rapi menuruni anak tangga sambil membawa satu koper super besar ditangan mereka.
"Sayang, lihat apa!?" tanya Arata mengejek Arya yang terbengong-bengong karena melihat barang bawaanya.
"Hay wanita sihir! Kamu mau mendaki atau mau pindahan!?" bisik Arya tidak percaya.
"Ya tentu dua-duanya sayang! Bukankah kita akan berada di gunung dengan waktu yang tidak menentu!? Kita akan di sana sampai aku benar-benar positif hamil. Jika aku tidak hamil-hamil otomatis kita akan lama di sana. Hmm, aku hanya mempersiapkan payung sebelum hujan, sayang!" ucap Arata dengan nada naik turun tetapi masih terkontrol.
"Jika begitu, di saat kita mendaki gunung kamu bawa sendiri koper kamu yang super buanyak itu!" bisik Arya dengan nada cetus.
Arata terdiam lalu berfikir.
'Benar juga kata pria jelek ini. Hmm, bagaimana aku membawanya ke atas gunung? Aaaaahh... Kakek menyebalkan! umpat Arata dalam hati.
"Kamu bawa berapa koper?" bisik Arata bertanya.
Arata terkejut seketika.
"Ya tuhan! Apakah itu cukup?" tanya Arata.
"Cukup tidak cukup!"
Arata menggigit kukunya sambil berfikir, setelah bebrapa saat lalu akhirnya Arata mengambil keputusan besar karena pengaruh dari Arya.
"Hay kaliaaan! Bawa koper masuk lagi ke kamar! Aku tidak jadi bawa baju banyak-banyak. Aku akan seperti suamiku yang hanya membawa ransel di pundaknya!" tukas Arata membuat para pelayan dengan susah payah kembali menaiki tangga sambil membawa koper yang cukup besar.
"Sayang, kasih aku waktu 10 menit lagi ya?" Arata memohon sambil tersenyum.
"Hmm, baiklah!" sahut Arya.
Setelah Arata berlari ke kamarnya, Arya nampak menunggingkan bibirnya tersenyum tipis.
Setelah beberapa menit akhirnya Arata turun sambil membawa ransel besar di pundaknya.
__ADS_1
"Sayang, aku sudah siap! Hm, aku tidak tahu apakah ini cukup atau tidak, tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi!" ucap Arata terlihat sangat menggemaskan di mata Arya.
"Hay! Kamu lihat apa? Cih, iya iya... Aku tahu aku ini cantik, tapi gak perlu melihat aku segitunya kali!" cetus Arata dengan percaya dirinya.
Arya tidak menjawab celotehan Arata. Dia berdiri dari sofa lalu berjalan meninggalkan Arata.
"Tunggu!" teriak Arata tiba-tiba.
Arya pun berhenti.
Arata berlari kecil lalu menatap Arya.
"Tuan Arya yang terhormat, bagaimana bisa Anda selalu seperti ini!?" Arata menatap Arya sangat lekat.
Arya hanya bisa diam mencerna apa yang barusan Arata katakan kepadanya.
Lalu, tiba-tiba Araya berjongkok dan mengikatkan tali sepatu Arya.
Seeer... Jantung Arya langsung bedesir melihat prilaku Arata yang manis.
Dahulu, sebelum mereka menikah, Arata akan selalu menjahili Arya jika tali sepatunya lepas. Arata akan menginjaknya sehingga membuat Arya terjatuh.
'Apakah otaknya sedang bermasalah, batin Arya.
"Terima kasih!" ucap Arya langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Arata ketika dia sudah berdiri.
Arata yang mendapatkan wajah Arya sangat dekat dengan wajahnya hanya bisa terpaku.
A..apa yang dia lakukan!? batin Arata merasakan jantungnya sepertinya ingin copot.
Ketika bibir mereka semili lagi akan bersentuhan, tapi tiba-tiba Arya menarik kuncir rambut Arata sehingga membuat rambut Arata langsung terurai.
"Hay! Apa yang lakukan!?" tanya Arata yang terkejut.
"Sayang, aku lebih menyukai rambutmu yang terurai," jawab Arya sambil mengedipkan matanya lalu merangkul pundak Arata. "Ayo kita berangkat!" lanjutnya sambil tersenyum tampan.
Arata tak tahu harus berkata apa. Dia sangat terombang-ambing oleh perasaannya yang sama sekali tidak menentu.
Arata, dia adalah musuh nyata kamu. So,, jangan tertipu oleh tampang manisnya. Dia pasti hanya ingin menjebak kamu! batin Arata mencoba untuk berhati-hati oleh sikap manis Arya kepada dirinya.
__ADS_1