Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian

Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian
part 26


__ADS_3

Arya menatap ke sekelilingnya. Semua orang sedang menatap dirinya dengan aneh membuat Arya semakin gugup.


"Ada apa, sayang?" tanya Arata mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


"Ah, tidak papa. Lanjutkan saja," jawab Arya tersenyum.


Arata pun akhirnya bernafas lega karena Arya akhirnya memilih untuk menutup mulutnya.


Semua tamu undangan memberikan selamat kepada Arata dan Arya. Ketika mereka tahu jika kini Arata dan Arya adalah pemegang saham terbesar. Banyak dari mereka yang mencoba untuk mendekat dan merayu kedua pasangan itu.


Sampai akhirnya, ada seorang pria berjas mahal tidak sengaja menabrak klien lain yang ada di depannya. Orang yang di depannya itu pun langsung terdorong maju dan tidak sengaja menabrak Arata yang sedang berbicara dengannya.


Sontak Arata pun langsung oleng dan hampir terjatuh.


"Aaahhkk!"


Mata Arata terpejam dan tangan sambil melindungi perutnya. Dia sangat yakin jika saat itu pasti akan terjatuh makannya dia mencoba melindungi perutnya.


Tapi ketika Arata membuka matanya, dia melihat Arya yang sudah menolongnya.


Terlihat mata Arya yang sangat memerah dengan rahang yang mengencang. Arya benar-benar terlihat sangat marah.


Arya langsung menatap orang-orang bersangkutan dengan kecelakaan itu. Orang berjas mahal dan orang di tabraknya pun langsung menunduk minta ampun.


"Tuan, maafkan kami Tuan!? Sungguh kami tidak sengaja," ucap pria berjas mahal itu.


"Tuan, ini salah dia. Dia yang mendorong aku dari belakang!" tukas pria itu membela diri. Pria hampir saja berhasil merayu Arata dan Arya untuk bekerja sama, tapi tidak di sangka hal ini akan terjadi.


Arya mendelik ke semua orang dengan mata yang memerah. Ketika Arya sudah tidak tahan dan ingin segera menghajar orang-orang itu, kakek pun datang.


"Hentikan!" teriak kakek.


"Apa kalian tidak sadar dengan perbuatan kalian!? Jika sedikit saja Arya tidak bertindak, maka kalian telah membahayakan cucu dan calon cicitku!" ujar kakeknya Arata.


Kedua orang itu tidak henti-hentinya meminta maaf dan pengampunan dari Kakek.


"Presdir, mohon ampuni kami. Sungguh ini adalah kesalahan kami. Ampuni kami, Presdir!?" ujar kedua orang itu bersujud di bawah kaki kakeknya Arata.


Melihat jika Arata baik-baik saja, akhirnya kakek pun membebaskan orang-orang itu dan memperingati semua orang.


"Jika ada yang mendekati cucuku dan membahayakan nyawa mereka. Maka aku tidak akan mengampuninya lain kali!" tegas Kakeknya Arata membuat semua orang terdiam dan tertunduk.


Usai mengatakan itu, keluarga besar pun langsung bergegas masuk ke dalam ruang keluarga.


"Sayang, bagaimana keadaanmu, apakah baik-baik saja?" tanya Nyonya Shian.

__ADS_1


"Iya Arata, saya melihat pria itu mendorong kamu sedang sangat kuat. Apakah calon cucu tidak kenapa-kenapa?" tanya Nyonya Yuan.


Mendengar ibunya sangat tulus menghawatirkan bayi yang ada di kandungan Arata, membuat Arya semakin merasa bersalah.


"Mamah, aku tidak papa. Kalian tidak perlu cemas karena aku selalu melindungi perutku," jawab Arata mencoba meyakinkan semuanya.


Arata tersenyum ke arah Arya yang masih memasang wajah acuh tak acuh kepada dirinya.


"Kakek akan meminta dokter untuk memeriksakan kandunganmu," ucap Kakeknya Arya.


"Tidak perlu kakek, aku benar-benar tidak papa. Mungkin Arata hanya perlu istirahat saja," jawab Arata.


"Benar sayang, kamu harus banyak-banyak istirahat. Kamu habis melakukan perjalanan jauh, kamu pasti sangat kelelahan," ucap Nyonya Shian kepada putrinya.


"Arata baik-baik saja, mah. Semua berkat Arya," jawab Arata.


Semua orang pun kini langsung menatap Arya yang hanya duduk diam sedari tadi tanpa berkata apapun.


"Ada apa?" tanya Arya kepada semua orang yang menatapnya dengan tatapan aneh.


"Uuuh... Sayang. Kamu benar-benar anak mama yang sangat bertanggung jawab. Sebagai calon ayah kamu telah dengan sigap menolong Istri dan calon anakmu. Tuhan memberkati mu sayang," ucap Nyonya Yuan dengan gemas. Bahkan dia sampai mencubit pipi anaknya.


"Auh! Mama, Arya sudah besar, jangan lakukan itu!" ujar Arya merasa tidak suka ketika mamanya masih memperlakukannya sebagai anak kecil.


"HAHAHAHA.....!" Semua orang hanya bisa tertawa melihat itu.


.....


Setelah Arata keluar kamar mandi, dia melihat Arya yang berdiri balkon kamar mereka.


Arata tahu apa yang sebenarnya Arya pikirkan. Sebenarnya Arata juga ingin mengakui jika anak yang kandungannya adalah anak milik mereka, tetapi Arata merasa kecewa dengan Arya yang sama sekali tidak mengingat malam panas itu.


Arata pun mencoba mendekati Arya berniat untuk meminta membersihkan diri.


"Arya?" panggil Arata lirih.


Arya yang mendengar suara Arata pun langsung menoleh.


Arya menatap Arata dengan tatapan yang sangat tajam.


Dia perlahan berjalan ke arah Arata membuat Arata juga memundurkan kakinya.


"Arya, ada apa denganmu?" tanya Arata dengan gugup.


Tetapi Arya tidak menjawab dan terus melangkah maju sambil menatap tajam ke arah Arata.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Arata pun terjatuh dan terlentang di ranjang super besar.


"Arya...?"


Tanpa basa-basi, Arya pun langsung menindih Arata dan mengunci pergerakan Arata. Dia mencengkram tangan Arata dengan sangat kuat sampai telapak tangan Arata memutih karena kekurangan pasokan darah.


"Katakan, siapa pria yang telah menghamili mu?. Setelah aku membunuhnya, maka aku tidak akan mengatakan masalah ini kepada orang lain!" ucap Arya dengan penuh penekanan.


`Apa!? Apakah dia bodoh, apakah dia ingin membunuh dirinya sendiri!? Arya, ini adalah anak kamu. Coba kamu ingat-ingat malam itu!?` batin Arata merasa sangat kesal karena Arya masih tidak sadar juga.


"Tidak! Kamu tidak perlu tahu siapa pria itu. Yang jelas, aku hamil ketika kita sudah menikah. Mau tidak mau kamu harus menerima anak ini," tukas Arata.


"Apakah kamu pikir aku bodoh! Menerima bayi yang bukan darah dagingku! Cih, aku tidak akan sudi memiliki anak dari seorang pelacur seperti mu!" hardik Arya menghina Arata.


DEG ...


Hati Arata pun langsung merasa nyeri mendengar apa yang di katakan Arya mengenai dirinya.


"Yah! Aku adalah pelacur! Puas kamu!" teriak Arata.


"Lagi pula, bukankah kita tidak saling mencinta. Kita hanya dua musuh yang di paksa menikah. Supaya harta warisan kita aman, sebaiknya kamu tutup mulutmu. Biarkan aku menjalani hidupku dan aku akan membiarkan kamu menjalani hidupmu. Kita sudah telah berhasil mewarisi perusahaan kita masing-masing. Jadi tidak ada yang di rugikan di antara kita. Kamu jalani perusahaan mu dan aku akan menjalani perusahaan ku!" lanjut Arata.


Mendengar Arata masih tidak mau membuka mulut tentang pria itu membuat jiwa Arya semakin memuncak. Di tambah Arata sama sekali tidak menganggap serius hubungan mereka.


"Jadi, itu maumu!? Kamu mau seperti ini? Baiklah, urus saja urusanmu dan aku akan mengurus diriku sendiri. Tapi semua tidak akan semudah yang kamu pikirkan, tunggu saja pembalasan tentang penghianatan yang telah kamu berikan kepada keluarga ku!" ujar Arya mencoba menahan amarahnya.


Arya pun langsung keluar kamar dan meninggalkan rumah. Entah kemana Arya ingin pergi, yang pasti dia telah meninggalkan Arata yang kini sedang mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.


"Cih, dasar pria bodoh! Bagaimana kamu meluapkan malam itu!? Bagaimana kamu bisa tidak menyadari apa sebenarnya yang terjadi! Dasar pria bodoh!" umpat Arata kesal. Arata sama sekali tidak takut dengan ancaman Arya karena sejatinya Arya-lah Ayah biologis dari anak yang sedang dia kandung.


....


Di sisi lain, ternyata Arya kini berada di dalam apartemennya. Dia melihat kenangan-kenangan itu bersama dengan Arata. Tapi entah mengapa dia tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi dan malah ada wanita asing di ranjangnya.


Meski wanita telah menunjukkan pesan bahwa Arya lah yang telah memboking wanita itu, tetapi entah mengapa Arya merasa masih tidak dapat percaya.


Arya mencoba ingat-ingat malam itu, sekilas ada bayangan bahwa wanita yang sedang bercinta dengannya, dia memiliki tanda lahir di bawah ***********.


Tanpa menunggu lama, Arya pun menelpon seseorang dan memintanya untuk mencari wanita malam yang pernah tidur bersamanya.


"Aku harus memastikan sesuatu?" batin Arya.


"Ah, kenapa aku sama sekali tidak mengingat malam itu? Siapa sebenarnya yang telah bercinta denganku? Arata, tidak mungkin jika itu dia. Lagi pula, dia tidak ada di sana ketika aku bangun. Sheeettt! Seharusnya aku memasang cctv di ruangan ini. AH!" Arya menjatuhkan tubuhnya di sofa dan mengusap wajahnya dengan kasar. Hal ini benar-benar menguras tenaga dan pikirannya.


"Biasanya seorang suami akan bahagia jika mengetahui istrinya hamil. Heh, nasibku memang benar-benar terkutuk karena menikah dengan Wanita siluman itu!" cerocos Arya sambil meneguk sebotol bir hitam.

__ADS_1


.....


Di sisi lain, kita di perlihatkan Shani dan Yhosi telah selesai mendatangani sebuah kertas yang ada di depan mereka dan mereka pun saling membungkukkan badan dengan hormat.


__ADS_2