
Hari hampir menjelang malam akhirnya Arata dan Arya masih belum juga menemukan kediaman biksu Tong.
Arata benar-benar merasakan jika kakinya mulai terinfeksi dan membengkak. Dia terus meringis pelan supaya Arya tidak cemas kepadanya. Arata benar-benar memikirkan lelah yang di rasakan oleh Arya karena sejauh kilometer terus menggendong dirinya yang berbobot 50 kilo dengan tinggi semampai 160cm.
"Arata, bisakah kita berhenti sejenak, aku benar-benar sangat lelah," ujar Arya dengan raut wajah yang sangat memelas.
"Hari sudah akan malam, kita berhenti di mana?" tanya Arata terlihat bingung juga.
"Coba kita cari gua atau pohon besar untuk berlindung," ujar Arya.
"Siput! Coba kamu lihat di sana!" ujar Arata menunjuk sebuah bayangan asap.
"Apakah ada rumah di sana!?" tanya Arya ragu.
"Aku tidak tahu pasti, tapi coba kita lihat dulu!" Arata benar-benar sangat antusias.
Arya pun dengan ragu-ragu menggendong Arata menuju asap itu berasal.
Setelah melalui beberapa semak-semak belukar akhirnya mereka melihat beberapa gubuk. Sepertinya itu milik suku pendalaman setempat. Terlihat dari cara mereka berpakaian dan juga tempat tinggal mereka yang sangat sederhana.
Salah satu seorang anak menatap mereka dengan terpaku. Anak itu terdiam, begitu pun dengan Arata dan Arya yang membalas tatapan tajam anak itu dengan senyum manis mereka.
"Hay..!" sapa Arata.
Tidak lama, beberapa orang pun keluar dari gubuk mereka dan menatap Arata dan Arya dengan tatapan tajam juga.
Arata dan Arya benar-benar di buat kikuk dengan sikap suku pendalaman itu.
Pikiran mereka melayang entah kemana. Arata dan Arya sangat takut jika suku pendalaman itu adalah sekolompok kanibal.
"Hehe.. Hay Bibik... Paman...!" sapa Arya dengan senyum yang di paksakan.
Namun suku pendalaman itu masih berdiri terpaku diam membisu dan menatap tajam ke arah Arata dan Arya.
Arata dan Arya pun saling melirik dan memberi kode.
"Sebaliknya kita pergi saja!" bisik Arata.
"Itu ide bagus!" sahut Arya berbisik.
__ADS_1
Setelah yakin untuk meninggalkan tempat itu, Arata pun memberanikan diri untuk pamitan.
"Emm.. Bibik.. Paman.. Maafkan kami yang sudah menganggu istirahat kalian, kami tadi hanya tidak sengaja lewat sini. Em, jika begitu kami pamit dulu ya.. bye..." Setelah mengatakan itu, Arata pun langsung bersiap untuk naik ke punggung Arya lagi.
Para suku itu masih terdiam tanpa berkata apapun. Arata dan Arya pun hanya pasrah dan berniat untuk pergi. Tapi, baru dua langkah Arya berjalan, suara seorang pria menghentikan kaki Arya.
"Tunggu!" ujar kepala suku yang baru tiba.
Arata dan Arya pun langsung terdiam dan menoleh kembali.
Kepala suku, setelah melihat keadaan Arata, dia langsung memberi kode bahasa syarat kepada rakyatnya untuk membantu Arata.
Tiga wanita berjalan mendekati Arata dan langsung memegang tangan Arata tanpa berkata apapun.
"Tunggu! Saya mau di bawa kemana!? Kalian tidak mungkin mau memutilasi dan memasak saya kan! Kalian tidak mungkin mau memakan saya kan!?" teriak Arata terlihat sangat ketakutan.
Tapi tiga wanita itu hanya bergeming diam membisu. Mereka tetap menuntun Arata untuk di bawa masuk ke gubuk.
"Tunggu..! Apa yang mau kalian lakukan kepada istriku!?" teriak Arya. Terlihat jika dia mencoba untuk berlari dan menolong istrinya.
"Hay... Apakah kalian tidak kenal kami! Seluruh dunia tahu siapa kami. Kalian Jangan coba-coba untuk berbuat tidak baik kepada kami ya!" teriak Arata mencoba untuk memberontak.
Tapi, setelah beberapa detik Arata di masukan kedalam gubuk.
Arya syok hebat melihat kejadian itu. Tubuhnya langsung bergetar hebat membayangkan jika Istrinya telah di kirim ke syurga atau lebih sadisnya telah dibinasakan oleh suku-suku misterius itu.
"Jangan khawatir saudara, kami akan membantu kalian," ujar kepala suku memecahkan keramaian yang ada di otak Arya karena memikirkan nasib istrinya yang malang.
"Apa maksud Anda? Apakah Anda akan membantu kami supaya cepat bertemu dengan nenek moyang kami!?" sentak Arya frustasi.
"Hahahaha....! Mari ikut dengan saya, akan saya tunjukkan," ujar Kepala suku mencoba untuk memberi tahu yang sebenarnya.
Arya yang tidak ada pilihan lain hanya bisa mengikuti pergerakan kepala suku. Arya hanya ingin melihat bagaimana mereka membinasakan istrinya dan berjanji akan kabur dari tempat itu dan membawa bala bantuan untuk membinasakan suku itu seperti bagaimana mereka membinasakan istrinya.
Tapi, betapa syoknya Arya ketika dia melihat istrinya sedang bercengkrama hangat bersama dengan suku wanita-wanita. Ternyata Arata sedang di obati kakinya dan juga diobati tangannya yang terkilir.
"Hay sayang!?" ujar Arata menyapa suaminya yang mengintip dari pintu.
"Kamu tidak papa?" tanya Arya memastikan.
__ADS_1
"Aku tidak papa, mereka hanya ingin menolong kita. Mereka sangat baik," sahut Arata menjelaskan.
"Syukurlah jika begitu," ucap Arya tersenyum lega.
Usai melihat keadaan Istrinya, Arya di bawa ke gubuk milik sang kepala suku.
Arya di sebut hangat dan di sajikan makanan vegetarian.
Arya di persilahkan untuk menikmati makanan itu terlebih dahulu sebelum di hantam oleh pertanyaan-pertanyaan yang ingin di ajukan oleh kepala suku.
Karena perut sangat lapar dan otot melemah karena seharian tidak makan di tambah harus membawa beban tubuh istrinya di pundaknya. Arya benar-benar tidak sabar untuk menghabiskan makanan yang ada di depannya.
Rasa rempah-rempah sangat khas dan alami. Arya merasakan jika dirinya makanan di sebuah restoran bintang germelap terang memukau.
Tanpa permisi Arya pun menghabiskan makanan yang ada di depannya dengan bersih.
"Eeegggrrhh..!" Arya bersendawa.
Kepala suku menatap Arya yang terlihat bahagia karena merasakan perutnya kenyang.
Arya yang merasakan dirinya di tatap, langsung tersenyum canggung ketika dirinya ingat jika dia sedang berada di kediaman suku pendalaman itu. Di rasa telah lancang, Arya pun langsung membungkuk untuk menunjukan rasa berterima kasihnya.
"Terima kasih banyak Paman! Terima kasih banyak atas bantuannya.." Arya bolak-balik membungkuk memberikan kesan hormat yang mendalam.
"Cukup-cukup. Berdirilah anak muda!" sahut Kepala suku ramah.
Di depan kepala suku, Arya benar-benar membuang kewibawaannya sebagai Cucu Sultan. Saat ini yang terpenting adalah nyawa, bukan tahta dan juga harta.
"Terima kasih banyak atas kebaikan kalian yang sudah sudi menolong saya juga dan juga istri saya yang malang itu, hiks ... hiks..!" ujar Arya dengan sesegukan, memberikan kesan lebay pada siapa yang melihatnya.
"Sudah kewajiban kami untuk menolong siapapun yang telah tersesat di hutan ini. Jika boleh tahu, kemana kalian akan pergi?" tanya Kepala suku.
"Kami ingin ke tempat biksu Tong. Saat di perjalanan, istri saya memilih jalan pintas karena dirasanya itu jalan paling cepat, tetapi tidak di sangka dia malah terkena jeratan dan berkahir terperosok ke dalam sumur tua. Ini salah saya karena saya membiarkannya jalan duluan," jelas Arya.
Kepala suku pun mengangguk mengerti.
"Hem... Di hutan memang tidak bisa sembarangan, apalagi tidak ada pengalaman dalam mendaki. Em, tadi kalian ingin bertemu dengan biksu Tong ya?"
"Iya Paman!"
__ADS_1
"Kami akan mengawal kalian untuk pergi ke tempat biksu Tong. Kalian tersesat sangat jauh dari jalan utama menuju kediaman biksu Tong. Seharusnya kalian pergi ke Utara, tetapi kalian malah menuju ke barat," ujar kepala suku.
Apa! Kami tersesat! Bukankah kanguru mengatakan jika ke arah barat adalah jalan yang benar! Sialan, mengikuti anak itu benar-benar sesat! Aku tidak akan percaya lagi dengan otak dangkalnya anak itu. Siaaaaal!" umpat Arya dalam hati.