
Malam ini sangat sunyi di tengah hutan meski mereka sudah berada di tempat suku pendalaman.
Tengah malam Arata terbangun dari tempat tidurnya karena merasakan jika perutnya sangat mulas. Sepertinya ingin buang air besar.
"Aduuh..., Mengapa harus malam-malam begini sih, sheet!" Arata memegang perutnya yang sudah tidak tertahan.
Arata perlahan keluar dari gubuk itu untuk mencari kamar mandi.
Di luar benar-benar sangat gelap. Hanya lampu dari ublik yang menerangi gelapnya hutan itu.
"Hay!" sapa Arya yang menganggetkan Arata.
"Ya tuhan! Iih.. kamu menganggetkan aku saja!?" pekik Arata berbisik-bisik, takut jika suara mereka menganggu orang-orang pendalaman yang sedang tertidur.
"Kamu sedang apa?" tanya Arya khawatir.
"Kamu yang ngapain malam-malam berada di luar!?" tanya balik Arata.
Arya terdiam. Sebenernya dia terjaga hanya untuk memastikan jika Arata baik-baik saja.
"Tidak ada! Aku hanya tidak bisa tidur di tempat seperti ini," sahut Arya.
"Hmm...gaya banget hidup anda! Beruntung mereka sudah mau menolong dan memberi kita tempat berteduh," ujar Arata menatap sinis suaminya yang dia pikir tidak tahu di untung.
"Ya mau bagaimana lagi. Aku hanya terbiasa tidur di kamar aku."
"Ah, sudah-sudah. Dasar anak manja! Oya, aku mau ke kamar mandi. Kira-kira apakah kamu tahu dimana kamar mandi ada di mana!?" tanya Arata dengan wajah yang memerah. Dia sungguh sangat malu untuk membahas ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia benar-benar membutuhkan kamar mandi saat ini.
"Di sini tidak ada kamar mandi. Mereka mengunakan kali untuk segala macam hal," jelas Arya. "Aku saja tadi buang air besar di kali. Hm, ini adalah pengalaman mengharukan yang aku rasakan," lanjutnya.
"Apa! Dengan siapa kamu ke sana? Sendirian!?" tanya Arata.
Arya melirik Arata. Ingin sekali dia berbohong dan berkata iya namun takut jika dirinya akan ketahuan.
"Tidak! Bukanya aku tidak berani ke sana sendiri. Hanya saja aku tidak tahu jalan, jadi seseorang menemani aku," jelas Arya tidak ingin menjatuhkan harga dirinya sendiri.
"Cih!" Arata berdecak sinis lalu seketika langsung berbisik lagi. "Bisakah kamu mengantar aku ke sana? Aku sungguh sudah tidak tahan lagi," lanjutnya dengan senyum memohon.
Arya menelan salivanya dengan susah. Kali yang sesar dengan hutan yang lebat. Arya benar-benar merasa jiwa penakutnya langsung menjalar pada nadinya.
Arata yang mengerti perasaan suaminya langsung berkata lagi. " Kita akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang terjadi. Lagi pula kamu adalah pria yang hebat dan kuat. Pasti kamu tidak akan goyah hanya karena kita berada di tengah-tengah hutan yang ramai dengan penduduknya," ujar Arata mencoba menyindir Arya sekaligus mematikan nyali Arya.
Arya yang mendengar itu pun langsung berlagak menjadi pria sejati yang kuat dan tidak mudah gentar.
__ADS_1
"Baiklah, memang seharusnya kamu meminta tolong dengan pria seperti aku," ujar Arya dengan percaya dirinya sambil berjalan duluan ke depan.
Arata benar-benar merasa sangat senang. Akhirnya hajatnya akan segera terbuang. Sungguh Arata benar-benar merasa sangat tidak tahan untuk menahannya lebih lama.
Kaki Arata terlihat lebih membaik meski rasa nyeri itu masih ada. Obat tradisional suku pendalaman ini benar-benar sangat ampuh. Arata berfikir jika akan laris manis jika perusahaannya juga memproduksi dan memperkenalkan obat herbal itu untuk di pasarkan.
Tapi demi kesejahteraan dan kenyamanan suku pendalaman, " Sebaiknya aku tanyakan dulu ini kepada kepala suku," batin Arata dengan sejuta ide di kepalanya.
Sedangkan Arya, dia dengan was-was melewati semak-semak untuk sampai ke sungai. Menggunakan baterai handphone yang tidak ada sinyal. Arya dengan kewaspadaan yang kuat terus berjalan kedepan.
"Arya! Apakah masih jauh? Aku sungguh sudah tidak tahan lagi!?" tanya Arata.
"Sebentar lagi sampai!" sahut Arya.
"Apakah kamu yakin? Aku tidak yakin dengan daya ingat kamu yang dangkal itu," cetus Arata.
Mendengar itu Arya pun langsung teringat jika mereka tersesat jauh dari kediaman biksu Tong gara-gara ingatan busuk Arata.
Ketika Arya akan melupakan isi hatinya, tiba-tiba Arata seperti mendengar sesuatu. Dia seperti mendengar panggilan alam yang siap menyambutnya.
"Sungai! Itu suara sungainya kan!?" teriak Arata merasa sangat senang dan langsung berlari ke sumber suara.
Benar saja, mereka akhirnya sampai di sungai tempat di mana Arata akan menuntaskan hukum alamnya. Yaitu BAB.
"Tunggu! Aku kaya mana!?" teriak Arya mendelik.
"Kamu diam di situ dan jangan bergerak mendekat ataupun menjauh!" teriak Arata memperingati Arya. Dia tersenyum antusias untuk meninggalkan Arya sedikit jauh darinya.
Arya yang tidak ingin sendirian akhirnya diam-diam mengikuti Arata.
"Cih! Wanita licik! Bagaimana dia bisa meninggalkan aku di hutan sendirian sedangkan dia menggunakan ponsel aku untuk menerangi jalan!" umpat Arya kesal.
Sampai akhirnya Arya melihat jika Arata sedang melakukan ritual khusus. Arya bersembunyi di semak-semak supaya tidak menganggu ritual Arata.
Di bawah terangnya rembulan, Arya dapat melihat Arata yang sedang sekuat tenaga untuk mengeluarkan pisang bakarnya.
Arya tersenyum ketika melihat wajah cantik akan ternodai dengan ekspresi mengejan yang unik.
"Ckckck... Secantik-cantiknya wanita pasti akan terlihat aneh jika sedang pup," gumam Arya tertawa sendiri dalam hati.
Di sisi lain, Arata terlihat tersenyum lega ketika beban di perutnya telah dia keluarkan.
"Huft ... Ini sungguh sangat menyebalkan. Mengapa aku ingin pup ketika situasi sedang seperti ini," gumamnya merasa kesal tetapi dapat tersenyum lega.
__ADS_1
Arya tersenyum ketika melihat istrinya akhirnya dapat tersenyum lega.
Tetapi, sesuatu di sebrang sungai mampu membuat senyum Arya langsung menghilang.
Sepasang mata tajam menyala menatap ke arah Arata. Sepertinya menatap jika Arata adalah mangsanya.
Arya yang melihat itu pun langsung berlari ke arah Arata yang sedang cebok.
"Arata....!" teriak Arya.
"Hay! Jangan ke sini dulu! Aku belum selesai!" sahut Arata yang langsung buru-buru memaki celananya.
Tapi karena rasa cemas, Arya tidak memperdulikan ucapan Arata. Dia terus berlari ke arah Arata dan langsung menariknya dengan kuat.
"Ayo kita cepat pergi dari sini!" ucap Arya terlihat tergesa-gesa.
"Kamu kenapa? Di sini tidak ada apa-apa Arya!" sahut Arata melihat heran ke arah Arya.
Arya langsung menunjuk ke sebrang sungai.
"Kamu lihat itu!" ucap Arya.
Arata yang penasaran langsung mengarahkan senter ke arah di mana Arya menunjukan sesuatu.
Begitu terkejutnya Arata ketika dia melihat sepasang kepala serigala sedang menatap mereka.
"Oh ya tuhan! Arya, air sedang surut, mereka bisa berlari ke arah kita," bisik Arata yang kini ikut bergetar karena takut.
"Arata, jangan bergerak cepat sehingga membuat mereka merasa tidak sabar untuk menerkam kita," bisik Arya mencoba untuk mengajak Arata untuk berjalan mundur dengan perlahan.
"Arya! mereka, mereka. Mengapa mata mereka semakin banyak!? Apakah serigala itu bertambah?" tanya Arata yang benar-benar merasa sangat takut.
Arya juga sebenernya sangat takut. Tapi dalam situasi seperti ini mereka harus tenang.
AAAAAUUUUUWWWW!" raungan serigala akhirnya menunjukan dirinya.
"LAAAARIIIII........!" teriak Arya yang langsung menarik Arata bersamanya.
Rasa takut mengalahkan rasa sakit yang sedang Arata rasakan. Dia tidak memikirkan kakinya yang masih terluka. Di pikirannya hanya bagaimana dirinya tetap hidup dan kembali ke kota.
AAAAAUUUUUWWWW.....!" Serigala pun langsung berlarian untuk mengejar Arata dan Arya.
GUKH...GUKH...GUKH....
__ADS_1
Para serigala dengan semangat 45 berlari menyebrangi sungai untuk mengejar Arata dan Arya yang sedang kocar-kacir.