Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian

Menikah Dulu Jatuh Cinta Kemudian
MDJCK #21


__ADS_3

Tuan Kim berdiri di depan pintu dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Ciuman dari lebah membuat tubuhnya membengkak dimana-mana.


"Sayang!? Ya tuhan, bagaimana ini bisa terjadi!?" tanya Nyonya Shian yang khawatir dengan keadaan suaminya yang sangat mengenaskan.


"Aku, a...ku tidak papa," jawab Tuan Kim dengan sangat susah karena bibirnya juga membengkak.


"Ya tuhan, Kim! Kamu membawa madu banyak sekali!?" ujar Yuan terkejut melihat madu di tangan Kim.


"Yah, berterima kasih lah kepadaku," ujar Tuan Kim.


Tanpa basa-basi, Yuan pun langsung memeluk Kim dengan perasaan penuh haru.


Melihat suaminya di peluk Nyonya Yuan, Nyonya Shian pun langsung turun tangan untuk memisahkan mereka.


"Ow...ow...ow... Suamiku yang malang...!" teriak Nyonya Shian sambil merebut Tuan Kim dari pelukan Nyonya Yuan.


"Ya tuhan, ini pasti sakit sekali!" ujarnya dengan prihatin.


Nyonya Yuan yang di pisahkan secara halus pun hanya bisa terpaku.


"Shian, sebaiknya biarkan Kim istirahat dulu. Kasihan dia. Kita sebaiknya sekarang memeras madu ini dulu," ujar Nyonya Yuan.


"Kamu urus saja madu ini. Aku akan pulang bersama dengan suamiku. Aku ingin merawatnya dan menemaninya," ujar Nyonya Shian sambil menyeret suaminya keluar dari rumah itu.


Nyonya Yuan hanya tercengang melihat sikap Shian yang tiba-tiba berubah.


"Ah, mungkin karena dia juga cemas melihat suaminya seperti itu. Apalagi, dia mencari madu untuk suamiku. Ah, aku benar-benar merasa tidak enak," gumam Nyonya Yuan merasa sangat tidak enak. Dia masih tidak sadar jika perubahan sikap Shian itu di karenakan dirinya yang memeluk Kim.


....


Di dalam rumahnya Nyonya Shian sambil memberikan salep ke Tuan Kim, mulutnya pun tidak berhenti mengomel.


"Kamu tahu, dia itu hanya batuk dan kelelahan. Dia sudah membaik dan juga terlihat baik-baik saja. Tapi kenapa kamu sangat berlebihan mengambil madu sendirian di tempat yang tinggi tanpa mengamankan apapun! Lihatlah wajahmu dan ini...ini... Ini..!" tunjuk tempat yang membengkak. " Kamu bisa mati hanya gara-gara madu sialan itu!" ujarnya dengan kesal.


Tuan Kim sudah tidak berdaya untuk meladeni omelan istrinya. Dirinya sudah tak berdaya ketika bengkak semakin membesar. Bahkan kini bibirnya terlihat lebih seksi dari pada bokong silikon. Sangat besar.


......


Di sisi lain, sore hari akhirnya tiba. Arata dan akhirnya berhasil melalui hari yang sangat panjang sambil bersemedi dan juga berpuasa.


Teng..


Teng..


Teng..


Suara kentongan akhirnya terdengar oleh Arata dan Arya. Pada saat itu, Arata langsung menjatuhkan tubuhnya rebahan di tempat itu untuk meregangkan otot-ototnya.


"Aaaaaaahhh! Ini nyaman sekali. Bokong ku, benar-benar terasa terbakar," gumam Arata yang akhirnya dapat bernafas dengan lega.


Ketika sedang bergumam, Arata teringat Arya yang telah memberikan mantelnya kepada dirinya.


Arata pun langsung melirik Arya sudah berdiri.


"Hay, mau kemana? Ini milikmu," ujar Arata sambil memberikan mantel itu. "Sebelumnya, terima kasih banyak ya," lanjutnya dengan sangat tulus.


"Apa maksud kamu. Apakah aku harus memakai pakaian itu yang sudah kamu duduki!? Tidak, seperti ini lebih baik," sahut Arya memilih kedinginan lalu pergi meninggalkan Arata.


Tindakan mereka tanpa sadar di lihat oleh Yhosi. Yhosi sedikit tercengang dengan sikap yang sepertinya tidak baik-baik saja seperti yang dia lihat.


"Mereka awalnya terlihat sangat romantis, tapi kenapa kini mereka terlihat sangat tidak akur," gumam Yhosi.


Arata yang melihat sikap Arya pun langsung mengomel-ngomel sendiri.


"Isshhht. Dasar pria yang menyebalkan. Sedetik baik, sedetik kembali lagi menyebalkan. Dasar bunglon!"


Ketika Arya keluar dari kuil, Yhosi pun langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Arya, selamat kalian telah berhasil hari ini. Setelah ini, kami sudah menyiapkan pemandian air hangat untuk kalian," ujar Yhosi.


"Baiklah," sahut Arya singkat lalu pergi meninggalkan Yhosi. Yhosi pun mengerutkan keningnya melihat sikap Arya yang tiba-tiba berubah cuek.


Tidak lama Arata pun nyusul keluar.


"Eh, Yhosi. Kamu di sini?" sapa Arata.


"Ah, iya Arata. Aku hanya memberi tahu jika kalian setelah ini akan melakukan pemandian air hangat untuk merilekskan pikiran dan otot-otot kalian," jelas Yhosi.


"Oh, baiklah. Atur saja waktunya," sahut Arata tersenyum.


Arata pun berjalan ke kamarnya berniat untuk mengganti baju. Ketika dia masuk, sungguh terkejut Arata ketika matanya melihat sesuatu yang sangat horor. Seketika, Arata pun langsung menutup matanya.


"Aku tidak lihat! Aku tidak Lihat! Cepat gunakan bajumu!" ujar Arata panik.


Arya masih terlihat biasa dan tidak merespon ucapan Arata. Dia terlihat sangat santai dan melanjutkan memakai celana dan bajunya tanpa terburu-buru.


"Bagaimana, bagaimana kamu tidak mengunci pintu ketika sedang ganti baju,!?" tukas Arata.


"Budayakan ketuk pintu," sahut Arya.


Mendengar jika dirinya yang di salahkan, Arata pun langsung membuka mata dan menatap Arya dengan kesal.


"Owh, jadi kamu menyalahkan aku sekarang!? Ini adalah kamarku, untuk apa aku harus mengetuk pintu di kamarku sendiri," tukas Arata.


"Kamu lupa, ini juga adalah kamarku," sahut Arya.


"Ah, iya. Ini memang kamar kita. Maka dari itu kunci pintu jika kamu ingin berganti baju."


"Apakah itu harus.?"


"Ya harus!"


"Mengapa harus?"


"Yah karena aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi!"


Melihat itu, Arata pun tidak tahan dan menghentikan Arya.


"Tunggu!"


Arya yang akan membuka pintu kamar pun terhenti.


Arata langsung berjalan menghadap Arya.


Arata sedikit ragu sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka kancing baju Arya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arya terkejut.


"Apakah kamu tidak bisa mengancingkan baju dengan benar!? Kamu mengancing baju di lubang yang salah," jawab Arata dengan tangan yang sedikit gugup ketika membuka dan membenarkan kancing baju Arya.


Arya terdiam dingin melihat Arata.


Usai selesai melakukan tugasnya, Arata berniat untuk pergi tapi di hadang oleh Arya.


Arya memegang tangan Arata dan menatapnya dengan intens.


"A...ada apa Arya?" tanya Arata yang merasakan jantungnya ingin copot. Lagi-lagi Arya membuat dirinya sangat gugup dengan sikapnya.


"Kamu tahu, aku berantakan tanpamu," ucap Arya yang langsung mencium bibir Arata.


Arata yang sangat terkejut pun terdiam. Dia sungguh tidak tahu harus merespon apa.


Melihat Arata tidak menghindar, Arya pun semakin dalam mengecup bibir Arata.


Semakin lama semakin intens. Kedua musuh itu pun akhirnya berciuman dengan sangat mesra dan lembut.

__ADS_1


Arya semakin memperdalam ciuman dan memeluk erat Arata sampai membuatnya sulit bernafas.


Sampai akhirnya.


Tok...


Tok...


Tok...


Suara ketukan pintu menganggetkan Arata dan Arya.


Arya pun langsung menghentikan aksinya dan Arata pun akhirnya dapat bernafas dengan benar.


Kedua orang ini terlihat sama-sama gugup setelah melakukan cumbuan mesra.


"Arata, Arya. Apakah kalian sudah siap?" Suara di balik pintu membuat Arata dan Arya sedikit merasa canggung.


"Ah, iya Shani. Sebentar lagi aku akan siap," sahut Arata dari balik pintu.


"Baiklah, aku tunggu di halaman belakang ya!?" ujar Shani.


"Baiklah!" sahut Arata.


"Aku akan keluar dulu, gantilah pakaian mu," ucap Arya yang langsung keluar meninggalkan Arata.


Arata pun langsung memegang jantungnya yang berdebar kencang.


"Ya tuhan, apa yang dia lakukan? Apakah dia melakukan ini dengan sadar?" gumam Arata.


Tidak lama, akhirnya Arata menyusul Arya ke halaman di belakang.


"Waw, ini hampir sama dengan air pemandian di desa suci. Air hangat dengan taburan bunga sakura. Ini cantik sekali, aku suka," ucap Arata yang merasa tidak sabar berendam di air hangat.


"Iya Arata. Tujuannya supaya kalian bisa rileks dan nyaman. Tenangkan pikiran kalian dan nikmatilah. Kami akan menyiapkan makan malam untuk kalian," ujar Shani.


"Terima kasih Shani. Maaf sudah merepotkanmu," ujar Arata.


"Tidak perlu sungkan Arata, ini sudah tugas kami," jawab Shani.


Tidak lama, Arata dan Arya pun akhirnya dapat merasakan sentuhan air hangat yang benar-benar sangat nyaman dan membuat rileks tubuh mereka.


Ketika Arata menggibakan rambutnya yang basah, tidak sengaja cipratan air dari rambutnya mengenai Arya.


Seketika Arata langsung meminta maaf.


" Oh, ya ampun! Maafkan aku Arya. Sungguh aku tidak sengaja," ucap Arata merasa tidak enak.


Namun tidak sangka, Arya pun langsung membalas mencipratkan air ke tubuh Arata.


Sontak itu pun membuat Arata terkejut dan akhirnya mereka pun saling bermain air bersama.


....


Di sisi lain, Shani dan Yhosi yang sedang menyiapkan makan malam untuk Arata dan Arya saling berbicara.


"Sayang, apakah hubungan Arata dan Arya itu baik-baik saja?" tanya Yhosi.


"Memang kenapa?" tanya Shani.


"Aku melihat mereka di kuil. Usai bersemedi, aku melihat mereka saling acuh tak acuh," ucap Yhosi.


"Entahlah, mereka benar-benar sangat misterius. Aku juga sempet melihat mereka saling adu bicara, tapi seketika mereka langsung rujuk kembali dan terlihat sangat romantis. Bukankah setiap hubungan sudah biasa seperti itu, bertengkar lalu baikkan," jelas Shani.


" Ah, ya. Kamu benar. Tao aku juga heran, mengapa kakek mengirim mereka ke sini hanya untuk melakukan program kehamilan. Bukankah di kota lebih canggih dan modern?" tanya Yhosi.


"Entahlah, mungkin karena kakek ingin yang alami dan tradisional. Atau karena ingin cucu-cucu mereka merasakan sejuknya di sini. Penatnya pekerjaan bisa saja mempengaruhi pikiran mereka."

__ADS_1


"Kamu benar."


Hem, sepertinya aku terlalu banyak berfikir yang tidak-tidak, batin Yhosi.


__ADS_2