
Drrrtttt…. Drrrtttt….
“Hallo Sayang?”
“….”
“Iya, ini aku masih dandan.”
“….”
“Tunggu dulu dong! Aku juga masih nyiapin mental aku supaya bisa keluar dari rumah. Kamu kan tahu gimana protektifnya Mama sama Papa aku. Udah dulu ya, aku tutup. Bye!”
‘Huffftttt…. Waktunya gue cari seribu alasan supaya Mama sama Papa gak curiga.’
Menatap kembali dirinya. Ia sengaja hanya memakai bedak dan sedikit blush on tipisnya. Sedangkan yang lainnya, ia masih simpan di dalam tas ranselnya. Tidak lupa memakai kacamata tebal andalannya.
Menuruni anak tangga dengan berulang kali merapalkan beberapa kalimat yang telah ia susun.
“Mau ke mana kamu?” Tegur lebih dulu dari sang kakak. Fai menatap nyalang ke arah sang kakak yang selalu saja menjadi lawan argumentnya.
‘Tetap tenang Fai! Jangan terpancing emosi karena satu manusia ember kakak lo ini.’
“Duduk dulu Fai! Makan malam dulu!”
Fai menuruti perintahan sang Mama. Kini, bukan hanya sang kakak. Papanya pun juga menelisik dirinya walau koran menjadi titik fokusnya.
“Mau ke mana lagi kamu?” Pertanyaan sang Papa.
“Mau ngerjain tugas kelompok Pa.”
“Jangan percaya Pa!”
“Lo gak ngelihat penampilan gue?!” Amuk Fai.
“Kakak yakin, di dalam tas ransel kamu itu isinya bukan buku. Tapi baju, alat make up kamu dan high heels kamu. Jangan bohong deh Fai! Dosa loh bohongin orang tua.”
“Kak Fad….!” Geramnya terhadap Fadhil sang kakak keduanya.
Fai anak bungsu dari 3 bersaudaranya. Dirinya hanya memiliki sosok kakak laki-laki. Hanya dialah perempuan yang selalu menjadi acuan mereka dalam pengamanan yang sangat ketat. Kedua orang tuanya masih lengkap. Mereka pindahan dari Bandung ke Jakarta. Masih terbilang baru. Baru 5 bulan ini mereka bisa beradaptasi di lingkungan kota Jakarta. Kota dimana banyaknya anak muda kekinian yang sangat bebas dalam pergaulannya. Sebab itulah, Faizah selalu dijaga ketat oleh sang kakak, Papa dan Mamanya.
“Sudah, sudah! Jangan selalu cekcok seperti ini! Di mana pun kalian berdua ketemu, pasti bawaannya ribut…. Muluk.”
“Habisnya kak Fadhil ngeselin banget Ma! Kenapa sih, gak lo aja yang duluan lahir. Jadi lo bisa tukar nasib dengan kak Fajar yang kerja jauh di kota orang. Supaya gue gak pusing ngedengerin ocehan lo setiap harinya.”
Fadhil terkekeh meleceh sang Adik.
“Nih ya, kurcaci. Kakak juga sebenarnya malas banget terlahir jadi kakak kamu. Keras kepala, susah diatur, pembangkang, biang onar dan….”
“Fadhil, Faizah! Jangan berisik bisa gak sih?! Cepat habiskan makanan kalian! Dan kamu Fai, ke mana kamu akan pergi? Biar Papa yang antarin kamu.”
“No, Pa! Sebentar lagi teman Fai jemput. Papa gak usah repot-repot. Ok?”
“Alasan. Bilang aja pacar kamu itu yang ngejemput kamu.”
“Ck, Fadhil….!” Tegur sang Mama. Fai pun merasa senang mendapatkan sebuah pembelaan.
“Pulang sebelum jam 10. Lewat dari jam itu, Papa akan menghukumkamu.”
“Ok, siap Pa. Semoga aja tugas-tugas Fai cepat terselesaikan. Hihihi….”
“Dicek aja Pa tasnya!” Kembali mendongkolkan hati Fai.
“Iri banget lo. Wlekkk….!”
***
BAMMM! BRAKKK!
Fai berhasil menghembuskan napas leganya. Ia telah berhasil mendapat izin dan terbebas dari ocehan sang kakak bawelnya. Ia pun membuka kacamata tebalnya. Memberikan senyum sumringahnya di hadapan pria yang sudah sejam ini menunggunya.
__ADS_1
“Sorry Sayang…. Aku kesusahan mendapatkan izin keluar malam ini.” Memeluk dan mengecup sekilas bibir sang pacar.
“Udah jadi kebiasaan kamu. Seharusnya kamu jangan langsung menyuruhku untuk langsung datang.”
“Sorry….”
Bagas malas meladeni seribu alasan elakan kekasihnya ini. Ia pun hanya diam dalam kekesalannya. Sedangkan Fai hanya biasa saja sembari dirinya santai merias kembali wajahnya. Menambah beberapa riasan lainnya yang belum terselesaikan. Ia sebentar berpindah ke area belakang jok mobil. Membuka tas dan mengeluarkan isi tasnya.
Sekilas Bagas diam-diam memperhatikan gerak-gerik Fai dari kaca spion tengah mobilnya.
“Jangan coba-coba mengintipku Gas! Gue colok entar mata lo.” Ancaman andalan Fai.
Bagas sedikit terkekeh.
Memang seperti ini keseharian mereka berdua di saat ingin bertemu. Keluarga protektifnya Fai sangat menyulitkan mereka untuk bertemu. Fai akan menyiapkan beribu alasan monotonnya dan membawa tas ransel untuk menyimpan semua barang-barang tempurnya. Bahkan Bagas mengharuskan dirinya untuk bergonta ganti mobil miliknya. Agar identitas dirinya tidak mudah terendus oleh Papa Fai yang sangat kaku dan galak. Sempat ia bertegur sapa. Dan di saat itu juga ia tahu bagaimana sifat kaku Papanya Fai.
“Udah siap Sayang. Cusss, kita langsung berangkat!! Aku udah gak sabar ketemu yang lainnya.”
Sekilas Bagas terpana dengan kecantikan dan keseksian gadis nerd di sebelahnya ini. Fai seperti memiliki 2 kepribadian. Ia bisa mendandani dirinya layaknya anak cupu. Dan untuk kebutuhan have fun nya, dengan cepatnya Fai mengubah penampilan lainnya. Cantik, seksi dan sangat menggoda. Tubuh kecil dengan paras yang menonjol, sangat Bagas sukai. Itulah alasannya mengencani Faizah. Anak baru di sekolahnya. Pindahan dari Bandung. Anak pendiam yang bisa menantang siapapun yang mengganggunya. Cukup menarik.
Bukannya bergerak cepat, Bagas malah mencondongkan dirinya ke hadapan Fai.
CUP! Ia melayangkan kecupan pada bibir menggoda Fai. Bahkan, sedikit agak berlama-lama meraup bibir itu. Setelahnya, Fai melerai cumbuan mereka.
“Gas, stop! Aku gak punya banyak waktu. Sekarang!” Desaknya.
Bagas pun hanya menghela napas beratnya. Sebenarnya ia ingin sekali mencumbu Fai lebih lama. Tapi langsung mendapatkan penolakan.
Mobilnya pun sudah melaju cepat ke arah satu tujuan mereka. Leon Senopati. Sebuah club malam yang sangat digandrungi kalangan muda dan tua yang ingin sekali memanjakan keliaran mereka dalam kehidupan yang penat ini.
Pintu mobil sudah dibuka begitu romantisnya oleh Bagas untuk mempersilahkan tuan putrinya keluar. Para pengunjung lainnya yang juga sudah sering datang ke club ini juga sudah sangat mengenal pasangan ini. Kehadiran mereka sangat disambut baik. Perkumpulan pertemanan baru yang Fai terima. Memang agak liar, tapi Fai merasa nyaman. Tidak ada batasan dan kekangan.
Fai berjalan beriringan dengan Bagas. Bagai seorang ratu penguasa malam. Tampilan anggun dan seksinya mengalahkan pengunjung lainnya. Fai memang tidak kaku dalam berias. Make up tipisnya yang sederhana sudah bisa menarik perhatian semua pengunjung pria lainnya. Maka dari itu, Bagas selalu menjaga baik-baik kekasihnya ini. Jangan sampai Fai digoda oleh pria lain yang memang selalu menatap lapar ke arah Fai.
“Hai Bro….! Bagas dan Fai….!”
“Hai Bro…. Udah dari tadi lo?”
“Sorry guysss…. My girl.” Mengedikkan kepalanya ke arah Fai. Dan seketika Fai memasang wajah cemberutnya yang sangat menggemaskan bagi para pria lainnya.
“Hahaha….” Tertawaan menanggapi raut cemberutnya Fai.
“Lo tampil spekta banget malam ini Fai.”
“Jangan genit dengan milik gue!” Amuk Bagas.
“Milik lo?? Gue milik semua orang yang ada di club ini. Let’s party….!!! Come with me, Baby….!!!” Seruan Fai yang liar menarik siapa saja yang mau bergabung dengannya.
Fai dan teman-teman party nya yang lain, asik bergoyang meliuk-liukkan tubuh kecilnya di bawah sorot lampu kerlap kerlip seiring dengan hentakan dentuman musik sang Disc Jockey. Bagas yang sudah beberapa kali menenggak minuman beralkoholnya, juga berjalan dan bergabung bergoyang mengikuti liukan tubuh kecil milik kekasihnya.
Fai merasakan lingkaran tangan Bagas pada perut ratanya yang terbuka. Membelai dan lebih merapatkan tubuh mereka. Sesekali Bagas menghisap dan mencecap cerug leher Fai dari belakang. Fai terus saja tidak berhenti menggoyangkan tubuh kecilnya dengan gerakan yang sensual. Musik sangat membuat mereka bersemangat. Ditambah beberapa tenggakan minuman beralkohol yang mereka konsumsi. Menikmati gemerlapnya malam mereka dengan kehebohan.
Bagas yang terus tak berhenti mencumbu bibir kecil Fai, membuat Fai kehabisan napas dan energi untuk menandingi kegilaan Bagas. Ia selalu tidak lupa untuk memberi batas jika Bagas sudah hampir melampauinya. Tangan yang sudah akan menyelinap pada crop top nya, Fai tepis dan melerai rapatnya tubuh mereka. Terdengar decakan sebal dari Bagas.
“Ingat Gas! Aku cuma mengizinkan kamu menyentuh bibir dan leherku. Bukan bagian yang lainnya.”
“Fai…. aku juga pengin seperti mereka. Merasakan setiap lekukan tubuh indah kekasihnya. Kenapa tidak denganku?!” Geramnya.
“Kamu tahu kan, bagaimana dengan keluargaku? Terutama Papa. Aku gak mau dikeluarkan dari daftar kartu keluargaku Gas.” Berlalu menjauh dari cekalan Bagas.
‘Ck, percuma aku memacari kamu Fai. Sampai saat ini pun, aku belum bisa merasakan tubuh kamu.’
Fai sudah sangat merasa pusing pada kepalanya. Ia menatap arloji kecilnya. Sudah pukul 9 malam. Sudah 2 jam lebih Fai bersenang-senang pada club ini. Ia menatap horor ke arah Bagas yang tidak henti-hentinya meminum minuman beralkohol dan bergoyang brutal mengikuti iringan musik.
Fai merasakan desakan pada kandung kemihnya. Ia sudah lumayan banyak minum. Ia berjalan melewati sekumpulan orang-orang yang tengah gila dengan surga duniawi mereka. Menyusuri lorong dimana lorong tersebut mengarahkannya pada sebuah toilet. Kepala yang masih pusing dan pandangan mata sedikit kabur, Fai memilih satu tanda yang tertempel pada pintu toilet. Ia masuk dan berjalan lurus pada satu tujuannya. Teriakan dan teguran dari beberapa orang tidak sanggup lagi ia dengar.
BRAKKK! BAMMM!
Membuka dan menutup dengan kencangnya. Ia sangat lega sudah bisa mengeluarkan cairan kemihnya. Ia menyiram dan membilas. Setelahnya ia kembali keluar. Ia masih betah berdiri. Berusaha untuk menormalkan denyut kepalanya. Pandangan yang sayu masih bisa dengan paksanya ia menelaah satu aktivitas sepasang sejoli yang dengan brutalnya bercumbu pada wastafel.
__ADS_1
Fai berjalan mengarah pada wastafel satunya lagi. Tepat di samping sejoli yang telah dimabuk rasa gairah. Fai sudah bisa melihat jelas kedua paras itu.
“Cih! Lagi-lagi lo. Mengencani dan mencicipi puluhan wanita dalam satu malam. Cowok brengsek!”
Ocehan spontan Fai seakan menegur sepasang sejoli yang berada di sampingnya.
Pria itu melepas pagutannya. Ia menurunkan dan membisikkan pada wanitanya.
“Pergilah! Aku sudah selesai.”
“Al….” Tolak si wanita dengan manjanya.
“Aku bilang pergi, pergi!” Penuh penekanan.
Masih dalam perasaan kesal. Wanita itu pun pergi mengikuti perintahannya. Dan saat ini, hanya ada dirinya dan satu wanita yang sangat ia kenali. Seringaian evil muncul pada wajah tampannya.
Fai yang sudah membasuh wajahnya sekadar untuk mengurangi rasa pusingnya, kini sudah bisa menormalkan setengah kewarasannya. Wajah masih menunduk. Ia belum menyadari posisi si pria yang sudah berpindah di belakang tubuhnya. Pria itu menatap suka dengan postur tubuh Fai. Kecil dan imut. Tubuh Fai yang menunduk membuat bokongnya menonjol ke atas. Rok pendek yang Fai pakai sedikit menyingkap dan memperlihatkan paha mulusnya. Dengan susah payah pria itu menahan nafsunya. Ia menyadarkan otaknya untuk tidak bertindak terlalu jauh.
Tangannya mulai ia selipkan pada celah perut yang tak tertutupi kain. Elusan itu sedang Fai rasakan juga. Fai tersentak dan segera membalikkan tubuhnya tepat berhadapan langsung dengan si pria. Mata mereka saling menatap. Cukup lumayan lama. Fai membenarkan bahwa sosok pria ini memiliki taraf ketampanan di atas rata-rata pria yang ia temui. Paras manis bak dewa, tapi kelakuan bak iblis.
“Hai, Fai. Ternyata, kamu yang sudah menggangguku.”
Fai tersadar dari keterpakuannya. Ia menggeliat ingin lepas dari kungkungan pria di hadapannya ini.
“Menjauh dari gue, Brengsek!!” Bentaknya.
Bukannya takut, Pria ini malah semakin mendekatkan wajahnya yang membuat tubuh kecil Fai lebih condong ke belakang. Postur pendeknya tidak bisa menandingi tingginya pria ini.
“Aku mau kamu menggantikan posisi Celine. Mencecap dan meraup habis bibir ku ini.” Ibu jarinya menyisir lembut bibir bawah Fai. Fai mengepalkan kedua tangannya yang sudah geram dengan tingkah kurang ajarnya pria ini.
“Tapi, aku gak mau merasakan bibir bekas jamahan Bagas. Dia musuh dalam selimutku. Aku membenci dirinya yang sudah sangat sok angkuh di hadapanku.”
“Cih! Kenapa? Lo kalah saing dengan kepopularitasannya? Gue akui lo lebih tampan dari pacar gue. Lo lebih jago memikat hati perempuan mana pun yang lo mau. Tapi lo kalah saing dengan kesetiaan yang Bagas lakuin ke gue. Dia bukan laki-laki brengsek kayak lo!! Dia bukan laki-laki bejat kayak lo!!”
“Oh ya? Aku lebih dulu mengenalnya dari pada kamu Fai. Malah aku kasihan sama kamu. Berusaha bertahan dengan kebusukan Bagas. Mana ada pria mana pun kalau sedang bermain dengan wanita lain, dia akan mengaku ke pacarnya.”
“Ada. Itu lo! Dengar ya! Jangan coba-coba lo menjelekkan Bagas di hadapan gue!! Dia lebih baik dari lo, dia lebih sempurna dari lo dan dia gak brengsek kayak lo!!!”
Pria itu terus terkekeh seakan menertawakan bantahan Fai. Ia baru bisa mengenal dekat Fai. Tapi entah kenapa, ia selalu suka dengan sikap berontak Fai. Beda dari teman perempuannya yang sering ia kencani. Mereka semua tanpa ia minta, akan langsung memberikan dengan ikhlas tubuhnya. Sedangkan Fai, ia selalu menjaga ketat pria mana pun yang ingin mendekatinya. Begitu juga dengan Bagas. Ia juga sering mendapati penolakan yang Fai lakukan saat Bagas berusaha ingin menjamah tubuhnya.
“Minggir lo dari tubuh gue!! Lo gak punya sopan santun banget ya, masuk ke toilet wanita dengan seenaknya. Dan lo menarik semua wanita manapun untuk bisa lo terkam. Dasar Buaya Darat!!!” Bentaknya lagi.
“Hahaha….” Tertawaan pria itu mengolok Fai.
“Kenapa lo malah ketawa?!”
“Kamu terlalu banyak minum ya? Sampai salah memasuki toilet dan malah menyalahkanku.”
Fai tersentak dengan pernyataan pria brengsek di hadapannya ini. Ia menelisik semua seisi ruangan toilet yang memang terdesain khusus untuk kaum pria. Dan kembali menatap wajah penuh meledek dari lawan sengitnya. Seketika, wajah Fai memerah menahan rasa malunya. Ia benar-benar telah salah memasuki toilet. Dirinya yang mabuk tidak fokus dalam memilih.
“Mi-minggir lo!” Mendorong kuat tubuh si pria. Alhasil, ia mendapatkan kembali tertawaan meledek dari si pria brengsek. Fai yang malu segera keluar yang juga dibuntuti oleh si pria.
“Fai? Al? Kamu ngapain di toilet cowok? Dan…. lo?!”
Fai terkejut dengan kehadiran Bagas. Rasa malunya kini berganti menjadi rasa cemas. Ia takut Bagas akan berpikiran yang bukan-bukan mengenai dirinya dan juga Al.
“Pacar lo ini, udah masuk ke toilet cowok. Gue gak tahu apa niatannya. Tapi yang jelas…. Dia udah berani beraninya menatap lapar junior gue. Jagain pacar nakal lo Bro!” Menepuk 2 kali pundak Bagas dengan seringaian jahilnya ke arah wajah penuh emosi dari Fai. Setelahnya ia berlalu pergi.
“DASAR BRENGSEK, BAJINGAN, PENJAHAT KELAMINNN!!! Sayang…. dia bohong!! Kepalaku pusing, aku mabuk. Makanya aku sampai salah masuk toilet. Malah dia yang mau macam-macam sama aku. Kamu tahu kan dia sebrengsek apa? Jangan percaya omong kosongnya Gas….!” Rengek Fai takut akan kemarahan Bagas, kekasihnya.
Semula Bagas menahan geramannya pada kedua kepalan tangannya. Ia selalu muak dengan kelakuan Al yang terus saja mencuri kesempatan untuk menjahili Fai. Ia pun membawa pergi Fai dari area toilet. Menariknya kembali untuk bergabung pada party yang lama kelamaan semakin ramai pengunjung. Namun Fai menahan tarikan Bagas. Ia tidak mau lagi mengikuti aktivitas mereka. Fai sudah melihat jarum jam arlojinya mengarah ke angka 9 lewat 30 menit. Ia meminta paksa untuk Bagas menghentikan party nya. Ia harus segera pulang sebelum amukan sang Papa terhadapnya.
“Fai…. gak asik banget kalau kita pulang secepat ini.” Penolakan Bagas.
“Aku gak mau dimarahin dan dapat hukuman dari Papaku Gas. Please, antar aku pulang dulu. Kalau kamu masih mau lanjut, nanti kamu bisa ke sini lagi Gas. Sekarang antar aku dulu ya! Please….”
Dengan hati yang berat, Bagas mengikuti keinginan Fai. Namun sebelumnya, Fai memasuki area supermarket. Ia membeli 2 botol susu dan permen. Untuk menghilangkan aroma alkohol yang sudah ia habiskan. Begitulah setiap kalinya jika Fai keluar bersama Bagas dan memilih club sebagai tempat tujuan mereka.
***
__ADS_1
Salam kenal kembali para pembacaku :)
Mulai ramaikan yuk....!