
“Ini hari pertama untuk kalian memasuki sekolah baru di Jakarta. Mama berharap kalian berdua bisa menjaga sikap ya! Pandai-pandai memilih teman.”
“Tapi kenapa Fai harus satu sekolah dengan kak Fadhil lagi sih Ma?”
“HEH! Jangan bawel jangan banyak menuntut! Kalau mau beda sekolah, pakai uang sendiri.”
“Papa tetap akan meminta Fadhil mengawasi kamu Fai. Ini Jakarta. Kota asing bagi kamu. Papa sudah sering mendengar cerita bahwa di sini itu pergaulan anak-anak mudanya sangat liar dan sangat bebas. Jadi, papa gak mau kamu salah pergaulan Fai.”
“Terus Papa bakal percaya dengan kak Fadhil? Kenapa mesti aku aja sih yang diragukan? Enggak adil banget.”
Fadhil terus saja menahan kekehannya saat sang Adik terus diberi wejangan oleh kedua orang tuanya. Sampai di mobil pun, tetap Fai yang terus diberi berbagai petuah.
“Ingat, jangan sampai ngebuat masalah ya Fai! Papa mau melihat anak-anak papa ini semuanya sukses. Nanti Papa akan belikan kamu motor Fad. Supaya kalian bisa dengan mudah bepergian ke mana pun. Tapi tetap harus seizin papa dan juga Mama.”
“Terus, Fadhil yang akan jadi supir Fai gitu Pa?”
“Iya dong. Nasib lo itu memang harus selalu jadi kacung gue.”
“Ih…. kenapa sok banget sih bahasa kamu.”
“Fai…. jangan berbicara seperti itu. Itu aksen anak Jakarta. Papa gak suka kamu berbicara seperti itu. Kurang sopan.”
“Loh, emangnya salah ya? Fai kan cuma mau beradaptasi dengan lingkungan baru Fai. Enggak terlalu aneh kok. Sekarang ini kita memang ketinggalan jauh dari kata gaul Pa.”
Fadhil tak habis pikir dengan kelakuan sang Adik.
“Ada aja jawabannya. Bahaya banget nih si Fai Pa. Kalau sampai Fai benar-benar berubah, Fadhil gak mau tanggung jawab Pa.”
“Kalian itu bersaudara. Tanggung jawab kakak itu ya memang harus menjaga dan mengarahkan Adik kalau berbuat salah. Dan Adik juga harus nurut dengan semua perintahan kakak.”
“Tapi kalau Adiknya yang begini gimana coba Pa? Bebal banget.”
“KAK FAD!!!” Teriak geram Fai pada sang kakak.
Kini, gedung sekolah yang menjadi pilihan sang Papa pun sudah mereka masuki. Fai dan Fadhil mengikuti dari belakang langkah sang Papa yang mengarah ke salah satu ruangan para guru. Fai terus tersenyum dengan suasana gedung sekolah yang ramai dengan anak-anak Jakartanya. Gaya mereka memang sangat berbeda dengan gaya anak-anak Bandung.
“Ayo Fai! Jangan malah bengong begini.” Tarikan Fadhil pada tangannya menyentak lamunannya.
Mereka pun disambut hangat dengan salah satu guru yang membawa mereka kepada satu ruangan.
“Selamat datang nak Fadhil dan juga nak Fai. Ini hari pertama bagi kalian berdua. Saya lihat, kamu cukup pintar dalam bidang Akademis kamu nak Fadhil. Ibuk harap, kamu tetap bisa mengembangkan kemampuan kamu dan juga bisa membanggakan sekolah kita. Dan Fai, semoga kamu betah dan bisa beradaptasi dengan cepat di sekolah ini Nak. Ini kantor para guru. Kalau ada perlu sesuatu, kalian bisa ke ruangan ini.”
“Baik Buk. Terimakasih. Semoga kita bisa cepat bersosialisasi dengan teman-teman baru kita.” Fadhil mewakili.
Fai dan Fadhil sudah dikawal oleh wali kelas mereka masing-masing. Fadhil mendaftar sebagai anak kelas 12 IPA 1. Sedangkan Fai didaftarkan dalam kelas 10 IPS 2. Fai dan Fadhil memang memiliki perbedaan dalam kemampuan Akademisnya. Fadhil lebih unggul dari Fai. Tapi itu semua tidak mengecilkan hati Fai. Mereka memiliki sosok orang tua yang selalu bisa bersikap adil. Sama sekali tidak membandingkan kemampuan setiap anaknya.
“Mari Fai, ikuti Ibuk!”
Fai berjalan mengekori wali kelas barunya. Begitu juga dengan Fadhil. Setiap langkahnya, dari dalam kelas banyak sekali murid-murid yang berbisik akan kehadirannya. Fai sangat menyita pusat perhatian mereka.
Dan kini, ia telah berdiri di depan kelas yang baru saja ia masuki. Semula kelas yang berisik kini menjadi hening setelah kehadirannya. Pandangan Fai terus mengitari seluruh sudut ruangan dengan senyuman yang tak pernah pudar.
“Ekhem! Anak baru ya Buk?” Tanya salah satu murid perempuan yang lebih terlihat modis diantara yang lainnya.
“Manis juga.” Seloroh satu murid laki-laki lainnya yang setelahnya ia mendapatkan pelototan mata dari perempuan di sebelahnya. Hal itu lebih melebarkan senyuman Fai.
“Selamat pagi anak-anak!”
“Selamat pagi Buk….!!” Sorak semuanya dengan serempak.
“Seperti yang kalian lihat. Hari ini kita kedatangan member baru. Murid baru pindahan dari Bandung. Mungkin, untuk lebih jelasnya Ibuk serahkan ke kamu Fai. Tolong perkenalkan diri kamu agar mereka juga bisa mengenal kamu.”
“Baik Buk.”
__ADS_1
Fai lebih menegakkan posisi berdirinya. Ia memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit turun. Sejenak menghembuskan napas sebab ia tengah gugup kali ini.
“Hmm…. Selamat pagi semuanya. Nama aku Faizah Nur Fadhila. Panggil aja aku Fai. Aku pindahan dari Bandung. Ke Jakarta…. Karena Papaku dipindah tugaskan ke sini. Aku harap…. aku bisa dengan cepat dan mudah beradaptasi dengan kalian semuanya. Terimakasih.”
“Buk, si manis duduk di sebelah saya ya Buk. Jomblo nih.”
“Hahaha….” Semua tertawa mengisi kesunyian kelas.
Fai yang semula sangat canggung kini sudah mulai rileks kembali sebab teman-teman barunya ini sangat menerima baik dirinya. Berbagai gombalan receh terus mereka layangkan.
“Tenang anak-anak! Ibuk yang lebih berhak menentukan di mana Fai harus duduk. Hmm…. Ranti, kursi di sebelah kamu itu kosong kan?”
“Eh, iya Buk. Ranti Cuma sendirian.”
“Ok Fai. Kamu bisa duduk di sebelah Ranti. Saat ini kamu pinjam dulu catatan dan juga buku milik Ranti. Nanti saat jam istirahat, kamu minta tolong ke Ranti untuk nemanin kamu ke perpus ya. Ambil beberapa buku sesuai mapel kita.”
“Baik Buk. Terimakasih.”
Fai berjalan dengan semangatnya. Ranti tersenyum ramah ke arah dirinya.
“Hai, salam kenal. Ranti.”
“Fai. Senang juga berkenalan dengan kamu. Aku…. boleh pinjam catatan dan buku kamu kan?”
“Hihihi…. boleh dong. Nanti aku akan bantu kamu untuk memperkenalkan semua seisi gedung sekolah kita.”
“Terimakasih Ranti.”
“Sama-sama.”
***
Tak berbeda dari Fai. Fadhil sangat menjadi pusat perhatian teman baru sekelasnya. Apalagi dari para kaum hawa yang sejak tadi mengelilingi dirinya sekadar ingin berkenalan lebih dekat dengan sosok Fadhil.
“Ekhem! Hai, gue Al.”
“Beb…. aku jadi bingung deh mau milih kamu atau dia. Yang ini kok lebih hot ya. Hihihi….”
“Dasar ****** lo. Jangan terlalu ditanggapi. Mereka memang suka jelalatan ngelihat cowok keren kayak lo bro.”
“Hahaha…. kamu juga lebih ok dari aku kok. Oh iya, aku rasa kita bisa bersaing sehat dalam Akademis kan? Aku rasa kamu lebih jenius dariku.”
“Hahaha…. tenang bro. Gue gak terlalu perduli dengan kemampuan diri gue. Gue mau cabut dulu ya. Bye.”
“Thanks.”
~ PERPUS
“Fai, tolong pegangin ini dulu ya. Masih banyak banget nih yang mesti kamu bawa. Kalau semuanya udah terkumpul kita lapor dulu ke Ibuk Siska.”
“Ok Ti.”
Fai sibuk menumpukkan buku-buku paket mapel dirinya. Ia kewalahan dengan banyaknya buku yang akan ia bawa pulang nanti.
“Duhhh…. Fai, tiba-tiba perut aku melilit nih. Kalau kamu sendiri yang bawa bisa gak Fai? Mules banget.”
“Iya Ti. Enggak apa-apa kok. Kecil-kecil begini tenaga aku masih bisa dibutuhkan. Hihihi….”
“Ya udah, nanti kamu langsung ke hadapan ibuk Siska ya. Aku duluan Fai.”
Fai terkekeh pelan dengan terburu-burunya Ranti keluar dari ruangan perpus.
Semua buku yang sudah ia dapatkan ia bawa ke atas meja buk Siska yang sekarang ia harus didata terlebih dahulu.
__ADS_1
“Tolong jaga baik-baik semua buku ini. Harus dikembalikan setelah kalian naik kelas. Ingat! Jangan lecet, jangan koyak, jangan lusuh. Ini kartu perpus kamu. Gunakan ini setiap kali kamu ingin meminjam buku di sini.”
“Ok Buk. Terimakasih.”
Fai memulai dirinya mengangkat semua tumpukan buku-buku miliknya. Di ambang pintu ia terdiam sebentar seakan bingung arah jalur yang tadi Ranti ingatkan. Ia bingung dan lupa.
“Duhhh…. tadi dari arah mana ya? Sekolahnya besar banget sih. Sampai bingung banget mau lewat mana.”
Dengan insting beraninya, Fai langkahkan saja kakinya ke arah lorong panjang di sebelah kirinya. Letak perpus memang sangat jauh dari berbagai ruangan kelas lainnya. Bisa dibilang perpus terletak di bagian pojok gedung sekolah ini. Maka dari itu, ia semakin bingung dan khawatir akan jalan yang ia pilih. Sejak tadi lorong yang ia lewati sangat lengang. Ia berpikir kalau dirinya telah salah memilih jalur. Ia malah berjalan mengitari area belakang gedung sekolah. Bahkan kini, ia benar-benar tersesat pada sebuah hamparan tanah kosong yang sangat semaknya dengan ilalang. Hanya satu pondok tua yang ia temukan.
“Ya ampun Fai…. nekat banget sih kamu. Bisa-bisanya salah milih jalan. Malah tambah bingung banget nih aku.”
“Stop….! kasih aku waktu untuk bernapas. Kamu terburu-buru banget sih Beb….”
Fai tersentak dengan suara wanita dari balik pondok tua itu. Bulu kuduk Fai sudah mulai meremang. Ia terus melirik ke kanan dan ke kiri. Suasana sepi. Hanya ada dirinya.
“Awww….!”
“Jangan terlalu berisik bodoh!”
Lagi dan lagi Fai tersentak. Bahkan, bukan hanya suara wanita. Suara pria juga bisa ia dengar dengan jelasnya. Entah bisikan dari mana yang membuat dirinya menjadi lebih dekat ke posisi pondok tua di seberang ia berdiri. Walau perasaan yang takut, tetap ia paksakan untuk terus melangkah dan memastikannya sendiri.
‘Kalau memang di sini sarangnya hantu, please…. jangan buat aku pingsan. Entar aku gak tahu gimana caranya bawa semua buku-buku ini.’
Ia semakin dekat dengan berdirinya pondok tua itu. Suara wanita dan pria semakin jelas terdengar. Racauan dari keduanya malah membingungkan Fai.
BAMMM!
Fai menjatuhkan semua buku-bukunya. Dan hal itu cukup menghentikan aksi panas kedua pasangan yang sudah sangat gila bertindak di sebalik pondok tua. Kedua bola mata Fai semakin membesar di saat pria jangkung itu berjalan mendekat ke arahnya. Ia memundurkan langkahnya. Namun tidak ia sadari tumpukan buku-buku itu menghalangi kakinya yang mengakibatkan dirinya tersungkur ke bawah.
“Awww….”
Meringis kesakitan dengan lutut yang sedikit lecet. Pandangannya mengabur di saat kacamatanya terjatuh entah ke mana. Ia merutuki mata minusnya yang semakin membuat ia terjebak pada situasi menyebalkan ini.
“Ini kacamata kamu.”
Fai mendengar suara pria itu. Pria mesum yang sudah membuat dirinya malu sendiri. Dengan sialnya ia memergoki sepasang manusia mesum pada pondok tua itu. Dengan gugupnya ia menerima sodoran kacamata miliknya. Ia memasang dan di saat itu juga ia terdiam memandangi sosok pria di hadapannya. Terpaku akan ketampanan paras pria itu. Sampai-sampai ia lupa kejadian yang baru saja ia lihat.
Bahkan, saat itu juga ia mendapati senyuman manis si pria yang semakin membuat jantungnya tidak aman.
“Kamu anak baru ya? Aku baru melihat perempuan manis seperti kamu di sini.”
“Al!! Apa-apaan sih?! Kok kamu malah godain dia. Enggak ada perempuan lain yang bisa mengalahkan kecantikan aku Al!!”
“Apaan sih lo?! Urusan kita udah selesai!!”
“Al!!!”
Fai dengan gerakan terburu-burunya merapikan semua buku-bukunya. Ia ingin sekali segera pergi dari perdebatan mereka. Ia sudah merasa kesal dengan apa yang sudah ia lihat barusan. Bisa-bisanya di hari pertama ia memasuki sekolah barunya, di saat itu juga ia mendapatkan pengalaman buruk.
“Hei, mau ke mana kamu?”
Fai menepis kuat tangan si pria yang berusaha menghentikan langkahnya.
“Maaf.”
“Lo benar-benar ngeganggu waktu gue Sisy!!!”
“Dia yang udah ngeganggu kita Al.”
“HEH! Kalau lo gak tiba-tiba datang dan maksa gue untuk cium bibir busuk lo itu, gue gak bakalan kejebak memalukan kayak tadi. Lo terlalu murahan buat gue!!!”
“Al!!!”
__ADS_1
Sisy memekik keras di saat ia ditinggalkan begitu saja. Ditinggalkan dan dicampakkan membuat ia terlihat sangat memalukan.
“Siapa sih tuh cewek? Bisa-bisanya dia mengalihkan perhatian Al dari gue. Argghhhhh….” Meremas kesal rambutnya.